28 September 2010

Papa

-->
Setiap Rabu (Kamis Malam) kami rutin menghadiri Pengajian di rumah Mertua adikku di kawasan Pondok Indah dan pada waktu itu (November 2009) saya melihat Papa terlihat pucat dan kurang bersemangat serta sering menderita flu… hal tersebut ditanggapi bercanda oleh Papa seperti biasanya dan memang Papa memiliki kulit sangat putih diantara kami semua.

Papa rajin melakukan Medical Check Up setiap 6 bulan sekali dan akhir November 2009 merupakan jadwal untuk dilakukan kembali Medical Check Up (satu tahun semenjak dilakukan kateter Jantung di RS. Harapan Kita bulan November 2008). Dari hasil tersebut diperoleh bahwa HB Papa menunjukkan angka 9, sedangkan angka normal berkisar antara 11 – 14. Melihat hal tersebut Papa baru menyadari bahwa kulitnya memang terlihat pucat akibat kurangnya HB tersebut. Kemudian saya pun melakukan searching di google untuk mencari dokter yang dianggap hebat di Indonesia dan termuatlah 3 nama “Dokter Ahli Darah” yang terbaik di Indonesia.

Beberapa hari kemudian kami pun mendatangi “Dokter X” untuk konsultasi dan berobat dengan membawa hasil medical check up tersebut. Menurut dokter X, hasil medical check up dirasakan ‘cukup lama’ (padahal masih 1 minggu) dan harus dilakukan cek darah lagi di tempatnya. Dokter pun memberikan resep dan kami pun agak tersentak kaget dengan harga yang tertera di kwitansi… semoga sepadan dengan harapan kesembuhan buat Papa.

2 minggu kemudian kami kembali ke prakter Dokter X untuk melihat perkembangan HB darah Papa dan hasilnya pun tidak sesuai yang diharapkan.... malah kembali turun, sedangkan obat yang diberikan tetap dilanjutkan. Dari analisa Dokter X disampaikan bahwa Papa memiliki kelebihan Zat Besi. Saya mencoba menanyakan apakah Papa harus dilakukan transfusi darah karena kecenderungan HB Papa terus menurun dan dibenarkan oleh Dokter X bahwa hal tersebut harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi Jantung agar bekerja dengan ringan dan tidak terlalu berat.

Akhir bulan Januari 2010… kami memperoleh kabar dari Medan bahwa adiknya Papa, Yusmar Harahap wafat. Kami pun menyeberangi pulau Jawa menuju ke Medan dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air… dan langsung meluncur ke rumah Almarhum.

Saat di Medan… saya teringat saudara ‘sepupu istri’ saya yang juga merupakan ahli darah. Saya pun berkunjung ke rumahnya untuk menanyakan perihal HB darah Papa dan memohon kesediaan waktunya untuk bertemu Papa… sebagai alternatif perbandingan analisa. Kebetulan Beliau juga merupakan murid dari salah satu Om saya di Universitas USU… dan pasti seru kalau mereka bertemu.

Keesokan harinya… saya, Papa dan om saya bersilaturrahim ke rumah ‘sepupu istri’ sambil menanyakan analisa hasil darah Papa. Suasana keakraban tersebut akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwasanya apabila HB darah Papa sudah di angka 7, maka tetap harus dilakukan transfusi darah… dan Beliau juga setuju bahwa memang 3 dokter di Jakarta tersebut memang ahli darah terbaik di Indonesia.

Melihat perkembangan HB darah Papa yang semakin menurun dengan dokter X, maka sebulan berikutnya kami mencoba mendatangi “Dokter Y”. Analisa Dokter Y menyampaikan bahwa Papa menderita Talasemia, sehingga HB darah tidak normal… namun seharusnya HB darah tersebut tidak terus menurun dan diberikanlah obat. Saya mencoba menyampaikan : apakah Papa perlu dilakukan transfusi darah ? Dokter Y tidak sependapat karena cara demikian tidak efektif karena nantinya akan terus terjadi transfusi darah.

Setelah 3 kali kunjungan ke Dokter Y juga belum menunjukkan hasil dan kembali HB darah Papa semakin menurun… akhirnya kami pun mencoba ke Dokter Z. Dokter Z lalu memberikan saran agar segera harus dilakukan transfusi darah agar menghindari beban jantung yang cukup berat dalam memompa darah.

Awal Agustus 2010… Papa di opname di RS. Kramat 128 untuk dilakukan transfusi darah sebanyak 800 cc. Kebetulan saya adalah pendonor darah di PMI sejak tahun 1994 dan proses permintaan darah pun berlangsung sangat lancar. Setelah dilakukan transfusi darah, HB Papa pun naik menjadi 10.8 dan terlihat Papa sangat segar.

Sebulan berikutnya di awal September 2010, Papa kembali melakukan cek HB darahnya dan mungkin (menurut persepsi Dokter) karena Papa berpuasa (bulan Ramadhan) sehingga HB darah menurun.

Setiap seminggu sekali memang jadwal saya harus bertemu dengan Papa dan kemarin tgl. 27 September 2010 saya kembali melihat wajah Papa pucat dengan kondisi lemas… kebetulan hari itu adalah jadwal konsultasi ke Dokter Z dan saya pun menemani Papa.

Alangkah terkejutnya saya bahwa HB darah Papa sekarang sangat anjlok di angka 6.9 dan kembali Papa harus dilakukan transfusi darah (kali ini) sebanyak 1.000 cc. Saya bertanya kepada Dokter Z kenapa terjadi demikian ? Dokter Z menyampaikan bahwa setelah dilakukan transfusi darah seharusnya dapat bertahan selama 120 hari, tetapi hal itu tidak terjadi pada diri Papa dimana hanya bertahan selama 40 hari. Penyebabnya dikarenakan sumsum tulang belakang sudah tidak bisa bagus dalam memproduksi darah merah dan disamping itu umur Papa yang (tgl. 26 Desember nanti) berusia 73 tahun juga dapat mempengaruhi kondisi demikian. Untuk itu perlu dilakukan kembali transfusi darah secepatnya…

Saya tetap opmitis bahwa Allah SWT pasti melakukan yang terbaik bagi hamba-Nya dan saya memohon rahmat serta pertolongan-Mu yaa Allah… tidak ada hal yang tidak mungkin bagi-Mu yaa Allah.  “Sesungguh perintah Allah apabila Dia mengkehendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia”. [QS. Yaasin : 82]

Saya sangat menyayangimu Papa… dan mohon do’a dari semua Keluarga, Sahabat, Teman, maupun rekan² lainnya untuk kesembuhan dari Papa tercinta.

Kisah selanjutnya --> I Do Love You, Papa
Post a Comment