10 July 2010

Nikmatnya Ibadah Umrah

Berulangkali Perusahaanku gagal dalam tender, membuat keadaan financial sangat mengkhawatirkan, namun saya terus bertekad untuk dapat menunaikan ibadah Umrah dengan terus memperbanyak istighfar dan berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan untuk dapat menunaikan ibadah Umrah.
Dengan sisa keuangan yang ada, saya titipkan Istri dan Anak saya hanya kepada Allah SWT. Kepada istri, saya hanya berpesan (sambil memeluk dirinya) agar tetap ikhlas dan selalu bertawakkal kepada Allah SWT. Hanya kepada-Nya kita mengadu dan memohon pertolongan agar kita diberikan kemudahan dalam semua urusan di dunia ini..... amin.
Sebagaimana tertera dalam hadits berikut ini :
  • Abi Sa'id Al-Khudry dan Abu Hurairah ra, keduanya pernah mendengar Rasulullah SAW berkata : "Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya". [HR. Al-Bukhari 7/148-149, HR. Muslim 16/130]
  • Shuhaib ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya". [HR. Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud].
  • Abud-Darda' ra berkata : "Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir, maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai takdir-Nya". [Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125]
Peranan Adek sepupu di Medan (Ucok) dan Uda Achsan - Uda Aswan sangat membantu kelancaran proses ini semua. Papa, Istri dan Anak, Adek (Vita, Melly, Irfan), Ipar, Mertua, Ibu Dolok (Guru), Sahabat (Ichsan dan Eko Budi), Tetangga (Wawan, Doni, Ipung, dll) dan semua orang yang sangat berjasa dalam proses Umrah ini, membuat hati ini menangis melihat mereka dengan ikhlas membantu kelancaran ibadah Umrah saya.
Hari Senin (28 Juni 2010) saya berangkat dari rumah jam 03.30 WIB menuju Bandara Soekarno-Hatta. Saat mau boarding ternyata ada sedikit masalah, yaitu gender di tiket (Mr.) tertulis dilayar komputer (Mrs.) karena salah input dari pihak Travelnya, sedangkan waktu tinggal 10 menit lagi untuk "take off" (06.00 WIB). Dengan sisa uang yang ada, saya pun harus mengeluarkan uang sebesar nilai tiket ke Singapore... Masya Allah.

Selama proses keberangkatan menuju Madinah (Transit di : Singapore - Abu Dhabi - Jeddah) berjalan mulus dan menginap di Madinah selama 2 hari (28 s/d 30 Juni 2010).
Rasa takjub dan tidak percaya bahwa saya telah berada di Rumah/Makamnya dan Masjid Rasullullah SAW.... Subhanallah.
Selama di Madinah... saya selalu diberikan kemudahan untuk sholat dan berdo'a di Raudhah, Masjid Nabawi (letaknya berada diantara bilik Nabi/rumah Nabi yang sekarang menjadi makamnya Rasulullah SAW sampai mimbar Masjid) oleh Allah SWT. Disitulah dahulu Rasulullah SAW biasa membacakan wahyu dan mengajarkan tentang Islam didepan para Sahabatnya.
Dari Abi Sa’id al-Khurdri, Rasulullah SAW bersabda,  “Tempat di antara kubur dan mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) di antara beberapa kebun surga”. [Musnad Ahmad bin Hanbal].
Seseorang juga dianjurkan untuk berdo’a di depan mimbar Nabi SAW. Sesuai dengan sabda Nabi SAW, “Mimbarku ini berada di atas telagaku.” [al-Hajj wa al-‘Umrah Fiqhuh wa Asraruh, 237]
Imam al-Khathabi berkata, “Maksud hadist di atas adalah bahwa ‘orang yang selalu istiqamah melaksanakan ibadah di depan mimbarku, maka kelak di hari kiamat, ia akan minum air dari telagaku‘ ”. [al-Idhah fi Manasik al-Hajj wal ‘Umrah, 456].
Setiap berdo'a di Raudhah memiliki afdhaliyah yang tinggi. Tidak mengherankan jika umat Muslim dari seluruh penjuru dunia berebut untuk ikut menikmati bagian dari taman surga tersebut. Akibatnya tempat ini selalu menjadi tempat yang penuh sesak, karena berdo'a dan bermunajat di tempat ini memiliki afdhaliyah yang tinggi, dengan kata lain : tempat ini sangat mustajab untuk memohonkan sesuatu keinginan kepada Allah SWT.
Alhamdulillah... setiap Sholat 5 waktu saya selalu berada di Raudhah dan membuat hati ini berbahagia adalah saat sholat persis di samping letak makamnya Rasulullah SAW.
Masjid Nabawi 
Masjid yang dibangun Rasulullah SAW bersama para sahabat dan kaum Muslimin di tengah kota Madinah. Pembangunannya dimulai pada Rabi’ul Awal tahun 1 Hijriyah (September 662 M) segera setelah beliau hijrah dari Makkah ke Madinah.
Pada awalnya, masjid ini sangat kecil, yaitu hanya seluas 1.050 meter persegi. Tiang-tiang dan atap dibuat dari batang kurna. Sedangkan penerangannya dari pelepah kurma yang dibakar.
Pada tahun 1985 M, pembangunan Masjid Nabawi ini sempat tertunda. Kemudian diteruskan pembangunannya seluas 82.000 meter persegi, yang mengitari dan menyatu dengan bangunan masjid yang sudah ada. Dengan bangunan baru ini, luas lantai dasar Masjid Nabawi menjadi kira-kira 98.000 meter persegi, yang dapat menampung 167.000 jamaah. Dan lantai atas yang luasnya 67 meter persegi dapat menampung sebanyak 90.000 jamaah. 
Apabila masjid dipenuhi jamaah shalat, maka Masjid Nabawi dan halamannya dapat menampung 650.000 jamaah pada musim biasa. Dan lebih satu juta jamaah pada musim haji atau bulan Ramadhan. Halamannya pada saat ini sebanding dengan kota Madinah ketika kehadiran pertama Rasulullah.
Shalat di masjid Nabawi ini lebih utama dari 1.000 kali shalat di tempat lain. Sabda Nabi: “Shalat di masjidku lebih utama dari 1000 shalat di tempat lainnya, kecuali Masjidil Haram dan shalat di tempat lainnya” (Muttafaq Alaih).

