26 January 2010

Ketika Kekuasaan Tidak Mengenal Belas Kasihan

Setelah memperoleh pinjaman dari Bank, Ibu Yani (nama samaran) usaha Garment yang dirintis bersama suami tercinta semakin berkembang pesat. Asset rumah pun telah bertambah dan salah satunya memiliki kolam renang didalam rumah tersebut. Beliau pun setiap datang di Bank selalu disambut dengan ramah serta suka cita.

Namun kemewahan selama 5 tahun tersebut mulai sedikit demi sedikit mulai surut semenjak suami tercinta telah dipanggil oleh Allah SWT. Asset yang dulu sangat dibanggakan sedikit demi sedikit mulai hilang dan hanya tinggal 1 buah rumah kecil yang masih dijaminkan di Bank.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya, kalian tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi kalian bisa menguasai mereka dengan wajah yang bersahaja dan akhlak yang baik”.   [HR. Abu Ya’la, dishahihkan Al Hakim, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab Al jami’, Bab Targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287. Hadits no. 1341. Cet 1, 2004m/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah].

Usaha Garment sudah tidak dimiliki lagi dan untuk mencukupi nafkah sehari² nya seluruh Keluarga tersebut bekerja di Usaha Garment yang sudah dimiliki oleh salah satu karyawannya. Dan kesehatan Ibu Yani pun  kian memburuk dan menderita penyakit diabetes sehingga 2 jari yang terletak di tangan kanan harus rela untuk dipotong.

Dengan kondisi (kini) yang sangat miskin dan untuk memenuhi kebutuhan "perut" sehari²nya, Keluarga ini harus rela menjual satu persatu keramik (ubin) rumah sehingga bila hujan datang, pemandangan becek menghiasi rumah tersebut dan terpaksa harus tidur beralaskan sebuah koran diatas tanah yang becek tadi dalam rumah tersebut.... yaa Allah.

Ternyata penderitaan mereka belum berakhir karena kewajiban hutang mereka yang hanya tertinggal Rp. 2 Juta harus dilunasi karena pihak Bank telah memberikan toleransi waktu selama 1 tahun dan akan menyita rumah tersebut apabila kewajiban tersebut tidak diselesaikan.

Langkah gontai dengan perasaan yang galau, Keluarga ini memohon belas kasihan dari pihak Bank untuk tidak menyita rumah mereka, karena tidak tahu harus dimana lagi mereka harus tinggal, sedangkan kondisi Ibu Yani sudah sangat mengkhawatirkan dan untuk biaya berobat Beliau saja, terpaksa mereka harus memelas dengan iba pemberian orang lain.

Dengan angkuhnya Pemimpin Bank tersebut mengatakan bahwa ia hanya menjalankan tugas yang sudah sesuai dengan aturan yang telah berlaku di Bank tersebut. 1 jam lebih mereka memohon dan sujud kepada pihak Bank untuk membuka hati Pemimpin Bank membantu mereka dan dapat melihat kondisi mereka saat ini. Bukan penyelesaian yang Keluarga ini peroleh, namun sedikit makian terlontar kepada mereka ...  Isak tangis membahana dalam Bank tersebut....... Masya Allah !

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna (al-mâ’un)”.   [QS. Al-Ma’un : 1-7]

Sebulan berlalu... Pemimpin Bank tersebut menyuruh karyawannya untuk mengantarkan Surat Sita atas Bangunan tersebut. Karyawan tersebut tidak tega untuk menyampaikan surat tersebut dan meminta tolong kepada temannya untuk bersedia menyampaikan kepada Ibu Yani.

Sesampai disana..... ?? Ternyata dalam menuju rumah tersebut didapati banyak bendera kuning dan sesampai di rumah tersebut banyak pelayat yang datang untuk bersiap² mengantarkan jenazah Ibu Yani ke peristirahatannya yang terakhir. Seakan mulut terkunci dan badan bergetar karyawan Bank tadi pun kembali ke Bank dan menceritakan kejadian tersebut.... Tetapi bukan kata simpati yang diperoleh dari Pemimpin Bank tersebut, tetapi aturan tetap harus dijalankan.

