28 December 2011

Pemimpin & Kemiskinan


Kemiskinan merupakan suatu keadaan tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti :  makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan dan kesehatan. Rakyat miskin merupakan korban dari kegagalan negara untuk memelihara mereka seakan mengabaikan UUD 1945 pasal 34 : "Fakir-Miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara"... tapi kapan hal tersebut dapat diwujudkan ? 


http://dunia-panas.blogspot.com
Dalam paradigma Islam, Pemerintah merupakan pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Rasulullah SAW bersabda : "Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat) dan ia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya".  [HR. Bukhari & Muslim]


Alangkah lucunya jika seorang pemimpin terpilih menjadi Bupati, Walikota, Gubernur, Menteri, Presiden, DPR, MPR, dll merayakan keberhasilan mereka dengan suka cita dengan rentetan ucapan selamat menyertainya. Padahal terpilihnya seorang Pemimpin adalah suatu pertaruhan antara neraka dan surga dengan memikul amanah yang sangat berat dengan pilihan : "Apakah mereka mengangkat rakyatnya pada derajat yang lebih tinggi ataukah berbuat dzalim terhadap rakyatnya ?"


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam rapat kerja membahas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2012 antara Komisi XI DPR dan Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (15 September 2011) menghitung jumlah penduduk hampir miskin tahun 2011 bertambah 5 juta jiwa dibandingkan dengan tahun lalu. Bertambahnya 5 juta penduduk hampir miskin itu terdiri atas 1 juta jiwa yang "naik status" dari miskin ke hampir miskin. Sebanyak 4 juta jiwa lainnya "turun status" dari tidak miskin ke hampir miskin.

http://likalikulaki.wordpress.com
Rasa perduli antar sesama sudah sangat jarang kita temui saat ini, terlebih di daerah kota besar, yang seharinya disibukkan dengan rutinitas pekerjaan. Disamping itu ketidak-perdulian ini diperparah lagi dengan sikap sebagian masyarakat (yang mengaku Muslim) mulai menerapkan pola hidup hedonistik dan konsumtif.

Permasalahan ini berpangkal pada sangat dangkalnya pemahaman “mereka” terhadap syariat Islam. Kedangkalan pemahaman tersebut menyebabkan seseorang sudah merasa cukup untuk menunaikan ibadah mahdah saja, seperti : Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Mereka tidak memahami bahwa hubungan terhadap sesame manusia yang dilandasi ketaqwaan dengan melakukan hubungan sosial kepada syariat Islam juga merupakan ibadah bahkan wajib untuk dilaksanakan.


Kemiskinan itu sendiri dapat digolongkan sebagai berikut :
  1. Kemiskinan Struktural  (disebabkan oleh kondisi perekonomian akibat manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh : Kebijakan ekonomi Pemerintah, Monopoli, adanya penguasaan faktor-faktor produksi yang dilakukan oleh segelintir orang)
  2. Kemiskinan Kultural (disebabkan oleh faktor budaya atau mental dalam masyarakat, seperti : malas bekerja, rendahnya kreativitas, tidak memiliki keinginan untuk maju)
  3. Kemiskinan Natural (merupakan kemiskinan alami yang disebabkan oleh : rendahnya kwalitas SDM dan terbatasnya SDM).
http://pekikdaerah.wordpress.com
Dalam penanggulangan masalah kemiskinan melalui program bantuan langsung tunai (BLT) BPS telah menetapkan 14 (empat belas) kriteria keluarga miskin, seperti yang telah disosialisasikan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (2005), rumah tangga yang memiliki ciri rumah tangga miskin, yaitu :

  1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang
  2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan
  3. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester
  4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain
  5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik
  6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan
  7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah
  8. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu
  9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun
  10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari
  11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik
  12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : Petani dengan luas lahan 0,5 ha. Buruh Tani,  Nelayan, Buruh Bangunan, Buruh Perkebunan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp. 600.000 per bulan
  13. Pendidikan tertinggi kepala kepala rumah tangga : tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD
  14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai Rp. 500.000, seperti : Sepeda Motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor atau barang modal lainnya.
Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, di Gedung Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Jakarta, Selasa (28/6), menyebutkan bahwa 1/4 dari total penduduk miskin di Indonesia merupakan kelompok dan keluarga nelayan tradisional di pesisir pantai. "Jumlah mereka (nelayan miskin dan anggota keluarganya) di pesisir sebanyak 7,87 juta orang atau 25,14% dari total penduduk miskin nasional sebanyak 31,02 juta orang, "kata Fadel.

http://www.hilman.web.id
Fadel memaparkan jumlah 7,87 juta orang tersebut berasal dari sekitar 10.600 Desa nelayan yang terdapat di kawasan pesisir di berbagai Tanah Air. Sebagai perbandingan, jumlah desa miskin sebanyak 28.258 Desa dari keseluruhan 73.067 Desa di Indonesia.

Islam mewajibkan kepada setiap individu yang hidup dalam kehidupan sosial agar senantiasa berusaha merealisasikan kehidupan yang layak. Setiap individu wajib mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memiliki taraf hidup yang baik, agar bisa melindungi diri dan masyarakat sekitarnya dari keganasan kemiskinan.

