27 November 2013

BRITIS 72 With Love

1989 - 1998  (kenangan yang begitu indah)

Memulai bekerja di Bank Rakyat Indonesia pada tgl. 1 Agustus 1989 dan di tempatkan di BRI Cabang Jakarta Jatinegara. Dalam usia yang masih 18 tahun saya berusaha bekerja sambil kuliah. Suasana kerja di Cabang Jatinegara sangat menyenangkan dan saya sangat di sayang oleh Senior2 disana. Mereka sangat ramah dan sabar membimbing saya dan teman saya seperjuangan, Widi Tahijadi, karena kami memang dipersiapkan untuk persiapan pembukaan Cabang baru di Jl. Otista Raya no. 72 Jakarta Timur.

2 bulan masa pembelajaran dan pengenalan produk BRI, kami pun di mutasikan ke Kantor Cabang (baru) BRI Jakarta Otista pada tgl. 1 November 1989. Di Cabang baru ini hanya terdiri dari 16 orang meliputi Pimpinan dan Karyawan : Bp. FB. Soerendro (Pinca), Bp. Thomson Hasoloan dan Bp. Nasrun Adil Lubis (SAO), Bp. Yadi Suryadi (ADK), Ibu Mien Ruminah (OO), Bp. Soemarsono (Supervisor Kas), Bp. Siswondo (ACTO), Bp. Taufik Hidayat (Rutang), Irdon Syahli Harahap dan Enggriani Panikkai (Customer Service), A. Rina Wowor dan Artha Sari (Teller), Widi Tahijadi (Kliring), Hamdani (Pembukuan & Arsip), Elisabeth Sri Lestari (Teller Tabungan), A. Dwi Ardjoko (Operator).

Selama 1 bulan lebih kami mempersiapkan segala sesuatunya dari kelengkapan dokumen hingga perabotan karyawan. Dari sinilah suasana keakraban antar karyawan mulai terpupuk baik dan kami pun saling membantu satu sama lainnya.

Hari yang dinantikan pun tiba... BRI Cabang Jakarta Otista diresmikan oleh Direktur BRI pada tgl. 16 Desember 1989 bertepatan dengan ulang tahun BRI dan peluncuran perdana produk : SIMASKOT (Simpanan Masyarakat Kota), Demuna (Deposito Multiguna) dan Romuna (Giro Multiguna) serta Smart BRI (sebuah kartu yang memiliki chip) yang diliput langsung oleh TVRI (satu2nya siaran TV saat ini).

Kediaman Bp. FB. Soerendro
Kepemimpinan Bp. Soerendo yang ke Bapak-an sangat dinikmati oleh seluruh karyawan. Beliau sangat ramah dan tidak membeda-bedakan satu sama lainnya. Hingga pada suatu hari ada telepon buat salah satu karyawan yang berbunyi di ruang kerja Beliau. Dengan kepribadian Beliau yang sangat luar biasa, Beliau menghampiri langsung karyawan tersebut dan menyampaikan sendiri bahwa ada telepon masuk untuk karyawan tersebut di ruang kerja Beliau.

Walaupun Beliau seorang Katolik, namun sajadah (buat umat Muslim) selalu tersedia di ruang kerjanya untuk menghormati tamunya yang beragama Islam.

BRI Cabang Otista mulai mengalami kemajuan dan pada saat itu juga terkenal dengan 9 orang karyawan yang memiliki pasangan dalam satu kantor. Dan hanya 3 pasangan yang awet berumah-tangga hingga saat ini.

Bp. Ahmad Dimyati
Melihat perkembangan BRI Jakarta Otista semakin maju, banyak diantara karyawan yang naik ke jenjang lebih tinggi, seperti Bp. Thomson Hasoloan naik menjadi MLO ke-1 BRI Jakarta Otista dan selanjutnya Beliau digantikan oleh Bp. Ahmad Dimyati (MLO ke-2) yang hanya 1 tahun dan kemudian menjadi Pemimpin Cabang BRI Meulaboh, Banda Aceh.

Kemudian Bp. Soerendro pun meninggalkan BRI untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi dan digantikan oleh Bp. Sultan Hamid. Pribadi Bp. Sultan Hamid sangat berbeda dengan Bp. Soerendro.

Bp. Sultan Hamid memiliki kepemimpinan yang sangat disiplin dan tegas dalam aturan BRI, namun hal tersebut hanya sebatas jam kerja saja, sedangkan di luar jam kerja, Beliau sangat luar biasa royal dalam hal materi maupun perhatiannya. Saya sangat merasa klop di bawah kepemimpinan Beliau.

