21 April 2014

Jalan Lurus

Setiap harinya kita memohon kepada Allah SWT khususnyadidalam sholat untuk ditunjuki jalan yang lurus, yaitu jalan yang akan mengantarkan kita menuju surga dan kebahagiaan. Allah SWT telah menjelaskan tentang jalan tersebut di dalam al-Qur'an surah al Fatihah, yakni surah yang terbesar, yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dan tidak pernah diturunkandalam Taurat dan Injil : “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orangyang tersesat”. [Qs. al-Fatihah : 7]

Allah SWT juga menegaskan bahwa tauhid dan ketaatan kepada-Nya inilah jalan yang lurus itu, bukan penyembahan dan ketaatan kepada syaitan, sebagimana dalam al-Qur'an Allah SWT berfirman : “Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah kalian menyembah syaitan.Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku. Inilahjalan yang lurus”. [Qs. Yasin : 60-61]
 
Rasulullah SAW pernah suatu ketika membuat suatu garis lurus, kemudian Beliau mengatakan bahwa ini adalah jalan menuju Allah yang lurus. Kemudian Beliau membuat garis-garis yang lain di sisi garis yang lurus tersebut, kemudian beliau bersabda bahwa ini adalah jalan yang banyak dan pada setiap jalan ada syaitan yang mengajak manusia menuju jalan-jalan itu. Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah SWT : "Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa".  [Qs. al-An’am : 153]

Seorang muslim seharusnya mengenal dan mengetahui jalan yang lurus itu. Dan jalan yang lurus itu adalah Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan wahyu Allah Al-Qur’anul Kariim, dan Sunnah Rasulullah SAW. Kebutuhan seorang hamba terhadap ilmu untuk mengetahui jalanyang lurus itu, lebih dari kebutuhan seorang hamba terhadap makan dan minum.

Ingatlah... Allah SWT telah menganugerahkan nikmat yang banyak kepada kita. Di antara nikmat itu, adalah nikmat hidayah, yakni mengikuti petunjukAllah SWT. Dan nikmat itu adalah Islam, yang dengannya Allah mengutusRasul-Nya. Allah menurunkan kitab-Nya yang terbaik. Allah menjadikan Islam sebagai agama yang diridhai-Nya di muka bumi ini dan Rasulullah SAW telah menyampaikan risalah Allah SWT dengan sempurna.

17 April 2014

(Berniat) Hijrah Dengan Keikhlasan


Dalam kehidupan di dunia, keikhlasan memiliki posisi yang sangat penting. Karena tanpa keikhlasan, maka amalan seseorang diibaratkan seperti jasad yang tidak memiliki ruh lagi. Ikhlas berasal dari kata "akhlasha" (bahasa Arab) yang berarti bersih, murni dan jernih. Dari kata dasar ini, membentuk infinitifnya (masdar) menjadi "ikhlasan". Sedangkan orang yang ikhlas adalah "mukhlis". Pada hakekatnya keikhlasan merupakan bukti dan sarana ketaqwaan dengan suatu tujuan amalan hanya kepada Allah. 

"Padahal mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan keikhlasan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus".   [Qs. al-Bayyinah : 5]

"Dan barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan jenganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". [Qs. al-Kahf : 110] 

Keikhlasan suatu keadaan dimana seorang hamba mampu memberikan porsi ketawazunan (=keseimbangan) dalam amalannya antara yang dzahir (terlihat oleh orang lain) dan bathin (yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri). Jika amalan dzahir melebihi amalan bathin, akan dapat menimbulkan keriyaan. Sedangkan amalan secara bathin adalah senantiasa hati menjadi "basah" dengan berdzikir kepada Allah, dimanapun dan kapanpun kita berada. Allah SWT berfirman : “Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Allah”.  [Qs. adz-Dzariyaat : 50] 

Jika telah mampu menyeimbangkan antara kedua hal di atas, berarti kita memperoleh indikasi keikhlasan dalam diri. Apalagi jika memiliki amalan bathin, jauh lebih banyak dan lebih besar frekwensinya daripada amalan dzahirnya, maka kita telah mencapai assidqu fil ikhlas (keikhlasan yang sebenar-benarnya). 
Agar terhindar dari keriyaan serta mampu menghadirkan keikhlasan dalam jiwa, dapat kita tempuh dengan : 

