13 December 2009

Macet...... ?! Belum Saatnya Terjadi, Asalkan......

Masalah kemacetan di Jabodetabek sebenarnya tidak harus terjadi dan bagi saya belum saatnya terjadi. Kurangnya sosialisasi maupun disiplin berkendara merupakan dasar terpenting yang belum disadari oleh penyelenggara maupun pengguna jalan raya. Kondisi jalan yang jelek berlubang, parkir kendaraan di sembarang tempat, banyak jasa “polisi cepek”, dll ditambah lagi tidak diperluasnya jalan yang tidak dapat sesuai dengan b egitu gencarnya iklan dan promosi kendaraan roda empat maupun dua yang menawarkan model dan spesifikasi mesin yang kian canggih, mengakibatkan tidak terkontrolnya volume pertambahan mobil dan sepeda motor. Belum lagi diperparah dengan bertambahnya Bus2 maupun Angkutan Kota bahkan Operator Taxi sehingga menambah kepadatan jalan di Jabodetabek, bagaimana dengan adanya Trans Jakarta (TJ) ?


TJ sebenarnya solusi yang sangat bagus yang telah dilakukan oleh Pemda DKI untuk mengantisipasi kemacetan dengan meraih perhatian para pengguna mobil pribadi untuk beralih ke Transportasi Bus (TJ). Faktor profesional dalam pengelolaan seharusnya sangat mutlak dimiliki sehingga dapat tertata sesuai tujuan sebelumnya. Dapat disayangkan bahwa hanya sebagian kecil dari pengguna mobil pribadi yang beralih ke TJ, selebihnya ?

Pelayanan Busway TJ semakin hari terlihat semakin menurun kualitasnya :

·       Keadaan halte Busway yang mulai tidak terawat.

·        Saling berdesak-desakan untuk naik maupun turun dari TJ bahkan di dalam TJ tersebut kadang mengabaikan unsur keselamatan.

dan apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut, TJ tidak ubahnya layaknya seperti Bus Kota biasa dengan perbedaan halte belaka....... sungguh ironis.  


Peranan jalan tol dengan tarif yang kian naik sebagai solusi mengatasi kemacetan, telah lama tidak dapat diharapkan. Penyelenggara jalan tol juga (sepertinya) tidak berusaha untuk mencari solusi terbaik dalam pelayanannya.


Penjabaran diatas adalah sekelumit yang terjadi sehari dalam kita berkendara. Untuk itu saya mencoba menyimpulkan secara garis besar, diluar masalah banjir yang kerap terjadi pada musim hujan. Penyebab terjadinya kemacetan di jalan2 Jabodetabek yang seharusnya tidak perlu terjadi ini sangat dipengaruhi oleh :


1.   Tidak adanya jalur khusus bagi pengendara Sepeda Motor sehingga dengan leluasa para pemilik kendaraan tersebut bebas meliak-liukkan tubuh motornya ke kanan maupun kiri jalan tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya, bahkan jembatan penyeberangan dan trotoar pun dipergunakan untuk memperlancar tujuannya.

Disamping itu dengan ditambah iklan yang gencar yang memuat promosi model/design terbaru dengan spefikasi yang lebih canggih membuat konsumen tertarik untuk menambah koleksinya, ditambah dengan mudahnya uang muka yang ditawaekan dalam memiliki kendaraan tersebut.


2.   Bertambahnya armada Bus maupun Angkotan Kota seiring dengan bertambahnya jalur trayek membuat semakin sesaknya jalan. Peranan Organda juga seakan tidak berpihak kepada konsumen yang (justru) memberikan sumbangsih terbesar bagi pendapatan mereka.

Jalur Bus yang ada hanya boleh dipergunakan oleh Trans Jakarta semata, sehingga kendaraan kita diapit oleh Bus dari sebelah kanan maupun sebelah kiri. Coba bayangkan kalau kita berkendara di daerah Kramat Jati ?