Tempat Ziarah di Madinah :
Masjid Qiblatain (artinya: masjid dua kiblat) adalah salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.
Pada permulaan Islam, orang melakukan shalat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Yerusalem/Palestina. Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah.

Setelah turunnya ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara shalatnya, kemudian meneruskannya dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua.
Masjid Qiblatain telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada 1987 Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di bawah Raja Fahd melakukan perluasan, renovasi dan pembangunan konstruksi baru, namun tidak menghilangkan ciri khas masjid tersebut. Sebelumnya Sultan Sulaiman telah memugarnya di tahun 893 H atau 1543 M. Masjid Qiblatain merupakan salah satu tempat ziarah yang biasa dikunjungi jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia. 
Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah shalat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Di tengah shalat, tiba-tiba turunlah wahyu QS. Al-Baqarah : 144  yang artinya : “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan".


Jabal Uhud  
Merupakan bukit yang mencintai kita dan kita mencintainya. Begitu Nabi bersabda soal Jabal Uhud, bukit kemerahan yang menjadi saksi gugurnya para Syuhada di Madinah. 

Ziarah ke Jabal Uhud telah menjadi menu penting bagi segenap jamaah haji/Umrah ketika berada di kota suci Madinah, dari mana pun mereka berasal. Karena begitulah Rasul SAW mengajarkan kita. Uhud adalah kawasan perang besar antara kaum Muslim dengan kafir Quraisy yang peristiwanya akan terus dikenang hingga akhir masa. Jabal Uhud (gunung Uhud), tidaklah begitu besar, tingginya kira2 1.050 meter.
Berlokasi sekitar 5 kilometer sebelah utara kota Madinah. Sebelum dibangun oleh pemerintah Kerajaan Saudi, Jabal Uhud selalu dilewati oleh jamaah yang masuk ke Madinah maupun yang menuju Makkah. Letaknya memang di pinggir jalan raya menuju kedua kota itu. 
Uhud adalah gunung batu berwarna kemerahan. Melihatnya mengingatkan kita pada perjuangan dan darah para syuhada. Di Uhud itulah pertarungan spiritual dan politik dalam arti sebenarnya. Ketika itu pasukan diberi pilihan antara kesetiaan pada agama dan kecintaan pada harta. Melihat lokasi dan gunung yang mengelilinya, kita akan terbayangkan bagaimana sulitnya medan perang ketika itu. Bukit batu, panas terik dan keberanian pada syuhada.
Perang Uhud terjadi pada 15 Syawal 3 H (Maret 625). Peperangan itu dipicu keinginan balas dendam kafir Quraisy usai kekalahan mereka dalam perang Badar. Atas perintah Rasulullah, maka barisan pasukan Muslim pun menyongsong kaum kafir itu di luar kota Madinah. Strategi pun disusun. Sebanyak 50 pasukan pemanah ditempatkan di atas Jabal Uhud dengan perintah untuk melakukan serangan apabila kaum Quraisy menyerbu, terutama pasukan berkudanya.

Maka perang pun berkobar. Dalam perang dahsyat itu pasukan Muslimin sebenarnya sudah memperoleh kemenangan. Akan tetapi mereka kemudian dipukul balik oleh tentara Quraisy, karena pasukan pemanah terpancing oleh umpan musuh yang menyebarkan uang dan perhiasan.
Pasukan berkuda Quraisy pimpinan Khalid bin Walid–ketika itu belum masuk Islam–segera menyerang pasukan Islam dari arah belakang. Akibat serangan mendadak itu, sebanyak 70 tentara Muslim menjadi syuhada, termasuk paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib. Nabi SAW sangat bersedih atas kematian pamannya tersebut.
Jenazah para syuhada Uhud ini pun segera dimakamkan dekat lokasi perang serta dishalatkan satu persatu sebelum dikuburkan. Adapun Sayidina Hamzah dishalatkan sebanyak 70 kali. Beliau pun dimakamkan menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsyi (sepupu Nabi) di lokasi terpisah dengan lokasi para syuhada yang lain.
Bersama syuhada yang lain (68 pahlawan), jenazah mereka dimakamkan di dekat Jabal Uhud. Komplek pemakaman itu sendiri nampak sangat sederhana, hanya dikelilingi pagar setinggi 1,75 meter. Dari luar hanya tampak jeruji agar jamaah bisa melongok sedikit ke dalam
.
Tapi di dalamnya areal permakaman yang dikelilingi pagar itu tak ada tanda-tanda khusus, seperti batu nisan, yang menandakan ada makam di sana. Konon, gunung Uhud pun ikut menangis atas peristiwa Uhud yang menelan banyak korban di pihak mujahid Islam.
2 hari pun tidak terasa selama berada di Madinah dan hati ini sangat berat sekali untuk meninggal Madjid Nabawi... Perjalanan pun dilanjutkan ke Masjid Bir Ali, adalah sebuah tempat miqat (miqat zamani) bagi penduduk Madinah yang akan berumrah atau berhaji, sebagaimana dicontohkan Nabi.


