29 April 2013

I Do Love You, Papa

Papa… sebuah nama yang dapat membuat mata ini menjadi berkaca-kaca. Kasih sayangnya sangatlah luar biasa kepada diriku, keluargaku maupun adik-adikku. Papa merupakan figur yang tidak tergantikan oleh manusia manapun di dunia ini dan hingga saat ini sosok Papa masih terasa “melihat” diriku.

Papa merupakan mentor dalam hidup dan aku sangat berterima-kasih kepada Allah SWT telah memberikan orang tua yang sangat sayang dan penuh perhatian kepada anak-anaknya. Papa sangat memperhatikan masa depan, kesehatan maupun keluarga dari anak-anaknya dan selalu menjadi tempat untuk bertukar-pikiran dan bermanja.

Aku sangat beruntung dapat merawat Papa dan berada disampingnya (bersama adik-adik) dalam hembusan terakhir Papa yang sangat manis.

Setahun lebih aku tidak memiliki kekuatan dalam menulis di blog ini, seakan seluruh ideku menjadi ‘kosong’ dan malas dalam menghentukkan jemari dalam keyboard.

Masih teringat (ditulis tgl. 28 September 2010) setiap Rabu (Kamis Malam) kami rutin menghadiri Pengajian di rumah Mertua adikku di kawasan Pondok Indah dan pada waktu itu (November 2009) saya melihat Papa terlihat pucat dan kurang bersemangat sering menderita flu. Papa rajin melakukan Medical Check Up setiap 6 bulan sekali dan akhir November 2009 merupakan jadwal untuk dilakukan kembali Medical Check Up (satu tahun semenjak dilakukan kateter Jantung di RS. Harapan Kita bulan November 2008).

RS. Mitra Keluarga Cibubur, 19 September 2011
Hasil medical check up tersebut menunjukkan bahwa HB Papa menunjukkan angka 9, sedangkan angka normal berkisar antara 11 – 14 dan sejak awal Agustus 2010, untuk pertama kali, Papa mulai di opname di RS. Kramat 128 untuk dilakukan transfusi darah sebanyak 800 cc. Kebetulan saya adalah pendonor darah di PMI sejak tahun 1994, sehingga proses permintaan darah pun dapat berlangsung sangat lancar.

Bulan Februari 2011 (baca : ketika hidup harus memilih) konsentrasiku terpecah (saat itu bekerja di daerah Semarang) dan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi merawat/menjaga Papa.

Abdullah bin Amru RA dikatakan : “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW meminta supaya diizinkan turut berperang. Rasulullah bertanya : “Masih hidupkah kedua orang tuamu ?” Dia menjawab : “Ya (masih hidup)!”  Rasulullah SAW  bersabda : “Hendaklah engkau berjihad, untuk kebaikan keduanya”.


Tanjung Barat, 17 Maret 2012
Abdullah bin Amru bin Ash RA menceritakan pula : “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan mengatakan : ”Saya berjanji setiap kepada engkau untuk berhijrah dan jihad (perjuangan). Saya mengharapkan memperoleh pahala dari Allah.” Rasulullah SAW bertanya  : ”Adakah salah seorang dari kedua orang-tuamu masih hidup ?” Jawab laki-laki : ”Ya, bahkan keduanya (masih hidup).”  Rasulullah SAW berkata : “Engkau mengharapkan memperoleh pahala dari Allah ?” Jawab laki-laki : “Ya !” Rasulullah SAW bersabda : “Pulanglah kembali kepada ibu bapakmu dan pergaulilah keduanya dengan baik !”

Abu Hurairah RA menuturkan bahwa “Rasulullah SAW bersabda : “Orang itu celaka ! Sekali lagi orang itu celaka ! Sekali lagi orang itu celaka !” Ditanyakan : ”Siapakah orang itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda : “Siapa yang mendapati ibu bapaknya ketika berumur sangat tua, salah seorang diantaranya atau kedua-duanya, kemudian orang itu tidak masuk ke dalam surga (karena tidak melayani ibu bapaknya yang telah tua tersebut)”.