Ibnu Abbas ra, menjelaskan makna firman Allah SWT : (Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia) dia berkata: "Janganlah kamu sombong dan merendahkan manusia, hingga kamu memalingkan wajahmu ketika mereka berbicara kepadamu".   [Tafsir At-Thobari 21/74)].

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan Firman Allah SWT, ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu".  [Tafsir Ibnu Katsir 3/417].

Kalaulah ada sedikit perhatian maupun bantuan dari Pemimpin dengan bersama² seluruh Karyawan Bank tersebut untuk bersedekah dan membantu kesulitan mereka yang hanya sebesar Rp. 2 Juta, masalah yang sangat ringan tersebut dapat terselesaikan.

"Bersedekah pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan² pahalanya dua puluh dan silaturrahim (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat".  [HR. Al-Hakim].

Akhirnya dengan pertolongan Allah SWT... pinjaman yang hanya sebesar Rp. 2 Juta tersebut dapat dilunasi oleh simpatisan yang rela membantu Ahli Waris Keluarga tersebut..... Subhanallah.

21 January 2010

Orang Terbaik Itu Telah Meninggalkan Kita

Setiap tgl. 8 Januari selalu diperingati ulang tahun pernikahan orang tua kami hingga tahun 1998. Namun semenjak wafatnya Mama pada tgl. 12 Juni 1998, acara tersebut tidak lagi kami adakan.



Setelah 12 tahun berselang... pada hari Jum'at, tgl. 8 Januari 2010, kami menerima berita wafatnya Abang dari Mama, H. Bob R. E. Nasution dalam usianya ke-72 tahun (Padangsidempuan, 9 Oktober 1937), jam 14.30 WIB di Rumah Sakit Setia Mitra, Jakarta. Berita wafatnya Beliau saya peroleh dari Adik dan Papa pada jam : 15.00 WIB dan bersama Istri dan Anak langsung menuju kediaman Beliau yang mulai dipadati para pelayat.

"Diantara tanda khusnul khatimah adalah meninggal pada hari Jum’at atau malamnya. Nabi bersabda,”Tidaklah diantara seorang Muslim yang meninggal pada Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah memeliharanya dari fitnah kubur”. [HR. Ahmad]

Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang dikira aman : "Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. [QS. An-Nisa : 78].

Om Bob merupakan anak ke-10 dari 13 bersaudara dari pasangan H. Abdul Malik Karim Nasution dan Hj. Siti Hasanah. Om Bob memang sudah ditakdirkan Allah SWT untuk mempersatukan "Keluarga Besar" ini  dan memiliki sifat yang sangat baik dan penuh perhatian terhadap seluruh Saudara, Ipar, Keponakan dan Cucu-nya. Tidak ada seorang (Keluarga) pun yang luput dari perhatian Om Bob.... dan tulisan ini  tidak akan muat jika saya menjabarkan seluruh kebaikan Om Bob. 

Aisyah, istri Rasulullah SAW bertanya : "Kita membenci kematian". Rasulullah SAW bersabda : "Bukan itu yang aku maksud, melainkan orang mukmin ketika dijemput oleh kematian, ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh ridha dan karamah Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia amat senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika dijemput oleh kematian, maka ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan siksa Allah, maka tidak sesuatu yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun tidak senang untuk bertemu dengannya".  [HR. Bukhari].

Kini "Orang Baik" itu telah terbujur kaku dihadapanku dengan meninggalkan wajah senyum dan tertidur. Terus kutatap wajahnya pada saat di mandikan hingga di kafankan. Kucium keningnya yang terakhir dengan terus memanjatkan do'a kepada Allah SWT semoga diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT dan diampunkan segala dosa²-nya.

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda : "Percepatlah pengurusan jenazah ! Karena, jika jenazah itu baik, maka sudah sepantasnya kalian mempercepatnya menuju kebaikan. Dan kalau tidak demikian (tidak baik), maka adalah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian (melepaskan dari tanggungan kalian)".  [HR. Muslim : 1568].

