29 March 2015

Kisah Ibu Tias


Waktu telah menunjukkan tepat jam 01.00... seusai menjalankan Sholat Tahajjud di Masjid at-Tiin, aku pun bergegas untuk pulang. Dalam lorong jalan perjalanan menuju mobil, aku melihat ada 4 penjual minuman hangat dan mayoritas adalah Ibu-Ibu. Aku menghampiri salah satunya penjual tersebut yang bernama Ibu Tias (nama samaran).  

Aku sangat tertarik untuk mencari ilmu kehidupan dari mereka yang gigih mencari rezeki tanpa mengenal letih. Dalam mencari ilmu tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam pernah bersabda : “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkannya jalan menuju jannah”. [dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Muslim]  

Aku pun memesan teh hangat sambil mencoba mencari ilmu dari kehidupan Ibu Tias. Dan alhamdulillah... Beliau menceritakan kehidupannya dan memiliki profesi sebagai penjual minuman di Masjid at-Tiin.  

Suaminya telah wafat 3 tahun lalu dan dikaruniai 3 orang anak yang masing-masing berusia 20 tahun, 14 tahun dan 8 tahun. Anak yang berusia 20 tahun adalah lulusan SMP (tidak memiliki dana untuk melanjutkan sekolah ke SMA) dan keseharian anak sulungnya adalah bertugas untuk menjaga adik2nya di rumah yang berbeda dengan Ibu Tias. Hal ini disebabkan karena ketidak-mampuan Ibu Tias dalam membayar sewa rumah (Rp. 500.000 setiap bulannya), sedangkan Beliau hanya mampu membayar Rp. 150.000. Dengan nilai demikian Beliau terpaksa berbagi kontrakan dengan orang lain (yang juga penjual minuman di Masjid at-Tiin).  

Di tempat lainnya ada pemilik rumah (yang jarang ditempati) bersedia untuk dipakai rumahnya untuk ditempati oleh anak2nya Ibu Tias. Letak rumah tersebut cukup jauh dari kontrakan Ibu Tias, sehingga Ibu Tias mempercayakan anak sulungnya dalam mengasuh adik2nya ketika Ibu Tias mencari nafkah dan setiap 3 hari Ibu Tias datang mengunjungi mereka.  

Allah SWT berfirman : “Telah banyak kebaikan Alloh dan kemurahan-Nya atas seluruh makhluk-Nya. Yang di tangan-Nyalah kerajaan dan kekuasaan dunia dan akherat. Perintah dan hukum-Nya berlaku pada keduanya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian wahai manusia, siapa yang terbaik dan terikhlas amalannya ? Dia adalah Al-‘Aziz, yang tidak terkalahkan oleh siapapun, lagi Al-Ghofur, Maha mengampuni siapa yang bertaubat dari hamba-Nya”. [Qs. Al-Mulk : 1-2]  

Selepas ba’da Maghrib, Beliau mulai menjajakan minumannya di lorong Masjid at-Tiin hingga menjelang pagi. Dengan tidur selembar banner seukuran tubuhnya, Beliau gunakan sebagai alas tidur jika kantuk telah melanda.

Terkadang tidak ada satupun konsumen yang membeli dagangannya, namun tidak menyurutkan tekadnya untuk terus berusaha demi menafkahkan anak2nya. Dan yang indah dari penuturannya adalah Beliau tetap yakin akan ‘hadirnya’ Allah dalam dirinya dan ikhlas menerima segala ujian ini. Allah SWT berfirman : “Diantara manusia itu ada yang memasuki Islam dengan kelemahan dan keraguan, sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebimbangan dan keengganan, seperti seseorang yang berdiri di tepi gunung atau dinding tidak teguh dalam pendiriannya. Ia menambatkan agamanya dengan dunia. Jika ia hidup senang, sehat dan tercukupi, maka ia akan terus dalam ibadahnya. Jika tertimpa ujian atau cobaan dengan kesusahan dan sesuatu yang tidak disukainya, maka akan merasa sial terhadap agamanya, sehingga meninggalkannya dan tidak istiqomah lagi dalam memegangi agamanya. Maka ia pun menjadi merugi baik dunia maupun akheratnya, karena kekafirannya itu tidaklah bisa merubah apa yang telah ditakdirkan untuknya di dunia, sedangkan di akhirat nanti, ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Ini adalah kerugian yang nyata”. [Qs. Al-Hajj : 11]  