Implementasi kepedulian sosial yang dibingkai dalam Ukhuwah Islamiyah adalah dengan membelanjakan (memanfaatkan) harta yang dimiliki oleh seseorang di jalan Allah. "Dan nafkahkanlah (harta kalian) di jalan Allah".  [Qs. Al-Baqarah : 195]


Islam sangat memperhatikan kelompok-kelompok yang tidak mampu menghasilkan dan memenuhi kebutuhan standar hidupnya, dimana kelompok lainnya sebenarnya mengetahui dan ada yang mampu namun tidak memberikan bantuan apapun. Allah SWT dengan tegas menetapkan adanya hak dan kewajiban antar 2 kelompok diatas (kaya dan miskin) dalam pemerataan distribusi harta kekayaan, yaitu dengan mekanisme zakat :

  • Secara teoritik, zakat adalah kewajiban atau hutang yang dibebankan di pundak orang-orang kaya untuk ditunaikan kepada orang-orang lemah yang berhak.
  • Zakat merupakan hak dan kewajiban yang jelas dan tegas serta telah ditentukan hubungan dan kadarnya.
  • Zakat sebuah sistem yang diciptakan Allah untuk hambanya dalam upaya memupuk rasa keperdulian antar sesama ciptaan-Nya
http://www.i-berita.com
Allah SWT sangat mencela orang-orang yang kikir mengeluarkan hartanya untuk menolong sesamanya. “Dan janganlah kami jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu dan janganlah kami terlalu mengulurkannya (jangan terlalu kikir dan jangan boros) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”.  [Qs. Al-Isra : 29]

Sangat ironi… sebagian besar masyarakat kita sangat membutuhkan bantuan dari Saudara-saudaranya yang berkecukupan, namun “mereka” lebih menikmati mengendapkan uangnya dalam bentuk tabungan dan deposito di dalam dan luar negeri. Lihatlah data McKinsey (sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia di akhir tahun 1997) : 64.000 keluarga Indonesia memiliki simpanan di Bank Luar Negeri senilai US$ 257 Milyar.

Mereka mengindahkan Firman Allah SWT : “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”.  [Qs. At-Taubah : 34]. Ayat tersebut mengancam orang-orang yang senang menyimpan (mengendap) uangnya, sedangkan emas dan perak maksudnya adalah harta berupa mata uang.

Ingatlah… sebagian harta yang kita miliki sebenarnya merupakan hak orang miskin. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk fakir miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.  [Qs. Adz-Dzariyaat : 19]

04 November 2011

Usia 41 Tahun...


Usia telah bertambah (41 tahun) dan hanya sedikit sisa waktu yang tersedia untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Masih banyak yang perlu diperbaiki dalam diri saya sebelum kembali kepada Allah SWT.

1.      Masih Kurang Bertaqwa

Hakekat taqwa adalah beramal dengan mentaati Allah SWT dalam rangka mengharap pahala-Nya serta menjauhi maksiat karena takut akan siksaan-Nya.

Umar ra pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab ra tentang taqwa. Maka Ubay bertanya (balik) : “Pernahkah engkau menempuh jalan yang berduri ? Umar menjawab : tentu. Ubay bertanya lagi : apa yang engkau lakukan ? Umar menjawab : hati² dan sungguh². Maka Ubay berkata : itulah taqwa.

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  [Qs. Al-Hasyr : 18]

Rasulullah SAW bersabda : “Takutlah (bertaqwalah) kepada kedzaliman karena kedzaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah (taqwalah) kepada kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian sehingga membawa mereka menumpahkan darah dan merobek² kehormatan”.  [HR. Muslim]

Taqwa bukan sekedar ‘hablun minallah” (hubungan dengan Allah SWT saja), namun harus diimbangi dengan “hablun minannas” (hubungan dengan Manusia). Taqwa merupakan pakaian keimanan, sedangkan keimanan akan disempurnakan oleh Taqwa. Sedangkan saya masih banyak memiliki kekurangan, seperti :

·        Menafkahkan rezeki suka ditunda… padahal Allah SWT sangat menyayangi orang² yang secara istiqomah menjalankannya. ‘Berniat’ untuk bersedekah saja sudah diganjar berkali² lipat dari Allah SWT dan (atas kehendak-Nya) menjauhkan kita dari berbagai kesulitan (bala’).

Terkadang baru memiliki sedikit rezeki saja diri ini sudah merasa paling hebat… sangat bertolak belakang dengan Nabi Sulaiman. Ketika Allah memberikan kekayaan yang sangat melimpah, lihatlah bagaimana ucapan Nabi Sulaiman AS (tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah disisnya) : “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur”.  [Qs. An-Naml : 40].

Allah SWT berfirman : “(yaitu) orang² menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang² yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang² yang berbuat kebajikan”.  [Qs. Ali Imran : 134]

·        Belum dapat mengendalikan amarah… padahal Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul. Allah SWT berfirman : “… dan orang² yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang² yang berbuat kebajikan”.  [Qs. Ali Imran : 134].