Dengan dalih “kejar setoran” seakan memberikan keluasaan bagi para pengemudi Bus untuk melakukan aksinya di jalan raya untuk mengikuti jejak para pengendara Sepeda Motor yang bebas melakukan aksinya. Fungsi kaki maupun tangan ‘Kenek’ mulai menggantikan fungsi ‘sein’ yang telah tersedia pada tubuh Bus tersebut.

Adanya halte bayangan untuk  tempat transit di dekat persimpangan jalan maupun traffic light sering tidak diantisipasi oleh aparat terkait. Hal ini sangat lumrah terjadi di daerah Jabodetabek yang kelihatannya sangat sulit ditanggulangi.


3.   Truk dengan leluasanya hadir memeriahkan suasana jalan raya yang seakan terinspirasi pola berkendaraan di Amerika Serikat yang nikmat mempergunakan sebelah kanan jalan untuk memuluskan jalan tanpa terhalang bila mereka (Truk) berada di sebelah kiri jalan.
Dengan ban vulkanisir, asap knalpot hitam dan sering mengabaikan unsur keselamatan yang ala kadarnya dalam membawa barang, dapat menyebabkan rawan kecelakaan bagi pengguna jalan raya lainnya.


4.   Seperti halnya motor, showroom mobil pribadi juga tidak mau kalah gencar dalam  promosinya untuk menjangkau lebih banyak lagi konsumen Menengah dan Atas untuk  menganti atau justru menambah kendaraan.


5.   Trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki, sudah lama berubah fungsi untuk tempat berjualan bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang seakan telah memiliki izin resmi dari Pemda di daerah tersebut.


6.   Hadirnya Preman atau Polisi Cepek yang seakan memiliki kewenangan penuh dari Kepolisian dalam mengatur jalan raya.


7.   Pengelolaan parkir di jalan raya juga tidak berjalan sesuai dengan aturan, sehingga fungsi jalan raya dapat berubah menjadi tempat parkir umum dan jalan raya pun semakin menyempit.


8.   Tidak adanya koordinasi yang baik yang dilakukan oleh pihak Telkom, PLN untuk bekerjasama dalam melakukan penggalian pipa mapun kabel dan setelah selesai penggalian kadang dibiarkan terbengkalai. Sebenarnya hal ini tanggungjawab siapa ? 


9.   Kurangnya koordinasi jajaran aparat Kepolisian, Departemen Perhubungan, Organda atau pihak yang terlibat terhadap keadaan yang ada (seakan pasrah).


Sebenarnya masih terdapat hal lainnya yang harus diperhatikan, namun apabila 9 faktor  diperhatikan dan dibenahi serta semua elemen terkait bekerjasama bahkan dengan mengundang pihak Dinas Tata Kota, kemacetan tersebut dapat terselesaikan tanpa harus menambah jalan susun maupun mengeluarkan biaya yang sangat besar. Alangkah lebih baiknya dengan kondisi yang telah ada kita dapat menata ulang sesuai dengan fungsi semula.

Ada beberapa saran dan (mungkin) tidak memerlukan biaya besar dan dalam pemaparan ini saya mengambil contoh di jalan yang besar yang kerap terjadi kemacetan, seperti :
·         Glodok – Thamrin – Sudirman – Sisingamangaraja,
·         Warung Buncit – Mampang – Kuningan,
·         Cililitan – By Pass - Tanjung Priok,
·         Pramuka – Pemuda,
·         Suprapto – Kelapa Gading.

Solusi yang dapat dilakukan :
1.  Jalur ke-1 khusus untuk : Bus, Angkutan Kota maupun Truk dengan pemisah jalur mempergunakan marka panjang (bukan separator).


2.     Jalur  ke-2  khusus  buat   pengendara motor dengan pemisah jalur  mempergunakan marka panjang (bukan separator).


3.      Jalur ke-3 khusus bagi :

·         Operator Taxi, Mobil Pick Up dan Mobil Box.

·         Mobil pribadi berkecepatan 40 km/jam – 60 km/jam.

Apabila pengguna jalur ke-3 ingin masuk ke dalam jalur ke-2 dan ke-1 untuk berbelok atau memasuki tempat yang terdapat disebelah kiri, terlebih dahulu (minimal 250 m sebelumnya) menggunakan lampu sein untuk memberi-tahu kepada pengguna jalur ke-2 dan ke-1 dalam memberikan jalan.