Kebanyakan kasus, penyakit yang di derita Papa secara bertahap semakin memburuk dan pasien mengalami Cytopenias (jumlah darah rendah) karena kegagalan sumsum tulang progresif. Sekitar sepertiga pasien dengan MDS, penyakit ini berubah menjadi Leukemia Myelogenous akut (AML). 

ulang tahun Papa ke-74 tahun (26 Desember 2011)
Namun aku dan adik2 tetap opmitis bahwa Allah SWT pasti melakukan yang terbaik bagi hamba-Nya “Sesungguhnya perintah Allah apabila Dia mengkehendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia”. [QS. Yaasin : 82]

Memasuki akhir tahun 2011, kondisi Papa semakin lemah dan dalam ulang tahunnya (tgl. 26 Desember 2011) di Mega Mendung, Bogor, menyampaikan kepada kami bahwa “ini mungkin adalah merupakan ulang tahun terakhir Papa” karena Papa teringat dengan Ayah Papa (=Kakek) yang wafat dalam usia 74 tahun.

Papa sangat menikmati kebersamaan kami di Villa tersebut dan selama 2 hari Papa pun bercengkrama dengan cucu2 maupun anak2nya. Kami selalu menyuguhkan segala kesukaan Papa, seperti minuman Teh Tariik hangat dan Ikan Lele goreng.

Kecintaan dan rasa sayang Papa kepada adik2nya juga tercermin dalam kehidupan Papa sehari2nya dan walaupun dalam keadaan yang (dapat dikatakan) kurang sehat, Papa ingin sekali besoknya (tgl. 27 Desember 2011) untuk melihat cucu dari Om kami, Aswan di Bandung. Perjalanan dari Puncak yang padat melalui Padalarang menuju Bandung selama + 4 jam (bersama keluargaku dan adikku, Melly) tidak menyurutkan niat Papa untuk bertemu dengan keluarga besar Adiknya tersebut.

Akhir tahun 2011, Aku (dan keluarga) masih menikmati suasana berdzikir bersama Papa dan Adik bungsuku, Irfan (dan keluarga) di Masjid at-Tiin (tgl. 31 Desember 2011). Disaat itu Papa terlihat bersemangat dan sangat sehat.

Suasana khidmat dzikir dan do'a dari Ustadz H. Muhammad Arifin Ilham menambah kekhususan kami dalam memanjatkan do'a kepada Allah SWT.

Berdzikir di Masjid at-Tiin, 31 Desember 2011
Dalam do'aku selalu kupanjatkan kepada Allah SWT kesembuhan buat Papaku tercinta.

Memasuki awal tahun 2012, kondisi kesehatan Papa terlihat semakin menurun dan Papa sering mengalami demam (panas) tinggi dan menggigil setiap dilakukan transfusi darah. Dan di bulan Maret 2012, trombosit Papa menurun drastis dan (mungkin) dikarenakan Papa sering dilakukan transfusi sehingga darah Papa memiliki antigen negatif.

Kami pun berusaha mencari type darah B dengan antigen negatif di seluruh PMI di daerah Jabodetabek, dari PMI Jakarta - Bogor via jejaring sosial seperti : facebook, twitter dan Blackberry Messenger, maupun Indahnya Berbagi dan Blood for Life. Kemungkinan lebih dari 200 orang (calon) pendonor untuk Papa memadati PMI di Jl. Kramat Raya, Jakarta. Namun tidak satupun yang memiliki type darah sejenis dengan Papa.
Melalui adik saya, Irfan akhirnya diperoleh dokter (RS. Kramat) yang dapat mereferensikan PMI menggunakan metoda Leukodepleted. Donor Darah dikumpulkan untuk dilakukan pemrosesan agar cocok dan digunakan kepada Papa. 

Komponen pemisahan : sel darah merah, plasma dan trombosit dipisahkan ke dalam wadah yang berbeda dan disimpan dalam kondisi yang sesuai sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan khusus pasien. Sel darah merah bekerja sebagai transporter oksigen, plasma digunakan sebagai suplemen faktor koagulasi dan trombosit yang ditransfusikan ketika jumlah mereka sangat langka atau fungsi mereka sangat terganggu. Komponen darah biasanya disiapkan oleh sentrifugasi.

