04 November 2011

Usia 41 Tahun...


Usia telah bertambah (41 tahun) dan hanya sedikit sisa waktu yang tersedia untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Masih banyak yang perlu diperbaiki dalam diri saya sebelum kembali kepada Allah SWT.

1.      Masih Kurang Bertaqwa

Hakekat taqwa adalah beramal dengan mentaati Allah SWT dalam rangka mengharap pahala-Nya serta menjauhi maksiat karena takut akan siksaan-Nya.

Umar ra pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab ra tentang taqwa. Maka Ubay bertanya (balik) : “Pernahkah engkau menempuh jalan yang berduri ? Umar menjawab : tentu. Ubay bertanya lagi : apa yang engkau lakukan ? Umar menjawab : hati² dan sungguh². Maka Ubay berkata : itulah taqwa.

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  [Qs. Al-Hasyr : 18]

Rasulullah SAW bersabda : “Takutlah (bertaqwalah) kepada kedzaliman karena kedzaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah (taqwalah) kepada kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian sehingga membawa mereka menumpahkan darah dan merobek² kehormatan”.  [HR. Muslim]

Taqwa bukan sekedar ‘hablun minallah” (hubungan dengan Allah SWT saja), namun harus diimbangi dengan “hablun minannas” (hubungan dengan Manusia). Taqwa merupakan pakaian keimanan, sedangkan keimanan akan disempurnakan oleh Taqwa. Sedangkan saya masih banyak memiliki kekurangan, seperti :

·        Menafkahkan rezeki suka ditunda… padahal Allah SWT sangat menyayangi orang² yang secara istiqomah menjalankannya. ‘Berniat’ untuk bersedekah saja sudah diganjar berkali² lipat dari Allah SWT dan (atas kehendak-Nya) menjauhkan kita dari berbagai kesulitan (bala’).

Terkadang baru memiliki sedikit rezeki saja diri ini sudah merasa paling hebat… sangat bertolak belakang dengan Nabi Sulaiman. Ketika Allah memberikan kekayaan yang sangat melimpah, lihatlah bagaimana ucapan Nabi Sulaiman AS (tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah disisnya) : “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur”.  [Qs. An-Naml : 40].

Allah SWT berfirman : “(yaitu) orang² menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang² yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang² yang berbuat kebajikan”.  [Qs. Ali Imran : 134]

·        Belum dapat mengendalikan amarah… padahal Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul. Allah SWT berfirman : “… dan orang² yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang² yang berbuat kebajikan”.  [Qs. Ali Imran : 134].

Dan Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap makhluk. Setelah itu Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki”.  [HR. Ahmad]


2.      Masih Kurang Berbakti Kepada Orang Tua

Saya ingin sekali untuk membahagiakan orang tua, menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan dan selalu menjaga mereka. Namun kasih sayang mereka sebelumnya kepada saya hingga saat ini sangatlah besar dan tidak ada bandingannya dengan saya lakukan hingga kapanpun saya hidup di dunia ini.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku… kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu masih kecil”.  [Qs. Al-Israa’ : 24]

Hampir setiap hari wajah alm. Mama selalu mampir dalam kehidupan saya. Terbayang bagaimana semasa hidupnya, Mama selalu berada disamping saya untuk mendengarkan keluh kesah anaknya dalam mengarungi kehidupan. Hingga demi kebahagiaan anaknya menuju pernikahan, Mama sering mengindahkan kesehatannya. Mama mempersiapkan seluruhnya untuk persiapan pernikahan saya, dari design baju pengantin (adat Mandailing) hingga pelaminan tempat saya bersanding dengan (calon) istri saya. Namun Allah SWT ternyata lebih sayang kepada Mama dan 9 hari sebelum saya menikah Mama wafat dengan meninggalkan kebahagiaan untuk diri saya.

Dunia seakan runtuh dan air mata ini tak kuasa saya bendung lagi… namun diri ini harus kuat menjalankan sisa hari menuju pernikahan saya. Saya sangat menyayangimu… Mama.

“Ya Allah… ampunilah aku dan Ibu Bapakku”.  [Qs. Nuh : 28]

Papa sebentar lagi berusia 74 tahun dan kondisi kesehatannya saat ini sangat menurun karena Papa mengalami penyakit yang cukup langka, MDS atau gejala Pre-Leukemia, sehingga setiap bulannya harus dilakukan transfusi darah untuk menjaga kestabilan Hb. Papa.
Untuk itulah saya sudah tidak mau lagi menerima bekerja diluar Jakarta (lihat kisah saya di http://irsyahar.blogspot.com/2011/02/ketika-hidup-harus-memilih.html) dan konsentrasi penuh untuk merawat Papa sehingga kapanpun Papa membutuhkan, saya selalu siap. Karena hanya do’a maupun perhatian inilah yang hanya mampu saya berikan kepada Papa.