Dan Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap makhluk. Setelah itu Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki”.  [HR. Ahmad]


2.      Masih Kurang Berbakti Kepada Orang Tua

Saya ingin sekali untuk membahagiakan orang tua, menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan dan selalu menjaga mereka. Namun kasih sayang mereka sebelumnya kepada saya hingga saat ini sangatlah besar dan tidak ada bandingannya dengan saya lakukan hingga kapanpun saya hidup di dunia ini.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku… kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu masih kecil”.  [Qs. Al-Israa’ : 24]

Hampir setiap hari wajah alm. Mama selalu mampir dalam kehidupan saya. Terbayang bagaimana semasa hidupnya, Mama selalu berada disamping saya untuk mendengarkan keluh kesah anaknya dalam mengarungi kehidupan. Hingga demi kebahagiaan anaknya menuju pernikahan, Mama sering mengindahkan kesehatannya. Mama mempersiapkan seluruhnya untuk persiapan pernikahan saya, dari design baju pengantin (adat Mandailing) hingga pelaminan tempat saya bersanding dengan (calon) istri saya. Namun Allah SWT ternyata lebih sayang kepada Mama dan 9 hari sebelum saya menikah Mama wafat dengan meninggalkan kebahagiaan untuk diri saya.

Dunia seakan runtuh dan air mata ini tak kuasa saya bendung lagi… namun diri ini harus kuat menjalankan sisa hari menuju pernikahan saya. Saya sangat menyayangimu… Mama.

“Ya Allah… ampunilah aku dan Ibu Bapakku”.  [Qs. Nuh : 28]

Papa sebentar lagi berusia 74 tahun dan kondisi kesehatannya saat ini sangat menurun karena Papa mengalami penyakit yang cukup langka, MDS atau gejala Pre-Leukemia, sehingga setiap bulannya harus dilakukan transfusi darah untuk menjaga kestabilan Hb. Papa.
Untuk itulah saya sudah tidak mau lagi menerima bekerja diluar Jakarta (lihat kisah saya di http://irsyahar.blogspot.com/2011/02/ketika-hidup-harus-memilih.html) dan konsentrasi penuh untuk merawat Papa sehingga kapanpun Papa membutuhkan, saya selalu siap. Karena hanya do’a maupun perhatian inilah yang hanya mampu saya berikan kepada Papa.

Semoga saya dapat berkumpul dengan orang tua saya dalam Jannah Allah SWT… insya Allah… amiin.


3.      Masih Kurang Mampu Menjadi Pemimpin Dalam Rumah Tangga

Sebagai Imam dalam rumah tangga saya masih kurang mampu untuk menjadi panutan dalam membina rumah tangga, khususnya dalam :

·        Mengajarkan Ilmu Tauhid
Ilmu ini merupakan dasar agama Islam, keimanan dan tata cara ibadah (ilmu fikih) di dalam anggota keluarga saya. Saya masih harus banyak belajar kepada para Habib, Ustadz dan Pemuka Agama Islam lainnya.

·        Memberikan Nafkah
Sejak tahun 2008 hingga saat ini saya sudah tidak tertarik lagi untuk bekerja dengan orang lain yang terkadang sering menghalalkan secara cara untuk kemajuan Perusahaannya demi memperoleh predikat dari manusia yaitu : Penghargaan, Kekuasaan dan Kekayaan. Sudah banyak Perusahaan saya lalui namun belum ada satupun hati saya yang benar² sreg untuk bekerja disana.

Untuk itu (sudah 2 tahun lebih) saya mencoba wiraswasta sendiri sehingga (insya Allah) dapat membuka lapangan kerja sesuai dengan (insya Allah) syariat Islam, sehingga uang yang diperoleh dapat saya pertanggung-jawabkan di akhirat kelak dan darah yang mengalir dalam tubuh anak dan istri saya diperoleh dengan cara yang halal.

“Janganlah kamu mengagumi orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Disisi Allah dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah maka tidak akan diterima oleh Allah dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka”.  [HR. Abu Dawud]

Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang (mau) berjanji kepada-ku untuk tidak meminta-minta kepada orang lain sedikitpun lalu aku menjanjikannya surga ?” Maka aku katakan : “Aku”. Setelah itu Tsauban tidak pernah meminta sesuatu pun kepada orang lain.  [HR. Abu Daud]

Membuka usaha sendiri bukanlah hal mudah dan saya yakin Allah akan memberikan rahmatnya (insya Allah). Hal ini sangat membutuhkan kesabaran dan keikhlasan dari semua anggota keluarga saya dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karunia kepada kami senantiasa selalu berada dalam lindungan-Nya… amiin.

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka². Dan barangsiapa yang bertaqwakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap² sesuatu”.  [Ayat Seribu Dinar]

Kehidupan yang biasanya serba kecukupan dengan (sebelumnya) bekerja dengan orang lain berbalik keadaannya pada saat ini, sehingga terkadang dalam keseharian kami hidup dalam keadaan pas²an, namun saya merasa sangat dekat sekali dengan kehadiran Allah SWT dalam kehidupan ini. Insya Allah “semoga badai ini cepat berlalu”.