Semoga ujian yang dihadapi dan kesabaran Ibu Tias dapat menghapuskan dosa-dosanya dan insya Allah terangkat derajat dirinya di sisi Allah SWT. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam ditanya : “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berat ujiannya ? Beliau menjawab : “Para Nabi, kemudian yang seperti mereka dan yang seperti mereka. Maka seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka akan berat cobaannya dan jika agamanya ringan atau lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Senantiasa ujian dan cobaan itu menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di atas bumi ini dalam keadaan tidak mempunyai kesalahan”. [dari Sa’ad ra, diriwayatkan oleh Tirmidzi]  

Sungguh sangat berharga ilmu yang aku peroleh dari kehidupan Ibu Tias, semoga Allah SWT dapat mengangkat derajat Beliau untuk menjadi lebih baik dan segera dapat berkumpul bersama anak2nya setiap hari... amiin.

26 March 2015

Kesabaran dan Sholat

Dengan penuh pilu seorang pria terus berjalan untuk memperoleh ‘ruang rezeki’, kewajiban menafkahi dan menyekolahkan anaknya terus menjadi tekadnya untuk terus mencari. Segala macam cara dan usaha telah dilakukan, namun belum juga terbuka lebar ‘ruang rezeki’ untuknya dan entah mengapa selalu saja kandas pada saat realisasinya.

Hatinya menangis ketika terus menghiba kepada orang lain demi memenuhi kebutuhan hidup untuk anak dan istrinya. Bermacam cercaan, makian maupun umpatan pun harus diterimanya dengan ikhlas. Air mata seakan sudah tidak bisa lagi keluar karena seringnya mengucur dan membasahi pipinya.
 
Kekuatan hidupnya berasal dari surat dalam Al-Qur’an yang isinya : “Allah tidak membebani seseorag melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a) : ‘ Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”’. [Qs. Al-Baqarah : 286] 
 
Baginya ujiannya tidak memiliki arti jika disandingkan dengan ujian Nabi Ayub, yang menggambarkan sesosok manusia yang paling sabar, bahkan Allah SWT telah memuji Nabi Ayub dalam Al-Qur’an yang isinya : “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)”. [Qs. Shad : 44].
 
Pria tersebut tetap yakin bahwa ujian ini untuk menambah keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT, sebagaimana dalam suatu riwayat ketika seorang Sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam : “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam menjawab : “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa”. [dari Mush’ab bin Sa’id dari ayahnya, diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi dan Ahmad].
 
Semakin kuat iman akan semakin berat cobaan dan Allah akan semakin cinta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha, maka Allah pun ridha. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut), maka baginya murka Allah”. [dari Anas bin Malik, diriwayatkan oleh Tirmidzi].
 
Sabar atas ujian hidup justru semakin membuatnya menjadi tegar. Dia tidak pernah mengatakan bahwa ‘ini adalah musibah’ tetapi dia selalu menyampaikan ‘ujian ini untuk menambah keimanan dan ketaqwaan’. Allah justru masih memberinya kesehatan, diberikan waktu untuk bermuhasabah dan semakin tawadhu’.
 
Baginya kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran. Jalan keluar datang bersama kesulitan. Dan dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan, karena janji Allah adalah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. [Qs. Al-Baqarah : 155]
 
Dia tetap berlapang dada dan memiliki ketabahan yang besar dalam menghadapi ujian tersebut dan terus memohon solusi kepada Allah dengan sabar dan Shalat.