18 December 2013

Kisah 3 Wanita

Pernikahan atau nikah memiliki arti terkumpul dan menyatu. Menurut agama Islam disebut Ijab Qobul (akad nikah) yaitu perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata karena Allah SWT menjadikan manusia saling berpasangan.

Rasulullah SAW bersabda : "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu". [dari Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu ra, Muttafaq Alaihi]

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda : "Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat". [dari Anas Ibnu Malik ra diriwayatkan oleh Ahmad]

Sebelum menikah, melihat calon suami dan calon istri adalah sunnah, karena tidak mau penyesalan terjadi setelah berumahtangga. Anggota yang diperbolehkan untuk dilihat untuk seorang wanita ialah wajah dan kedua tangannya saja. Rasullullah SAW bersabda : "Apakah kamu telah melihatnya ? Jawabnya tidak (kata lelaki itu kepada Rasullullah). Pergilah untuk melihatnya supaya pernikahan kamu terjamin kekekalan". [dari Abu Hurairah ra diriwayatkan oleh Tarmizi dan Nasai]

Pernikahan memiliki manfaat :
  • Menyalurkan nafsu syahwat dengan cara halal dan suci
  • Untuk memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang dan ketenteraman
  • Memelihara kesucian diri
  • Melaksanakan tuntutan syariat
  • Membuat keturunan yang berguna bagi agama, bangsa dan negara
  • Mewujudkan kerjasama dan tanggungjawab
  • Mengeratkan tali silaturrahim
Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi kisah pernikahan yang dialami oleh 3 teman saya : Vina, Fanny dan Fifa yang saat ini sedang mengalami badai dalam kehidupan rumah tangga mereka. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat pelajaran bagi kita dalam membina dan mempertahankan rumah tangga kita yang insya Allah : Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah.

---

Vina memiliki 2 orang anak dan sang suami baru terkena PHK. Vina memiliki jabatan yang lumayan tinggi di Perusahaan, sehingga hampir setiap hari Vina pulang sekitar jam 10-11 malam tiba di rumah dan sering diantar oleh teman Pria yang menurut Vina adalah teman kantornya. Pada awalnya suami memaklumi karena padatnya jalanan di Jakarta dan kesibukan istrinya di Kantor. Namun setelah 3 bulan berselang, bibit perpecahan rumah tangga pun mulai terlihat. Sang suami yang kesehariannya sebagai ‘Bapak’ Rumah Tangga mulai merasakan tidak nyaman dengan posisinya tersebut. Dirinya menjadi tempramen dan sering bertindak kasar dalam rumah tangga mereka. Vina yang juga merasa sudah berbuat lebih dalam rumah tangga mereka mulai menunjukkan ‘powernya’ selaksa di kantor. Percekcokan sering terjadi, yang mengakibatkan suami dan istri tersebut kembali kepada orang tua mereka masing2 dan 2 anak direkrut Vina untuk ikut dengannya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. [Qs. an-Nisa : 34]

Pukulan itu hanya sebagai pengingat (sebagai kritik) bukan melukai dan hanya dilakukan jika sesuai dengan sifat istri tersebut dan larangan untuk memukul istri di kepala yang dapat menyebabkan sampai berdarah dan bahkan mematahkan tulang.

Mereka sepakat untuk saling instropeksi dengan cara berpisah rumah, namun mereka tetap menikmati hubungan suami istri hingga (tanpa disadari) telah memasuki tahun ke-2 tanpa adanya kejelasan mengenai menyatukan kembali rumah tangga mereka. 

Sang suami pun akhirnya memiliki pekerjaan sebagai Driver Perusahaan, namun dikarenakan jabatan Vina yang sudah cukup tinggi, pekerjaan sang suami tersebut justru membuat Vina merasa tidak nyaman. Vina sendiri mulai melirik Pria yang memiliki jabatan bergensi yang selama ini sebagai ‘pelabuhan’ curhatnya. Perceraian merupakan jalan keluar terbaik yang sering dilontarkan Vina daripada menyatu dengan sang suami. Sedangkan sang suami masih terus berusaha bertahan untuk membangun kembali rumah tangga yang di dalamnya terdapat anak2 mereka yang masih kecil dan masih membutuhkan perhatian dari kedua orang tua kandungnya.

Di dalam agama Islam, pada dasarnya seorang istri dilarang minta cerai (khulu’) dari suaminya kecuali jika didasari dengan alasan2 yang dibenarkan syariat Islam, yaitu :
  • Suami murtad (keluar dari agama Islam dan masuk ke agama lain)
  • Suami berbuat kekufuran atau kemusyrikan kepada Allah dengan berbagai macam bentuknya. Dan telah ditegakkan hujjah atau disampaikan nasehat kepadanya agar bertaubat darinya tapi tidak mendengar dan menerima
  • Suami melarang dan menghalangi istri untuk melaksanakan kewajiban2 agama, seperti kewajiban sholat 5 waktu, kewajiban zakat, memakai hijab syar’i yang menutupi auratnya, menuntut ilmu syar’i yang hukumnya fardhu ‘ain, dll
  • Suami memerintahkan dan memaksa istrinya untu berbuat dosa dan maksiat kepada Allah
  • Suami bersikap kasar dan keras, serta tidak sayang kepada istri dan memiliki akhlak yang buruk
  • Suami menolak dan berpaling dari agama Islam, tidak mau mempelajarinya dan tidak melaksanakan sesuai al-Qur'an dan Hadits
  • Suami tidak mampu memberikan nafkah wajib bagi istri, baik nafkah lahir maupun bathin. Atau suami tidak fertil, sehingga tidak bisa memberikan keturunan
  • Istri merasa benci dan sudah tidak nyaman hidup brsama suaminya, bukan karena agama dan akhlak suami yang baik, tapi karena khawatir tidak bisa memenuhi hak-haknya
Bila seorang suami tidak melakukan kewajibannya, atau istri sangat benci terhadap suami sehingga tidak mungkin lagi membangun rumah tangga bersamanya maka saat itu diperbolehkan untuk melakukan khulu’, yaitu membatalkan pernikahan, caranya : istri meminta kepada suami untuk membatalkan pernikahan mereka dan istri mengembalikan maharnya kepada suami. Tentunya hal ini dilakukan setelah memberikan nasehat kepadanya secara langsung maupun dengan minta bantuan orang lain yang dianggap mampu menasehatinya dan menyingkap kerancuan serta kesesatannya. Juga setelah mempertimbangkan antara sisi Maslahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan).

Hal tersebut pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW, sebagaimana terdapat dalam hadits berikut ini : Istri Tsabit bin Qois datang kepada Rasulullah SAW maka dia mengatakan : ‘Wahai Rasulullah Tsabit bin Qois, saya tidak mencelanya dalam hal akhlak dan agama akan tetapi saya tidak suka kekafiran setelah keislaman’. Maka Rasulullah SAW bersabda : ‘Apakah kamu mau mengembalikan ladangnya (yaitu maharnya)’. Maka ia menjawab: ‘Iya’. Maka Rasulullah SAW bersabda (kepada Tsabit) : ‘Terimalah ladang itu dan ceraikanlah’. [dari Ibnu Abbas ra diriwayatkan oleh Bukhari]

Kekafiran yang di maksud adalah akhlak kekafiran setelah masuk Islam. Dikarenakan ia sangat benci terhadap Tsabit dan khawatir berat akan melanggar aturan agama dalam hidup berumah tangga dengannya. Akan tetapi bila tidak ada alasan yang dibenarkan oleh syariat, lalu seorang istri minta diceraikan maka tidak boleh bahkan haram, seperti misalnya masalah-masalah yang insya Allah dapat diselesaikan.

Adapun minta cerai tanpa alasan syar’i maka hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Rasulullah SAW bersabda : “Wanita mana saja yang minta cerai (khulu’) dari suaminya tanpa alasan yang benar (syar’i), maka diharamkan baginya mencium bau harum Surga”. [dari Tsauban ra diriwayatkan oleh Ibnu Majah]

Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah thalaq (cerai). Thalaq (cerai) boleh dilakukan tidak lain adalah karena memang diperlukan. Tanpa adanya sebab itu thalaq adalah makruh karena ia berdampak bahaya yang tidak bisa ditutupi. Hal yang bisa dijadikan alasan bagi wanita untuk meminta thalaq adalah adanya pelanggaran hak-haknya yang mana membahayakan kehidupan jika tetap hidup bersama dengan suaminya.