Leukoreduction, juga dikenal sebagai Leukodepletion adalah pengangkatan sel darah putih dari produk darah oleh filtrasi. Leukoreduced darah kurang cenderung menyebabkan alloimmunization (pengembangan antibodi terhadap golongan darah tertentu), dan kurang cenderung menyebabkan reaksi transfusi demam. (info : Blood Transfusion Precautions)


Walaupun dengan kondisi yang lemah, Papa terus berusaha untuk mencari cari penyembuhan. Dan atas referensi dari keluarga, kami mencoba alternatif penyembuhan (disamping Medis) dengan melakukan terapi di Jl. Gaharu 1, Cipete, Jakarta Selatan. Setiap 2 x seminggu Papa rutin melakukan terapi ini.

dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah bersabda : “Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala”. [HR. Muslim] 

Namun segala bentuk pengobatan belum menunjukkan kemajuan yang berarti dan Papa terlihat semakin menurun kesehatannya. Kami berusaha mencari referensi pengobatan di luar negeri dan aku berusaha mencari dana untuk pengobatan Papa tersebut. Terbesitlah sebuah nama "X" yang pernah berjanji kepada Papa untuk membiayai seluruh pengobatan Papa hingga ke Amerika.

Aku berusaha menyampaikan kondisi keadaan Papa yang semakin lemah dan "X" membezoek Papa (di RS. Kramat 128). Beliau ("X") malah menyarankan agar Papa berobat ke alternatif di daerah Depok yang (menurut Beliau) terbukti 'sakti'. Pernyataan tersebut sempat membuat kami (aku, adek dan Papa) terheran dan sama sekali tidak membayangkan kalimat tersebut terlontar dari Beliau. Setelah panjang lebar Beliau memaparkan, akhirnya aku arahkan pembicaraan ke janji Beliau yang akan membiayai Papa ke luar negeri dan kami pasrah apapun keputusan Beliau.

Akhirnya Beliau pun setuju dengan janji semula Beliau untuk membiayai pengobatan Papa ke Singapore (=Adek Irfan telah membuat appointment dengan Dr. Patrick Tan di Mount Elizabeth Hospital). Aku coba menyampaikan opsi pembayaran Papa dengan Maximum Plafond, yaitu pengobatan Papa di Singapore tidak boleh melebihi Plafond yang diberikan. Sehingga kami bisa membatasi pengobatan sehingga tidak membengkak. Namun Beliau malah memilih seluruh pembiayaan Papa di Singapore ditanggung Beliau.  

Beliau memberikan syarat bahwa Beliau hanya membayar langsung ke rekening Mount E di Singapore atau dengan kata lain, kami tidak menerima uang tunai.  Tidak puas dengan kalimat tersebut, aku kembali menanyakan mekanisme pembayaran selama di Mount E. Beliau pun menyampaikan bahwa Beliau hanya menanggung biaya pengobatan saja disana, sedangkan tiket Papa (pp) tidak ditanggung alias kami harus mencari sumber pembiayaan lainnya. 

Kondisi keuangan kami saat itu sangat morat-marit, namun kami terus berusaha mencari sumber pembiayaan dari pihak lainnya. Dan alhamdulillah, ada diantara sanak family kami yang membantu operasional kami. Tgl. 19 April 2012 kami (aku, Adekku Irfan dan Papa) bertolak ke Singapore.

Setibanya kami di Airport Changi, Singapore, Papa ingin (maaf) pub. Sekitar 10 menit kami menunggu, Papa memanggil keras kami untuk melihat kedalam rest room tersebut. Alangkah terkejutnya kami melihat (maaf) pub Papa yang sudah bercampur darah.

Dengan kekuatan hati, kami pun segera meluncur ke Mount Elizabeth dan bertemu dengan Patrick Tan untuk segera dilakukan diagnosa terhadap penyakit Papa. Kami pun takjub dengan pelayanan profesional 'mereka' di Mount E. Begitu antusias dan sinergynya antara Dokter, Staf dan Suster disana.

Melihat kondisi penyakit Papa yang serius, rencana 3 hari pengobatan Papa di Singapore akhirnya menjadi 1 minggu. Dari keseluruhan biaya di Mount E, "X" ternyata hanya mengganti 1/2 nya saja, sehingga (kembali) kami morat-marit mencari kekurangan biaya. 