Masjid Bir Ali hanya berjarak kurang dari 15 menit perjalanan dari Madinah. Di sanalah jamaah laki-laki mengenakan pakaian ihram (atau biasanya telah dikenakan di Madinah), bersuci, sholat dua rakaat dan memulai niat ihram dan bersiap umrah. Jarak Bir Ali ke Mekah sekitar 450 km yang biasanya ditempuh dalam 4-6 jam. Dan sepanjang jalan itu pula, jamaah telah memulai mematuhi beberapa larangan ihram. Masjid Bir Ali merupakan masjid yang bersih dengan tamannya yang indah dan terawat rapi. Lorong di sisi kiri masjid nampak indah.


Makkah
Sesampai di Makkah... mata ini langsung takjub akan indahnya Ka'bah dan seakan tidak percaya bahwa saya telah berada didepan kiblat setiap saya sholat 5 waktu.... Allahu Akbar.
Tempat ini juga disebut "rumah Allah". Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Kemudian orang- orang Quraisy menempatkan ratusan patung di sekitarnya. Patung-patung itu baru dihancurkan saat penaklukan Mekah oleh Rasulullah. Ketika Muhammad masih muda, Ka'bah nyaris hancur karena terkena banjir. Masyarakat Quraisy membongkar ka'bah tersebut dan membangunnya kembali. Saat itulah Nabi Muhammad dipuji semua kalangan karena berhasil menghindarkan perselisihan antar kabilah yang berebut untuk mengangkat Hajar Aswad. [QS : Muhammad].
Dari Abdullah bin Abbas r.a, "Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya dalam setiap hari, siang dan malam, 120 rahmat Allah SWT di atas Ka'bah ini. 40 di antaranya untuk orang-orang yang thawaf, 40 untuk orang-orang yang shalat, dan 20 untuk orang yang memandanginya". [ Ibnu 'Ady dan Baihaqi, Durrul-Mantsur]
Melihat Ka'bah saja merupakan ibadah. Syaikh Said bin Musayyab ra berkata, "Barangsiapa yang melihat Ka'bah dengan iman dan tasdiq, ia akan keluar dari dosa-dosa sebagaimana ia baru saja lahir.

Abus-Saib Madani ra berkata, "Barangsiapa yang melihat Ka'bah dengan iman dan tasdiq, dosa-dosanya berguguran sebagaimana daun-daun berguguran dari pohonnya. Dan barangsiapa yang duduk di Masjidil-Haram dan hanya memandangi Baitullah terus-menerus, walaupun ia tidak mengerjakan thawaf dan shalat nawafil, itu masih lebih utama dibandingkan orang yang shalat nawafil di rumahnya dan tidak melihat Baitullah. Atha' ra mengatakan bahwa melihat Baitullah itu juga ibadah dan orang yang melihat Baitullah itu seperti halnya orang yang Tahajjud pada malam hari, berpuasa pada siang hari, berjuang di jalan Allah dan taubat kembali kepada Allah, melihat Baitullah satu kali itu pahalanya sama dengan ibadah nawafil selama satu tahun.

Imam Thawus berkata bahwa melihat Baitullah itu lebih utama daripada ibadah orang yang berpuasa dan bangun malam dan juga berjuang di jalah Allah. Ibrahim Nakhai ra berkata bahwa orang yang melihat Baitullah itu sama dengan berusaha terus menerus dalam beribadah di luar Makkah (Durrul-Mantsur). Dan rahmat yang turun ke atas orang yang berthawaf itu telah jelas berdasarkan hadits di atas. Karena itu ulama menulis bahwa thawaf di Masjidil-Haram itu lebih utama dari pada tahiyyatul-masjid. Seandainya karena ada sesuatu sebab sehingga seseorang tidak bisa mengerjakan thawaf, maka ia mengerjakan tahiyyatul-masjid.

Seandainya tidak maka sebagai ganti tahiyyatul-masjid, begitu masuk ke masjidil-haram, mengerjakan thawaf itu lebih utama dan apabila waktu shalat sudah dekat maka baru ia meninggalkan thawaf, beruntung sekali orang-orang yang diberi taufiq oleh Allah SWT. Dengan keutamaan dan anugerah-Nya, ia dapat mengerjakan thawaf berkali-kali. Karzaban Wabarah adalah seorang syaikh yang amalan hariannya selalu mengerjakan thawaf sebanyak 70 kali pada siang hari dan 70 kali pada malam hari, dengan jarak perjalanan yang harus ditempuh olehnya setiap hari 30 mil, dan setiap selepas thawaf mengerjakan dua rakaat tahiyyat thawaf sebanyak 280 rakaat. Selain itu, setiap harinya ia mengkhatamkan Al-Quran dua kali.

Inilah orang-orang yang banyak membawa bekal untuk kehidupan akhiratnya yang abadi.