  1. Muraqabatullah, yaitu suatu sikap menghayati bahwa Allah senantiasa mengetahui segala gerak-gerik kita, walau hanya terlintas dalam hati sekalipun.
  2. Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT
  3. Istiqamah dalam beribadah, baik ketika mendapatkan pujian ataupun ketika mendapatkan celaan atas perbuatan tersebut.
  4. Membenci atau menghindari diri dari popularitas. Karena amal ibadah semata-mata hanya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah SWT.
  5. Menyembunyikan amalan, dalam arti tidak menyengaja dalam mengerjakan suatu amalan agar dilihat orang lain.
  6. Su’udzon terhadap diri sendiri, hingga tidak membanggakan amal pribadi. Artinya dirinya senantiasa merasa kurang sempurna dalam beramal. Sehingga ia selalu memperbaiki dengan amalan yang lebih baik lagi.
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Qs. an Nisa’ : 100] 

Inti hijrah adalah meninggalkan segala yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya. Rasulullah SAW bersabda : “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam hijrah, komponen yang terpenting adalah niat. Rasulullah SAW bersabda dengan sebuah hadits yang cukup masyhur, yaitu hadits tentang niat : "Bahwasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu". [dari Umar bin Khathtab diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]

“Hijrah tidak akan terhenti hingga terputusnya pintu taubat dan pintu taubat tidak pernah terputus hingga matahari terbit dari arah barat”. [dari Muawiyah diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Namun keikhlasan adalah potensi setiap insan dalam melakukan amalan ibadah kepada Allah. Bahkan tidak sedikit mereka-mereka yang dianggap biasa-biasa saja, ternyata memiliki keluarbiasaan dalam keimanannya kepada Allah.

Jika demikian halnya, marilah memulai (berniat) hijrah untuk menghadirkan keikhlasan dengan meningkatkan kualitas dan menjaganya hingga ajal kelak menjemput.

04 April 2014

Wanita Bekerja... Bolehkah ?


Dewasa ini tampak semakin banyak wanita yang beraktivitas di luar rumah untuk bekerja. Ada yang berasalan mencari nafkah untuk biaya hidup, mengejar kesenangan, menjaga gengsi, mendapat status sosial di masyarakat sampai alasan emansipasi. Selain alasan tersebut, ada pula yang merasa bosan dengan pekerjaan rutinitas mengurus rumah tangga atau karena anggapan bahwa dengan bekerja pergaulan dan statusnya lebih baik dibanding hanya menjadi ibu rumah tangga.  


Jika dulu mungkin pekerjaan yang tersedia untuk para muslimah adalah pekerjaan-pekerjaan yang tidak jauh dari pekerjaan yang berkaitan dengan rumah tangga. Sekarang ini seiring dengan akses untuk pendidikan yang lebih terbuka, lapangan pekerjaan pun semakin luas untuk para wanita. Bahkan ada yang mengatakan isu kesetaraan gender dimana wanita memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk setiap bidang pekerjaan.


Sekalipun wanita telah dijamin nafkahnya, bukan berarti Islam tidak membolehkan wanita bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi tentu saja harus seizin suami (bagi yang telah berkeluarga). Islam sama sekali tidak pernah menganggap wanita hanya sebagai penganggur, atau harus di rumah saja seperti yang dituduhkan sejumlah kalangan. 

Bukankah putri Rasulullah Fatimah mendapatkan upah dari hasil menumbuk gandum ? Kisah istri Nabi Ayub yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika Nabi Ayub tengah sakit, juga adalah contoh bagaimana wanita (istri) mengambil peran dalam turut memenuhi kebutuhan keluarga.  

Allah SWT berfirman : “… Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan”. [Qs. An-Nisa : 32]. 

Agama Islam mengenal yang dinamakan hukum ikthilath atau berbaurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat tertentu. Ketentuan ini bisa haram, bisa mubah. Akan menjadi haram jika mengandung tiga hal, yaitu :
- Berduaan antara laki-laki dan wanita,
- Terbukanya aurat wanita,
- Ada persentuhan anggota badan antara laki-laki dan wanita.
Namun hukum haram ini tidak berlaku untuk mereka yang berprofesi sebagai dokter.