“Apakah kami mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang² terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam² cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang² yang beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.  [Qs. Al-Baqarah : 214]


Dalam sisa usia ini… insya Allah saya ingin lebih menambah ketaqwaan kepada Allah SWT dengan sering melakukan Muhasabah dan mempergunakan sisa waktu ini dengan sebaik²nya untuk menambah amal ibadah maupun amal sholeh berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. Sebagai Allah SWT berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang² yang bertaqwa”.  [Qs. Ali Imran : 133]

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Dua nikmat yang sering di sia²kan banyak orang adalah kesehatan dan kesempatan (waktu luang)”.  [HR. Bukhari]

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidan Ali bin Abi Thalib ra. melaksanakan sholat Subuh. Setelah selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati. Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit Matahari dan berkata : “Demi Allah, aku telah melihat para Sahabat (Nabi) Muhammad SAW. Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu yang menyerupai mereka sama sekali. Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi, mereka melewatkan malam hari dengan sujud dan berdiri kepada Allah, mereka membaca kitab Allah dengan bergantian (mengganti² tempat) pijakan kaki dan jidat mereka apabila menyebut nama Allah, mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin, mata mereka mengucurkan air mata membasahi pakaian mereka dan orang² sekarang seakan² lalai (bila dibandingkan dengan mereka)”.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapapanpun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”.  [Qs. Qaaf : 16-18]

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang akan merugi kalau hari esoknya sama saja dengan hari ini, bahkan dia menjadi terkutuk jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Seseorang baru dikatakan bahagia, jika hari esok itu lebih baik dari hari ini. Allah SWT berfirman : “Hai orang² beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  [Qs. Al-Hasyr : 18]

“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” yang artinya : “Hanya Engkau semata wahai Allah yang kami sembah dan hanya Engkau semata pula tempat kami menyandarkan permohonan dan permintaan pertolongan”.  [Qs. Al-Fatihah : 5]

29 September 2011

Kisah Ina (Seorang Anak Angkat)


Berkeluarga atau memiliki keturunan (mungkin) adalah dambaan setiap manusia di dunia ini. Namun ada kalanya harapan tersebut tidak dapat diraih karena Allah berkehendak lain yang semata-mata untuk kebaikan manusia itu sendiri….. Wallahu a’lam.

Sebuah keluarga yang telah memiliki 4 anak lelaki sangat mendambakan sekali untuk memiliki anak perempuan, dan untuk mewujudkan keinginan tersebut maka sejak masih belia, Ina (nama anak perempuan tersebut) telah diadopsi untuk menjadi bagian dari keluarga.

Mengadopsi anak adalah fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat kita dan banyak dari kita (kaum muslimin) tidak mengetahui tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan “anak angkat”, maka masalah yang terjadi dalam hal ini cukup banyak dan memprihatinkan. Misalnya dengan menisbahkan anak angkat tersebut kepada orang tua angkatnya dan menyamakannya dengan anak kandung, sehingga tidak memperdulikan batas-batas mahram, menganggapnya berhak mendapatkan warisan seperti anak kandung dan pelanggaran-pelanggaran agama lainnya.

Kebiasaan mengadopsi anak merupakan tradisi yang telah ada pada zaman jahiliyah dan dibenarkan di awal kedatangan Islam, bahkan Rasululullah SAW sendiri melakukannya (sebelum Beliau diutus Allah SWT sebagai Nabi) ketika mengadopsi Zaid bin Haritsah ra, kemudian Allah SWT menurunkan larangan tentang perbuatan tersebut dalam firman-Nya :  “Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)”.  [Qs. Al-Ahzaab : 4]

Zaid bin Haritsah adalah seorang anak kecil yang telah menjadi tawanan yang dibeli oleh Hakim bin Hizam untuk diberikan kepada Saudarinya, Khadijah binti Khuwailid yang kemudian diberikan kepada Rasulullah SAW setelah mereka menikah. Zaid berkembang menjadi seorang pemuda yang soleh dan tawakkal dan menjadi kesayangan Rasulullah SAW, sehingga Sahabat sering menyebutnya Zaid bin Muhammad.
Bertahun-tahun kemudian, Bapak kandung Zaid (Haritsah) mengetahui dan mendatangi Rasulullah SAW dengan maksud meminta kembali anaknya, dan Rasulullah SAW menyuruh Zaid sendiri yang membuat keputusan. Ternyata Zaid lebih senang memilih Rasulullah SAW sebagai Bapaknya daripada Bapak kandungnya sendiri. Tidak lama kemudian turunlah surat Al-Ahzab ayat 5.