Kediaman Bp. Sultan Hamid
Yang berkesan dari Bp. Sultan Hamid adalah Beliau memposisikan saya sebagai Asisten Pemimpin Cabang yang bertanggungjawab langsung kepada Beliau, padahal saat itu jabatan saya masih rendah dan Beliau telah memiliki wakil resmi di BRI Jakarta Otista (MLO ke-3), Bp. Sutrisno.

Beliau banyak mengajarkan kepada saya segala hal : dari ilmu Perbankan, disiplin, motivasi karir dan kehidupan. Beliau senantiasa mengingatkan saya untuk meninggalkan pekerjaan dan berusaha serius untuk Kuliah. Disamping itu “uang jajan” selalu diberikan setiap malam minggu untuk perjalanan saya ke Bandung mengunjungi ‘sang pacar’ yang saat ini menjadi istri tercinta.

Kediaman Bp. Omay
BRI Jakarta Otista semakin pesat pertumbuhannya di bawah kepemimpinan Bp. Sultan Hamid dan Kantor Pusat BRI melihat potensi dalam diri Beliau, sehingga Beliau pun dimutasikan ke jenjang karir yang lebih tinggi.

Pemimpin Cabang BRI Jakarta Otista selanjutnya yang ke-3 adalah Bp. Djoko Kunarso. Kepemimpinan Beliau sangat jauh berbeda dengan 2 Pemimpin Cabang sebelumnya dan saya pribadi banyak bentrok kebijakan Beliau yang tidak relevan.

Alhasil... 6 bulan saya di “off” tanpa diberikan pekerjaan dan tidak tertera dalam struktur organisasi di BRI Jakarta Otista. Namun berkat perjuangan dan keperdulian Bp. Nasrun Adil Lubis saya dimasukkan dalam team Legal dan Administrasi Kredit di bawah komando, Kang Yadi Suryadi. Mbak Kun Sumiati kemudian menggantikan posisi Kang Yadi Suryadi yang di promosikan ke jenjang lebih tinggi.

Ibu Arma Gayariana
Masuknya Ibu Arma Gayariana (MLO ke-4) di akhir tahun 1997 memberikan angin segar terhadap karir saya selanjutnya. Saya di ikut-sertakan mengikuti program Calon Account Officer untuk 40 Cabang BRI Prioritas, dimana saat itu suku bunga pinjaman mencapai angka 36% akibat krisis moneter yang mengakibatkan peningkatan kredit macet.

Kepercayaan Bp. Leo Soenpiet, Pemimpin Cabang ke-4 (menggantikan Bp. Djoko Kunarso) sangatlah luar biasa. Bayangkan saja... demi konsentrasi saya menghadapi test tersebut (jika Beliau tidak berada di kantor) saya disuruh belajar di ruang kerja Beliau. Disamping itu saya dipercayakan membuat konsep surat “R” (rahasia).

Kembali ke program Calon Account Officer... Dari sekian ribu peserta seluruh BRI di Indonesia, alhamdulillah saya merupakan salah satu dari 25 orang yang lulus seleksi. Setelah itu kami masuk Pusdiklat BRI di Jl. Gatot Subroto untuk dibekali ilmu untuk nantinya dapat terjun langsung di lapangan.

Kediaman Ibu Mien Ruminah
Dalam pendidikan tersebut kami dibuatkan ujian kelulusan. Dari 25 orang yang lulus hanya 23 orang dan sisa 2 orang harus mengulangi ujian kembali. Menempati 40 Cabang BRI Prioritas tersebut, para AO diberikan pilihan untuk memilih Cabang yang ingin bekerja disana. Saya memilih Cabang BRI Jakarta Kebayoran Baru, karena letak kantornya (saat itu) sangat mentereng dan merupakan idaman sebagian besar karyawan BRI.

Ternyata peminat Cabang tersebut ada 4 orang, sehingga saya harus bersaing kembali untuk mendapat nilai terbaik mewujudkan impian tersebut. Dan alhamdulillah saya berhasil masuk menjadi karyawan BRI Jakarta Kebayoran Baru sejak tgl. 1 September 1998.

BRI Depok : Erry, Marthinus, Giwang & Herman
Baru 3 hari menjadi Account Officer BRI Jakarta Kebayoran Baru, saya dipanggil oleh Bp. Ali Mudin (Pemimpin Cabang) ke ruang kerja Beliau di lt. 2. Beliau menyampaikan bahwa Bp. Leo Soenpiet ingin saya kembali ke BRI Jakarta Otista untuk membantu Beliau disana. Saya merasa bangga saat itu karena ada 2 Pemimpin Cabang yang menginginkan saya bekerja di Cabangnya.