---

Fanny memiliki 4 anak dengan keadaan suami yang sudah lebih dari 10 tahun tidak bekerja. Dominan Fanny dalam rumah tangga sangat terlihat sehingga seringkali terlihat sang suami tidak memiliki fungsi sebagai seorang Imam. Fanny sangat menikmati peranannya tersebut membuat sang suami seakan terpaksa harus mengikuti segala keinginannya. 

Seharusnya Fanny memperhatikan riwayat seorang perempuan yang datang memohon nasehat kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menanyakan apakah dia memiliki suami dan perempuan itu mengiyakan. Kemudian Rasulullah SAW menanyakan apakah dia melayani suaminya. Perempuan itu menjawab dia melakukan apa yang bisa dia lakukan. Kemudian Rasulullah SAW berkata pada perempuan tersebut : “Engkau sama dekatnya dengan Surga dan sama jauhnya dari Neraka sebagaimana dekatnya engkau dalam melayani suamimu” dan dalam riwayat lain “suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Lihatlah hadits lainnya yang menerangkan pentingnya melayani suami :
  • “Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah yang lain, aku akan memerintahkan istri untuk menyembah suaminya”. [HR. Bukhari dan Muslim]
  • “Seorang perempuan tidak patuh pada suaminya dan dia tidak akan mampu tanpa suaminya”. [HR. Bukhari dan Muslim]
  • “Seorang perempuan yang menegakkan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan dan mematuhi suaminya akan memasuki Surga melalui pintu mana saja dia suka”. [HR. Bukhari dan Muslim]
Sang suami sudah berusaha memenuhi kewajiban untuk menafkahkan keluarganya, namun ‘rezeki’ tak kunjung menghampiri, dengan kata lain, rumah tangga mereka selama ini telah dinafkahi oleh Fanny. 

Pada suatu saat sang suami diterima bekerja di salah satu usaha garmen milik seorang janda beranak 3. Masing2 dari mereka pun sharing pengalaman hidup berumah-tangga, sehingga kedekatan pun tidak terelakkan. Merasa nyaman dengan kehadiran Boss (janda) dalam hidupnya dan sang janda pun merasakan demikian, sang suami nekad melangsungkan pernikahan dengan istri ‘barunya’ tersebut tanpa izin dari istri maupun anak2nya. 

Berita tersebut tercium oleh Fanny setelah 1 tahun mereka (sang suami dan istri barunya) menikah. Fanny merasa harga dirinya dirobek2 oleh sang suami dan tidak terima dengan perlakukan sang suami yang (ibarat) menikam dirinya dari belakang. Sang suami tidak mau menceraikan Fanny karena mengingat anak2 mereka, tapi dilain pihak Fanny tidak bisa menerima kenyataan dirinya telah dimadu sang suami.

---

Fifa memiliki paras cantik memiliki 3 orang anak dengan suami yang sukses di bidang usaha kontraktor. Fifa bekerja di salah satu Perusahaan Asuransi terkemuka di Indonesia. Singkat cerita... usaha sang suami mengalami kebangkrutan karena salah perhitungan biaya dalam proyek yang dibangunnya. Fifa pun menjadi tulang punggung dalam keluarga mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. [Qs. an-Nisa : 19]

Suatu ketika Fifa diantar oleh Budi (rekan kerja di kantor) dikarenakan hujan yang mengakibatkan banjir menggenangi hampir di seluruh kota Jakarta. Budi memang sering mengantar Fifa ke rumah dan sering membuat sang suami gusar melihat kedekatan mereka berdua. Sang suami seringkali mengingatkan Fifa untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mereka, namun Fifa sering menampik ucapan sang suami dan menyampaikan bahwa dirinya dan Budi hanya sebatas rekan sekerja dan tidak pernah melakukan hal2 diluar kewajaran dari seorang istri.

Fifa seharusnya melindungi kehormatan suaminya dalam pernikahan mereka. Tindakannya bisa berakibat menguatnya atau runtuhnya pernikahan, karena prioritas utama seorang istri seharusnya mengasuh, mengasihi dan menyayangi anak-anak mengasihi dan menyayangi mereka.

Sifat cemburu dan curiga adalah sifat yang lemah. Seharusnya sang suami  menyayangi dan melindungi istrinya. Artinya, sang suami harus waspada untuk tidak membiarkan istrinya berperilaku di luar batas moral Islam. Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. [Qs. at-Tahrim : 6]

Lihatlah bagaiman Ustman bin Affan menyayangi dan melindungi istri Beliau, Na’il. Pada waktu kejadian pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah meminta istrinya, Na’il untuk menutup rambutnya dengan berkata “melihat kematian lebih mudah bagi beliau daripada melihat rambut istri beliau (tersingkap di depan orang banyak) dan kesuciannya ternodai.” Mendengar ucapan beliau, Na’il segera menutup rambutnya dan menemani suaminya sampai Beliau wafat.

5 tahun berselang... Fifa berhenti dari perusahaan Asuransi dikarenakan target yang harus dicapainya tidak terpenuhi lebih dari 2 tahun. Sang suami masih belum terlihat memiliki pekerjaan jelas, tetapi memiliki kegiatan yang tidak jelas dan sangat padat, membuat sang suami jarang pulang ke rumah. Entah uang darimana, setiap pulang ke rumah, sang suami selalu memberikan nafkah untuk keluarganya. Fifa bingung dengan kegiatan suaminya tersebut dan jika ditanyakan sang suami menjadi naik pitam.

Rasa penasaran Fifa pun terjawab sudah... air mata dan sakit hati berbaur dalam dirinya ketika membaca sms dari seorang wanita yang sudah biasa dilayani oleh sang suami tercinta. Sang suami ternyata berprofesi sebagai seorang Gigolo. Pertengkaran dalam rumah tangga pun tidak terelakkan. 

3 jam lebih ‘urat makian’ pun mulai mereda, dengan air mata yang masih bercucuran Fifa menanyakan penyebab sang suami memilih profesi tersebut. Sang suami pun menuturkan bahwa kedekatan Fifa dan Budi yang menyebabkan dirinya berbuat demikian dan pekerjaan yang dilakukan sang suami merupaka suatu hal yang tidak sengaja.

Pada waktu itu, sang suami saat bingung dengan keadaan dirinya dan dia duduk di salah satu daerah di kota Jakarta. Dalam kesendirian tersebut, tiba2 seorang wanita cantik menghampirinya untuk meminta kesediaan sang suami melayani kebutuhan bathin wanita tersebut yang telah memiliki suami, namun sering kesepian karena sering ditinggal suaminya bekerja di luar negeri. Wanita yang kesepian ini sangat menginginkan ‘kehangatan’ dan tempat itulah sering kunjungi oleh wanita tersebut dan sangat kebetulan bertemu sang suami yang sangat mendambakan memiliki uang.

Pada awalnya sang suami hanya mencoba2, namun melihat ladang bisnis yang menggiurkan dengan hanya bermodalkan ‘senjatanya’ ini, sang suami pun serius menggeluti Profesinya. Dari sanalah sang suami menafkahkan keluarga mereka sehari2. 

Sang suami yang seharusnya melindungi, memelihara dan menafkahkan keluarganya dengan uang yang halal, justru sangat mengabaikan peringatan Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. [Qs. at-Tahrim : 6]

---

Dari ketiga kisah teman tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa pondasi Iman dalam rumah tangga sangatlah dibutuhkan. Hak dan kewajiban masing2 suami istri harus benar2 di aplikasikan dalam rumah tangga, sehingga seorang suami harus menjadi pemimpin yang menampakkan kebijakan dan kemampuannya untuk mengatur biduk rumah tangga.

Kebebasan bergaul sangat berkembang dan sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam sebagian kaum muslimin. Hal ini merupakan musibah besar dan berimplikasi sangat buruk bagi tatanan keluarga dan masyarakat. Karena itulah Islam memberikan batasan pergaulan antara lawan jenis, sehingga kemungkinan muncul perselingkuhan, pacaran dengan cinta monyet serta perzinahan dapat dicegah sejak awal. Ditambah lagi dengan hukuman keras bagi pezina baik yang belum pernah menikah maupun yang pernah menikah. Sayang negara kita bukan merupakan negara Islam sehingga hal tersebut tidak dapat diterapkan dalam kehidupan kita.