“Panggilah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama Bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah dan jika kami tidak mengetahui Bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.  [Qs. Al-Ahzab : 5]

Ayat tersebut menghapuskan kebolehan adopsi anak yang dilakukan pada zaman Jahiliyah dan awal Islam, maka status anak angkat dalam Islam berbeda dengan anak kandung dalam semua ketentuan dan hukumnya dan intisarinya Allah SWT mengisyaratkan makna : “Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja” yang artinya : perbuatanmu mengangkat mereka sebagai anak hanyalah ucapan kalian (semata-mata) tidak mengandung konsekwensi bahwa dia (akan) menjadi anak yang sebenarnya (kandung), karena dia diciptakan dari tulang sulbi laki-laki (Bapak) yang lain, maka tidak mungkin anak tersebut memiliki dua orang ayah.

Imam Ibnu Katsir berkata : “Sesungguhnya ayat ini turun (untuk menjelaskan) keadaan Zaid bin Haritsah ra, bekas budak Rasulullah SAW yang diangkat anak, sampai-sampai dia dipanggil sebagai Zaid bin Muhammad, maka Allah SWT ingin memutuskan pengangkatan anak ini dan penisbatannya (kepada selain Bapak kandungnya) dalam ayat ini. Sebagaimana juga firman Allah SWT : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.  [Qs. Al-Ahzaab : 40]

Agama Islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik dan menolong anak yatim maupun anak terlantar yang sangat membutuhkan pertolongan dan kasih sayang….. sama sekali tidak ! Islam melarang sikap berlebihan terhadap anak angkat seperti yang dilakukan oleh orang-orang di zaman Jahiliyah. Islam sangat menganjurkan perbuatan menolong anak yatim dan anak terlantar yang tidak mampu dengan membiayai hidup, mengasuh dan mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang benar. Bahkan perbuatan ini termasuk amal soleh yang berpahala besar disisi Allah SWT.

Kemungkinan hal tersebut menyebankan orang Arab selalu mencantumkan “bin/binti” mereka yang menunjukkan nama Bapak, Kakek dan moyang mereka. Dengan demikian seseorang dapat mengetahui dengan pasti garis keturunannya dan sangat jarang ditemukan di negeri kita ini. Yang ada adalah nama keluarga dari beberapa suku di Indonesia, seperti : Harahap, Malaiholo dll. Walaupun ia (perempuan Arab) telah menikah tetap tidak berganti nama dengan nama suami atau keluarga suami.

Kembali kepada Ina….. Kebahagiaan selama 10 tahun pun tidak berlangsung lama karena keluarga ini telah dikarunia anak perempuan yang selama ini selalu diidamkan. Perlahan namun pasti akhirnya kasih sayang tersebut menjadi hambar dan Ina ibarat seorang anak yang disayangi oleh orang tua angkatnya namun agak terasing diantara Saudara angkatnya… coba kita bayangkan bagaimana sakitnya perasaan hatinya, akan berbeda halnya bila sejak awal ia memang telah mengetahui bahwa ia adalah anak angkat.


Hubungan antara suami dan istri bisa saja tidak abadi, namun hubungan antara anak dan kedua orangtuanya mustahil terputus. Itu sebabnya mengapa Islam melarang adopsi atau mengangkat anak dalam arti mengakui anak sebagai anak sendiri/kandung. Memelihara anak yatim/piatu dan memperlakukannya seperti anak sendiri apalagi di rumah sendiri memang suatu perbuatan yang sangat mulia, namun bukan mengakuinya sebagai anak kandung.

Hak dan kewajiban manusia selaku anak (kandung) maupun selaku orang tua dan Ibu yang pernah melahirkan seorang anak tidak pernah mungkin bisa dicabut. Bahkan menurut hukum Islam, anak perempuan ketika menikah memerlukan kehadiran Bapak kandung sebagai walinya. Demikian halnya dalam waris, kedudukan anak angkat dan anak kandung tidaklah sama.

Mungkin salah satu penyebab tersebut Ina kemudian mulai memiliki karakter dan sifat yang sangat unik… ia kemudian menjadi seorang yang sangat Individulistis, hal ini jelas merugikan dirinya sendiri diantara para Saudara angkatnya. Mereka (Saudara angkatnya) sangat menghindari untuk terlibat dengan Ina.
Hal ini pulalah yang menyebabkan Ina hingga masa tuanya tidak memiliki pendamping hidup, padahal banyak lelaki yang sangat menaruh hati kepadanya, namun hal tersebut sirna setelah mereka mencoba lebih dekat  dan memahami karakter sifat Ina.

Satu persatu Saudara angkatnya mulai berumah tangga dan diantara Saudara angkatnya, Ardie (beserta istri) tersebut ada yang menaruh iba terhadap kondisi Ina. Ardie menawarkan Ina kepada Saudara kandungnya untuk bersedia menerimanya tinggal bersama mereka, namun dengan kata sepakat mereka menolak Ina…  Melihat kondisi yang demikian, Ardie dan istrinya menawarkan kepada Ina sekiranya dia bersedia untuk ikut dengan mereka yang saat itu harus pindah ke daerah Palembang. Ina lalu menyetujui dan hingga saat ini (sudah 2 tahun terakhir ini) tinggal di rumah anaknya Ardie yang telah berumah tangga, dikarenakan Sari (istri Ardi) sudah wafat 13 tahun yang lalu, sedangkan Ardie sering tinggal di rumah anak-anaknya.