Saya pun memimpin Shalat Jenazah berjemaah dan dalam riwayat Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa menghadiri jenazah sampai jenazah itu disalati, maka ia mendapatkan satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya sampai jenazah itu dikuburkan, maka ia mendapatkan dua qirath. Ada yang bertanya : Apakah dua qirath itu ? Rasulullah SAW bersabda : Sama dengan dua gunung yang besar".  [HR. Muslim : 1570].

Demikian pula doa untuk mayit ketika menshalatinya, didalam hadits Abu Hurairah berkata, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila kalian menshalati seorang mayit maka ikhlaskanlah doamu untuknya”.  [HR. Abu Daud].

Rasulullah SAW juga bersabda, "Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya ketika (orang yang didoakan itu) tidak ada kecuali para malaikat akan mengatakan, Bagi kamu juga seperti itu.”  [HR. Muslim].

Dari Auf bin Malik ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW, setelah selesai shalat jenazah bersabda, "Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka."  [HR Muslim].

Jenazah Om Bob diantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir, Karet Bivak dan berada dalam satu liang lahat dengan adiknya (ke-12), Indra Muharram Nasution, yang telah lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT.

Selamat jalan Om Bob... engkau adalah orang baik dan tetap menjadi orang terbaik dalam kehidupan ini.


13 January 2010

Cukuplah Kematian Itu Sebagai Penasehat


“Aku ingin hidup seribu tahun lagi !”. Puisi Chairil Anwar ini sebenarnya jauh hari sebelumnya telah tertulis dalam Al-Quran yang melukiskan keinginan  sekelompok  manusia  untuk hidup selama itu : “Iblis berhasil  merayu  Adam  dan Hawa   melalui   pintu keinginan   untuk   hidup   kekal selama-lamanya”.  [QS. Al-Baqarah : 96].
Dalam ayat yang lainnya : "Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang tidak akan lapuk ?” [QS. Thaha : 120].
Banyak faktor yang membuat seseorang takut akan kematian, sehingga mereka merasa cemas dan takut menghadapi kematian :
1.       Tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian.
2.       Menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti.
3.       Membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati.
4.       Khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan.
5.       Tidak mengetahui makna hidup dan mati, dll.
sehingga mereka merasa cemas dan takut menghadapi kematian.
Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang dikira aman : "Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”.  [QS. An-Nisa : 78].
Pada dasarnya setiap manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan. Kematian yang pertama ialah sebelum kita dihidupkan di muka bumi ini dan kematian kedua waktu kita mengakhiri kehidupan ini. Kehidupan pertama ialah waktu kita hidup di dunia ini yang bersifat sementara dan kehidupan kedua adalah waktu kita dibangkitkan di akhirat nanti. 
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan-Nya, kemudian dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?"  [QS. Al-Baqarah : 28]. 
Konon Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-ilal wa An-Nihal (I:297), “Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi)  kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan ehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira engan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”
Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Karena itu, sebagian manusia memilih untuk tidak memikirkan kematian. Mereka memfokuskan diri menjalani hidup, bagaimana merencanakan hidup ini dan terus berusaha mewujudkan rencana itu. Maka ketika kematian datang, semua “kenyataan” dalam hidup menjadi lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Semasa hidup, kita dengan leluasa dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa. Dan coba kita renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti… ??!
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”. [QS. Al- Kahfi : 7].
 “Dunia ini panggung Sandiwara…” sekelumit lirik dari Achmad Albar yang diciptakan Ian Antono yang menggambarkan bahwa kehidupan dunia dapat diumpamakan seperti sebuah pentas sandiwara dan kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, selesailah sudah permainan tersebut. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Kita akan bangga ketika mendapat peran sebagai orang kaya dan kita akan menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi  semua peran yang kita mainkan pasti memiliki durasi dan akan berakhir.
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia hanya sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya,  seolah ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.
Tanda kematian pun mulai menghampiri. Rambut mulai beruban, tenaga kian berkurang, wajah semakin keriput. Hidup tak ubahnya sebuah siklus : awal, berkembang  dan kemudian berakhir.
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.  [QS. Al-Hadid : 20].
Rasulullah SAW menggambarkan kehidupan dunia ini laksana ladang, addunya mazra'atul akhirah, ladang untuk menanam tanaman berdasarkan timbangan nalar manusia. Jika di dunia ini kita menanam (umpama) mangga maka di akhirat nanti kita akan mendapatkan buah mangga. Sebaliknya, jika kita menanamkan kopi, maka akan tumbuh buah kopi juga. Apabila seseorang menanam kebaikan, maka akan memperoleh balasan kebaikan pula, yakni surga. Sebaliknya, apabila menanam kejahatan maka buahnya juga kejahatan, yakni neraka.
"Secerdas-cerdasnya manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang benar-benar cerdas dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat”.  [HR. Ibnu Majah]
Untuk mengingat kematian dapat kita lakukan dengan cara :
1.    Berziarah kubur. Nabi SAW bersabda, “Berziarah kuburlah kamu, sebab ia dapat mengingatkanmu akan akhirat.”  [HR. Ahmad & Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al-Albani]
2.    Melihat mayat ketika dimandikan. 
3.    Menyaksikan orang-orang yang tengah sekarat dan menalqinkan mereka dengan kalimat syahadat. 
4.    Mengiringi jenazah, shalat atasnya serta menghadiri penguburannya. 
5.    Membaca Al-Qur'an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan akan kematian dan sakratul maut seperti ayat 19 surat Qaaf. 
6.    Uban dan Penyakit. Kedua hal ini merupakan utusan malaikat maut kepada para hamba. 
7.    Fenomena alam yang dijadikan Allah SWT untuk mengingatkan para hamba akan kematian seperti gempa, gunung meletus, banjir, badai dan sebagainya. 
8.    Membaca berita-berita tentang umat-umat masa lalu yang telah dibinasakan oleh maut.
 “Cukuplah kematian itu sebagai penasehat”.  [HR. Thabrani & Baihaqi].
 “Secerdas-cerdasnya manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang benar-benar cerdas dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat”.  [HR. Ibnu Majah]
Ingatlah, bahwa proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak.
Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang”.  [HR. Tirmidzi].
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?”  [HR. Bukhari]
Disamping itu tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan !!
Masih sombongkah diri dengan mengatasnamakan kesuksesan ketika meraih keberhasilan ? Masih patutkah kita membanggakan harta dengan sebutan kepemilikan ? Kita datang ke dunia dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