Rasulullah SAW bersabda, pada hari Kiamat nanti, Allah SWT akan membangkitkan Hajar Aswad dalam keadaan mempunyai dua mata yang dengannya ia akan melihat, dan mempunyai lisan yang dengannya ia akan berbicara dan akan memberikan persaksiannya untuk orang-orang yang telah menciumnya dengan penuh haq.

Yang dimaksud mencium dengan haq adalah mencium dengan penuh keimanan dan membenarkan. Jabir meriwayatkan dari Rasululullah SAW, beliau bersabda bahwa Ka'bah memilki satu lisan dan dua bibir (pada zaman dulu), yakni Ka'bah telah melapor kepada Allah SWT, "Ya Allah, sekarang orang yang thawaf dan menziarahi aku telah berkurang."

Maka Allah SWT berfirman, "Sebentar lagi Aku akan menciptakan satu kaum ( muslimin ) yang betul-betul khusyu', yang banyak mengerjakan sujud (ahli shalat) . Mereka akan menunduk di depanmu sebagaimana burung merpati menunduk ke arah telurnya." [Kitab Targhib]

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa kelak, Hajar Aswad dan Rukun Yamani akan bangkit dalam keadaan memiliki dua mata dan dua lisan dan bibir mereka akan memberikan kesaksian yang sempurna untuk orang orang yang menciumnya, yakni akan bersaksi bahwa orang-orang yang telah menciumnya telah sempurna dalam berikrar. [Kitab Targhib]

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Umar ra ketika mengerjakan thawaf dan sampai di Hajar Aswad, ia menciumnya dan berkata, "Aku tahu kamu adalah sebuah batu, kamu tidak bisa memberikan manfaat dan tidak bisa memberikan madharat. Seandainya aku tidak melihat Rasul SAW menciummu, aku tidak akan pernah menciummu".

Pada saat itu, Ali ra berada di sebelahnya, maka ia berkata, "Hai Amirul-Mukminin, (Hajar Aswad) ini bisa memberikan, manfaat dan juga madharat.

Umar ra bertanya, "Bagaimana bisa ?" Ali berkata bahwa pada zaman azali, ketika Allah Ta'ala mengambil ikrar dari seluruh hamba-Nya, maka Allah Ta'ala telah menulis ikrar itu dalam kitab, kemudian menyimpannya di dalam batu ini. Maka batu ini akan memberikan kesaksian pada hari Kiamat bahwa si Fulan telah berikrar, dan si Fulan, yakni seorang kafir, telah ingkar. [Kitab Ithaf]

Karena itu, pada umumnya doa yang dibaca di tempat itu adalah: "Ya Allah, aku mencium dengan beriman kepada-Mu dan membenarkan kitab-Mu dan menyempurnakan janji-Mu".

Umar ra sangat memikirkan akidah umat Islam, jangan sampai akidah mereka lemah. Oleh karena itu, pohon yang di bawahnya pernah dijadikan sebagai tempat Bai'atur Ridhwan dipotong atas perintahnya. Baiat itu sangat penting sehingga Allah SWT memberikan jaminan berupa ampunan kepada para sahabat di dalam Al-Quran dengan firman-Nya : “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. [Qs. Al Fath : 18]

Ia memerintahkan untuk memotong pohon itu setelah mengetahui bahwa orang-orang datang ke tempat itu untuk mengambil berkah. [Durrul Mantsur]

Maka Umar ra berpikir, karena orang-orang baru saja lepas dari penyembahan kepada berhala, jangan sampai mereka menganggap batu ini sebagai batu yang mirip berhala dan mereka menyembahnya. Maka ia berkata sebagaimana disebutkan di atas untuk mengingatkan bahwa batu tersebut tidak perlu diagungkan, tetapi yang harus diagungkan adalah perintah Allah SWT.

Jangan seperti orang musyrik yang menganggap bahwa batu ini mengandung khasiat.    [Kitab Ithaaf ]

Begitu juga telah dinukilkan tentang perkataan Umar ra tentang Baitullah. Beliau berkata, ”Ini adalah rumah yang dibuat dari beberapa buah batu. Akan tetapi Allah SWT menentukannya sebagai kiblat untuk kita supaya kita mengerjakan sholat menghadap ke arahnya selama kita hidup, dan juga setelah mati dibaringkan dengan muka menghadap ke arahnya. [Kitab Kanz]

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa apabila Umar ra sampai di Hajar Aswad, ia akan berkata,” Aku bersaksi bahwa kamu ini hanyalah sebuah batu, tidak bisa memberi manfaat dan kerugian. Rabb-ku adalah Dia Yang tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Kalau aku tidak melihat Rasulullah saw menciummu dan memegangmu, aku tidak akan menciummu dan memegangmu”. [Kitab Kanz]

Dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa ketika Umar ra mencium Hajar Aswad, ia berkata :
"Dengan nama Allah swt dan Allah Maha Besar atas hidayah yang telah dikaruniakannya kepada kita. Tiada yang patut disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Saya beriman kepada Allah SWT dan saya ingkar terhadap jibti, thogut, latta dan uzza serta apa-apa yang diseru selain Allah SWT dan sesungguhnya penolongku hanyalah Allah SWT yang telah menurunkan Al Qur’an dan Dia adalah sebaik-baik penolong bagi orang-orang yang sholeh.