Semoga saya dapat berkumpul dengan orang tua saya dalam Jannah Allah SWT… insya Allah… amiin.


3.      Masih Kurang Mampu Menjadi Pemimpin Dalam Rumah Tangga

Sebagai Imam dalam rumah tangga saya masih kurang mampu untuk menjadi panutan dalam membina rumah tangga, khususnya dalam :

·        Mengajarkan Ilmu Tauhid
Ilmu ini merupakan dasar agama Islam, keimanan dan tata cara ibadah (ilmu fikih) di dalam anggota keluarga saya. Saya masih harus banyak belajar kepada para Habib, Ustadz dan Pemuka Agama Islam lainnya.

·        Memberikan Nafkah
Sejak tahun 2008 hingga saat ini saya sudah tidak tertarik lagi untuk bekerja dengan orang lain yang terkadang sering menghalalkan secara cara untuk kemajuan Perusahaannya demi memperoleh predikat dari manusia yaitu : Penghargaan, Kekuasaan dan Kekayaan. Sudah banyak Perusahaan saya lalui namun belum ada satupun hati saya yang benar² sreg untuk bekerja disana.

Untuk itu (sudah 2 tahun lebih) saya mencoba wiraswasta sendiri sehingga (insya Allah) dapat membuka lapangan kerja sesuai dengan (insya Allah) syariat Islam, sehingga uang yang diperoleh dapat saya pertanggung-jawabkan di akhirat kelak dan darah yang mengalir dalam tubuh anak dan istri saya diperoleh dengan cara yang halal.

“Janganlah kamu mengagumi orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Disisi Allah dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah maka tidak akan diterima oleh Allah dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka”.  [HR. Abu Dawud]

Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang (mau) berjanji kepada-ku untuk tidak meminta-minta kepada orang lain sedikitpun lalu aku menjanjikannya surga ?” Maka aku katakan : “Aku”. Setelah itu Tsauban tidak pernah meminta sesuatu pun kepada orang lain.  [HR. Abu Daud]

Membuka usaha sendiri bukanlah hal mudah dan saya yakin Allah akan memberikan rahmatnya (insya Allah). Hal ini sangat membutuhkan kesabaran dan keikhlasan dari semua anggota keluarga saya dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karunia kepada kami senantiasa selalu berada dalam lindungan-Nya… amiin.

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka². Dan barangsiapa yang bertaqwakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap² sesuatu”.  [Ayat Seribu Dinar]

Kehidupan yang biasanya serba kecukupan dengan (sebelumnya) bekerja dengan orang lain berbalik keadaannya pada saat ini, sehingga terkadang dalam keseharian kami hidup dalam keadaan pas²an, namun saya merasa sangat dekat sekali dengan kehadiran Allah SWT dalam kehidupan ini. Insya Allah “semoga badai ini cepat berlalu”.

“Apakah kami mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang² terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam² cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang² yang beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.  [Qs. Al-Baqarah : 214]


Dalam sisa usia ini… insya Allah saya ingin lebih menambah ketaqwaan kepada Allah SWT dengan sering melakukan Muhasabah dan mempergunakan sisa waktu ini dengan sebaik²nya untuk menambah amal ibadah maupun amal sholeh berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. Sebagai Allah SWT berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang² yang bertaqwa”.  [Qs. Ali Imran : 133]

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Dua nikmat yang sering di sia²kan banyak orang adalah kesehatan dan kesempatan (waktu luang)”.  [HR. Bukhari]

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidan Ali bin Abi Thalib ra. melaksanakan sholat Subuh. Setelah selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati. Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit Matahari dan berkata : “Demi Allah, aku telah melihat para Sahabat (Nabi) Muhammad SAW. Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu yang menyerupai mereka sama sekali. Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi, mereka melewatkan malam hari dengan sujud dan berdiri kepada Allah, mereka membaca kitab Allah dengan bergantian (mengganti² tempat) pijakan kaki dan jidat mereka apabila menyebut nama Allah, mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin, mata mereka mengucurkan air mata membasahi pakaian mereka dan orang² sekarang seakan² lalai (bila dibandingkan dengan mereka)”.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapapanpun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”.  [Qs. Qaaf : 16-18]

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang akan merugi kalau hari esoknya sama saja dengan hari ini, bahkan dia menjadi terkutuk jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Seseorang baru dikatakan bahagia, jika hari esok itu lebih baik dari hari ini. Allah SWT berfirman : “Hai orang² beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  [Qs. Al-Hasyr : 18]

“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” yang artinya : “Hanya Engkau semata wahai Allah yang kami sembah dan hanya Engkau semata pula tempat kami menyandarkan permohonan dan permintaan pertolongan”.  [Qs. Al-Fatihah : 5]