Ardie dan istrinya, Sari memiliki empat orang anak. Ina sangat menyayangi semua anak mereka dan memberikan perhatian khusus kepada anak bungsu mereka. Dan mereka semua pun menerima Ina dengan suka cita dan merawat Ina sebagaimana mereka dulunya sangat disayangi oleh Ina.

Usia Ina saat ini sudah diatas 70 tahun dan penyakit mulai menghampirinya. Ina saat ini menderita penyakit lambung kronis dan ginjal (harus dilakukan cuci darah). Semoga Allah SWT mengangkat penyakitnya dan diberikan ketabahan dalam kehidupan yang tersisa.

02 September 2011

Kisah Winto bag. 1


Sudah lama Dhonnie tidak bertemu temannya Winto yang juga merupakan tetangga di komplek perumahannya. Suatu saat Dhonnie melihat Winto sedang mengisap dalam rokoknya di Warteg yang tidak begitu jauh dari komplek perumahan mereka.

Setelah berkangen2an… Winto menceritakan kehidupannya 2 tahun terakhir sejak dirinya tidak bekerja lagi dan sudah berusaha maksimal untuk mencoba mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya… terlihat wajah sedih membahana.

Dhonnie mencoba menghibur Winto dengan memberikan sedikit risalah hadits agar Winto sabar dalam mengarungi hidup yang semuanya adalah merupakan ujian dari Allah SWT.

1.   Allah memberikan kita ujian (mungkin) disebabkan dosa-dosa yang telah kita lakukan dan alangkah baiknya kita merenungkan kembali dosa-dosa yang telah kita lakukan sebelumnya. Allah SWT berfirman : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.  [Qs. Asy-Syuro : 30]

Sebagai hamba-Nya, sudah sepatutnya kita segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah kita perbuat selama ini. Ujian dan cobaan adalah sebagai penggugur dosa-dosa kita dalam mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi.

Rasulullah SAW bersabda :  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa  gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya”.  [HR. Bukhari dan Muslim]

2.   Harus yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah selalu ada bersama kita dan cinta serta ridha kepada orang yang sabar. ”Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya”.  [Qs. Al-Baqarah : 286]

Barangsiapa yang muraqabah (merasa  diawasi) Allah dalam seluruh urusan, ia akan menjadi hamba Allah yang sabar dan berhasil melalui ujian apapun dalam hidupnya.  ”... dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. [Qs. Al-Anfal : 46]

3.  Akan datang ridha Allah apabila kita bersabar. Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri”.  [Qs. At-Thur : 48]


Dalam Firman-Nya : “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali)”… “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.  [Qs. Al Baqarah : 156-157].

Kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT)  akan lebih sempurna lagi jika ditambah setelahnya dengan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW : “Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku”.

“Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan do’a di atas niscaya Allah SWT akan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik”.  [HR. Muslim]

Belum selesai Dhonnie menjabarkan, tiba-tiba Winto segera pamit diri… Dhonnie pun bingung dan hanya bisa ber-istighfar kepada Allah SWT.

Sekitar 2 bulan berikutnya… Winto datang ke rumah Dhonnie dan menceritakan hidupnya yang lebih rumit lagi yaitu ingin bercerai dengan istrinya….. masya Allah ! Dhonnie menyebutkan kalimat istirja’ atas pernyataan Winto kepadanya.

Dan hanya 5 menit di rumah Dhonnie… (seperti biasa) Winto pun langsung pergi…

Sebelum di uji keimanannya oleh Allah SWT….. Winto adalah seorang teman yang sangat menyenangkan dan suka bercanda baik kepada Dhonnie maupun kepada teman lainnya. Dan pribadinya sangat menyenangkan dan  kuat dalam beribadah dengan sering mendatangi Masjid maupun acara-acara tausiah yang sering diadakan disekitar perumahan tersebut.

Namun seakan hidup tidak berpihak kepadanya, Winto lalu mulai terlihat jarang mendatangi Masjid dan lebih sering uring-uringan yang tidak jelas untuk menghindari para Debt Collector yang setiap saat hadir di halaman rumahnya. Hidupnya pun semakin terpuruk dikarenakan uang tabungan sudah sangat menipis sedangkan dirinya tetap dituntut kewajibannya sebagai Imam dalam rumah tangga.

Seandainya Winto dapat memaknai hidup ini yang tidak selalu berkutat pada sisi materi, walaupun materi itu sendiri menjadi bagian dan unsur kebahagiaan. Pada dasarnya Islam memandang masalah materi sebagai sarana bukan tujuan. Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian sangat besar pada unsur ma'nawi seperti memiliki budi pekerti yang luhur sebagai cara mendapatkan kebahagiaan hidup.
Islam telah menetapkan beberapa hukum dan beberapa kriteria yang mengarahkan manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia. Islam menekankan bahwa kehidupan dunia hanyalah merupakan jalan menuju akhirat. Sedangkan kehidupan yang sebenarnya yang harus dia upayakan adalah kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman : "Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik".  [Qs. An-Nahl : 97]

"Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit". [QS. At-Taubah : 38]


18 August 2011

Fitnah Merupakan Ujian Menambah Ketaqwaan Kepada Allah SWT


Dalam pergaulan kita sehari-hari, sering kita mendengar kata fitnah, dalam berbagai bahasan. Kata tersebut terdapat perbedaan arti dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Arab itu sendiri.