Dalam do’a ini, beliau menjelaskan bahwa ia telah bebas dari segala macam kemusyrikan. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa berthawaf di Baitullah dan mencium Hajar Aswad tidak memiliki persamaan sama sekali dengan menyembah berhala. 

  1. Karena thawaf dan sebagainya adalah untuk menyempurnakan perintah Allah swt, sedangkan mengelilingi patung atau menyembah patung tidak diperintahkan oleh Malikul Mulk. 
  2. Kedua, Ka’bah dan Hajar Aswad tidak mempunyai hubungan dan nisbat dengan selain Allah SWT, karena ia adalah rumah Allah SWT. Berbeda dengan berhala, karena ia berhubungan erat dengan selain Allah SWT, maka jelas bahwa menyembah dan mengelilinginya adalah kesyirikan. Adapun perkataan Ali ra bahwa Hajar Aswad memberi faedah bahwa kelak ia akan memberi kesaksian pada hari kiamat adalah benar. 
Di dunia ini saja, bila kita sedang berperkara di pengadilan dan ada orang yang memberi kesaksian yang menguntungkan bagi pihak kita, tentu ini merupakan keuntungan yang besar. Akan tetapi sesuatu yang memberikan manfaat kepada kita tidaklah mesti kita sembah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa di mana saja suara muadzin sampai maka semua benda, baik yang basah maupun yang kering, akan memberikan kesaksian baginya pada hari kiamat. Akan tetapi bukan berarti benda-benda itu mesti patut disembah.


Masjidil Haram
Merupakan acuan kiblat dari seluruh muslim di seluruh dunia, melainkan juga menjadi lokasi utama dari ibadah haji. Masjidil Haram dengan luas wilayah 356,800 m² dengan daya tampung lebih dari 1 juta pada satu waktu, adalah masjid terbesar di dunia.
Masjidil Haram terletak di kota Mekah, memiliki keutamaan² Mekah ialah karena Allah memilihnya sebagai :

Tempat dibangunnya rumah Allah,
Kota kelahiran dan kenabian Nabi Muhammad SAW, penutup para rasul, tempat beribadah para hamba-Nya serta adanya kewajiban atas mereka untuk mengunjunginya baik dari jauh maupun dekat, tempat yg tidak boleh seorang pun masuk kedalamnya kecuali dengan kerendahan hati, khusyu’, kepala terbuka dan meninggalkan segala bentuk pakaian dan perhiasan dunia, tempat yang dijadikan Allah sebagai tanah suci yang aman, yang tidak boleh ada pertumpahan darah, tempat yang dimaksudkan untuk menghapuskan segala dosa² masa lalu, tempat yang Allah telah mensyaria’tkan untuk bertawaf di ka’bah.
Seperti yg kita juga telah tahu, berbeda dg masjid manapun di seluruh dunia, deret shaf di Masjidil Haram ini berbentuk lingkaran, semuanya menghadap ke Ka’bah yg berada di tengah2. Keunikan ini tentu tidak akan kita temui di masjid manapun.
  

Thawaf
Mengelilingi ka'bah sebanyak 7 kali putaran, dimulai dan diakhiri dari garis/ arah sejajar dengan Rukun Hajar Aswad, dengan memperhatikan :
  • Suci dari hadats, najis dan menutup aurat.
  • Memulai dari sudut/ Rukun Hajar Aswad dengan mengangkat/ menghadapkan telapak tangan kearah Hajar Aswad lalu dikecup sebagai isyarat mencium Hajar Aswad sambil bertakbir.
  • Menyempurnakan 7 kali putaran dengan khusu', berdo'a atau berdzikir dan tidak ada kegiatan lain selain thawaf. Ka'bah berada di sisi kiri.
  • Sunnah Berlari-lari kecil (ramal) pada tiga putaran pertama (bila memungkinkan dan berjalan biasa pada empat putaran selanjutnya.
  • Sunnah mengusap Rukun Yamani (bila memungkinkan) atau cukup dengan mengangkat tangan sebagai isyarat saja.
Setelah thawaf disunahkan Sholat Sunah 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim atau dimanapun di dalam Masjidil Haram, berdo'a di Multazam dan minum air Zam-zam.


Shafa-Marwah
Mulanya adalah dua puncak bukit batu berjarak sekitar 700 meter, yang berada di samping ka'bah. Antara kedua bukit itulah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, diyakini berlari bolak-balik untuk mencari air. Di gurun, keberadaan air dapat ditandai dengan kedatangan burung-burung. Hal demikian dapat dilihat dari puncak bukit. 

Kini bukit Shafa dan Marwa telah menjadi bagian dari Masjidil Haram. Berjalan di antara kedua tersebut (sa'i) merupakan kewajiban untuk menunaikan ibadah haji atau umrah.
Umrah pun ditutup dengan Tahalul yaitu berlepas diri dari ihram haji setelah selesai mengerjakan amalan-amalan haji dengan cara mencukur/memotong rambut sekurang-kurangnya 3 helai.

Maqam Ibrahim
Ini bukan makam Nabi Ibrahim, karena Rasul itu dikuburkan di Hebron - Palestina. Ini adalah tempat Nabi Ibrahim berada pada saat membangun Ka'bah dibantu oleh Nabi Ismail. Di tempat ini, jamaah disunnahkan untuntuk shalat sholat dua rakaat dan berdoa selesai melakukan thawaf.