Aku memberanikan diri menulis di status FB dan Twitter-ku untuk mencari kekurangan biaya Papa. Tulisanku : "Kami hanya menyampaikan kondisi Papa terakhir yang semakin menurun kesehatannya. Hal ini ditunjukkan dengan periode transfusi semakin dekat jarak waktunya (sebelumnya 1 bulan, saat ini sekitar 12 hari) dan harus pula dilakukan transfusitrombosit (dikarenakan) berada di angka 12000 (normal 150000). Disamping transfusi trombosit ini memerlukan biaya yang cukup besar (Rp. 4jt /kantong) juga memerlukan sukarelawan (yang sangat jarang) ikhlas menyumbangkan serta meluangkan waktunya karena proses donor tersebut memerlukan waktu 1,5 jam. Setelah transfusi darah dan trombosit, Papa juga memerlukan suntikan penguat Hb (dengan biaya Rp. 7jt /suntikan x 7 suntikan) dan suntikan Leukosit (Rp. 1jt /suntikan). Demikian kami sampaikan kondisi Papa yang mulai terlihat letih dan sabar menghadapi penyakit yang di derita Papa. Semoga Allah SWT menghapus seluruh dosa Papa dan memberikan yang paling terbaik untuk Papa dan kami semua anak2nya (yang selalu mencintai dan menyayangi).


Aku sangat berharap bantuan dana dari siapapun dan aku rela melakukan apa saja agar biaya pengobatan Papa dapat teratasi. Aku sangat menyayangi Papa. Setiap harinya aku menemani dan menginap di Rumah Sakit, kalau Papa di opname. Aku sudah tidak ingin bekerja lagi dengan orang lain yang bisa menyita waktu-ku dalam merawat Papa. Sering air mata mengalir di pipi istriku karena financial kami sangat mengkhawatirkan, dikarenakan tekadku untuk berwiraswasta (walau dengan modal Rp. 0,-) dengan bantuan Laptop tuaku. 

Dalam menghentukkan jari di tuts Laptop, sering kupandangi wajah Papa yang tetap tegar melawan penyakitnya dan tanpa kusadari derasan air sudah tidak dapat terbendung dari mataku. Secara materi aku sudah tidak memiliki apa2 "harga diri" sudah aku buang jauh-jauh demi mencari biaya dan kesembuhan Papa. Seluruh Adek2 dan Ipar pun demikian terutama adik bungsuku, Irfan. Semuanya berusaha "mencari" biaya untuk pengobatan Papa kami tercinta.

Bulan Mei 2012, Papa kembali harus berobat ke Singapore dengan biaya dari sisa uang hasil penjualan rumah Papa di Cileduk. Dan setelah tiba di Indonesia, kondisi Papa sangat jauh menurun dan Papa sudah tidak kuat lagi untuk berjalan lama. Baru 1 hari tiba di Indonesia, Papa harus kembali di opname di RS. Kramat 128 karena trombosit sangat turun secara drastis dan alhamdulillah trombositku setelah di donorkan ke Papa untuk yang ke-3 kalinya dapat menaikkan trombosit Papa.

Sepulang dari RS. Kramat 128, Papa mengajakku makan bareng di Ranch Market, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kupeluk tubuh Papa yang mulai melemah dengan mengikuti langkah nya yang mulai berjarak pendek. Sesekali Papa berhenti melangkah karena dadanya sesak dan akhirnya kami pun dapat tempat duduk disana.

Aku memiliki firasat yang tidak menentu melihat wajah dan kondisi Papa yang cenderung diam dan melihat dengan tatapan kosong. Dari itulah aku  mendokumentasikan foto ini yang ternyata merupakan foto terakhir Papa untuk bisa pergi keluar rumah, setelah itu Papa mulai pulang-pergi ke Rumah Sakit.  Dan ternyata foto ini "berbicara" setelah 40 harinya.

Aku ingin sekali mengundang Keluarga Besar-ku pada tgl. 9 Juni 2012, dikarenakan sudah lama kami tidak berkumpul bersama (saat itu istriku ultah ke-35 tahun). Aku ingin mengundang Ustadz, memimpin do'a untuk kesembuhan Papa. Namun pada hari Jum'at malam, tgl. 8 Juni 2012, Papa mengalami kesakitan di kakinya (yang membengkak) dan sangat gelisah pada hari itu. Semua adik2ku hadir mendampingi Papa di kamar.

Hari semakin larut, satu persatu adik2ku pulang ke rumahnya masing2 dan aku masih mendampingi Papa di tempat tidur. Papa sangat gelisah dan 3x Papa berbalik ke arahku agar aku pulang karena hari sudah menjelang pagi (saat itu sudah jam 01.00). Aku sampaikan ke Papa, aku akan pulang apabila Papa sudah tidur. Setelah memasuki jam 02.00, Papa pun telah terlelap dan aku melangkahkan langkahku dengan berjinjit agar Papa tidak terganggu tidurnya.

