27 July 2009

Keprihatinan Perhatian

Kasus Bom JW Marriot & Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta telah menjadi perhatian seluruh dunia dan sangat khusus di Indonesia. Begitu banyak sorotan publik maupun media massa dalam meliput kejadian tersebut yang memakan korban s/d saat ini sebanyak 9 orang yang (mohon maaf) mayoritas kalangan atas yang sedang menikmati suasana pagi di Hotel Berbintang tersebut.

Sementara itu disekeliling yang tak begitu jauh dari kejadian tersebut terdapat banyak 'kaum papah' yang berjuang dalam mencari penyambung hidupnya di hiruk pikuk manusia yang berlomba² menunjukkan simpatinya ke Mega Kuningan tersebut seakan terlupakan dari perhatian manusia yang berlomba² menunjukkan simpatinya ke Mega Kuningan.

Mereka (Kaum Papah) seakan luput dari perhatian kita yang hampir setiap harinya ada yang meninggal dunia karena tidak dapat memperoleh makan & minum untuk hidupnya. Dan apakah ini sudah menjadi suatu ritual eksklusif bagi kaum atas harus memiliki porsi besar dalam memperoleh perhatian ? Perhatian maupun sorotan media sudah ada, namun jika kita melihat porsinya alangkah ironisnya.... mereka yang terkena Bom dapat diperoleh data yang cukup akurat(nama, dll) walaupun kondisi mayatnya sudah hancur berantakan. Tetapi dapatkah kita memperoleh nama mereka {kaum papah) yang meninggal (hampir) setiap harinya ?

Mungkin hal ini menyangkut masalah kepentingan dan biaya, tetapi saya hanya menyampaikan suatu keprihatinan perhatian terhadap di sekeliling kita yang saat ini sedang menekan perutnya lebih dalam.

Rasulullah Saw pernah bersabda, "orang miskin bukanlah orang yang berkeliling kepada orang lain untuk meminta segenggam atau dua genggam kurma, tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki cukup (uang) untuk memenuhi kebutuhannya dan keadaannya itu tidak diketahui orang lain; orang lain mungkin memberinya sedekah, tetapi ia tidak mengemis kepada orang lain". [HR. Bukhari].

Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kapan ajalnya tiba. Dan tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Mari kita keluarkan sedekah yang bukan saja untuk memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah SWT ? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai Allah SWT, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.... Subhanallah.

Mari kita palingkan kembali perhatian kita untuk membantu mereka (kaum papah) yang sangat membutuhkan uluran tangan kita dan banyak dari kita yang sudah mengetahui dan memahami perihal anjuran bersedekah ini, namun persoalannya seringkali kita teramat susah untuk melakukannya karana khawatir kesalahan dalam memberi. Padahal sesungguhnya prasangka yang demikian itu merupakan bisikan syaitan yang tidak rela melihat kita berbuat baik (bersedekah). Mari mulai saat ini kita hilangkan prasangka² demikian dan niatkan sedekah sebagai bukti keimanan kita atas perintah Allah SWT dan Rasul-Nya yang menganjurkan umatnya untuk selalu bersedekah.

Apabila sedekah yang kita beri tadi tidak tepat sasaran adalah bukan lagi merupakan urusan kita, karena hakikat sedekah adalah ladang amal bagi hamba² Allah SWT yang bertakwa. Pengemis/peminta/fakir miskin lainnya adalah ladang amal bagi orang yang berkemampuan, dapat kita bayangkan andaikata tidak ada lagi orang² tersebut, kepada siapa lagi kita dapat beramal(bersedekah) ?