09 May 2010

Trolley-Man

Sepulang dari Medan, Februari 2010 (wafatnya Om Yusmar Harahap), saya dan Papa berencana sholat Maghrib di Musholla Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta sebelum pulang ke rumah dan barang kami pun kami percayakan kepada Trolley-Man. Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib, saya menyuruh Trolley-Man tersebut untuk sholat dan ia pun menjawab ringkas "nanti".

Saya merasa memiliki tanggungjawab yang sangat besar kepada Allah SWT dan saya meminta barang kami tersebut untuk diserahkan sambil membayar upah Trolley-Man (TM) tersebut. Mungkin karena kewajibannya belum selesai mengantarkan barang tersebut kedalam mobil, ia (TM) pun menanyakan kepada saya kenapa ia telah dibayar bahkan melebihi tarif yang dimintanya... saya pun menyampaikan bahwa saya tidak ingin mempertanggungjawabkan perbuatan saya kepada Allah SWT karena menghambat orang untuk beribadah.

Mendengar penjelasan saya tersebut, maka ia (TM) memohon sekiranya ia dapat diberi kesempatan mengantarkan barang kami tersebut kedalam mobil dan berjanji akan menunaikan sholat Maghrib setelah menunaikan tugasnya tersebut. Akhirnya saya memberikan barang kami tersebut untuk diantarkan dan saya mencoba menyampaikan "rahasia sholat" untuk diri. Ia pun sangat tertarik mendengarkan dan mulai terbuka masalah kehidupannya.

Akhirnya barang kami pun telah sampai kedalam mobil dan dengan penuh senyuman ia menyampaikan terima kasih dan akan mulai mendirikan Sholat 5 waktu sebagaimana kewajiban Umat Muslim.

Bulan April 2010... saya dan anak saya, Onny, telah menunggu 2 jam di Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta menunggu kedatangan istri saya dari Pontianak (wafatnya Nenek Syariah) yang seharusnya tiba jam : 16.30 ditunda s/d jam : 19.00. Kumandang adzan Maghrib telah membahana di Bandara tersebut dan kami (saya dan Onny) langsung menuju Musholla.

Dalam Musholla tersebut saya langsung didatangi oleh Trolley-Man yang langsung menjabat tangan saya... saya pun heran bercampur kaget dan dengan sopan TM tersebut menyampaikan bahwa ia adalah orang yang waktu itu (Februari 2010) disuruh Sholat Maghrib oleh saya. Yaa Allah.... hampir 3 menit saya bengong karena sangat lupa kejadian tersebut dan dikarenakan waktu sholat Maghrib telah tiba, maka saya mohon untuk Sholat Maghrib terlebih dahulu dan menyambung pembicaraan selepas Sholat.

Setelah Sholat Maghrib, saya pun mencari TM tersebut dan mulai ingat bahwa ia adalah orang yang pernah saya temui di tempat yang sama..... Masya Allah.... saya mencari disepanjang Terminal 1, orang tersebut tidak dapat saya temui.... alangkah sombongnya saya yang tidak membalas sapaannya yang akrab kepada saya di Musholla... Astaghfirullah....

Semoga Allah selalu memberikan rezeki dan kemuliaan kepada Trolley-Man tersebut yang hingga saat ini saya lupa menanyakan namanya....

03 May 2010

Kenangan di KA Parahyangan

Sehabis menutup tahun 1993 di Bandung, pada awal tahun 1994, saya bersama Tante Tuty Gusnita dan Dolly (Sepupu, waktu itu masih kecil) pulang untuk kembali ke Jakarta. Kami pun lalu memasuki gerbong kereta KA Parahyangan jurusan Bandung menuju ke Jakarta.... mencari tempat duduk sesuai nomor tiket yang diberikan. Tempat duduk Tante Tuty dan anaknya telah diperoleh, namun tempat duduk saya telah diisi oleh seorang gadis cantik bersama Papanya..... terpaksa dech saya berdiri !

Melihat saya belum juga duduk, Tante saya pun menghampiri Papa gadis tersebut dan meminta tolong sekiranya dapat memberikan tempat duduk kepada saya. Sedikit terlibat pertengkaran kecil antara Tante dan Papa gadis tersebut, akhirnya saya pun dapat duduk berdekatan dengan gadis tersebut yang bernama Vinita Anggia Masri (Vivin) yang pada waktu itu masih berusia 16 tahun (kelas 2 SMA).

Pada waktu itu saya telah menyelesaikan kuliah di Universitas Krisnadwipayana dan memang telah memiliki tekad untuk mencari pendamping hidup di Bandung. Perkenalan dengan Vivin ibarat pepatah mengatakan : "Pucuk dicinta ulam tiba" (artinya : mendapatkan sesuatu yang lebih daripada apa yang diharapkan/dicita²kan). Kami pun terlibat pembicaraan seperti layaknya seorang ABG.... hahaha.... (perkenalan tersebut saya tuangkan dalam lagu yang bertitelkan sama dalam Band saya, Mitzidupree).

Singkat cerita.... pertemuan tersebut akhirnya dilanjutkan ke pelaminan pada tgl. 21 Juni 1998 hingga saat ini. Sedangkan Mertua saya (Papa gadis tersebut), ternyata pernah menjadi Boss dari Suami Tante saya semasa Beliau bertugas di Medan.... hahaha....

Setiap kami melakukan perjalanan ke Bandung (waktu itu belum ada Tol Purbaleunyi) selalu bernostalgia.  Namun memasuki tgl. 27 April 2010, Nostalgia dengan bernapak tilas tersebut terpaksa harus kami hapuskan karena Kereta Api (KA) Parahyangan berhenti beroperasi setelah hampir 40 tahun (sejak tgl. 31 Juli 1971) akibat ambruk ditelan persaingan pembangunan jalan Tol Purbaleunyi di tahun 2005. Kerugian yang dialami KA Parahyangan tersebut mencapai Rp. 36 Milyar di tahun 2009. 

"The past is never dead, it is not even past" [William Faulkner, Sastrawan Amerika] : "Masa lalu tidak akan pernah mati, bahkan tidak juga lewat".

Selamat jalan KA Parahyangan....  bawalah kenangan indah kami berdua bersamamu....