06 July 2014

Debat Capres/Cawapres, Bermanfaatkah ?


Komisi Pemilihan Umum (KPU) sesuai Undang-Undang 42 Tahun 2008 (UU Pilpres) melakukan kegiatan debat atas calon Presiden dan calon Wakil Presiden di tahun 2014 untuk menunjukkan kepada rakyat mengenai kualitas Capres/Cawapres, sehingga rakyat Indonesia yakin dengan pilihannya. Dalam rangka penyebarluasan informasi dan KPU pun telah menentukan 11 stasiun televisi untuk menayangkan debat tersebut, yaitu : TVRI, TVOne, SCTV, RCTI, Indosiar, MetroTV, Berita Satu, ANTV, MNCTV, Kompas TV dan Global TV.  

Tidak seperti pemilihan Capres/Cawapres periode sebelum-sebelumnya, mungkin dikarenakan hanya terdiri dari 2 Capres/Cawapres, demokrasi di tahun 2014 ini dapat dikatakan penuh dengan bermacam fitnah, gibah, cacian, cercaan hingga keangkuhan yang tiada mendasar. Berbagai tulisan, komentar dan tontonan seakan memanjakan kita dalam menikmatinya, hingga para pengguna sosial media pun ikut meramaikan dengan status2 mereka.  

Sangat terlihat begitu rapuhnya kita, yang seakan ‘rela’ memperjuangkan sesosok manusia yang dianggap terbaik, sedangkan sesosok ‘pujaan’ tersebut tidak diketahui persis jati dirinya dan hanya berdasarkan dari ulasan media massa maupun mendengar dari orang lain. Entah apa yang ada di benak mereka, kukuh memperjuangkan sebuah sikap dan pernyataan yang hanya berupa ilusi yang semu.  

Islam melarang debat, kecuali perbedatannya memenuhi syarat-syarat berikut ini :
  1. Ikhlas semata-mata dalam membela dan meninggikan kalimat Allah, bukan dengan niat untuk menjadi populer, riya', atau ingin dipandang jago debat, hebat, cerdas dan alim (berwawasan luas).
  2. Orang yang berdebat harus mapan keilmuannya dalam masalah yang menjadi topik debat. Jika dia orang yang jahil, maka diharamkan atasnya.
  3. Bertujuan menemukan kebenaran dengan argumentasi yang berdasarkan nash al-Quran dan Hadits, bukan untuk menghinakan atau merendahkan.
  4. Tidak boleh berdebat dengan orang yang tidak "open mind" (pikirannya terbuka) dan tidak takabur (menentang kebenaran).
Nabi Sulaiman as. pernah mengingatkan anaknya bahwa debat dapat menimbulkan permusuhan : “Tinggalkanlah mira’ (jidal, berdebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara”. [HR. Ad-Darimi dan al-Baihaqi].  

Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian Beliau membaca (ayat, yang artinya) : ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’” [dari Abu Umamah ra, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah] 

Rasulullah SAW juga bersabda : "Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya”. [HR. Abu Daud]. 

Mungkin sarana berupa debat dapat dipergunakan dalam menilai kualitas Capres/Cawapres, namun sangat sedikit manfaat yang dapat diperoleh, sedangkan mudharatnya sangat besar sekali.  Masing2 Capres memaparkan visi dan misinya jika terpilih, berdasarkan dari (prestasi) kerja yang mereka emban saat ini dan belum terpilih menjadi orang no. 1... Sungguh sangat berbeda tugas dan tanggungjawabnya jika terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.  

Sedangkan salah satu sifat tercela yang banyak menjangkiti para pemimpin adalah perasaan takjub atau bangga diri terhadap kekuatan dan kebesaran namanya. Bangga diri merupakan salah satu tipu daya setan. Mari kita lihat kisah berikut dan seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita :  

Rasulullah SAW mengisahkan bahwa ada Nabi Allah yang diberi nikmat berupa pengikut yang banyak. Karena melihat seolah-olah kekuatan mereka tidak terkalahkan oleh musuh, timbullah rasa bangga dalam hatinya. Ia menyangka bahwa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan kekuatannya. Namun, tidaklah demikian seharusnya sikap seorang nabi. Sang Nabi di hukum akibat berbuat kesalahannya. Allah Azza wa Jalla menawarkan kepadanya untuk memilih salah satu dari tiga pilihan terkait dengan kaumnya yaitu :
  • memilih bahwa akan ada suatu kaum lain yang bisa mengalahkan mereka, atau 
  • mereka akan ditimpa paceklik panjang, atau
  • memilih ditimpakan kematian atas kaumnya.
Para Nabi dan Rasul adalah orang yang diberi petunjuk dan berkata benar. Nabi tersebut memilih untuk mereka sebuah pilihan yang paling tepat dan terbaik karena ia memilih pilihan ketiga yaitu ditimpakan kematian atas kaumnya. Ia tidak memilih untuk ditimpakan atas mereka kelaparan atau dikalahkan oleh musuh. Alasannya, kalaupun tidak mati hari ini mereka pun pasti akan mati pada hari-hari yang lain karena kematian adalah sebuah kepastian yang siapapun tidak akan bias mengelak dimana pun dia berada dan kapan pun juga. Orang-orang yang lebih dahulu diwafatkan akan berarap bahwa segala amal perbuatan mereka dapat diterima di sisi-Nya sedang orang-orang yang masih tinggal setelahnya akan menjadikannya sebagai sebuah nasihat dan peringatan baginya.  

Demikian pula, bisa jadi Allah Azza wa Jalla akan menambah lagi jumlah mereka yang sekarang tinggal sedikit karena segala perkara berada di tangan Allah Azza wa Jalla. Sang Nabi segera sujud kepada Allah Azza wa Jalla, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla untuk dipilihkan pilihan terbaik untuknya.  

Demikianlah kebiasaan para Nabi dan orang-orang yang shalih. Tatkala ditimpa kegundahan mereka bersegera menegakkan sholat. Sang Nabi sholat dengan bentuk sholat yang Allah kehendaki. Maka Allah memilihkan baginya pilihan yang paling ringan.  

Dia berkata kepada Rabbnya : “Wahai Rabbku, janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh kami atas kami, jangan pula Engkau timpakan kelaparan (atas kaumku), tetapi berilah kami kematian”.  

Maka tibalah saatnya musibah kematian datang kepada mereka sehingga meninggallah dari kaumnya tersebut dalam sehari sebanyak 70.000 orang. Sungguh akibat buruk dari perasaan bangga Sang Nabi sungguh menakutkan. Rasulullah SAW pun sangat khawatir akan terjadi pada kaumnya semisal apa yang telah terjadi pada kaum Nabi tersebut.  

Sesungguhnya bangga terhadap diri sendiri, harta dan anak keturunan adalah penyakit yang sangat jelek. Allah Azza wa Jalla berfirman : “… Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. [QS. at-Taubah : 25]  

Allah SWT berfirman : “Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri”. [Qs. al- Isra : 7]  

Ada ungkapan bijak yang mengatakan : ”Orang yang baik adalah bukan mengatakan dirinya baik, akan tetapi orang yang baik, adalah orang yang berusaha memperbaiki kekurangannya, sehingga menjadi baik”.  

Semoga kita semua terhindar dari hal-hal yang tidak baik tersebut diatas. Ingatlah menjadi orang terhebat itu biasa, karena hasilnya hanya dinikmati oleh diri sendiri. Tetapi menjadi orang yang bermanfaat itu baru luar biasa, karena hasilnya dapat dinikmati oleh banyak orang.