01 January 2010

Tahun Baru.... Umur Semakin Berkurang, Mari Kita Melakukan Kebajikan !

Setiap memasuki pergantian tahun sudah menjadi tradisi (mungkin) di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh hura-hura bahkan dapat dikatakan glamour. Padahal kalau kita melakukan instropeksi diri sebenarnya hal tersebut mendekati mubazir dan kurang memiliki faedah. Mungkin sebagian besar orang tidak sependapat dengan saya dan itu sah-sah saja karena setiap manusia masing-masing memiliki pendapatnya masing-masing.

Telah diketahui semua orang bahwa perayaan tahun baru masehi bukanlah kebudayaan Islam, karena Islam tidak mengajarkankan demikian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk, meninggalkan dan menjauhi perayaan-perayaan terutama yang berulang pada setiap tahunnya (’Ied) yang berasal dari non muslim. Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra berkata, saat Rasulullah SAW datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, “Dua hari untuk apa ini ?” Mereka menjawab, “Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyah.” Lantas beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Idul Adha dan Idul Fitri.” [HR. Abu Dawud].

Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra berkata, “Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka.” [Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarah hadits no. 3512].

Kemudian Allah juga mengisyaratkan hal yang sama. Allah Ta’ala menjelaskan ciri-ciri ‘Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah yang beriman) : “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” [Qs. Al-Furqan : 72].