4.      Jalur ke-4 s/d ke-5 khusus mobil pribadi dengan kecepatan 60 – 80 km/jam.


5.      Jalur ke-6 khusus Busway (apabila ada) harus dilakukan pembenahan dalam menarik minat para pengguna mobil pribadi untuk belalih ke TJ :
·       Dikelola secara Profesional dan memperbaiki sarana (seharusnya diberikan AC) untuk memberikan kenyamanan untuk menarik minatada secara lebih professional.
·        Membuat dan mengelola lokasi parkir kendaraan pribadi yang tidak begitu jauh dari Halte Busway.
·        Sering melakukan promosi dan menambah armada TJ untuk menghindari desak-desakan dalam Halte maupun dalam TJ itu sendiri.
6.      Sebaiknya jalan tol difungsikan untuk kendaraan yang laik jalan dengan kecepatan minimum 60 km/jam, dengan spesifikasi sbb :

·      Bahu jalan khusus emergency

·      Jalur ke-1 khusus Bus, Angkotan Kota dan Truck

·      Jalur ke-2 khusus mobil pribadi dengan kecepatan 60 km/jam s/d 80 km/jam

·      Jalur ke-3 khusus mobil pribadi dengan kecepatan 80 km/jam s/d 100 km/jam

7.   Untuk menghindari galian yang terus-menerus, sebaiknya segera dibuatkan gorong-gorong sehingga memudahkan pihak yang (rajin menggali) terkait : Telkom, PLN, dll.

8.    Pihak Kepolisian sering melakukan sosialisasi dalam berkendara dalam bentuk iklan, pelayanan masyarakat, dll.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan mari kita mulai dari saat ini untuk berdisiplin dalam berkendara. Dengan memulai disiplin terhadap diri sendiri akan membentuk kepribadian yang positif dan dapat membangun negeri dengan penuh rasa tanggungjawab.

10 November 2009

Evaluasi Umur

Sudah 39 tahun Allah SWT telah memberikan kehidupan dan baru 4 tahun diri ini merasakan suatu kenikmatan yang benar2 dekat kepada-Nya. Begitu banyak pelajaran hidup yang telah diperoleh dan dijalani, namun dari sekian umur yang terlewati baru di usia ini saya merasakan "Kedekatan Yang Berarti".

Evaluasi diri terhadap seluruh perilaku dan tindakan harus menjadi perbaikan untuk menjadi lebih baik sehingga umur pun menjadi lebih bermanfaat. Peranan Papa maupun (alm) Mama membuat diri semakin termotivasi untuk meraih yang lebih baik dengan Istri dan Anak yang masih setia mendampingi. Demikian pula dengan peranan Adik2 juga tidak kalah pentingnya dalam membantu menyeimbangi.

Disamping itu dukungan dari Mertua, Ipar, Keluarga Besar, Sahabat, Teman hingga Relasi semakin menambah kokoh diri.... semoga dengan sisa umur yang ada dapat memberikan manfaat bagi mereka semua dan semakin menambah ketaqwaan kepada Allah SWT.... amin.

Tanpa mereka diri ini tidaklah berarti....
  • Papa & (alm) Mama
  • Istri & Anakku
  • Adik2 ku : Vita, Melly, Irfan
  • Mertua
  • Ipar2 ku : John, Rudy, Rika, Medi, Riko, Visi
Saudara, Sahabat dan Teman2-ku :