Sumur Zamzam
Ini sumber air yang ditemukan Siti Hajar saat Nabi Ismail haus. Sumber ini sempat kering dan bahkan dilupakan keberadaannya. Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, berhasil menemukan kembali sumur ini. Sekarang, sumber air itu dibangun di bawah lantai tempat thawaf. Pemerintah Saudi menyalurkanya dalam keran-keran dengan es pendingin. Jamaah tak perlu repot mengambil air zamzam untuk dibawa pulang, karena penyelenggara telah menyiapkannya dalam jerigen sebagai oleh-oleh.


Selesai ibadah Umrah, berziarah ke :


Jabal Nur dan Gua Hira
Tempat ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW berhatwat kepada Allah SWT dan menerima wahyu pertama (QS. Al- 'Alaq : 1-5). Gunung tersebut berada sekitar 6 km sebelah utara Masjidil Haram. Pada puncak gunung tersebut ada gua yang dinamakan Gua Hira. 

Untuk mencapai puncak Jabal Nur memerlukan waktu sekitar satu jam. Luas Gua Hira hanya dapat mampu menampung 4 orang duduk dan tingginya seukuran orang berdiri. Saya ingin sekali mencapai puncak tersebut, namun karena sedikitnya waktu yang diberikan oleh pihak Travel dan dengan kondisi perjalanan yang sulit (batu terjal), keinginan tersebut diurungkan dan hanya mengabadikannya (foto) dari jarak jauh saja. Dapat dibayangkan betapa beratnya Rasulullah SAW menjalan perintah Allah SWT. Dengan berziarah diharapkan menambah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW. 



Jabal Sur, merupakan tempat persembunyian Rasulullah SAW bersama Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dari usaha pembunuhan kafir Qurasy saat berhijrah ke Madinah. Keduanya diselamatkan oleh Allah SWT meskipun kafir Quraisy sudah sampai dipintu gua Sur. Keberadaan keduanya di dalam gua tersebut dinafikan dengan adanya sarang laba-laba dan burung merpati yang sedang bertelor disarangnya. Jabal Sur berada disebelah selatan Masjidil Haram sekitar 6 km. Keberadaan Gua Sur adalah pada puncak Gunung Sur. Untuk mencapai Gua Sur tersebut memerlukan waktu sekitar 1,5 jam, dengan kondisi jalan yang sempit dan bebatuan. Untuk masuk ke dalam gua harus bertiarap dan di dalamnya hanya dapat duduk. 
Saya tidak dapat mencapai puncak gunung dan gua tersebut mengingat sedikitnya waktu (30 menit) yang tersedia dan dengan kondisi perjalanan yang sulit (batu terjal), maka saya hanya mengabadikan moment tersebut dari jarak jauh saja. Dapat dibayangkan betapa beratnya Rasulullah SAW menjalan perintah Allah SWT. Dengan berziarah diharapkan menambah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Subhanallah wal hamdu lillah wala ilaha illallah, wallahu akbar.

Di Padang Arafah ada sebuah bukit yang terlihat sebuah tugu, bukit tersebut bernama Jabal Rahmah. Menurut riwayat bukit tersebut tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah berpisah selama 100 tahun sejak turun dari syurga.
Bukit tersebut disebelah timur sekitar 40 meter dari tempat wukufnya Nabi Muhammad SAW. 


Masjid Jin, terletak di dekat pemakaman Ma’la. Dinamakan Masjid Jin  karena para Jin bersepakat (berbai’at) mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT dan di masjid itu pula turunnya wahyu surah Jin ayat 1-2.


Masjid Kucing, lokasinya yang dekat dengan Masjidil Haram, tepatnya di sekitaran pasar seng. Saya tidak sempat untuk sholat disana karena banyaknya tempat ziarah di Makkah. 


Pemakaman Siti Khadijah di komplek pemakaman Ma`la 
Terletak di sebelah Timur Masjidil Haram dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit. Di sinilah jenazah Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW dimakamkan. Terdapat banyak lokasi pemakaman umum di Kota Mekah, tetapi yang sangat terkenal adalah komplek pemakaman Ma`la. Ma`la merupakan komplek pemakaman istimewa karena menjadi tempat peristirahatan terakhir istri Nabi Muhammad SAW bernama Siti Khadijah dan letaknya yang menghadap kiblat ke arah Masjidil Haram. Beliau merupakan wanita pertama yang mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Semasa hidupnya Siti Khadijah sangat setia menyertai Rasul dalam suka dan duka. Apabila Rasul dalam keadaan gelisah karena diselimuti masalah, beliau yang selalu memberikan pencerahan.


Masjid Ja’ronah
Merupakan masjid yang letaknya lumayan jauh dari Masjidil Haram. Letaknya kurang lebih 20 Km dari Masjidil Haram. Di tempat inilah saya melakukat Miqat terakhir untuk melakukan ibadah Umrah. Keistimewaan Masjid Ja’ronah ini, yaitu dahulu memiliki sumber mata air yang memiliki keistimewaan bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Karena dikhawatirkan dapat menyebabkan kepercayaan yang berlebihan dan bahkan melebihi air zama-zam, maka sumber air ini pun kemudian ditutup. Tetapi jika kita berkunjung ke sana, maka kita masih mendapatkan anak-anak yang menjual air ja’ranah.


Jabal Magnet
Mobil dapat berjalan sendiri ke arah berlawanan (mundur), bakan sanggup mendaki tanjakan. Tidak hanya itu, jarum penunjuk kompas juga tidak bekerja sebagaimana mestinya. Arah utara-selatan menjadi kacau.






