22 December 2010

Riba dan Gibah [Kisah Wati]

Dalam mengembangkan usahanya, Wati terus berusaha mencari tambahan modal, tidak perduli uang tersebut darimana asalnya dan berapa % bunga riba yang dibayarkan, yang penting dalam pikirannya adalah menghasilkan keuntungan yang besar dari hasil pinjaman tersebut.

Usaha yang dirintisnya adalah berdagang salah produk “illegal” berupa sepatu dan sandal reject yang dijual dengan harga yang sangat miring. Sedangkan barang tidak layak tersebut seharusnya dimusnahkan dan dilarang untuk dijual kembali. Namun hal tersebut diindahkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan “lucunya” telah memiliki konsumen yang loyal terhadap barang tersebut. Kejadian tersebut membuat gerah Perusahaan melalui Distributor resminya di Indonesia untuk mengumumkan ke media massa bahwa akan menuntut orang atau perusahaan lain yang memakai merk sepatu dan sandal tanpa ijin dari Perusahaan tersebut.

Berulangkali Wati diperingatkan oleh Saudaranya bahwa resiko yang diambilnya adalah sangat berat dan sewaktu-waktu usaha tersebut akan tutup, ditambah lagi dengan keberaniannya yang memberikan jatah 5 s/d 10% per-bulan dari Pinjaman apabila ia meminjam uang kepada orang tersebut…  namun ditanggapi seperti angin lalu nasehat dari Saudaranya tersebut.

Dari segi bahasa, riba berarti tambahan atau kelebihan. Sedangkan dari segi istilah para ulama beragam dalam mendefinisikan riba. Efisiensi yang sederhana dari riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal, secara bathil (bertentangan dengan nilai-nilai syariah).

Intinya adalah bahwa riba merupakan segala bentuk tambahan atau kelebihan yang diperoleh atau didapatkan melalui transaksi yang tidak dibenarkan secara syariah. Bisa melalui “bunga” dalam hutang piutang, tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama, dan sebagainya. Dan riba dapat tejadi dalam semua jenis transaksi maliyah.

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau berkata, mereka semua adalah sama. [HR.  Muslim]

Saudaranya saat itu sedang berjuang untuk tetap hidup dengan memenuhi kewajibannya sebagai kepala rumah tangga harus tetap menafkahkan keluarganya, sedangkan usaha yang dirintisnya belum menunjukkan titik terang. Walaupun hidupnya (dapat dikatakan) sangat susah, namun Saudaranya tersebut sangat takut meminjam uang kepada orang yang membungakan uang tersebut (riba) karena nantinya akan mengalami kehancuran yang sangat besar bagi dirinya maupun keluarga. Wallahu a’lam…

Bulan demi bulan Wati menikmati hasil kerja kerasnya (sudah berjalan 1 tahun) tersebut dan berhasil memiliki 2 (dua) unit mobil baru yang dibeli dengan cara leasing….. suatu tindakan yang sangat berani.

Memasuki pertengahan tahun 2010, usaha tersebut mengalami penurunan omzet yang sangat drastis akibat pengumuman dari Perusahaan resmi tersebut. Pameran-pameran yang sering diadakan di Mal-Mal besar di Jakarta maupun Bekasi sudah tidak dilakukan lagi dan terpaksa dilakukan secara sembunyi-sembunyi dari mulut ke mulut. Hal tersebut diperparah lagi dengan semakin besarnya bunga pinjaman yang tidak dapat diimbangi oleh omzet penjualan.

Wati pun sangat sulit dihubungi dan yang lebih parah lagi….. ternyata Wati (tanpa sepengetahuan Saudaranya) meminjam uang yang hampir mencapai Rp. 100 juta kepada tetangga Saudaranya tersebut. Hal ini baru diketahui oleh Saudaranya ketika tetangganya marah-marah dan mendamprat mendatangi rumah Saudaranya tersebut.

Saudaranya yang selama ini sangat membina hubungan baik dengan tetangganya, mengalami keretakan akibat perilaku Wati tersebut.

Dengan hati yang sangat jengkel dan kesal, Saudaranya menanyakan Wati perihal kejadian tersebut… dan yang lebih menyakitkan hati Saudaranya adalah mereka (Tetangga dan Wati) sering menceritakan aib Saudaranya didalam “hubungan harmonis” mereka sebelumnya.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.“ [QS. Al-Hujurat : 12]

Tukang gibah melakukan dua pelanggaran :
1.       Berdosa kepada Allah, dan sudah semestinya ia menunjukkan penyesalan dengan bertobat.
2.       Menzalimi hak Saudara seimannya.
Jika kabar mengenai pergunjingan sampai kepada pihak yang digunjingkan, sang penyebar gossip harus meminta maaf kepada yang bersangkutan, dan mengungkapkan penyesalaan telah mengatakan kabar tak sedap itu. [Buku Gibah oleh Shakil Ahmad Khan & Wasim Ahmad].

Terkait ini, Ibnu Katsir menulis “Orang –orang menyatakan bahwa memohon maaf kepadanya bukanlah sebuah kondisi (pertobatan akan gibah), karena jika Anda mengatakan kepadanya tentang hal ini, mungkin lebih menyakitkan baginya daripada jika ia tak mengetahuinya”. Namun jika orang tidak khawatir timbulnya kemudaratan akibat permintaan maaf kepada orang yang dipergunjingkan, disarankan untuk meminta maaf.

Pada mulanya Wati menyangkal hal tersebut, namun setelah Saudaranya memberikan bukti tertulis, akhirnya Wati mengakui bahwa dirinya khilaf. Walaupun dengan hati yang masih sangat jengkel dan kesal, akhirnya Saudaranya berusaha meng-ikhlas-kan kejadian tersebut dan terus beristighfar kepada Allah SWT.

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang dapat menahan dirinya ketika marah“.  [HR. Muslim]

Saudaranya telah memaafkan ikhlas perbuatan Wati dan Tetangganya tersebut dan berusaha mencari jalan keluar dalam menyelesaikan masalah Wati tersebut dengan mencari pinjaman dari pihak Perbankan. Namun sejalan dengan waktu ternyata pihak Perbankan juga menolak permohonan dari Wati karena memiliki “riwayat pinjaman kartu kredit” yang kurang baik.

http://my.opera.com/originalsemsem/blog/2010/04/01/stress-symptoms
Jikalaulah Wati mau menceritakan permasalahannya kepada Saudara Tertuanya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, mungkin ceritanya akan lain dan semuanya dapat diselesaikan…..

Semoga Allah SWT memberikan jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi Wati dan memberikan ketabahan atas ujian yang saat ini dihadapinya.

“Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya”. [HR. Bukhari]