  1. A Adi Wijaya
  2. Ade Jahja
  3. Ade Riza Marlina Sugarba
  4. Adhi Kusuma
  5. Adi Yatmaka
  6. Adri Soedianto
  7. Adriano Jun
  8. Adrienne Benedicta Patty
  9. Agung Trihandoko
  10. Ali Affandi Nasution
  11. Amroe Hasibuan
  12. Andi Ertha Mutiara
  13. Andri Loenggana
  14. Andri Oktoridhon
  15. Arief Budiman
  16. Ariyanti Suyitno Melik
  17. Asna Dewi Indrati Nasution
  18. Atina Rosilawati
  19. Bagus Asharnanto
  20. Berlina Onetta Subrata
  21. Chandra Kanden
  22. Chandra Rana
  23. Charles Gultom
  24. Coq Harahap
  25. David D Siregar
  26. Destya Ramia Abriyani
  27. Dewi Sartika Sari
  28. Diah Oetari Soewarno
  29. Dinda Syariyuniska
  30. Dwi Chichi Prameisi Ramdhayani
  31. Dyah Mawarni
  32. Eko Budi Mahasetyawan
  33. Eko Sumarsono
  34. Erlan Surya Maulana
  35. Erwin Van Damme
  36. Fachrul Riza Harahap
  37. Fauzi Badar
  38. Ferry Frisal Parinussa
  39. Fifie Andriadi
  40. Firmansyah Faisal
  41. Fitri Hamzah Pulungan
  42. Frid Akbar
  43. Hamdani
  44. Harnie Medi
  45. Henny Yulian
  46. Husni Sulaiman
  47. Iin Indriaty Suryadarma
  48. Imelda Novianty Harahap
  49. Ina Darma
  50. Ina Diana Wulandari
  51. Indah Fajarwati
  52. Indahasti Malel
  53. Indra Malik Nasution
  54. Indra Ruslim Nasution
  55. Irwan Kiki
  56. Ivonne Kathryn
  57. Iwan Ruslani Setyowibowo
  58. Jainul A Dalimunthe
  59. Jaja Mihardja
  60. Kemalsyah Nasution
  61. Linda Siregar
  62. Lis Damayanti
  63. Love Dindra
  64. Malayus Merry
  65. Masagus Y Rinaldi
  66. Medyarini Desindra
  67. Michele Ices Ardhono
  68. Muchaiyar Putra
  69. Muhamad Isdhiharno
  70. Muhammad Faisal
  71. Muhammad Guntur Kasla
  72. Nenny Dewi Rhainy
  73. Nonny Kartika
  74. Novalita Rosman
  75. Novianti
  76. Nurhasanah
  77. Nurul Hakim Tirtamanggala
  78. Nuswardana Denny Sarodja
  79. Poerwidhi
  80. Ponco Wardono
  81. Purwani Sadjiman
  82. Putri Kurnia Cintami
  83. Putri Yulina
  84. Putut Nowo
  85. Rakaswati Putri
  86. Raymond Bojoh
  87. Reza Pradana
  88. Rike Ramadiyanti
  89. Riki Rachman Kusumakardani
  90. Rimadhani Hasibuan
  91. Rinda Dicky
  92. Rindrar Iboz Indrarso
  93. Rini Triani
  94. Rizandri Osmar
  95. Safarino Diaz Febrianto
  96. Sandra Ais
  97. Santy Chaidir
  98. Sari Yasmine Hura
  99. Silvia Mardiana
  100. Siti Sarah
  101. Srie Apriwani Harahap
  102. Susan Rosa Malay
  103. Sys Ns
  104. Tanto Harjatmoro
  105. Teta Nurfenda
  106. Tina Malinda Siregar
  107. Tommy Pratama
  108. Tonda Ralo Kaloke
  109. Tri Ichsan Nur
  110. Triana Yulandani
  111. Windi Minha Zulfitriah
  112. Yani Setiani
  113. Yenti Sukardi
  114. Yoni M Purwana
  115. Yudhi Hari Laksono
  116. Zoeb Khan
  117. Zola Hafilany
Yaa Allah.... begitu banyak kenikmatan yang Engkau berikan kepada-ku. Begitu besar karunia rezeki, kemuliaan serta rahmat-Mu. Aku memohon kepada-Mu Yaa Allah…. berikanlah Orang Tua-ku, Istri & Anakku, Adik2-ku, Mertua, Ipar, Seluruh Saudara, Sahabat & Temanku serta seluruh insan yang terlahir di dunia ini.... kemuliaan, kesehatan, rahmat & rezeki yang halal. Jadikanlah akhir hayat kami khusnul khatimah…. Amin.