Rasulullah SAW pernah bersabda : "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu : harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia". [dari Abu Hurairah ra / Muttafaq Alaihi] 

Rasulullah SAW juga bersabda : “Tidak ada yang lebih baik di dunia ini bagi seorang muslim setelah menyembah Allah, selain mendapatkan istri yang shaleha, cantik apabila dipandang, patuh apabila diperintah, memenuhi sumpah pernikahan, menjaga dirinya dan kekayaan suami di saat suami pergi, mengasuh anak-anaknya, tidak membiarkan orang lain masuk ke rumah tanpa ijin suami dan tidak menolak apabila suami memanggil ke tempat tidur”. [HR. Bukhari dan Muslim]

27 November 2013

BRITIS 72 With Love

1989 - 1998  (kenangan yang begitu indah)

Memulai bekerja di Bank Rakyat Indonesia pada tgl. 1 Agustus 1989 dan di tempatkan di BRI Cabang Jakarta Jatinegara. Dalam usia yang masih 18 tahun saya berusaha bekerja sambil kuliah. Suasana kerja di Cabang Jatinegara sangat menyenangkan dan saya sangat di sayang oleh Senior2 disana. Mereka sangat ramah dan sabar membimbing saya dan teman saya seperjuangan, Widi Tahijadi, karena kami memang dipersiapkan untuk persiapan pembukaan Cabang baru di Jl. Otista Raya no. 72 Jakarta Timur.

2 bulan masa pembelajaran dan pengenalan produk BRI, kami pun di mutasikan ke Kantor Cabang (baru) BRI Jakarta Otista pada tgl. 1 November 1989. Di Cabang baru ini hanya terdiri dari 16 orang meliputi Pimpinan dan Karyawan : Bp. FB. Soerendro (Pinca), Bp. Thomson Hasoloan dan Bp. Nasrun Adil Lubis (SAO), Bp. Yadi Suryadi (ADK), Ibu Mien Ruminah (OO), Bp. Soemarsono (Supervisor Kas), Bp. Siswondo (ACTO), Bp. Taufik Hidayat (Rutang), Irdon Syahli Harahap dan Enggriani Panikkai (Customer Service), A. Rina Wowor dan Artha Sari (Teller), Widi Tahijadi (Kliring), Hamdani (Pembukuan & Arsip), Elisabeth Sri Lestari (Teller Tabungan), A. Dwi Ardjoko (Operator).

Selama 1 bulan lebih kami mempersiapkan segala sesuatunya dari kelengkapan dokumen hingga perabotan karyawan. Dari sinilah suasana keakraban antar karyawan mulai terpupuk baik dan kami pun saling membantu satu sama lainnya.

Hari yang dinantikan pun tiba... BRI Cabang Jakarta Otista diresmikan oleh Direktur BRI pada tgl. 16 Desember 1989 bertepatan dengan ulang tahun BRI dan peluncuran perdana produk : SIMASKOT (Simpanan Masyarakat Kota), Demuna (Deposito Multiguna) dan Romuna (Giro Multiguna) serta Smart BRI (sebuah kartu yang memiliki chip) yang diliput langsung oleh TVRI (satu2nya siaran TV saat ini).

Kediaman Bp. FB. Soerendro
Kepemimpinan Bp. Soerendo yang ke Bapak-an sangat dinikmati oleh seluruh karyawan. Beliau sangat ramah dan tidak membeda-bedakan satu sama lainnya. Hingga pada suatu hari ada telepon buat salah satu karyawan yang berbunyi di ruang kerja Beliau. Dengan kepribadian Beliau yang sangat luar biasa, Beliau menghampiri langsung karyawan tersebut dan menyampaikan sendiri bahwa ada telepon masuk untuk karyawan tersebut di ruang kerja Beliau.

Walaupun Beliau seorang Katolik, namun sajadah (buat umat Muslim) selalu tersedia di ruang kerjanya untuk menghormati tamunya yang beragama Islam.

BRI Cabang Otista mulai mengalami kemajuan dan pada saat itu juga terkenal dengan 9 orang karyawan yang memiliki pasangan dalam satu kantor. Dan hanya 3 pasangan yang awet berumah-tangga hingga saat ini.

Bp. Ahmad Dimyati
Melihat perkembangan BRI Jakarta Otista semakin maju, banyak diantara karyawan yang naik ke jenjang lebih tinggi, seperti Bp. Thomson Hasoloan naik menjadi MLO ke-1 BRI Jakarta Otista dan selanjutnya Beliau digantikan oleh Bp. Ahmad Dimyati (MLO ke-2) yang hanya 1 tahun dan kemudian menjadi Pemimpin Cabang BRI Meulaboh, Banda Aceh.

Kemudian Bp. Soerendro pun meninggalkan BRI untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi dan digantikan oleh Bp. Sultan Hamid. Pribadi Bp. Sultan Hamid sangat berbeda dengan Bp. Soerendro.

Bp. Sultan Hamid memiliki kepemimpinan yang sangat disiplin dan tegas dalam aturan BRI, namun hal tersebut hanya sebatas jam kerja saja, sedangkan di luar jam kerja, Beliau sangat luar biasa royal dalam hal materi maupun perhatiannya. Saya sangat merasa klop di bawah kepemimpinan Beliau.

Kediaman Bp. Sultan Hamid
Yang berkesan dari Bp. Sultan Hamid adalah Beliau memposisikan saya sebagai Asisten Pemimpin Cabang yang bertanggungjawab langsung kepada Beliau, padahal saat itu jabatan saya masih rendah dan Beliau telah memiliki wakil resmi di BRI Jakarta Otista (MLO ke-3), Bp. Sutrisno.

Beliau banyak mengajarkan kepada saya segala hal : dari ilmu Perbankan, disiplin, motivasi karir dan kehidupan. Beliau senantiasa mengingatkan saya untuk meninggalkan pekerjaan dan berusaha serius untuk Kuliah. Disamping itu “uang jajan” selalu diberikan setiap malam minggu untuk perjalanan saya ke Bandung mengunjungi ‘sang pacar’ yang saat ini menjadi istri tercinta.

Kediaman Bp. Omay
BRI Jakarta Otista semakin pesat pertumbuhannya di bawah kepemimpinan Bp. Sultan Hamid dan Kantor Pusat BRI melihat potensi dalam diri Beliau, sehingga Beliau pun dimutasikan ke jenjang karir yang lebih tinggi.

Pemimpin Cabang BRI Jakarta Otista selanjutnya yang ke-3 adalah Bp. Djoko Kunarso. Kepemimpinan Beliau sangat jauh berbeda dengan 2 Pemimpin Cabang sebelumnya dan saya pribadi banyak bentrok kebijakan Beliau yang tidak relevan.

Alhasil... 6 bulan saya di “off” tanpa diberikan pekerjaan dan tidak tertera dalam struktur organisasi di BRI Jakarta Otista. Namun berkat perjuangan dan keperdulian Bp. Nasrun Adil Lubis saya dimasukkan dalam team Legal dan Administrasi Kredit di bawah komando, Kang Yadi Suryadi. Mbak Kun Sumiati kemudian menggantikan posisi Kang Yadi Suryadi yang di promosikan ke jenjang lebih tinggi.

Ibu Arma Gayariana
Masuknya Ibu Arma Gayariana (MLO ke-4) di akhir tahun 1997 memberikan angin segar terhadap karir saya selanjutnya. Saya di ikut-sertakan mengikuti program Calon Account Officer untuk 40 Cabang BRI Prioritas, dimana saat itu suku bunga pinjaman mencapai angka 36% akibat krisis moneter yang mengakibatkan peningkatan kredit macet.

Kepercayaan Bp. Leo Soenpiet, Pemimpin Cabang ke-4 (menggantikan Bp. Djoko Kunarso) sangatlah luar biasa. Bayangkan saja... demi konsentrasi saya menghadapi test tersebut (jika Beliau tidak berada di kantor) saya disuruh belajar di ruang kerja Beliau. Disamping itu saya dipercayakan membuat konsep surat “R” (rahasia).

Kembali ke program Calon Account Officer... Dari sekian ribu peserta seluruh BRI di Indonesia, alhamdulillah saya merupakan salah satu dari 25 orang yang lulus seleksi. Setelah itu kami masuk Pusdiklat BRI di Jl. Gatot Subroto untuk dibekali ilmu untuk nantinya dapat terjun langsung di lapangan.

