22 August 2009

Ridha Allah SWT ada (bergantung) pada Ridha Orang Tua

Birrul walidain (berbakti kepada orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Quran, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, ALLAH memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua. Allah SWT berfirman : “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [QS. Al-Israa' : 23-24].



Terkenang akan wajah Mama semasa hidupnya yang saat sudah 11 tahun meninggalkan dunia ini, teringat sewaktu saya berada 9 bulan di perutnya, merasakan mual, muntah, berjalan terasa berat, dan berbaring pun terasa sulit tapi orang tua kita tetap ridha. Kemudian Mama melahirkan saya dengan bersimbah darah dan air mata. Yaa Allah betapa Mama telah meregang nyawa antara hidup dan mati namun Mama tetap bahagia. Ditatapnya diri ini dan didekapnya. Dengan kasih sayangnya diri ini disusui dan saya malah membalasnya dengan mengotori dan mengencingi pakaiannya. Tetapi Mama tetap selalu sabar, sampai tiada rela seekor nyamukpun menggigit tubuh ini.

Terkenang wajah Papa yang membanting tulang mencari nafkah agar diri ini tumbuh menjadi janin yang sehat dengan penuh tanggungjawab tanpa menghiraukan sulit dan lelahnya diri Papa untuk memenuhi kebutuhan hidup saya.


Yaa Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Agung.... berikanlah orang tua kami menjadi orang tua yang Engkau ampuni seluruh dosanya, muliakanlah dengan ketaatan sepanjang hayatnya dan jadikan akhir hayatnya menjadi khusnul khatimah Jadikan mereka ahli surga.
Inti daripada kehidupan umat manusia di dunia ini hanyalah mencari satu keridhaan : keridhaan Allah SWT. Siang malam ibadah yang dijalankan hanyalah menuju pada Allah semata, bukan yang lain, karena bila ibadah yang dijalankan untuk selain-Nya maka sia²lah pengorbanan kita. Karena hanya amal orang² yang mukhlis semata yang nantinya tidak akan mengalami kerusakan ketika kelak diminta pertanggungjawaban pada Allah subhanahu wa ta'ala.


Dalam Hadist Rasulullah SAW sering disebutkan bahwa 'kunci amal yang diterima Allah SWT adalah amal yang tanpa tujuan apa-apa selain Allah, bukan karena manusia, harta, tahta atau wanita, suci dan murni untuk dan demi Allah Rabbuna 'azza wa jalla. Dengan demikian, yang dibutuhkan adalah kesungguhan untuk beribadah dan mengabdi hanya kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang patut untuk disembah dan dimintai pertolongan. Subhanallah...

Tapi perlu diingat, bekal untuk mencapai ridha Allah tidak semudah membalik telapak tangan. Belum cukup kalau kita lekas berbangga dengan amal dan ibadah kita tanpa ada keridhaan dari orang tua kita.

Bila dihitung, maka apa yang telah dilakukan oleh orang tua kepada kita semua sangatlah besar bagi amal dan ibadah yang kita lakukan hingga saat ini. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghormati, tunduk, patuh dan taat padanya. Tak ada yang bisa membalas kebaikan dan jasanya yang telah diberikan kepada kita dengan tulus dan tanpa pamrih itu.

Pengabdian dan ketaatan kita kepada orang tua, meskipun tak akan pernah bisa menandingi pengorbanannya kepada kita, harus diwujudkan dalam setiap langkah. Hingga mereka dipanggil oleh Allah pun kita harus tetap mengabdikan diri kepada mereka, dengan mendoakan dan menyambung sanak keluarga yang pernah dirintis oleh mereka. Sungguh dosa yang amat besar : sejelek-jelek amal dan sebodoh-bodoh manusia, bila anak tidak patuh dan tunduk kepada orang tua. Sebaliknya jika kita mengabdi, patuh, sabar terhadap orang tua, insya Allah keridhaannya akan selalu menyertai kita. Dan ini adalah salah satu kunci untuk meraih ridha Allah, karena ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.

Tanamkan dalam benak kita bahwa “tidak ada waktu kecuali menyenangkan hati orang tua”.


Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua dan Pahalanya
(Ditulis secara ringkas dari tulisan Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawwaz dalam buletin Al-Hujjah, Mataram ed. 56/IV/rabi'ul Akhir/1423 H).