Keesokan harinya (seharusnya kami berkumpul di rumahku), hari Sabtu tgl. 9 Juni 2012, Adikku, Vita sangat panik karena Papa sesak nafas dan kesakitan. Dikarenakan jarak rumahku dengan adikku cukup jauh, aku coba menenangkan dirinya untuk segera menelepon Rumah Sakit Pondok Indah untuk mengirimkan ambulance. Aku sekeluarga segera bergegas ke RSPI untuk melihat kondisi Papa di UGD. Papa sangat kesakitan dan kesulitan untuk buang air kecil. Semua Adik2 dan Ipar2-ku menangis melihat kondisi Papa yang sangat jauh menurun. Aku memberanikan diri untuk menanyakan kondisi Papa kepada Dokter di UGD yang menyarankan agar Papa segera dimasukkan ke ruang ICU karena perlu penanganan yang intensif. Adik2 menginginkan aku untuk merayu Papa agar masuk ruang ICU dan mencoba menyampaikan hal2 yang tidak membuat Papa merasa curiga terhadap penyakitnya.

Aku memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dalam menyampaikan kepada Papa agar segera masuk ruang ICU, dan alhamdulillah Papa berkenan dengan alasan yang aku sampaikan. Kami pun kembali berhadapan dengan biaya deposit Rumah Sakit, sedangkan dana yang terkumpul saat itu (dari kami) hanya sebesar Rp. 10 juta.

Belum ada perkembangan ke arah membaiknya kesehatan Papa, sedangkan sudah 7 hari Papa di rawat di ICU RSPI. Papa malah menanyakan kepada kami kenapa diluar ruangan (Papa ada dalam kamar khusus ICU yang berkaca) banyak sekali orang2 yang berpakaian putih, berkumpul di ruangan tersebut ?

Keesokan hari ternyata satu persatu pasien di ICU tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Seluruh keluarga dari Medan, Surabaya, Bandung dan Jakarta, maupun karyawan/wati serta teman2 Papa telah berdatangan melihat kondisi Papa.


Papa merupakan figur dermawan dan sering menolong keluarga maupun orang sekitarnya. Selama hidupnya, Papa senantiasa membantu siapapun yang datang kepadanya dalam bentuk pekerjaan, biaya maupun sekedar nasehat. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW, bersabda : “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. [HR. Muslim]

Amalan Papa tersebut dapat kami rasakan disaat Papa mengalami sakit dan diopname di Rumah Sakit. Begitu besarnya antusias dan perhatian Saudara, Besan, Keponakan, (mantan) karyawan/ti dan rekan sejawat Papa yang selalu 'care' selama Papa di opname di RS. Kramat 128 maupun RS. Pondok Indah. Mereka seakan tiada lelah memonitor perkembangan kesehatan Papa.


Memasuki hari ke-8 (malam)... kami dipanggil oleh Team Dokter ICU yang menangani Papa dan menyampaikan bahwa kondisi Papa semakin memburuk dan mereka tetap berusaha maksimal kepada Papa. Mereka menyarankan agar kami mencari ruangan Steril di Rumah Sakit lainnya, dikarenakan di RSPI mereka tidak memiliki ruangan steril.

Keeskokan harinya, aku meluncur ke RS. Dharmais dan RS. Medistra. RS. Dharmais penuh dengan pasien, sedangkan RS. Medistra memiliki 1 ruangan, namun terkendala di masalah Air Condition-nya. Aku pun memberikan no. HP sekiranya pihak RS. Medistra segera  menghubungiku.

Hari ke-10 (pagi)... Papa sangat gelisah dan sesak nafas, sehingga pihak RSPI segera melakukan pembersihan ruangan baru (di sterilkan) untuk digunakan untuk Papa. Namun sesampai di ruangan tersebut, kondisi Papa semakin memburuk dan membisikkan kepada-ku agar Papa kembali ke ruangan semula (ICU). Memburuknya kondisi Papa, membuatku segera menghubungi Adik2ku agar mereka segera ke kamar melihat Papa. Kami semua berusaha tegar dan berusaha membangkitkan semangat Papa.

Papa masih meminta maaf kepada-ku karena tidak bisa hadir dalam acara (pada tgl. 9 Juni 2012) tersebut dan masih bercanda dengan cucu2nya dalam kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.