Dalam bahasa Indonesia, kata fitnah dalam banyak kamus bahasa Indonesia mengandung pengertian adalah : menuduh tanpa bukti atau dengan perkataan lain merupakan suatu cara interaksi (komunikasi) kepada orang lain yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi penghormatan, wibawa atau reputasi seseorang. Dalam bahasa Arab, kata itu berarti buhtaan yang artinya adalah cobaan atau ujian.

Di dalam Al-Qur'an banyak disebutkan kata-kata fitnah yang mempunyai arti yang berbeda-beda, atau bisa disebut dengan pengertian fitnah secara istilah :

1.   Fitnah bermakna Kekafiran

“…..Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.  [Qs. Al-Baqarah : 217]
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti  (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.  [Qs. Al-Baqarah :  193]
Kata fitnah disini menurut para ulama Ahli tafsir adalah ‘kekafiran’ atau ‘kemusyrikan’. Yakni bahwa mereka itu menyebarkan kekafiran. Sementara sebagian kaum Muslimin, karena belum diberitahu oleh Rasulullah SAW melakukan kekeliruan dengan memerangi kaum musyrik di bulan suci. Perbuatan mereka itu keliru, dalam arti tidak pantas. Tapi kekafiran kaum musyrik itu lebih besar bahayanya daripada kekeliruan berperang di bulan suci, itulah makna yang jelas dari ayat tersebut.

2.   Fitnah bermakna Menyesatkan

“…..(Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu;  mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan : Jika diberikan ini (yang sudah dirubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. [Qs. Al-Maidah : 41]
Syaithan merupakan musuh nyata manusia dan selalu berusaha menjerumuskan manusia kedalam jurang kekafiran, kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam menjalankan aksinya itu syaithan memiliki dua senjata ampuh yang telah banyak memakan korban. Dua senjata itu adalah :

a.   Syubhat artinya samar, kabur atau tidak jelas.
Apabila menimpa hati seseorang akan merusakkan ilmu dan keyakinannya. Sehingga jadilah “perkara ma’ruf menjadi samar dengan kemungkaran, maka orang tersebut tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Bahkan kemungkinan penyakit ini menguasainya sampai dia menyakini yang ma’ruf sebagai kemungkaran, yang mungkar sebagai yang ma’ruf, yang sunnah sebagai bid’ah, yang bid’ah sebagai sunnah, al-haq sebagai kebatilan, dan yang batil sebagai al-haq”. [Tazkiyatun Nufus, hal : 31, DR. Ahmad Farid]. Contoh : keraguan, kemunafikan, bid’ah, kekafiran dan kesesatan lainnya.
“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kamu. Tetapi aku khawatir atas kamu jika dunia dihamparkan atas kamu sebagaimana telah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu, kemudian kamu akan saling berlomba (meraih dunia) sebagaimana mereka saling berlomba (meraih dunia), kemudian dunia itu akan membinasakan kamu, sebagaimana telah membinasakan mereka”.  [HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad]

b.   Syahwat artinya selera, nafsu, keinginan atau kecintaan
Maksudnya adalah mengikuti apa-apa yang disenangi oleh hati/nafsu yang keluar dari batasan syari’at. Fitnah syahwat ini akan menyebabkan kerusakan niat, kehendak dan perbuatan orang yang tertimpa penyakit ini. Contoh : rakus terhadap harta, tamak terhadap kekuasaan, ingin populer, mencari pujian, suka perkara-perkara keji, zina dan berbagai kemaksiatan lainnya.
“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan”.  [HR. Ahmad]

3.   Fitnah bermakna Wanita, Harta dan Anak.

Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah SWT karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga Allah SWT memperingatkan hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya : Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka”.  [Qs. At-Taghabun : 14]

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.  [Qs. Ali ‘Imran :  14]

Al-Imam Mujahid ra berkata : “Yakni akan menyeret orangtua atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut)”.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik)”. [Muttafaqun ‘alaih]

Dari Usamah bin Zaid ra, Rasulullah SAW juga bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki laki (melainkan fitnah yang datang dari) wanita”.  [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi].

Diantara fitnah hawa syahwat yang tidak jarang melemahkan keimanan seorang mukmin adalah fitnah wanita, sebagaimana disebutkan didalam firman Allah SWT : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita”.  [Qs. Ali Imran  :  14]

Disebutkan di dalam ayat itu bahwa mencintai wanita merupakan bagian dari kecintaan kepada syahwat, (ayat itu) diawali dengan para wanita sebelum jenis-jenis yang lainnya sebagai petunjuk bahwa para wanita adalah pokok dari fitnah itu semua. Sebagai bukti pula adalah kecintaan seorang lelaki kepada anak istrinya melebihi kecintaannya kepada anak selain dari istrinya…  [Fathul Bari juz XIV hal 337]

Al-Mubarakfuri  ra berkata : “(Sisi berbahayanya fitnah wanita bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina, perselingkuhan, pacaran dan pemerkosaan, yang dipicu oleh daya tarik wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang lebih dahsyat darinya ?

Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada dirinya (meredakan syahwatnya)”.  [HR. Muslim]

Faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki, kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar. Oleh karena itulah, Allah SWT  dan Rasulullah SAW melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.  [Qs. An-Nur : 30]

Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.  [Qs. Al-Isra’ : 32]

Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita”. Seorang lelaki Anshar bertanya : Bagaimana pendapat anda tentang ipar? Rasulullah SAW bersabda : Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi zina antara seorang lelaki dengan iparnya)”.  [Muttafaqun ‘alaih]

Untuk itu hendaklah setiap wanita muslimah bisa menjaga dirinya didalam bergaul, seperti : menghindari khalwat dengan yang bukan mahramnya, ikhtilath dengan lelaki, tidak membagus-baguskan atau mengayun-ayunkan suara ketika berbicara dengan lawan jenisnya atau tidak berlenggak lenggok saat berjalan. Setiap wanita muslimah juga diharuskan menghindari dirinya dari berpakaian yang dapat mengundang fitnah dari kaum lelaki seperti : menampakkan auratnya, berbahan transparan, ketat, bercorak atau warna yang mengundang perhatian orang yang melihatnya, parfum atau lainnya.

Dan sudah seharusnya seorang wanita muslimah menggunakan pakaian khas wanita muslimah dengan jilbab dan pakaiannya yang menutup aurat serta menghindari berbagai perhiasan dan asesorisnya kecuali jika diperuntukan bagi suaminya.

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka karena yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  [Qs. Al Ahzab : 59]

Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan untuk menikah dengan wanita salihah, yang akan saling membantu dengan dirinya untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman”.  [Qs. Al-Baqarah :  221]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara : karena hartanya, kebaikan nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung”.  [Muttafaqun ‘alaih]

Fitnah wanita pada masa sekarang ini jauh lebih berat daripada pada masa-masa lalu dikarenakan sebab-sebab berikut :
·   Banyaknya tabarruj (wanita-wanita yang berdandan), beragamnya sarana-sarana modern yang digunakan kaum wanita pada zaman ini untuk menambah daya tarik yang dahulu hal ini belum-lah ada. Banyaknya pabrik-pabrik yang memproduksi berbagai perhiasan, minyak wangi, pakaian-pakaian wanita yang semakin menambah fitnah wanita terhadap kaum lelaki.
·    Tersebar luasnya ikhtilath (percampuran dalam pergaulan) antara pria dan wanita, para pemuda dan pemudi di berbagai sekolah, perguruan tinggi, kantor-kantor, departemen, sarana-sarana transportasi, kendaraan umum, club-club pertemuan, pesta-pesta, kolam renang, tempat-tempat hiburan dan sebagainya. Pada masa sekarang ini ikhtilath antara pria dan wanita jauh lebih luas dan banyak daripada masa-masa sebelumnya.
·   Perbuatan zina atau pergaulan seksual yang tampak demikian terbuka (terang-terangan) tanpa ada lagi rasa malu bahkan berbagai praktek perzinahan tampak di tempat-tempat umum di berbagai negeri non muslim.
·     Terbangkitkannya gairah seksual dikarenakan dorongan yang luar biasa dari berbagai media yang ada melalui program-program hiburan dan lainnya.

4.   Fitnah adalah Ujian.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan dalam tafsirnya : “Allah SWT mengabarkan tentang hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan. Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan. Sudah merupakan ketentuan Allah SWT, Dia menguji (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan”.

Dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta”.  [HR. At-Tirmidzi]

Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau dihinakan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya : “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata : “Rabbku menghinakanku”. [Qs. Al-Fajr : 15-16]

Al-Imam Ibnul Qayyim ra berkata : “Maksud ayat-ayat tersebut adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah SWT) beri kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah”.  [Ijtima’ul Juyusy, hal. 9]

Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah SWT  dan Rasulullah SAW. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut.

Al-Imam Ibnu Katsir ra menyatakan dalam tafsirnya : “(Agar terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah SWT adalah Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Allah SWT juga mengetahui cara terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah”.

Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar ? Dan adalah Rabbmu Maha melihat”.  [Qs. Al-Furqan : 20]

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ra menerangkan maksud ayat di atas dalam tafsirnya : “Seorang Rasul adalah ujian bagi umatnya, yang akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka terhadap Rasul tersebut. Maka Kami jadikan para Rasul sebagai ujian dan cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan yang penuh ujian dan cobaan”.

Setiap ujian mengharuskan kita untuk selalu tetap bersabar, kemudian menegakkan berbagai perkara yang diwajibkan, sehingga Allah SWT akan membalas semua amalan kebaikan kita.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari berbagai fitnah yang ada dan semakin bertambah ibadah, ketaqwaan dan keikhlasan kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.



----------------------
 info : dari berbagai sumber