Terlalu banyak kenangan manis yang indah di BRI Jakarta Otista dan begitu banyak pihak yang membantu dalam mewujudkan impian saya. Jika saya kembali ke BRI Jakarta Otista, akan mengurangi kenangan manis yang selama ini sudah peroleh. Saya akhirnya memilih BRI Jakarta Kebayoran Baru.

1998 - 2008  (indahnya kehidupan)

Merupakan periode bekerja di BRI Jakarta Kebayoran Baru. Suasana keakraban memang terjalin di Cabang ini, namun masih belum 'lepas' dibandingkan BRI Jakarta Otista yang lebih memiliki suasana keakraban dan kehangatan. 

1 Agustus 2008 saya mengundurkan diri dan mengambil pensiun dini di BRI, karena sudah tidak merasakan kenikmatan bekerja di BRI. Saya mencoba bertahan selama 1 tahun, namun semakin hari terasa semakin hampa. Disamping itu keinginan untuk lebih meningkatkan ibadah terasa lebih nikmat jika melakukan usaha sendiri (wirasasta) dengan menjalani sistem syariah.

Setelah 2008  (menikmati begitu indahnya kehidupan) 

Makam Bp. Nasrun Adil Lubis
Wafatnya Bp. Nasrun Adil Lubis pada tgl. 16 Juni 2007 membuat saya teringat akan jasa budi Beliau kepada saya dan menimbulkan kerinduan yang luar biasa kepada temans di BRI Jakarta Otista. Saya pun bertekad ingin menyambung kembali tali silaturrahim yang dahulu pernah sangat indah dengan mereka baik yang masih bertugas maupun telah dimutasikan ke Kantor Cabang BRI lainnya. 

Dari sekian Cabang BRI yang pernah saya 'jalani', BRI Jakarta Otista lebih memiliki suasana keakraban dan kehangatan. Saya sangat rindu akan kehadiran mereka semua.

Berusaha mengumpulkan alamat2 mereka bukanlah hal yang mudah. Awal silaturrahim saya mulai ke kediaman “sesepuh” Pemimpin Cabang BRI Jakarta Otista ke-1, Bp. FB. Soerendro pada tgl. 25 Juni 2011. Alhamdulillah awal silaturrahim ini dapat dihadiri oleh (MLO ke-2) Bp. Ahmad Dimyati, Sahabat terbaikku : Marthinus Papilaya dan Trie Woeryani, Kang Yadi Suryadi dan Sutisna.

Kantor BRI Jkt. Cut Mutiah, Bp. Suherman
Selepas dari sana, Bp. Ahmad Dimyati mengundang saya dan temans untuk mengunjungi kediamannya di Plered, Purwakarta. Hal senada juga disampaikan oleh Bp. Sultan Hamid (Pinca ke-2) saat silaturrahim ke kediaman Beliau pada tgl. 24 Juli 2011, untuk mengadakannya di daerah Puncak Pass, Bogor.

Untuk mewujudkan impian untuk mewujudkan silaturrahim akbar, saya berkonsentrasi mengunjungi para petinggi “dulu” di BRI Jakarta Otista, seperti :

1.      Bp. Soekardjo  (tgl. 25 Juni 2011)
2.     Keluarga alm. Bp. Nasrun Adil Lubis  (tgl. 17 September 2011)
3.     Bp. M.O. Komarudin (tgl. 27 September 2011) bersama Sahabatku, Biyanto
4.     Temans di BRI Depok (Januari 2012) : Marthinus Papilaya, Herman Waryadi, Erry Hermawan dan Giwang Karasuta
5.     Bp. Suherman, saat ini Pinca BRI Cut Mutiah  (Juni 2013)
6.     Bp. Taufik Hidayat  (Juli 2013)
7.     Ibu Mien Ruminah  (Okt 2013)
8.    Ibu Arma Gayariana  (Okt 2013)

* (Tahun 2012 sempat terhenti karena saya berkonsentrasi mengurus Papa).

Kediaman Bp. Soekardjo
Dan alhamdulillah semua alumni BRI Jakarta Otista menginginkan berkumpul kembali untuk saling lepas kangen.

Akhir Oktober 2013, saya mencoba menghubungi Bp. Ahmad Dimyati untuk dapat mengunakan fasilitas di kediamannya di Plered, Purwakarta, karena faktor fasilitas sangat penting untuk menampung keinginan teman2 sesama alumni BRI Jakarta Otista (BRITIS 72).