Adapun tentang pengaturan sistem interaksi pria dan wanita, Islam telah  menetapkannya dalam sekumpulan hukum, diantaranya :

  1. Diperintahkan kepada pria maupun wanita untuk menjaga/ menundukkan pandangannya, yaitu : Menahan diri dari melihat lawan jenis disertai dengan syahwat sekalipun yang dilihat itu bukan aurat. Menahan diri dari melihat aurat lawan jenis sekalipun tidak disertai syahwat misalnya melihat rambut wanita.
  2. Diperintahkan kepada wanita untuk mengenakan pakaian sempurna ketika keluar rumah (termasuk ketika bekerja diluar rumah) yaitu dengan jilbab dan kerudung.  Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. [Qs. An-Nuur : 31]. Dalam Hadits lainnya :  “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : ‘Hendaklah mereka mengulurkan* seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [Qs. al-Ahzab : 59]. Jilbab adalah pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah yang menjulur dari atas hingga ke bawah, menutupi kedua kaki.  
  3. Dilarang berkhalwat antara pria dan wanita. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahram wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua”. [HR. Ahmad]. Khalwat adalah seorang laki-laki berada bersama perempuan yang bukan mahramnya dan tidak ada orang ketiga bersamanya. Sedangkan mahram adalah wanita yang diharamkan untuk dinikahi untuk selama-lamanya baik karena nasab maupun dikarenakan sebab tertentu yang dibolehkan dan dikarenakan kemahroman wanita tersebut. 
  4. Dilarang bagi wanita bertabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan untuk menarik perhatian pria yang bukan mahramnya). Rasulullah SAW bersabda : “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur”. [dari Abu Musa al Asy’ary diriwayatkan oleh Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad] 
  5. Dilarang bagi wanita untuk melibatkan diri dalam aktivitas yang dimaksudkan untuk mengeksploitasi kewanitaannya, misalkan : Pramugari, Foto Model, Artis, dll. 
  6. Dilarang bagi wanita untuk melakukan perjalanan sehari semalam tanpa mahram. Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah boleh seorang perempuan melakukan perjalanan sejauh sehari semalam kecuali jika bersamanya mahram". [HR. Bukhari dan Muslim]  
  7. Dilarang bagi wanita bekerja di tempat yang terjadi ikhtilath antara pria dengan wanita. Ikhtilath artinya adalah bertemunya laki-laki dan perempuan (yang bukan mahramnya) di suatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi di antara laki-laki dan wanita itu (misalnya berbicara, bersentuhan, berdesak-desakan, dll).
Wanita akan memperoleh banyak pahala melimpah jika meluruskan niat untuk tetap tinggal di rumah. Banyak tugas-tugas mulia yang bisa dilakukan di dalam rumah. Melaksanakan ibadah di rumah, mengurus rumah tangga, mendidik anak menjadi generasi shalihah dan kegiatan lain yang bernilai pahala. Tidak ada profesi yang lebih mulia bagi wanita selain tinggal di rumahnya untuk menjadi ibu rumah tangga.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. [Qs. Al-Ahzab : 33] 

Perintah dalam ayat di atas tidak hanya terbatas pada istri-istri Nabi saja, tetapi juga berlaku untuk seluruh kaum wanita muslimah. Imam Ibnu Katsir ra mengatakan : “Semua ini merupakan adab dan tata krama yang Allah SWT perintahkan kepada para istri Rasulullah SAW. Adapun kaum wanita umat ini seluruhnya sama juga dengan mereka dalam hukum masalah ini.” [Tafsir al-Qur’an al Adzim surat Al Ahzab : 33]

Tugas atau peran utama yang harus dijalankan oleh seorang wanita yang telah menjadi istri dan ibu adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dari pekerjaan suami untuk memenuhi nafkah. Seorang istri tidak memiliki kewajiban untuk turut mencari nafkah, karena kewajiban ini telah dibebankan kepada suami.