Sehubungan dengan ruangan ICU sudah dipakai pasien lainnya, akhirnya Papa diberikan ruangan ICCU (sambil menunggu keluarnya salah satu pasien dari ICU). Malam hari-nya (aku berada disamping Papa) memintaku untuk memanggil seluruh keluarga ke ruangan (ICCU)nya. Aku pun menuruti permintaan Papa dan meminta tolong kepada Suster disana sekiranya dapat mengizinkan seluruh Saudara masuk ke dalam ruangan Papa.

Papa meminta kami untuk mencopot segera gigi palsunya dan satu per-satu Papa memberikan nasehat kepada seluruh anak2 dan keluarga (Abang dan Adik2 Papa) yang hadir saat itu dan meminta maaf bila semasa hidup Papa ada kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja yang diperbuat. Entah mengapa hati ini tergerak untuk mem-filmkan "moment" tersebut via Blackberry-ku. Hal serupa aku lakukan semasa akhir hayat Mama. Aku pun menyampaikan kepada adik2ku agar semua ikhlas, karena Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.

Setelah itu Papa mengalami 'fly' hingga ke-esokan paginya. Perasaan hatiku tidak menentu dan aku menanyakan kondisi "real" Papa kepada Dokter yang bertugas. Dokter tersebut menyampaikan dengan kiasan, yang intinya hanya 'menunggu waktu' saja.  Aku terus berdo'a kepada Allah SWT agar diberikan yang terbaik buat Papa-ku dan aku mengaji surat Yaasin di samping telinga kanan Papa.

Disaat aku bacakan dalam ayat ke-82 "Innama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun” (bahwa Allah maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa ada siapapun yang dapat menghalangi-Nya. Dengan kata lain, bahwa bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan segala sesuatu yang Ia kehendaki, sesuatu tersebut dengan cepat akan terjadi, tanpa ada penundaan sedikitpun dari waktu yang Ia kehendakinya), aku melihat Papa seperti tersentak ingin menghembuskan sisa nafasnya. Aku tuntaskan sisa 1 ayat lagi dan aku pun berlari ke Suster untuk segera memanggil seluruh Adik2 dan Saudara-ku.



Kami telah berada di sekeliling Papa dengan menyampaikan keikhlasan kami melepaskan kepergian Papa untuk bertemu Sang Khalik, sambil terus menuntun Papa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dan terlihat bibir Papa pun mengikuti ucapan kami. Dalam keadaan tersebut tiba2 Papa mengangkat tangan kanannya melambai ke atas dan mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Tangan itu akhirnya melemah dan garis datar terlihat di layar pun berbunyi.

Papa telah meninggalkan kami...... 

Tubuhku melemas dan tidak bertenaga, orang yang paling aku cintai telah meninggalkanku. Istriku memelukku, kutatap semua adik2ku tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kami benar2 kehilangan dan tidak ada lagi ladang kami untuk menambah pahala.

Selang beberapa saat, kami telah dihadapkan dengan biaya Rumah Sakit yang telah mencapai angka Rp. 200 juta, sedangkan kami hanya memiliki total uang sebesar Rp. 60 juta. Kami memohon kepada Allah SWT agar diberikan kami kemudahan untuk mengurus jenazah Papa untuk ke tempat pembaringannya terakhir.

Alhamdulillah... sisa biaya Rumah Sakit Papa sebesar Rp. 140 juta telah dibayarkan oleh seseorang yang kami tidak tahu jati dirinya. Subhanallah... sungguh mulia diri orang itu yaa Allah. Inilah ternyata hasil dari perbuatan baik Papa semasa hidupnya, karena orang baik senantiasa mendapat do'a agar selalu berada dalam Ridha Allah. Allah SWT pun melihat dan mencatat setiap do'a dari kebaikan Papa.


Jenazah Papa disemayamkan di rumah Adikku, Vita di daerah Pondok Indah. Dan Subhanallah... begitu banyak para pelayat yang hadir untuk mendo'akan Papa. Semua keinginan Papa untuk dapat di do'akan oleh para Habib terkemuka dan Imam Masjid Pondok Indah mengalir selaksa air mengalir. Demikian pula halnya dengan rombongan pelayat yang mengantarkan jenazah Papa ke peristirahatannya yang terakhir di Karet Bivak, Pejompongan, Jakarta Pusat.

Aku terharu atas buah hasil kebaikan Papa di dunia, yang dapat kami rasakan begitu indah kami lihat dan nikmati. 

I do love u, Papa.