Daya dorong dan daya tarik magnet di berbagai bukit di sebelah kiri dan kanan jalan, membuat kendaraan dapat melaju dengan kecepatan 120 kilo meter per jam.  Ketika memasuki kawasan ini kecepatan pun turun perlahan-lahan ke 5 Km/jam dan gigi perseneling harus diubah ke posisi dua. Sebaliknya, jika meninggalkan kawasan ini, mobil tanpa diinjak gas pun, bisa melaju dengan kecepatan hingga 120 km per jam.
Kawasan tersebut memiliki endapan lava "alkali basaltik" (theolitic basalt) seluas 180.000 km persegi yang berusia muda (muncul 10 juta tahun silam dengan puncak intensitas 2 juta tahun silam). Lava yang bersifat basa itu muncul ke permukaan bumi dari kedalaman 40-an kilo meter melalui zona rekahan sepanjang 600 kilo meter yang dikenal sebagai "Makkah-Madinah-Nufud volcanic line".
Banyak gunung berapi terbentuk di sepanjang zona rekahan itu. Seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid dan Harrah Khaybar. Tidak seperti di Indonesia yang gunung-gunungnya berbentuk kerucut, sehingga memberi pemandangan eksotis, gunung-gunung di Arab berbentuk melebar dengan puncak rendah. Kompleks semacam ini cocok disebut volcanic field atau harrah dalam bahasa Arab.
Harrah Rahat adalah bentukan paling menarik. Dengan panjang 310 km membentang dari utara Madinah hingga ke dekat Jeddah dan mengandung sedikitnya 2.000 km kubik endapan lava yang membentuk 2.000 lebih kerucut kecil (scoria) dan 200-an kawah maar. Selama 4.500 tahun terakhir, Harrah Rahat telah meletus sebanyak 13 kali dengan periode antarletusan rata-rata 346 tahun.
Letusan besar terakhir terjadi pada 26 Juni 1256, yang memuntahkan 500 juta meter kubik lava lewat 6 kerucut kecilnya selama 52 hari kemudian. 


Jabal Rahmah
Berada di bagian timur Padang Arafah di kota Mekkah Arab Saudi. Sesuai dengan namanya, jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Sesuai dengan namanya, bukit ini di yakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang.
Konon berdasarkan cerita ahli sejarah, Nabi Adam diturunkan di negeri India, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Irak. Setelah keduanya bertaubat untuk memohon ampun, akhirnya atas ijin Allah SWT mereka dipertemukan di bukit ini.
Setelah pertemuan ini, Adam dan Hawa melanjutkan hidup mereka dan melahirkan anak-anak keturunanya sampai sekarang.
Untuk menuju puncak tempat ini, kita bisa menempuhnya sekitar 15 menit dari dasar bukit. Bukit batu ini berada pada ketinggian kurang lebih enam puluh lima meter yang puncaknya menjulang. Di bukit ini terdapat sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tingginya 8 meter. Menuju puncak bukit ini pemerintah setempat telah membangun infrastruktur yang memadai sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk menikmatinya. Infrastruktur ini berupa jalanan berbentuk tangga dengan 168 undakan menuju puncak tugu.
Dari bukit ini kita bisa menyaksikan hamparan padang Arafah yang setiap tahunnya dipadati oleh jamaah dari seluruh penjuru dunia ketika musim haji tiba. Juga dapat menyaksikan matahari yang terbit atau juga sinar jingga yang mengiringi saat menjelang terbenamnya matahari.


Selain digunakan untuk bermunajat dan berdoa. Disini kita akan banyak menjumpai para pedagang yang menjajakan souvenir seperti batu cincin, kopiah, tasbih, sorban dan sejumlah benda pernak-pernik lainnya. Umumnya mereka ini para pendatang yang berasal dari Afrika. Di tempat yang bersejarah ini, pengais Real yang kulit hitam menjajakan berbagai dagangannya untuk dijadikan oleh-oleh para tamu Allah sekembalinya dari tanah. Di tempat ini juga disediakan Onta bagi yang ingin mencoba nuansa padang pasir.

Jabal Rahmah juga merupakan tempat wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW tatkala melakukan wukuf. Wahyu tersebut termuat dalam QS Al-Maidah : 3, “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu". Turunnya ayat ini membuat para sahabat bersedih, sebab mereka merasa akan kehilangan Rasulullah dan tak berapa lama kemudian, Rasulullah dipanggil menghadap oleh Allah SWT.
Setelah 5 hari di Makkah, dengan perasaan sedih berpisah dengan Ka'bah... saya melakukan ibadah thawaf perpisahan untuk menuju ke Jeddah kembali ke tanah air. Alhamdulillah semua rukun ibadah Umrah telah selesai dan berjalan sangat lancar... dibalik kesulitan sebelum Umrah ternyata Allah SWT telah memberikan kelancaran dan kemudahan bagi saya menunaikan ibadah Umrah untuk dapat :
  • Melihat, Berdo'a dan Sholat di Makam Rasullah 
  • Sholat dan berdo'a di Raudhah, Masjid Nabawi
  • Berumrah lebih dari 1 kali di Masjidil Haram 
  • Mencium dan memegang Hajar Aswad
  • Berdo'a di Multazam dan Sholat di Hijir Ismail dan makam Ibrahim
  • Selalu dipermudah selama menunaikan Umrah dan Ziarah di Makam, baik di Madinah maupun di Makkah dan elalu dibantu oleh penduduk sekitar : Madinah dan Makkah.
Allah SWT ternyata selalu memberikan kelancaran ibadah Umrah saya berupa kenikmatan yang tidak dapat diperhitungkan dengan financial. Hal tersebut senantiasa  mengingatkan saya akan kewajiban untuk bersyukur, tabah dan ikhlas dalam menghadapi semua permasalahan di dunia.  Semoga Allah SWT selalu memudahkan rezeki kita semua serta memanggil kita dalam meningkatkan ketaqwaan serta ibadah. Insya Allah dengan niat yang suci kita semua dapat bersama-sama untuk menjalankan ibadah Haji maupun Umrah ke Tanah Suci .... amin.