Kediaman Ibu Mien Ruminah
Dalam pendidikan tersebut kami dibuatkan ujian kelulusan. Dari 25 orang yang lulus hanya 23 orang dan sisa 2 orang harus mengulangi ujian kembali. Menempati 40 Cabang BRI Prioritas tersebut, para AO diberikan pilihan untuk memilih Cabang yang ingin bekerja disana. Saya memilih Cabang BRI Jakarta Kebayoran Baru, karena letak kantornya (saat itu) sangat mentereng dan merupakan idaman sebagian besar karyawan BRI.

Ternyata peminat Cabang tersebut ada 4 orang, sehingga saya harus bersaing kembali untuk mendapat nilai terbaik mewujudkan impian tersebut. Dan alhamdulillah saya berhasil masuk menjadi karyawan BRI Jakarta Kebayoran Baru sejak tgl. 1 September 1998.

BRI Depok : Erry, Marthinus, Giwang & Herman
Baru 3 hari menjadi Account Officer BRI Jakarta Kebayoran Baru, saya dipanggil oleh Bp. Ali Mudin (Pemimpin Cabang) ke ruang kerja Beliau di lt. 2. Beliau menyampaikan bahwa Bp. Leo Soenpiet ingin saya kembali ke BRI Jakarta Otista untuk membantu Beliau disana. Saya merasa bangga saat itu karena ada 2 Pemimpin Cabang yang menginginkan saya bekerja di Cabangnya.

Terlalu banyak kenangan manis yang indah di BRI Jakarta Otista dan begitu banyak pihak yang membantu dalam mewujudkan impian saya. Jika saya kembali ke BRI Jakarta Otista, akan mengurangi kenangan manis yang selama ini sudah peroleh. Saya akhirnya memilih BRI Jakarta Kebayoran Baru.

1998 - 2008  (indahnya kehidupan)

Merupakan periode bekerja di BRI Jakarta Kebayoran Baru. Suasana keakraban memang terjalin di Cabang ini, namun masih belum 'lepas' dibandingkan BRI Jakarta Otista yang lebih memiliki suasana keakraban dan kehangatan. 

1 Agustus 2008 saya mengundurkan diri dan mengambil pensiun dini di BRI, karena sudah tidak merasakan kenikmatan bekerja di BRI. Saya mencoba bertahan selama 1 tahun, namun semakin hari terasa semakin hampa. Disamping itu keinginan untuk lebih meningkatkan ibadah terasa lebih nikmat jika melakukan usaha sendiri (wirasasta) dengan menjalani sistem syariah.

Setelah 2008  (menikmati begitu indahnya kehidupan) 

Makam Bp. Nasrun Adil Lubis
Wafatnya Bp. Nasrun Adil Lubis pada tgl. 16 Juni 2007 membuat saya teringat akan jasa budi Beliau kepada saya dan menimbulkan kerinduan yang luar biasa kepada temans di BRI Jakarta Otista. Saya pun bertekad ingin menyambung kembali tali silaturrahim yang dahulu pernah sangat indah dengan mereka baik yang masih bertugas maupun telah dimutasikan ke Kantor Cabang BRI lainnya. 

Dari sekian Cabang BRI yang pernah saya 'jalani', BRI Jakarta Otista lebih memiliki suasana keakraban dan kehangatan. Saya sangat rindu akan kehadiran mereka semua.

Berusaha mengumpulkan alamat2 mereka bukanlah hal yang mudah. Awal silaturrahim saya mulai ke kediaman “sesepuh” Pemimpin Cabang BRI Jakarta Otista ke-1, Bp. FB. Soerendro pada tgl. 25 Juni 2011. Alhamdulillah awal silaturrahim ini dapat dihadiri oleh (MLO ke-2) Bp. Ahmad Dimyati, Sahabat terbaikku : Marthinus Papilaya dan Trie Woeryani, Kang Yadi Suryadi dan Sutisna.

Kantor BRI Jkt. Cut Mutiah, Bp. Suherman
Selepas dari sana, Bp. Ahmad Dimyati mengundang saya dan temans untuk mengunjungi kediamannya di Plered, Purwakarta. Hal senada juga disampaikan oleh Bp. Sultan Hamid (Pinca ke-2) saat silaturrahim ke kediaman Beliau pada tgl. 24 Juli 2011, untuk mengadakannya di daerah Puncak Pass, Bogor.

Untuk mewujudkan impian untuk mewujudkan silaturrahim akbar, saya berkonsentrasi mengunjungi para petinggi “dulu” di BRI Jakarta Otista, seperti :

1.      Bp. Soekardjo  (tgl. 25 Juni 2011)
2.     Keluarga alm. Bp. Nasrun Adil Lubis  (tgl. 17 September 2011)
3.     Bp. M.O. Komarudin (tgl. 27 September 2011) bersama Sahabatku, Biyanto
4.     Temans di BRI Depok (Januari 2012) : Marthinus Papilaya, Herman Waryadi, Erry Hermawan dan Giwang Karasuta
5.     Bp. Suherman, saat ini Pinca BRI Cut Mutiah  (Juni 2013)
6.     Bp. Taufik Hidayat  (Juli 2013)
7.     Ibu Mien Ruminah  (Okt 2013)
8.    Ibu Arma Gayariana  (Okt 2013)

* (Tahun 2012 sempat terhenti karena saya berkonsentrasi mengurus Papa).

Kediaman Bp. Soekardjo
Dan alhamdulillah semua alumni BRI Jakarta Otista menginginkan berkumpul kembali untuk saling lepas kangen.

Akhir Oktober 2013, saya mencoba menghubungi Bp. Ahmad Dimyati untuk dapat mengunakan fasilitas di kediamannya di Plered, Purwakarta, karena faktor fasilitas sangat penting untuk menampung keinginan teman2 sesama alumni BRI Jakarta Otista (BRITIS 72).

Dan Subhanallah... Beliau juga menyampaikan bahwa seluruh konsumsi . akan Beliau persiapkan dengan memberikan jadwal pada tgl. 23 atau 24 November 2013. Setelah melihat kalender, tgl. 23 November 2013 lebih memungkinkan untuk diadakan acara tersebut, karena jatuh pada hari Sabtu, sehingga teman2 bisa beristirahat di hari Minggu.

Capem BRI Jt. Bening, Taufik Hidayat
Saya pun langsung menghubungi Bp. Taufik Hidayat untuk dapat hadir dalam acara tersebut, karena Beliau merupakan salah satu tokoh penting dalam membangun pondasi BRI Jakarta Otista. Namun saat itu Beliau belum bisa menjanjikan dan akan berusaha untuk hadir.

Saya mencoba melakukan inventarisir kembali teman2 yang pernah saya datangi dan alhamdulillah respons mereka sangat luar biasa, ditambah lagi kesediaan Bp. Taufik Hidayat yang akhirnya bersedia hadir dalam acara tersebut, menambah semangat mewujudkan mimpi ini. Beliau sangat berperan penting dalam menjaring temans bersama Dede Juandi, yang piawai dalam membawakan acara dan Damanhuri, yang telaten dalam segala sektor.

Panita Kecil "Lepas Kangen"
Kami (saya, Bp. Taufik Hidayat, Dede Juandi, Damanhuri dan Ridwan Sugiri) pun mengadakan rapat kecil di depan Pos Satpam BRI Jakarta Otista pada tgl. 18 November 2013 dengan membuat draft peserta yang kemungkinan dapat hadir beserta perkiraan biaya yang akan dikeluarkan untuk acara tersebut meliputi door price dan Bus.

Finalisasi meeting hari Kamis, tgl. 21 November 2013 di depan Kantor Cabang Pembantu BRI Jatibening mengambil kesimpulan kemungkinan tersebut yang hadir sebanyak 40-an karyawan ditambah istri dan anak diperkirakan sebanyak 75 – 80 orang yang hadir disana, sehingga diperlukan transportasi Bus yang sudah dipersiapkan oleh Bp. Taufik Hidayat (dengan sementara menggunakan dana pribadinya). Kas saat itu masih sebesar Rp. 2jt an.

Menjelang hari H, saya teringat untuk memohon izin untuk acara tersebut sambil bersilaturrahim dengan Pemimpin Cabang BRI Otista saat ini (Bp. Wayan). Berhubung Beliau baru saja meninggalkan kantor karena meeting di Kanwil BRI. Saya pun menemui Ibu Agni (MO) dan memohon kesediaan Beliau untuk hadir melepas rombongan Alumni BRI Jakarta Otista angkatan tahun 1989 – 2000.