Dan Subhanallah... Beliau juga menyampaikan bahwa seluruh konsumsi . akan Beliau persiapkan dengan memberikan jadwal pada tgl. 23 atau 24 November 2013. Setelah melihat kalender, tgl. 23 November 2013 lebih memungkinkan untuk diadakan acara tersebut, karena jatuh pada hari Sabtu, sehingga teman2 bisa beristirahat di hari Minggu.

Capem BRI Jt. Bening, Taufik Hidayat
Saya pun langsung menghubungi Bp. Taufik Hidayat untuk dapat hadir dalam acara tersebut, karena Beliau merupakan salah satu tokoh penting dalam membangun pondasi BRI Jakarta Otista. Namun saat itu Beliau belum bisa menjanjikan dan akan berusaha untuk hadir.

Saya mencoba melakukan inventarisir kembali teman2 yang pernah saya datangi dan alhamdulillah respons mereka sangat luar biasa, ditambah lagi kesediaan Bp. Taufik Hidayat yang akhirnya bersedia hadir dalam acara tersebut, menambah semangat mewujudkan mimpi ini. Beliau sangat berperan penting dalam menjaring temans bersama Dede Juandi, yang piawai dalam membawakan acara dan Damanhuri, yang telaten dalam segala sektor.

Panita Kecil "Lepas Kangen"
Kami (saya, Bp. Taufik Hidayat, Dede Juandi, Damanhuri dan Ridwan Sugiri) pun mengadakan rapat kecil di depan Pos Satpam BRI Jakarta Otista pada tgl. 18 November 2013 dengan membuat draft peserta yang kemungkinan dapat hadir beserta perkiraan biaya yang akan dikeluarkan untuk acara tersebut meliputi door price dan Bus.

Finalisasi meeting hari Kamis, tgl. 21 November 2013 di depan Kantor Cabang Pembantu BRI Jatibening mengambil kesimpulan kemungkinan tersebut yang hadir sebanyak 40-an karyawan ditambah istri dan anak diperkirakan sebanyak 75 – 80 orang yang hadir disana, sehingga diperlukan transportasi Bus yang sudah dipersiapkan oleh Bp. Taufik Hidayat (dengan sementara menggunakan dana pribadinya). Kas saat itu masih sebesar Rp. 2jt an.

Menjelang hari H, saya teringat untuk memohon izin untuk acara tersebut sambil bersilaturrahim dengan Pemimpin Cabang BRI Otista saat ini (Bp. Wayan). Berhubung Beliau baru saja meninggalkan kantor karena meeting di Kanwil BRI. Saya pun menemui Ibu Agni (MO) dan memohon kesediaan Beliau untuk hadir melepas rombongan Alumni BRI Jakarta Otista angkatan tahun 1989 – 2000.

Di H-1 di BRI Jakarta Otista kami (Dede Juandi, Susi dan saya) hingga jam 21.00 merampungkan program acara dan door price yang akan diberikan dalam acara. Dana yang terkumpul sudah mencapai Rp. 5,8jt. Dan alhamdulillah sekitar jam 20.00 saya dapat berkomunikasi (via HP Susi) dengan Bp. Wayan (Pinca BRI Jakarta Otista) memohon kesediaan Beliau untuk hadir dalam pelepasan rombongan kami tgl. 23 November 2013.

Hari yang dinanti pun tiba dan Subhanallah... begitu besar antuasias seluruh temans yang hadir di ‘meeting point’ BRI Jakarta Otista untuk bersama2 saling ber “Lepas Kangen” di kediaman Bp. Ahmad Dimyati di Plered.


Rombongan 1 Bus dan 4 Mobil Pribadi langsung bergegas menuju ke Plered, yang sebelumnya ditandai dengan foto bersama...

Tepat adzan Dzuhur seluruh rombongan tiba di kediaman Bp. Ahmad Dimyati. Kami pun menunaikan ibadah sholat Dzuhur, setelah itu luapan emosi kangen tak terbendung saling berkangen ria, cerita pengalaman dan berfoto2 ria.

Sekitar 4,5 jam acara digulirkan oleh Sdr. Dede Juandi. Lautan door price dan nyanyi bersama mengiringi acara. Tidak luput pula wejangan “sesepuh BRI Jakarta Otista”, Bp. FB. Soerendo, Bp. Taufik Hidayat, Bp. Bambang Tri Priatmoko dan saya (selaku Panitia) yang disambut hangat oleh tuan rumah, Bp. Ahmad Dimyati.

Jam 17.00 seluruh rombongan bersiap untuk kembali ke Jakarta, sedangkan saya beserta keluarga masih ingin menikmati suasana keheningan sawah di kediaman Bp. Dimyati.

Insya Allah silaturrahim ini akan tetap selalu terjaga... amiin.