"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf". [Qs. Al-Baqarah : 233] 

"Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang telah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka melahirkan". [Qs. ath-Thalaq : 6]

Islam  adalah agama yang adil. Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria diberikan kelebihan oleh Allah SWT baik fisik maupun mental dibandingkan kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita.

Allah SWT berfirman : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. [Qs. An-Nisa’ : 34]

Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka, serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya seperti mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya, berarti ia telah menyia-nyiakan rumah serta para penghuninya. Hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan dalam keluarga baik secara hakiki maupun maknawi. 

Rasulullah SAW bersabda : “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Seorang istri merupakan pemimpin yang menjaga di rumah suaminya dan akan ditanya tentang penjagaanya. Maka wajib baginya untuk mengurusi rumah dengan baik, seperti memasak, menyiapkan minum seperti kopi dan teh, serta mengatur tempat tidur. Janganlah ia memasak melebihi dari yang semestinya. Jangan pula ia membuat teh lebih dari yang dibutuhkan. Ia harus menjadi seorang wanita yang bersikap pertengahan, tidak bersikap kurang dan tidak berlebih-lebihan, karena sikap pertengahan adalah separuh dari penghidupan. Tidak boleh melampaui batas dalam apa yang tidak sepantasnya. Istri juga memiliki tanggung jawab terhadap anak-anaknya dalam mengurus dan memperbaiki urusan mereka, seperti dalam hal memakaikan pakaian, melepaskan pakaian yang kotor, merapikan tempat tidur, serta memerhatikan penutup tubuh mereka di musim dingin. Setiap wanita akan ditanya tentang semua itu. Dia akan ditanya tentang urusan memasak dan ia akan ditanya tentang seluruh apa yang ada di dalam rumahnya. 

Tugas besar seorang wanita yang juga penting adalah mendidik anak-anak. Minimnya perhatian dan kelembutan seorang ibu yang tersita waktunya untuk aktifitas di luar rumah, sangat berpengaruh besar pada perkembangan jiwa dan pendidkan mereka. Terlebih jika keperluan anak dan suaminya justru diserahkan kepada pembantu. Jika demikian, lalu bagaimanakah tanggung jawab wanita untuk menjadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak mereka ? Adapun dalil yang menganjurkan wanita untuk tetap di dalam rumah adalah sebagai berikut :

Allah SWT berfirman : “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama”. [Qs. Al-Ahzab : 33]

"Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka". [dari Ummu Salamah, diriwayatkan oleh Ahmad]

Disamping itu pula Rasulullah SAW bersabda : “Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya”. [dari ‘Abdullah bin Mas’ud diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Namun demikian, jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama memperhatikan aturan seperti menutupi aurat dan tidak memakai harum-haruman, maka tidaklah dilarang. Abdullah bin ‘Umar  berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW  bersabda : “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia”. [dari Salim bin Abdullah bin Umar diriwayatkan oleh Muslim] 

Seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah ?” Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah”. [Tafsir al-Qur’an al ‘Adzim surat Al Ahzab : 33]

Beberapa Kesimpulan yang bisa diambil :
  1. Kewajiban utama wanita adalah di rumah, menjalankan segala aktivitas rumah tangga. Hal tersebut merupakan keutamaan yang tidak bisa dibeli dan dibandingkan dengan kesuksesan karirnya di luar rumah. 
  2. Kewajiban dan keutamaan diatas menjadikan pertimbangan utama bagi kaum wanita ketika memutuskan untuk bekerja diluar rumah. 
  3. Cukup dan tidaknya penghasilan suami adalah tergantung pada sikap wara' dan zuhud terhadap dunia.  
  4. Bekerja boleh bagi wanita, hanya saja harus ada syarat-syarat syar'i yang harus dipenuhi.
Sebagian orang berpendapat masuknya wanita pada pekerjaan di sektor publik mempersempit lapangan kerja bagi lelaki, sehingga lelaki menjadi sulit mendapat pekerjaan. Banyak industri yang terutama perusahaan kapitalis lebih memilih pekerja wanita karena dinilai lebih teliti dan lebih tekun.

Sungguh kemuliaan akan diraih bila senantiasa berpegang dengan adab yang diajarkan agama Islam. Sebaliknya kehinaan akan terjadi ketika ajaran agama telah jauh ditinggalkan.