Di H-1 di BRI Jakarta Otista kami (Dede Juandi, Susi dan saya) hingga jam 21.00 merampungkan program acara dan door price yang akan diberikan dalam acara. Dana yang terkumpul sudah mencapai Rp. 5,8jt. Dan alhamdulillah sekitar jam 20.00 saya dapat berkomunikasi (via HP Susi) dengan Bp. Wayan (Pinca BRI Jakarta Otista) memohon kesediaan Beliau untuk hadir dalam pelepasan rombongan kami tgl. 23 November 2013.

Hari yang dinanti pun tiba dan Subhanallah... begitu besar antuasias seluruh temans yang hadir di ‘meeting point’ BRI Jakarta Otista untuk bersama2 saling ber “Lepas Kangen” di kediaman Bp. Ahmad Dimyati di Plered.


Rombongan 1 Bus dan 4 Mobil Pribadi langsung bergegas menuju ke Plered, yang sebelumnya ditandai dengan foto bersama...

Tepat adzan Dzuhur seluruh rombongan tiba di kediaman Bp. Ahmad Dimyati. Kami pun menunaikan ibadah sholat Dzuhur, setelah itu luapan emosi kangen tak terbendung saling berkangen ria, cerita pengalaman dan berfoto2 ria.

Sekitar 4,5 jam acara digulirkan oleh Sdr. Dede Juandi. Lautan door price dan nyanyi bersama mengiringi acara. Tidak luput pula wejangan “sesepuh BRI Jakarta Otista”, Bp. FB. Soerendo, Bp. Taufik Hidayat, Bp. Bambang Tri Priatmoko dan saya (selaku Panitia) yang disambut hangat oleh tuan rumah, Bp. Ahmad Dimyati.

Jam 17.00 seluruh rombongan bersiap untuk kembali ke Jakarta, sedangkan saya beserta keluarga masih ingin menikmati suasana keheningan sawah di kediaman Bp. Dimyati.

Insya Allah silaturrahim ini akan tetap selalu terjaga... amiin.

27 October 2013

Usia 43 tahun : Muhasabah Atas Ujian

Entah mengapa dalam memasuki usia 43 tahun, aku mengalami suatu perasaan yang teramat sedih, sehingga hati pun tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Ajalku pun semakin dekat, sedangkan banyak waktuku berlalu tanpa amal shalih. Rasulullah SAW bersabda : ”Ada dua nikmat dimana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan”.  [HR. Bukhari]. 

Aku masih kurang bersyukur atas ujian dan musibah yang diberikan Allah SWT kepadaku, padahal Allah SWT telah berfirman : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”.  [Qs. al-Anbiya’ : 35].

Sebagai seorang Muslim pasti mendapat ujian, sebagaimana sebagaimana Allah SWT berfirman : ”Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.  [Qs. al -‘Ankabut : 1-3]

Seharusnya aku menyikapi bahwa ujian dan musibah merupakan pertanda bahwa Allah SWT masih sayang denganku dan sudah merupakan kehendak Allah SWT agar aku lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan, bersabar dalam menyelesaikan masalah, membuka hati dan pikiranku dengan segala yang terjadi di sekitarku. Insya Allah PASTI akan digantikan Allah dengan yang lebih baik selama aku masih menerima ujian dengan penuh rasa syukur.

Disamping itu pula banyak waktu yang aku pergunakan sia-sia dengan berbaur dosa. Banyak harta diperoleh dengan cara riba. Masih sedikit ilmu yang dipergunakan untuk orang lain. Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  [Qs. al-Hasyr : 18]

Mumpung masih tersisa waktuku yang sangat berharga yang tidak akan kembali lagi ini , maka semakin dekatlah ajalku, karena umur adalah nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan bergeser kaki manusia pada hari kiamat dari sisi Rabnya sehinga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya untuk apa ia pergunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan, dan tentang ilmunya apa yang ia amalkan (darinya)”.  [dari Ibnu Mas’ud ra diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]

Semoga sisa usiaku ini semakin menambah ketaqwaanku kepada Allah SWT, menjalankan Sunnah Rasulullah SAW dan bermanfaat bagi Manusia... amiin.

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya”.  [HR. Ahmad]

08 October 2013

Bila Telah Tiba Waktuku...

Satu persatu orang-orang yang terdekatku telah meninggalkan dunia ini. Bermacam-macam peristiwa sakaratul maut yang mereka jalani, ada yang menjerit ketakutan dan ada yang manis dengan senyuman. Peristiwa-peristiwa tersebut membuat diriku semakin takut akan masih berkurangnya ibadah dan ketaqwaanku kepada Allah SWT, sedangkan ajal setiap saat akan menjemput.


Bila telah tiba waktuku… sudah siapkah aku menghadapinya ? Saat di mana aku dalam lubang yang sempit didudukkan untuk menjawab pertanyaan dari dua Malaikat yang datang kepadaku : Siapa Rabb-mu, apa agamamu dan siapa Nabimu ?

Cukupkah aku menjawabnya : Rabb-ku adalah Allah SWT ? Islam adalah Agamaku ? Nabiku Muhammad SAW ? Semudah itukah menghadapi fitnah qubur ? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Allah SWT, bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan. Keyakinan akan kesempurnaan agama Islam yang disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia, sebelum di akhirat kelak.

Kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW, sifat amanahnya dan kejujurannya yang merupakan teladan terbaik bagi umat manusia dan sudah selayaknya diriku mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.

Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya dan telah memperingatkan manusia dengan kematian, agar segera bertaubat sebelum ajal tiba. Dan Allah telah mewasiatkan untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai wafat kecuali dalam keadaan bertaqwa.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya”. [dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab diriwayatkan oleh Tirmidzi].

Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagiku dan yang bermudharat bagiku telah Allah SWT jelaskan. Rasulullah SAW bersabda : “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan”. [dari Abu Hurairah ra diriwayatkan oleh Bukhari]

Tidak boleh diri ini putus asa dari rahmat Allah, karena rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosa ini, sebagaimana Allah SWT berfirman : Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Qs. az-Zumar : 53]

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan menerima taubat hamba-Nya sebesar apa pun dosanya. Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman : “Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan”. [dari Anas bin Malik ra diriwayatkan Tirmidzi].

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar ra, sambil memegang pundak iparnya ini, Rasulullah SAW bersabda : “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir)”. [HR. Bukhari]

Semua isi al-Qur’an dan Hadits sangat tepat mengenai dunia. Semakin aku menikmati dunia, semakin membuat diriku terbuai, angan-angan yang melambung untuk berusaha meraih predikat sukses, padahal sewaktu-waktu Allah SWT dapat mengangkat kenikmatan tersebut dan tidak ada bekal yang dibawa kecuali hanya berupa kain kafan. Dunia hanya mempermainkan pikiran dan tubuh sehingga hati menjadi lalai dan lengah untuk berdzikir kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar Beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya bersabda : “Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini ?” Rasulullah SAW kemudian bersabda : “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian ?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apa lagi ia telah menjadi seonggok bangkai”, jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya : “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian”. [dari Jabir bin Abdillah ra, diriwayatkan oleh Muslim]

Allah SWT saja menghinakan dunia, kenapa aku tenggelam dalam kesenangan dunia ? Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun”. [HR. at-Tirmidzi]

Sebagai seorang muslim aku seharusnya memiliki visi dan rencana untuk kehidupan yang lebih kekal abadi. Dunia hanyalah tempat penyeberangan, sedangkan Akhirat merupakan negeri keabadian yang keutamaannya tiada terbandingi dengan dunia. Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat ?” [HR. Muslim]

Betapa kecilnya Dunia bila dibandingkan dengan Akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal.

Yaa Allah… Bila telah tiba waktuku… Allah telah memanggilku… ambilah aku dalam keadaan Khusnul Khotimah (baik di akhir) dan sempatkanlah aku mengucapkan kalimat "LA ILAHA ILLALLAH".

29 April 2013

I Do Love You, Papa

Papa… sebuah nama yang dapat membuat mata ini menjadi berkaca-kaca. Kasih sayangnya sangatlah luar biasa kepada diriku, keluargaku maupun adik-adikku. Papa merupakan figur yang tidak tergantikan oleh manusia manapun di dunia ini dan hingga saat ini sosok Papa masih terasa “melihat” diriku.

Papa merupakan mentor dalam hidup dan aku sangat berterima-kasih kepada Allah SWT telah memberikan orang tua yang sangat sayang dan penuh perhatian kepada anak-anaknya. Papa sangat memperhatikan masa depan, kesehatan maupun keluarga dari anak-anaknya dan selalu menjadi tempat untuk bertukar-pikiran dan bermanja.

