13 April 2009

Rakyat Telah Memilih Wakilnya Yang Terbaik

Banyaknya laporan pelanggaran dan kecurangan pasca pemungutan dan penghitungan suara dalam Pemilu Legislatif 2009 ini dan cukup membuat Badan Pengawas Pemilu kewalahan. Kemserawutan dalam Pemilu juga membuat sejumlah Parpol dan Ormas mengajukan gugatan secara hukum (Kompas, 11 April 2009).

Dalam Pemilu 2009 ini sangatlah tidak tepat apabila dianggap telah mewakili aspirasi dan keinginan rakyat Indonesia, karena jumlah pemilih di Indonesia tidak lebih dari 50%, baik itu golput maupun DPT yang acak²an. Dari awal KPU sudah terlihat kurang Profesional dalam penyelenggaraan Pemilu tahun 2009, namun tetap memaksakan harus tetap diadakan sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal.

Secara garis besar, hasil suara Pemilu 2009 ini masih berorientasi kepada Partai² besar dan keagamaan sehingga tidak memberi kesempatan kepada Partai² kecil untuk menunjukkan kualitasnya. Hal ini sah² saja karena keterbatasan dana yang ada sehingga cukup menyulitkan mereka untuk melakukan sosialisasi program kerjanya. Disamping itu pula sangat tingginya persentase Golput menunjukkan minimnya kualitas sosialisasi yang dilakukan oleh Partai maupun penyelenggara Pemilu.

Saya mencoba menawarkan alternatif Pemilu selanjutnya adalah dengan lebih mengaktifkan peranan KPU dengan membantu Partai yang berhasil masuk Pemilu dalam mensosialisasikan programnya, seperti :

  1. Menyaring Caleg² dan melakukan Fit & Proper Test, sehingga nantinya Caleg yang diperoleh lebih berkualitas.
  2. KPU merekomendasikan Caleg² yang lulus kepada Partai yang berhasil masuk Pemilu dan rakyat pun lebih mengetahui kualitas Caleg yang akan dipilihnya.
  3. Selanjutnya KPU lebih terkonsentrasi untuk penyelenggaraan Pemilu.
Namun terlepas dari itu semua, Pemilu Legislatif telah kita lalui dan selamat bagi para Calon Legislatif (Caleg) maupun Partai Politik (Parpol) yang berhasil mewujudkan impiannya dalam membangun negara Indonesia yang kita cintai ini. Semoga harapan rakyat dan janji yang telah dilontarkan benar² dapat terwujud nantinya sehingga kemenangan itu dapat dirasakan seluruhnya…… amin.

Bagi rekan² Caleg maupun Parpol yang belum berhasil, alangkah baiknya kalau kita dapat menerima hasil tersebut dengan lapang dada karena proses Demokrasi telah kita lalui bersama walaupun masih banyak terdapat kekurangan dan semoga hal ini tidak terjadi dalam Pemilu 5 tahun mendatang.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan dari Abu Huhairah, Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh kalian akan gila jabatan dan pada hari Kiamat kelak akan menjadi penyesalan. Nikmat di dunia dan sengsara di Akhirat”.

Terdapat nilai keagungan positif dari semua ini yaitu bagaimana hati dapat menerima semuanya dengan ikhlas dan sabar, sehingga tidak perlu khawatir kalau tidak mendapat tempat tersebut, karena masih terdapat tempat lebih mulia, sebagaimana dalam QS. Ar-Ra’d : 22, Allah SWT berfirman : “Orang² yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat dan mendermakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang²an serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).

Mari melakukan instropeksi diri yang kemungkinan masih terdapat banyak kekurangan sehingga rakyat belum memberikan kepercayaan kepada kita untuk mewakilkan mereka dalam Pemerintahan. Untuk itu kita masih harus lebih banyak belajar dari mereka (para Caleg yang berhasil) maupun lebih memahami (beramal) terhadap aspirasi dari mereka (rakyat). Bukanlah hal yang gampang untuk membuat orang lain percaya dan yakin terhadap keinginan kita tersebut, untuk itulah diperlukan sifat ikhlas dan sabar.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT tidak memandang bentuk rupa dan hartamu, tetapi Dia memandang hati dan perbuatanmu” (Muslim-At Targhib).

Beramal dengan ikhlas dengan mencari keridhaan Allah SWT itu lebih mulia daripada beramal untuk mencari ketenaran atau agar dihargai orang lain. Jika niat mencari ketenaran ini terdapat dalam hati kita hendaklah segera membaca : “Laa haula wala quwwata illa billah dan beristighfarlah untuk memperbaiki diri kita.

Sudahlah…… janganlah terlalu sentimentil…… mari kita pusatkan pikiran dan hati ini kepada keluarga kita yang (mungkin) terlupakan selama ini. Membangun Indonesia tidak harus menjadi ‘wakil rakyat’ karena masih banyak profesi/pekerjaan yang dapat menyalurkan keinginan kita untuk kesejahteraan rakyat. Mari kita bantu dengan setulus hati perwakilan kita tersebut untuk kemajuan negeri Indonesia yang kita cintai ini.....