Apa yang terjadi setiap datang tahun baru ? Pada umumnya dari kita melakukan hura hura, foya foya dan perayaan perayaan yang menghamburkan rizki yang telah diberikan oleh Allah SWT, tidak percaya ? Daftar hunian hotel dimana-mana penuh, rental mobil full s/d minggu pertama awal tahun, tempat hiburan membuat kegiatan atau acara spesial, belum lagi yang merayakan dirumah-rumah atau di kampungnya.

Disamping tidak bermanfaat, perayaan tahun baru juga memakan biaya dan bahkan dapat menghabiskan hingga 1 Milyar bahkan lebih yang hanya mengadakan acara peringatan pergantian tahun saja ? Allah SWT melarang perbuatan tersebut dan mengecam pelakunya yang disebut mubadzir. “Sesungguhnya para mubadzir (pemboros) itu adalah saudara-saudara dari setan. Dan setan itu adalah makhluk yang ingkar terhadap Rabb-nya.” [QS. Al Isra : 27].

Allah SWT tidak mencintai orang-orang yang memboroskan harta yang sama sekali tidak akan menambah kemuliaannya di dunia maupun di akhirat.

Pada umumnya pada malam tahun baru, kebanyakan dari kita akan menunda jam tidur demi menunggu waktu hingga pukul 12 malam, dimana terjadi pergantian tahun masehi dengan bersenang-senang, ngobrol, konvoi keliling kota, dan banyak hal yang tidak bermanfaat yang dilakukan. Padahal Nabi SAW membenci ngobrol-ngobrol atau kegiatan tak berguna lainnya yang dilakukan setelah selesai shalat isya. Jika tidak ada kepentingan, Rasulullah menganjurkan untuk langsung tidur, agar dapat bangun di malam hari untuk beribadah. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kepada kami tercelanya mengobrol sesudah shalat ‘lsya.” [HR. Ahmad, Ibnu Majah]. Juga diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh mengobrol (pada malam hari) kecuali dua orang, orang yang akan shalat atau musafir.” [HR. Ahmad].

Akankah kita teringat akan anak yatim piatu ? Sungguh ironis, seolah-olah anak yatim dan kaum miskin seakan dilupakan. Mereka masih memerlukan perjuangan untuk tetap bertahan hidup dari tahun ke tahun dari hari ke hari yang kadang kita hanya memperhatikan mereka pada saat bulan Ramadhan saja. Pada bulan Ramadhan seluruh umat Muslim mendatangi, menyambangi, membagikan rizki, memberikan makan berbuka, memberikan pakaian.

Mereka (anak yatim) dan kaum miskin ini masih memerlukan biaya hidup, masih memerlukan pakaian yang sudah sekian tahun tidak pernah diganti. Mereka memerlukan makan untuk tetap bertahan hidup. Adakah kita perduli dengan mereka yang menjalani takdirnya bukan karena kemauannya ? Kita diberikan kekayaan bukan semata mata karena kita telah giat berusaha, tetapi Allah SWT membuka pintu rezeki. Bagaimana bila Allah menutup pintu rezeki kita. Jika Allah berkehendak “kun fayakun” maka terjadilah dan kita tidak akan bisa mengelak kehendak Allah SWT.

Selama kita masih dipercaya Allah untuk menerima rezeki yang lebih, jangan pernah segan untuk mensedekahkan sebagian rezeki tersebut untuk mereka, anak yatim dan para fakir miskin. Bersedekah tidak akan menjadikan kita miskin, tetapi justru malah sebaliknya. Jangan hanya mencari anak yatim hanya bulan ramadhan saja, mereka juga perlu hidup sepanjang tahun… Seharusnya makna tahun baru adalah perenungan kembali hidup kita tahun sebelumnya.

Mari kita rayakan tahun baru bersama Allah SWT hanya dengan cara sholat malam, sholat tahajud dan berdzikir. Meminta ampunan atas segala kesalah dan tingkah laku selama ini didalam tahun-tahun sebelumnya. Hindari pesta, hura-hura, maksiat maupun yang lainnya.

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa dilindungi Allah SWT dan masih diberikan kesempatan untuk tetap merasakan udara di tahun mendatang serta masih diberikan iman dan taqwa.