  1. Adalah amal yang paling utama, sesuai sabda Rasulullah SAW : "Aku bertanya kepada Nabi tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah. Nabi menjawab, 'pertama sholat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan sholat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah" [HR. Bukhari I/134, Muslim no. 85].
  2. Ridha Allah tergantung kepada ridha orang tua, sesuai sabda Rasulullah: "Ridha Allah tergantung kepada keridhan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" [HR. Bukhari, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim].
  3. Berbakti kepada orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami, yaitu dengan cara bertawasul dengan amal sholeh tersebut. Dalilnya adalah HR. Ibnu 'Umar mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua dan salah seorang-nya bertawasul dengan bakti kepada ibu bapaknya. [HR. Bukhari dalam Fathul Bari 4/449 no 2272, Muslim (2473)(100)].
  4. Akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur kita, sesuai sabda Nabi: "Barangsiapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umur-nya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim" [HR. Bukhari 7/7, Musilim 2557, Abu Dawud 1693]. Dalam silaturrahim, yang harus didahulukan adalah silaturrahim kepada orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak di antara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya, tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang, bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil, dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturrahim kepada kedua orang tua, karena dekat kepada keduanya insya' ALLAH akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umurnya.
  5. Akan dimasukkan surga (jannah) oleh Allah. Dosa-dosa yang Allah segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian, jika seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan izin Allah.
Bentuk dan Akibat Durhaka kepada Kedua Orang Tua

  1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua, baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
  2. Berkata 'ah' dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
  3. Membentak atau menghardik orang tua.
  4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya, bahkan lebih mementingkan yang lain daripada mengurusi orang tuanya, padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
  5. Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, 'kolot', dan lain-lain.
  6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi, jika si ibu melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri, maka tidak mengapa, dan karena itu anak harus berterima kasih.
  7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
  8. Mendahului taat kepada istri daripada kepada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan RasulNya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat kebaikan lainnya kepada orang tuanya.
  9. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Bentuk-bentuk Berbakti kepada Orang Tua


  1. Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi saw disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mukmin termasuk shodaqoh, lebih utama lagi kalau memberi kegembiraan kepada orang tua kita.
  2. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicaralah dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
  3. Tawadhu' (rendah diri). Tidak boleh kibr (sombong) apabila sudah meraih sukses atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.
  4. Memberi infaq (shodaqoh) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.
  5. Mendoakan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: (artinya) "Wahai robb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil". Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid'ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.
Apabila kedua orang tua telah meninggal, maka yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah SWT dengan taubat nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya, ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yang keempat membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat sesuai dengan syari'at dan yang keenam menyambung tali silaturrohim kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadits yang shohih). Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khasiriin. Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscahya pastilah kami termasuk orang yang rugi.

Selanjutnya, apabila kedua orang tua sudah berusia lanjut, sikap dan perasaan mereka cepat berubah, seperti menjadi mudah tersinggung, suka marah dan cepat bersedih hati, karena ketuaan usia mereka. Maka kepada kita diperintahkan agar melihat perubahan perilaku orang tua yang sudah tua renta itu sebagai suatu yang lumrah dan mesti diterima dengan selalu menampakkan rasa kasih sayang yang tulus sebagai buah dari keluhuran budi mukmin yang bertaqwa. Allah telah menetapkan perintah berterima kasih kepada orang tua sesudah perintah bersyukur kepada Allah SWT "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu". [Q.S. Luqman : 14].


Maka, janganlah kita lalai untuk berdoa bagi keselamatan dan kesejahteraan orang tua, agar Allah SWT menurunkan rahmatnya untuk kita semua..... amin.

11 August 2009

Kisah Pohon Mangga

1 tahun sudah memantapkan hidup ini untuk mencari keberkahan rezeki yang halal, meninggalkan segala 'keagungan dan kehormatan semu'. Tidak mudah untuk memulainya dengan hati yang ikhlas untuk meninggalkan itu semua, namun perasaan hati ingin lebih dekat kepada Allah seakan memupus semuanya.... bertaubat dan ingin mendapat kasih sayang Allah SWT.

