21 May 2014

Arti Persahabatan


Saya dan teman2 The BLITZers (III Biologi 3 tahun 1989 SMAN 4 Jakarta) melakukan kunjungan ke kediaman Sahabat kami (sekelas semasa di SMAN 4 Jakarta) bernama Eliyanti yang saat ini sedang berjuang mengatasi penyakit yang ada dalam tubuhnya.

Kunjungan singkat kami tersebut, saya rangkum dalam tulisan ini :

ELIYANTI :

Dalam usia yang relatif muda (sekitar 30 tahunan), memiliki prestasi yang sangat luar biasa. Beliau pernah ditawarkan untuk menjadi perwakilan PKS di DPR, namun ditolak Beliau karena belum amanah dan 'malu' oleh karena Beliau belum bisa menganjurkan Kakaknya untuk mengenakan hijab.

Kesehariannya dulu... Beliau sering mengajarkan ilmu agama di sekitar rumahnya maupun di bawah kolong jembatan di daerah Kp. Melayu, hingga menghiraukan penyakit yang bersarang dalam tubuhnya. Kelelahan tidak menyurutkan jiwa sosialnya dalam menyiarkan ilmu maupun kemajuan partai yang dicintainya. Bayangkan... hasil CT Scan menunjukkan walau Beliau telah 2x mengalami stroke tetapi sama sekali tidak ditunjukkannya kepada orang lain. Hingga suatu hari Beliau pun terjatuh (tahun 2004) yang mengakibatkan keadaan fatal bagi dirinya saat ini.

Saat ini Beliau mengalami kemunduran mental/ingatan walau masih dapat berkomunikasi kepada kami dan dari dalam kepalanya dipasang selang untuk mengeluarkan cairan dari otaknya.

Walau dalam kondisinya sekarang, Eliyanti sangat konsisten dalam mengenakan hijabnya dan (Subhanallah) tidak lupa akan ayat dalam al-Qur'an. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik buat Sahabatku, Eliyanti.

The BLITZers (III Biologi 3 tahun 1989 SMAN 4 Jakarta) :

Tidak semua sahabat maupun teman tergerak hatinya dalam memberikan curahan perhatian, waktu apalagi materi kepada salah satu sahabat yang saat ini mengalami 'ujian dari Allah'. Terenyuh hati disaat The BLITZers secara ikhlas memberikan donasi yang alhamdulillah sangat luar biasa, untuk membantu kesembuhan Eliyanti.. Subhanallah!

Terlebih lagi disaat sebagian The BLITZers (Setyorini, Masagus 'Changiq' J. Rinaldy, Irvan Setiawan, Turiman dan Pudji Astuti) menyempatkan waktu untuk berkunjung dan terus berusaha membahagiakan Eliyanti di rumahnya.. Sangat luar biasa, Subhanallah !

Syukur alhamdulillah hari ini aku diberikan ilmu tentang hidup yang sangat bermanfaat dan memiliki Sahabat yang insya Allah senantiasa berhati yang bersih dan ikhlas. Love U All !

20 May 2014

Dohan... si anak Durhaka !

Seorang Milyarder bernama Dohan memiliki usaha di bidang Konstruksi yang sangat maju pesat. Usaha yang telah dirintis selama 30 tahun lebih telah membangun berbagai bangunan pencakar langit dan berbagai perumahan di beberapa kota-kota besar di Indonesia.

Keseharian di dalam keluarga dimanjakan oleh berbagai fasilitas  dan financial yang sangat mumpuni, seakan rumah hanya sebagai sebagai tempat persinggahan tidur di malam hari. Setiap pagi seluruh isi keluarga sudah disibukkan oleh berbagai macam kegiatan. Rumah hanya diisi oleh 3 orang Asisten Rumah dan Oma (Ibunda Dohan) yang sudah tua renta dengan penyakit stroke yang sudah lama di deritanya. Keseharian Oma di atas kursi rodanya dibantu oleh Asisten Rumah. 

Rasa kangen dan ingin diperhatikan oleh anaknya, membuat Oma ingin sekali memperolehnya dari anak semata wayangnya tersebut, namun berulangkali Dohan merasa terganggu dan sering memaki dengan nada tinggi dan ketus dengan ucapan : "Sudah tua lumpuh dan suka merepotkan". Hati Oma tersayat dan sangat tersakiti oleh ucapan anak kandungnya yang menjadi kebanggaannya selama ini. Air mata seakan kering akibat sering mengalir deras dari mata redupnya. Oma merasakan sudah tidak memiliki arti lagi untuk hidup di dunia yang mengakibatkan kondisinya semakin hari semakin memburuk. 