Aku sangat beruntung dapat merawat Papa dan berada disampingnya (bersama adik-adik) dalam hembusan terakhir Papa yang sangat manis.

Setahun lebih aku tidak memiliki kekuatan dalam menulis di blog ini, seakan seluruh ideku menjadi ‘kosong’ dan malas dalam menghentukkan jemari dalam keyboard.

Masih teringat (ditulis tgl. 28 September 2010) setiap Rabu (Kamis Malam) kami rutin menghadiri Pengajian di rumah Mertua adikku di kawasan Pondok Indah dan pada waktu itu (November 2009) saya melihat Papa terlihat pucat dan kurang bersemangat sering menderita flu. Papa rajin melakukan Medical Check Up setiap 6 bulan sekali dan akhir November 2009 merupakan jadwal untuk dilakukan kembali Medical Check Up (satu tahun semenjak dilakukan kateter Jantung di RS. Harapan Kita bulan November 2008).

RS. Mitra Keluarga Cibubur, 19 September 2011
Hasil medical check up tersebut menunjukkan bahwa HB Papa menunjukkan angka 9, sedangkan angka normal berkisar antara 11 – 14 dan sejak awal Agustus 2010, untuk pertama kali, Papa mulai di opname di RS. Kramat 128 untuk dilakukan transfusi darah sebanyak 800 cc. Kebetulan saya adalah pendonor darah di PMI sejak tahun 1994, sehingga proses permintaan darah pun dapat berlangsung sangat lancar.

Bulan Februari 2011 (baca : ketika hidup harus memilih) konsentrasiku terpecah (saat itu bekerja di daerah Semarang) dan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi merawat/menjaga Papa.

Abdullah bin Amru RA dikatakan : “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW meminta supaya diizinkan turut berperang. Rasulullah bertanya : “Masih hidupkah kedua orang tuamu ?” Dia menjawab : “Ya (masih hidup)!”  Rasulullah SAW  bersabda : “Hendaklah engkau berjihad, untuk kebaikan keduanya”.


Tanjung Barat, 17 Maret 2012
Abdullah bin Amru bin Ash RA menceritakan pula : “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan mengatakan : ”Saya berjanji setiap kepada engkau untuk berhijrah dan jihad (perjuangan). Saya mengharapkan memperoleh pahala dari Allah.” Rasulullah SAW bertanya  : ”Adakah salah seorang dari kedua orang-tuamu masih hidup ?” Jawab laki-laki : ”Ya, bahkan keduanya (masih hidup).”  Rasulullah SAW berkata : “Engkau mengharapkan memperoleh pahala dari Allah ?” Jawab laki-laki : “Ya !” Rasulullah SAW bersabda : “Pulanglah kembali kepada ibu bapakmu dan pergaulilah keduanya dengan baik !”

Abu Hurairah RA menuturkan bahwa “Rasulullah SAW bersabda : “Orang itu celaka ! Sekali lagi orang itu celaka ! Sekali lagi orang itu celaka !” Ditanyakan : ”Siapakah orang itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda : “Siapa yang mendapati ibu bapaknya ketika berumur sangat tua, salah seorang diantaranya atau kedua-duanya, kemudian orang itu tidak masuk ke dalam surga (karena tidak melayani ibu bapaknya yang telah tua tersebut)”.

Kebanyakan kasus, penyakit yang di derita Papa secara bertahap semakin memburuk dan pasien mengalami Cytopenias (jumlah darah rendah) karena kegagalan sumsum tulang progresif. Sekitar sepertiga pasien dengan MDS, penyakit ini berubah menjadi Leukemia Myelogenous akut (AML). 

ulang tahun Papa ke-74 tahun (26 Desember 2011)
Namun aku dan adik2 tetap opmitis bahwa Allah SWT pasti melakukan yang terbaik bagi hamba-Nya “Sesungguhnya perintah Allah apabila Dia mengkehendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia”. [QS. Yaasin : 82]

Memasuki akhir tahun 2011, kondisi Papa semakin lemah dan dalam ulang tahunnya (tgl. 26 Desember 2011) di Mega Mendung, Bogor, menyampaikan kepada kami bahwa “ini mungkin adalah merupakan ulang tahun terakhir Papa” karena Papa teringat dengan Ayah Papa (=Kakek) yang wafat dalam usia 74 tahun.

Papa sangat menikmati kebersamaan kami di Villa tersebut dan selama 2 hari Papa pun bercengkrama dengan cucu2 maupun anak2nya. Kami selalu menyuguhkan segala kesukaan Papa, seperti minuman Teh Tariik hangat dan Ikan Lele goreng.

Kecintaan dan rasa sayang Papa kepada adik2nya juga tercermin dalam kehidupan Papa sehari2nya dan walaupun dalam keadaan yang (dapat dikatakan) kurang sehat, Papa ingin sekali besoknya (tgl. 27 Desember 2011) untuk melihat cucu dari Om kami, Aswan di Bandung. Perjalanan dari Puncak yang padat melalui Padalarang menuju Bandung selama + 4 jam (bersama keluargaku dan adikku, Melly) tidak menyurutkan niat Papa untuk bertemu dengan keluarga besar Adiknya tersebut.

Akhir tahun 2011, Aku (dan keluarga) masih menikmati suasana berdzikir bersama Papa dan Adik bungsuku, Irfan (dan keluarga) di Masjid at-Tiin (tgl. 31 Desember 2011). Disaat itu Papa terlihat bersemangat dan sangat sehat.

Suasana khidmat dzikir dan do'a dari Ustadz H. Muhammad Arifin Ilham menambah kekhususan kami dalam memanjatkan do'a kepada Allah SWT.

Berdzikir di Masjid at-Tiin, 31 Desember 2011
Dalam do'aku selalu kupanjatkan kepada Allah SWT kesembuhan buat Papaku tercinta.

Memasuki awal tahun 2012, kondisi kesehatan Papa terlihat semakin menurun dan Papa sering mengalami demam (panas) tinggi dan menggigil setiap dilakukan transfusi darah. Dan di bulan Maret 2012, trombosit Papa menurun drastis dan (mungkin) dikarenakan Papa sering dilakukan transfusi sehingga darah Papa memiliki antigen negatif.

Kami pun berusaha mencari type darah B dengan antigen negatif di seluruh PMI di daerah Jabodetabek, dari PMI Jakarta - Bogor via jejaring sosial seperti : facebook, twitter dan Blackberry Messenger, maupun Indahnya Berbagi dan Blood for Life. Kemungkinan lebih dari 200 orang (calon) pendonor untuk Papa memadati PMI di Jl. Kramat Raya, Jakarta. Namun tidak satupun yang memiliki type darah sejenis dengan Papa.
Melalui adik saya, Irfan akhirnya diperoleh dokter (RS. Kramat) yang dapat mereferensikan PMI menggunakan metoda Leukodepleted. Donor Darah dikumpulkan untuk dilakukan pemrosesan agar cocok dan digunakan kepada Papa. 

Komponen pemisahan : sel darah merah, plasma dan trombosit dipisahkan ke dalam wadah yang berbeda dan disimpan dalam kondisi yang sesuai sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan khusus pasien. Sel darah merah bekerja sebagai transporter oksigen, plasma digunakan sebagai suplemen faktor koagulasi dan trombosit yang ditransfusikan ketika jumlah mereka sangat langka atau fungsi mereka sangat terganggu. Komponen darah biasanya disiapkan oleh sentrifugasi.

Leukoreduction, juga dikenal sebagai Leukodepletion adalah pengangkatan sel darah putih dari produk darah oleh filtrasi. Leukoreduced darah kurang cenderung menyebabkan alloimmunization (pengembangan antibodi terhadap golongan darah tertentu), dan kurang cenderung menyebabkan reaksi transfusi demam. (info : Blood Transfusion Precautions)


Walaupun dengan kondisi yang lemah, Papa terus berusaha untuk mencari cari penyembuhan. Dan atas referensi dari keluarga, kami mencoba alternatif penyembuhan (disamping Medis) dengan melakukan terapi di Jl. Gaharu 1, Cipete, Jakarta Selatan. Setiap 2 x seminggu Papa rutin melakukan terapi ini.

dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah bersabda : “Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala”. [HR. Muslim] 

Namun segala bentuk pengobatan belum menunjukkan kemajuan yang berarti dan Papa terlihat semakin menurun kesehatannya. Kami berusaha mencari referensi pengobatan di luar negeri dan aku berusaha mencari dana untuk pengobatan Papa tersebut. Terbesitlah sebuah nama "X" yang pernah berjanji kepada Papa untuk membiayai seluruh pengobatan Papa hingga ke Amerika.