Perasaan ini sebenarnya sudah ada sejak saya akan menanam pohon Mangga di depan halaman rumah di tahun 2005. Saat itu saya sudah membuat lubang besar untuk menanam pohon mangga tersebut, namun kaki ini seakan ingin masuk kedalam lubang tersebut dan badan terasa menggigil kedinginan mengingat 'kematian' yang siap menunggu antrian. Pandangan lalu tertuju ke rumah yang selama ini seakan dibanggakan dan terbayang akan anak & istri yang menangis diatas pusara, sedangkan jasad ini terkubur kaku dibawahnya dan tidak bisa melakukan apa².

Saya kemudian bertekad untuk total merubah seluruhnya baik sifat, tindakan maupun perkataan yang tidak baik pada hari ultah yang ke-35 tahun. Memohon maaf dan sujud kepada Orang Tua inc. Mertua termasuk kepada Istri, Adik² serta Ipar².... mereka pun kaget dan berfikir apa yang terjadi ?

"Tidak ada yang lebih aku sesali daripada penyesalanku terhadap hari dimana ketika Matahari tenggelam, sementara umurku berkurang tapi amalku tidak bertambah" [Ibnu Mas'ud].

Dengan tekad yang bulat untuk total bertaubat dan menjadi "New Irdon Syahli Harahap" sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah : 222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Firman Allah SWT [QS. Ali Imran : 133], "Bersegeralah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

Semenjak itu saya mulai merasakan rasa tidak nyaman dalam bekerja yang selalu melihat prestasi sukses diukur dengan yang sering menyimpang dari kaidah Islam. Hati ini bergejolak sangat besar untuk segera  hijrah. Akhirnya hati benar² sangat "plong" dan merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara terlepas dari belenggu "penjara emas" (bulan Agustus 2008).

Memang tidak mudah untuk memulai sesuatu yang baru yang selama ini selalu ter-fasilitasi. Memulai dengan mendirikan perusahaan yang hanya bermodalkan tekad dan semangat sesuai dengan syariat Islam ditambahan dengan keyakinan hati kepada Allah SWT. Sabar, ikhlas dan selalu beristighfar memohon ampunan Allah adalah menu wajib untuk setiap hamba.

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." [QS. Al-Mulk : 2].

"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." [QS. Al-Anbiya`: 35].

Dari Anas Ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya besarnya balasan/ganjaran sama dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya Allah SWT apabila mencintai suatu kaum maka Allah menurunkan cobaan kepada mereka, maka barangsiapa yang rela maka baginya Ridha Allah dan barang siapa yang marah, maka baginya murka Allah. [HR Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Beberapa Hadits yang menerangkan mengenai Ujian :
  1. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). [HR. Bukhari].
  2. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. [HR. Bukhari].
  3. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. [HR. Tirmidzi].
  4. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. [HR. Bukhari].
  5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. [HR. Ath-Thabrani].
  6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). [HR. Al-Baihaqi].
  7. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” [HR. Ahmad dan Tirmidzi].
  8. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. [HR. Ahmad].
  9. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. [HR. Bukhari].
  10. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. [HR. Al Bazzaar].
  11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. [HR. Bukhari].
  12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). [HR. Ath-Thabrani].
  13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. [HR. Abu Ya’la].
  14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. [HR. Ahmad].
  15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. [HR. Ath-Thabrani].
  16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). [HR. Ad-Dailami].
  17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. [HR. Al-Baihaqi].
Beberapa Hadits yang menerangkan mengenai Sabar :

  1. Sabar adalah separauh iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan. [HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi].
  2. suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar. [HR. Al Hakim].
  3. Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah. [HR. Bukhari].
  4. Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan). [HR. Ath-Thabrani].
  5. Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar. [HR. Ahmad dan Abu Dawud].
"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku". Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do'a". [Al-Aqdud-Farid, 2/282].

Keadaan dan nasib seseorang suatu saat pasti ada perubahan. Seorang yang berbahagia, ialah orang yang senantiasa mampu menjaga ketakwaannya kepada Allah, meskipun ia didera berbagai musibah.

Tidak ada kesempitan, kecuali pasti ada keluasannya. Tidak ada rasa sakit, kecuali pasti ada kesembuhannya. Tidak ada kefaqiran, kecuali ada kekayaan..... insya Allah.