Dari Makkah kita meluncur ke Jeddah dan beristirahat semalam sebelum berangkat ke Tanah Air, seperti halnya berangkat (Jeddah - Abu Dhabi (transit) - Singapore (transit) - Jakarta)


Laut Merah
Merupakan sebuah teluk di sebelah baratJazirah Arab yang memisahkan benua Asia dengan Afrika. Jalur ke laut di selatan melewati Babul Mandib dan Teluk Aden sedangkan di utara terdapat Semenanjung Sinai dan Terusan Suez. Laut ini di tempat yang terlebar berjarak 300 km dan panjangnya 1.900 km dengan titik terdalam 2.500 m. Laut Merah juga menjadi habitat bagi berbagai makhluk air dan koral.


Masih ingat dengan kisah Nabi Musa yang bersama kaumnya diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan Mesir. Ketika telah sampai di tepi Laut Merah, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya hingga laut luas yang berada di hadapan mereka terbelah membentuk jalan dengan dua dinding air yang tinggi. 


  • Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan [QS.  Al-Baqarah : 50]
  • Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka) hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia : "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".  [QS. Yunus : 90]
  • Dan Sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa : "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)". [QS. Thaha : 77]
  • "Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka". [QS. Thaha : 78]
  • Lalu kami wahyukan kepada Musa :  "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.       [QS. Asy-Syu'araa' : 63]
Menurut sejarah, peristiwa itu terjadi sekitar 3500 tahun yang lalu.
Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuwaybi. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuwaybi ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuwaybi ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat. Jarak antara Nuwaybi ke Arab sekitar 1800 meter (menurut peta dari MSN Encarta bahkan sekitar 10 km). Lebar lintasan dimana laut terbelah diperkirakan 900 meter.
Gaya yang diperlukan untuk dapat menyibakkan air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1.800 meter pada kedalaman perairan yang rata-rata mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan ? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam).
Menurut sebuah perhitungan diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Atau jika kita kaitkan dengan kecepatan angin, maka akan melebihi kecepatan angin pada saat terjadi Hurikan. Atau jika mengacu kepada perhitungan seorang pakar dari Rusia yang bernama Volzinger, diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam. Sungguh dahsyat khan ? Allah Maha Besar.



Masjid Apung
Masjid ini berada ditepian laut merah. Berdiri di atas tiang pancang yang ditancapkan di laut merah, sehingga kelihatan seperti terapung.
Terima kasih saya sampaikan atas semua rezeki, fasilitas, dll. yang telah saya nikmati dalam menunaikan Ibadah Umroh ini kepada :
  1. Allah SWT
  2. Muhammad Rasullullah SAW beserta Keluarga dan Sahabat²nya
  3. Papa (Drs. H. Darli Harahap, MA)
  4. Istri tercinta (Vinita Anggia Masri, Amd, TrU) dan Anak Tercinta ('Aisyah Donita Minha Harahap)
  5. Adek²ku tercinta (Hj. Lioni Novita Harahap, SKom - Yumelia Arlini Harahap, SE - Muhammad Irfan Harahap, SE, MM)
  6. Keluarga Uda dr. H. Achsan Harahap inc. H. Zulhami Fitri, SE - Hj. Frida Ramadhini Harahap, SE dan Fachrul Riza Harahap, SE
  7. Keluarga DR. Ir. Iwan Aswan Harahap
  8. Keluarga Ir. H. Masri
  9. Keluarga H. Pintor Siregar, SE inc. H. John Erwin Siregar, MBA
  10. Sahabat : H. Tri Ichsan Nur, SE dan Ir. Eko Budi Mahasetyawan
  11. Seluruh teman di SMAN 4 Jakarta, SMPN 1 Jakarta, SMPN 1 Cikini Jakarta, SMPN 2 Tanjungkarang dan SD Teladan Tanjungkarang inc. Retno Indarti
  12. Rekan Bisnis PT. Inviro Sinergy Global
  13. Majelis Dzikir Perumahan Taman Kenari Nusantara
  14. Guru di SMAN 4 Jakarta inc. Ibu Dolok
  15. Kelurahan Nagrak
  16. Ustadz dan Habib di Jakarta dan Bogor
  17. Semua pihak yang telah membantu kelancaran Umrah saya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Labbaika Allahumma labbaika... Labbaika la syarika laka labbaika... Innal hamda wanni’mata laka wal mulka... laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu... Tiada sekutu bagi-Mu... Segala ni’mat dan puji adalah kepunyan-Mu dan kekuasaan-Mu... Tiada sekutu bagi-Mu.