Aku berusaha menyampaikan kondisi keadaan Papa yang semakin lemah dan "X" membezoek Papa (di RS. Kramat 128). Beliau ("X") malah menyarankan agar Papa berobat ke alternatif di daerah Depok yang (menurut Beliau) terbukti 'sakti'. Pernyataan tersebut sempat membuat kami (aku, adek dan Papa) terheran dan sama sekali tidak membayangkan kalimat tersebut terlontar dari Beliau. Setelah panjang lebar Beliau memaparkan, akhirnya aku arahkan pembicaraan ke janji Beliau yang akan membiayai Papa ke luar negeri dan kami pasrah apapun keputusan Beliau.

Akhirnya Beliau pun setuju dengan janji semula Beliau untuk membiayai pengobatan Papa ke Singapore (=Adek Irfan telah membuat appointment dengan Dr. Patrick Tan di Mount Elizabeth Hospital). Aku coba menyampaikan opsi pembayaran Papa dengan Maximum Plafond, yaitu pengobatan Papa di Singapore tidak boleh melebihi Plafond yang diberikan. Sehingga kami bisa membatasi pengobatan sehingga tidak membengkak. Namun Beliau malah memilih seluruh pembiayaan Papa di Singapore ditanggung Beliau.  

Beliau memberikan syarat bahwa Beliau hanya membayar langsung ke rekening Mount E di Singapore atau dengan kata lain, kami tidak menerima uang tunai.  Tidak puas dengan kalimat tersebut, aku kembali menanyakan mekanisme pembayaran selama di Mount E. Beliau pun menyampaikan bahwa Beliau hanya menanggung biaya pengobatan saja disana, sedangkan tiket Papa (pp) tidak ditanggung alias kami harus mencari sumber pembiayaan lainnya. 

Kondisi keuangan kami saat itu sangat morat-marit, namun kami terus berusaha mencari sumber pembiayaan dari pihak lainnya. Dan alhamdulillah, ada diantara sanak family kami yang membantu operasional kami. Tgl. 19 April 2012 kami (aku, Adekku Irfan dan Papa) bertolak ke Singapore.

Setibanya kami di Airport Changi, Singapore, Papa ingin (maaf) pub. Sekitar 10 menit kami menunggu, Papa memanggil keras kami untuk melihat kedalam rest room tersebut. Alangkah terkejutnya kami melihat (maaf) pub Papa yang sudah bercampur darah.

Dengan kekuatan hati, kami pun segera meluncur ke Mount Elizabeth dan bertemu dengan Patrick Tan untuk segera dilakukan diagnosa terhadap penyakit Papa. Kami pun takjub dengan pelayanan profesional 'mereka' di Mount E. Begitu antusias dan sinergynya antara Dokter, Staf dan Suster disana.

Melihat kondisi penyakit Papa yang serius, rencana 3 hari pengobatan Papa di Singapore akhirnya menjadi 1 minggu. Dari keseluruhan biaya di Mount E, "X" ternyata hanya mengganti 1/2 nya saja, sehingga (kembali) kami morat-marit mencari kekurangan biaya. 

Aku memberanikan diri menulis di status FB dan Twitter-ku untuk mencari kekurangan biaya Papa. Tulisanku : "Kami hanya menyampaikan kondisi Papa terakhir yang semakin menurun kesehatannya. Hal ini ditunjukkan dengan periode transfusi semakin dekat jarak waktunya (sebelumnya 1 bulan, saat ini sekitar 12 hari) dan harus pula dilakukan transfusitrombosit (dikarenakan) berada di angka 12000 (normal 150000). Disamping transfusi trombosit ini memerlukan biaya yang cukup besar (Rp. 4jt /kantong) juga memerlukan sukarelawan (yang sangat jarang) ikhlas menyumbangkan serta meluangkan waktunya karena proses donor tersebut memerlukan waktu 1,5 jam. Setelah transfusi darah dan trombosit, Papa juga memerlukan suntikan penguat Hb (dengan biaya Rp. 7jt /suntikan x 7 suntikan) dan suntikan Leukosit (Rp. 1jt /suntikan). Demikian kami sampaikan kondisi Papa yang mulai terlihat letih dan sabar menghadapi penyakit yang di derita Papa. Semoga Allah SWT menghapus seluruh dosa Papa dan memberikan yang paling terbaik untuk Papa dan kami semua anak2nya (yang selalu mencintai dan menyayangi).


Aku sangat berharap bantuan dana dari siapapun dan aku rela melakukan apa saja agar biaya pengobatan Papa dapat teratasi. Aku sangat menyayangi Papa. Setiap harinya aku menemani dan menginap di Rumah Sakit, kalau Papa di opname. Aku sudah tidak ingin bekerja lagi dengan orang lain yang bisa menyita waktu-ku dalam merawat Papa. Sering air mata mengalir di pipi istriku karena financial kami sangat mengkhawatirkan, dikarenakan tekadku untuk berwiraswasta (walau dengan modal Rp. 0,-) dengan bantuan Laptop tuaku. 

Dalam menghentukkan jari di tuts Laptop, sering kupandangi wajah Papa yang tetap tegar melawan penyakitnya dan tanpa kusadari derasan air sudah tidak dapat terbendung dari mataku. Secara materi aku sudah tidak memiliki apa2 "harga diri" sudah aku buang jauh-jauh demi mencari biaya dan kesembuhan Papa. Seluruh Adek2 dan Ipar pun demikian terutama adik bungsuku, Irfan. Semuanya berusaha "mencari" biaya untuk pengobatan Papa kami tercinta.

Bulan Mei 2012, Papa kembali harus berobat ke Singapore dengan biaya dari sisa uang hasil penjualan rumah Papa di Cileduk. Dan setelah tiba di Indonesia, kondisi Papa sangat jauh menurun dan Papa sudah tidak kuat lagi untuk berjalan lama. Baru 1 hari tiba di Indonesia, Papa harus kembali di opname di RS. Kramat 128 karena trombosit sangat turun secara drastis dan alhamdulillah trombositku setelah di donorkan ke Papa untuk yang ke-3 kalinya dapat menaikkan trombosit Papa.

Sepulang dari RS. Kramat 128, Papa mengajakku makan bareng di Ranch Market, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kupeluk tubuh Papa yang mulai melemah dengan mengikuti langkah nya yang mulai berjarak pendek. Sesekali Papa berhenti melangkah karena dadanya sesak dan akhirnya kami pun dapat tempat duduk disana.

Aku memiliki firasat yang tidak menentu melihat wajah dan kondisi Papa yang cenderung diam dan melihat dengan tatapan kosong. Dari itulah aku  mendokumentasikan foto ini yang ternyata merupakan foto terakhir Papa untuk bisa pergi keluar rumah, setelah itu Papa mulai pulang-pergi ke Rumah Sakit.  Dan ternyata foto ini "berbicara" setelah 40 harinya.

Aku ingin sekali mengundang Keluarga Besar-ku pada tgl. 9 Juni 2012, dikarenakan sudah lama kami tidak berkumpul bersama (saat itu istriku ultah ke-35 tahun). Aku ingin mengundang Ustadz, memimpin do'a untuk kesembuhan Papa. Namun pada hari Jum'at malam, tgl. 8 Juni 2012, Papa mengalami kesakitan di kakinya (yang membengkak) dan sangat gelisah pada hari itu. Semua adik2ku hadir mendampingi Papa di kamar.

Hari semakin larut, satu persatu adik2ku pulang ke rumahnya masing2 dan aku masih mendampingi Papa di tempat tidur. Papa sangat gelisah dan 3x Papa berbalik ke arahku agar aku pulang karena hari sudah menjelang pagi (saat itu sudah jam 01.00). Aku sampaikan ke Papa, aku akan pulang apabila Papa sudah tidur. Setelah memasuki jam 02.00, Papa pun telah terlelap dan aku melangkahkan langkahku dengan berjinjit agar Papa tidak terganggu tidurnya.