Allah SWT berfirman : "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".  [Qs. al-Isra : 23]. Seorang anak dikatakan telah durhaka kepada orang tuanya apabila :
  1. Sudah tidak patuh dan tidak berbuat baik kepada orang tua,
  2. Memutuskan tali hubungan yang terjalin antara orang tua dengan anaknya,
  3. Tidak menaati apa yang diperintahkan atau diminta oleh orang tua,
  4. Mencaci dan melaknat kedua orang tuanya,
  5. Malu mengakui orang tuanya dihadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tua yang miskin, berpenampilan kampungan, tidak berilmu, cacat atau alasan lainnya,
  6. Mengumpat orang tuanya di depan orang banyak dan menyebut-nyebut kekurangannya,
  7. Menajamkan tatapan mata kepada orang tua ketika marah atau kesal,
  8. Enggan berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya, dll.
Sebesar apa pun ibadah yang dilakukan oleh seorang anak, tidak akan mendatangkan manfaat baginya jika masih diiringi perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya. Karena Allah SWT menggantung semua ibadah itu sampai kedua orang tuanya ridha. 
Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup dan Allah membenci padamu banyak bicara dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)" [dari Mughirah bin Syu’bah ra, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]



Oma pun menghembuskan nafasnya yang terakhir disaat Dohan sedang berlibur bersama keluarga ke luar negeri. Mendapat berita tersebut, Dohan bersama keluarga menyingkatkan liburan mereka untuk kembali ke Indonesia. Entah mengapa Dohan mulai merasakan hampa (kehilangan Ibunya) dan sangat berdosa akibat perbuatannya selama ini kepada Oma. Air mata penyesalan pun tergenang dalam matanya ketika teringat rintihan sakit Oma yang sering diacuhkan dan bahkan dihardik oleh Dohan.

Dohan mulai kehilangan figur seorang Ibu yang setiap hari biasa menyapa dirinya. Namun apa mau dikata bahwa penyesalan senantiasa hadir belakangan. Akibat perbuatan (durhaka) nya kepada Oma, Dohan mulai merasakan akibatnya di dunia. Rasulullah SAW bersabda : "Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku zhalim, kedua memutuskan silaturahmi" [dari Abi Bakrah, diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim]


Dalam hadits lain dikatakan : "Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al’uquq (durhaka kepdada orang tua)".  [dari Anas bin Malik ra diriwayatkan oleh Hakim]   

Setelah 2 tahun Oma wafat, Dohan mulai merasakan nyeri dan terasa sangat lemah pada kedua kakinya. Berbagai macam pengobatan yang dilakukan hingga ke luar negeri, tidak menunjukkan adanya suatu kemajuan. Segala aktifitas usaha terpaksa dilakukan Dohan di rumah, sedangkan anak dan istrinya tetap rutin dengan kesibukan mereka masing-masing di luar rumah, meninggalkan Dohan dengan penyakitnya.

Untuk berjalan Dohan harus menggunakan bantuan alat berjalan atau menggunakan kursi roda yang dulu pernah dipergunakan oleh Oma. Dohan sangat merasakan kesepian di rumah dan meminta tolong kepada anak-istrinya untuk mengurangi kegiatan mereka untuk memperhatikan dan melayaninya di rumah, namun 'kesadaran mereka' hanya bertahan 1 minggu saja, selanjutnya mereka kembali hanyut dalam kegiatannya.

Sudah lebih dari 5 tahun Dohan mengalami penderitaan tersebut. Usaha yang telah dirintis lebih dari 30 tahun yang menjadi kebanggaannya selama ini, lambat laun mulai mengalami penurunan. Banyak proyek yang harus ditolak karena kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk 'terjun langsung' ke lapangan. Orang kepercayaan Dohan telah meninggalkannya dan telah mendirikan Perusahaan sendiri melanjutkan proyek yang ditolak oleh Dohan. Kesehariannya kini hanya menangis dan merenungi nasib akibat perbuatannya kepada Oma.

Lihatlah... bagaimana seorang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak menjadi berkah dan mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia. 

Rasulullah SAW bersabda : "Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah SWT (yang tidak diragukan tentang do’a ini) : (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a orang Musafir (=sedang dalam perjalanan), (3) do’a orang yang didzhalimi".  [dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud  dan Tirmidzi] 
Keridhaan orang tua seharusnya didahulukan daripada keridhaan istri dan anak. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa anak yang durhaka akan diadzab di dunia dan di akhirat serta tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.
Allah SWT berfirman : "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tuanya, Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". [Qs. al-Ahqaf : 15]

Kondisi Dohan saat ini sangat memprihatinkan dan sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam kesehariannya. Istri telah meninggalkannya dan anak masih terlalu sibuk dengan aktifitasnya sehari-hari. Kondisi keuangan mulai mengalami keterbatasan. 

Dohan telah pasrah akan sisa hidup dengan kesendiriannya...