Keesokan harinya (seharusnya kami berkumpul di rumahku), hari Sabtu tgl. 9 Juni 2012, Adikku, Vita sangat panik karena Papa sesak nafas dan kesakitan. Dikarenakan jarak rumahku dengan adikku cukup jauh, aku coba menenangkan dirinya untuk segera menelepon Rumah Sakit Pondok Indah untuk mengirimkan ambulance. Aku sekeluarga segera bergegas ke RSPI untuk melihat kondisi Papa di UGD. Papa sangat kesakitan dan kesulitan untuk buang air kecil. Semua Adik2 dan Ipar2-ku menangis melihat kondisi Papa yang sangat jauh menurun. Aku memberanikan diri untuk menanyakan kondisi Papa kepada Dokter di UGD yang menyarankan agar Papa segera dimasukkan ke ruang ICU karena perlu penanganan yang intensif. Adik2 menginginkan aku untuk merayu Papa agar masuk ruang ICU dan mencoba menyampaikan hal2 yang tidak membuat Papa merasa curiga terhadap penyakitnya.

Aku memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dalam menyampaikan kepada Papa agar segera masuk ruang ICU, dan alhamdulillah Papa berkenan dengan alasan yang aku sampaikan. Kami pun kembali berhadapan dengan biaya deposit Rumah Sakit, sedangkan dana yang terkumpul saat itu (dari kami) hanya sebesar Rp. 10 juta.

Belum ada perkembangan ke arah membaiknya kesehatan Papa, sedangkan sudah 7 hari Papa di rawat di ICU RSPI. Papa malah menanyakan kepada kami kenapa diluar ruangan (Papa ada dalam kamar khusus ICU yang berkaca) banyak sekali orang2 yang berpakaian putih, berkumpul di ruangan tersebut ?

Keesokan hari ternyata satu persatu pasien di ICU tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Seluruh keluarga dari Medan, Surabaya, Bandung dan Jakarta, maupun karyawan/wati serta teman2 Papa telah berdatangan melihat kondisi Papa.


Papa merupakan figur dermawan dan sering menolong keluarga maupun orang sekitarnya. Selama hidupnya, Papa senantiasa membantu siapapun yang datang kepadanya dalam bentuk pekerjaan, biaya maupun sekedar nasehat. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW, bersabda : “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. [HR. Muslim]

Amalan Papa tersebut dapat kami rasakan disaat Papa mengalami sakit dan diopname di Rumah Sakit. Begitu besarnya antusias dan perhatian Saudara, Besan, Keponakan, (mantan) karyawan/ti dan rekan sejawat Papa yang selalu 'care' selama Papa di opname di RS. Kramat 128 maupun RS. Pondok Indah. Mereka seakan tiada lelah memonitor perkembangan kesehatan Papa.


Memasuki hari ke-8 (malam)... kami dipanggil oleh Team Dokter ICU yang menangani Papa dan menyampaikan bahwa kondisi Papa semakin memburuk dan mereka tetap berusaha maksimal kepada Papa. Mereka menyarankan agar kami mencari ruangan Steril di Rumah Sakit lainnya, dikarenakan di RSPI mereka tidak memiliki ruangan steril.

Keeskokan harinya, aku meluncur ke RS. Dharmais dan RS. Medistra. RS. Dharmais penuh dengan pasien, sedangkan RS. Medistra memiliki 1 ruangan, namun terkendala di masalah Air Condition-nya. Aku pun memberikan no. HP sekiranya pihak RS. Medistra segera  menghubungiku.

Hari ke-10 (pagi)... Papa sangat gelisah dan sesak nafas, sehingga pihak RSPI segera melakukan pembersihan ruangan baru (di sterilkan) untuk digunakan untuk Papa. Namun sesampai di ruangan tersebut, kondisi Papa semakin memburuk dan membisikkan kepada-ku agar Papa kembali ke ruangan semula (ICU). Memburuknya kondisi Papa, membuatku segera menghubungi Adik2ku agar mereka segera ke kamar melihat Papa. Kami semua berusaha tegar dan berusaha membangkitkan semangat Papa.

Papa masih meminta maaf kepada-ku karena tidak bisa hadir dalam acara (pada tgl. 9 Juni 2012) tersebut dan masih bercanda dengan cucu2nya dalam kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.

Sehubungan dengan ruangan ICU sudah dipakai pasien lainnya, akhirnya Papa diberikan ruangan ICCU (sambil menunggu keluarnya salah satu pasien dari ICU). Malam hari-nya (aku berada disamping Papa) memintaku untuk memanggil seluruh keluarga ke ruangan (ICCU)nya. Aku pun menuruti permintaan Papa dan meminta tolong kepada Suster disana sekiranya dapat mengizinkan seluruh Saudara masuk ke dalam ruangan Papa.

Papa meminta kami untuk mencopot segera gigi palsunya dan satu per-satu Papa memberikan nasehat kepada seluruh anak2 dan keluarga (Abang dan Adik2 Papa) yang hadir saat itu dan meminta maaf bila semasa hidup Papa ada kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja yang diperbuat. Entah mengapa hati ini tergerak untuk mem-filmkan "moment" tersebut via Blackberry-ku. Hal serupa aku lakukan semasa akhir hayat Mama. Aku pun menyampaikan kepada adik2ku agar semua ikhlas, karena Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.

Setelah itu Papa mengalami 'fly' hingga ke-esokan paginya. Perasaan hatiku tidak menentu dan aku menanyakan kondisi "real" Papa kepada Dokter yang bertugas. Dokter tersebut menyampaikan dengan kiasan, yang intinya hanya 'menunggu waktu' saja.  Aku terus berdo'a kepada Allah SWT agar diberikan yang terbaik buat Papa-ku dan aku mengaji surat Yaasin di samping telinga kanan Papa.

Disaat aku bacakan dalam ayat ke-82 "Innama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun” (bahwa Allah maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa ada siapapun yang dapat menghalangi-Nya. Dengan kata lain, bahwa bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan segala sesuatu yang Ia kehendaki, sesuatu tersebut dengan cepat akan terjadi, tanpa ada penundaan sedikitpun dari waktu yang Ia kehendakinya), aku melihat Papa seperti tersentak ingin menghembuskan sisa nafasnya. Aku tuntaskan sisa 1 ayat lagi dan aku pun berlari ke Suster untuk segera memanggil seluruh Adik2 dan Saudara-ku.



Kami telah berada di sekeliling Papa dengan menyampaikan keikhlasan kami melepaskan kepergian Papa untuk bertemu Sang Khalik, sambil terus menuntun Papa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dan terlihat bibir Papa pun mengikuti ucapan kami. Dalam keadaan tersebut tiba2 Papa mengangkat tangan kanannya melambai ke atas dan mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Tangan itu akhirnya melemah dan garis datar terlihat di layar pun berbunyi.

Papa telah meninggalkan kami...... 

Tubuhku melemas dan tidak bertenaga, orang yang paling aku cintai telah meninggalkanku. Istriku memelukku, kutatap semua adik2ku tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kami benar2 kehilangan dan tidak ada lagi ladang kami untuk menambah pahala.

Selang beberapa saat, kami telah dihadapkan dengan biaya Rumah Sakit yang telah mencapai angka Rp. 200 juta, sedangkan kami hanya memiliki total uang sebesar Rp. 60 juta. Kami memohon kepada Allah SWT agar diberikan kami kemudahan untuk mengurus jenazah Papa untuk ke tempat pembaringannya terakhir.

Alhamdulillah... sisa biaya Rumah Sakit Papa sebesar Rp. 140 juta telah dibayarkan oleh seseorang yang kami tidak tahu jati dirinya. Subhanallah... sungguh mulia diri orang itu yaa Allah. Inilah ternyata hasil dari perbuatan baik Papa semasa hidupnya, karena orang baik senantiasa mendapat do'a agar selalu berada dalam Ridha Allah. Allah SWT pun melihat dan mencatat setiap do'a dari kebaikan Papa.


Jenazah Papa disemayamkan di rumah Adikku, Vita di daerah Pondok Indah. Dan Subhanallah... begitu banyak para pelayat yang hadir untuk mendo'akan Papa. Semua keinginan Papa untuk dapat di do'akan oleh para Habib terkemuka dan Imam Masjid Pondok Indah mengalir selaksa air mengalir. Demikian pula halnya dengan rombongan pelayat yang mengantarkan jenazah Papa ke peristirahatannya yang terakhir di Karet Bivak, Pejompongan, Jakarta Pusat.

Aku terharu atas buah hasil kebaikan Papa di dunia, yang dapat kami rasakan begitu indah kami lihat dan nikmati. 

I do love u, Papa.