29 October 2015

45 Tahun... Bermanfaatkah ?


Usia berlalu seiring dengan hembusan nafas yang dikeluarkan dan aku mempunyai kewajiban dan tanggung-jawab yang besar dalam menjalankan kehidupan ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani. Dia menjadikanmu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah muda”. [Al-Qur’an surah Faathir : 11] 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam pernah ditanya oleh seorang Sahabat : “Wahai Rasulullah, bagaimana kriteria orang yang baik itu ?” Beliau menjawab : “Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Apabila memiliki kekayaan, hartanya tidak dinikmati sendiri, tapi dinikmati pula oleh tetangga, sanak famili dan juga didermakan untuk kepentingan masyarakat dan agama. Jika berilmu, ilmunya dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Jika berpangkat, dijadikannya sebagai tempat bernaung orang-orang disekitarnya dan jika tanda tangannya berharga maka digunakan untuk kepentingan masyarakat dan agama, tidak hanya mementingkan diri dan golongannya”.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain sudah sewajarnya jika diriku mengikuti filsafat Beliau. “Menanam rumput untuk makanan ternak, maka akan mendapatkan rumput, namun tidak memperoleh padinya, sebaliknya jika menanam padi, maka akan mendapatkan padi dan sekaligus rumputnya, karena rumput tanpa ditanam akan tumbuh sendiri”.

Semua orang sangat menginginkan kebahagiaan. Namun untuk mendapatkan kebahagiaan bukanlah mudah tanpa melakukan usaha. Dan modal awal dari kebahagiaan itu adalah usia yang telah diberikan Allah kepadaku. Jika aku bisa memanfaatkan umur dalam ketaatan kepada Allah, insya Allah akan memperoleh kebahagiaan tersebut.

Seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah SWT ?” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam menjawab : “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan.

Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan)”. [dari Ibnu Umar, diriwayatkan oleh Thabrani].

Tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada hanyalah usiaku yang semakin berkurang. Mengapa manusia selalu berpikir bahwa umur terus bertambah, namun tidak memikirkan ajal yang semakin dekat ?

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda : “Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti Musyafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu Musyafir tersebut pergi meninggalkannya”. [HR. Tirmidzi]

Berapa lama dari umur ini yang dipergunakan untuk Ibadah pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala ? Cermin pun menyapaku : lihatlah wajah yang mulai kendor, rambut mulai kelabu menyambut putih, gigi semakin berjarak, penglihatan mulai memudar dan pendengaran mulai berkurang, menandakan semakin dekatnya diri untuk mempertanggung-jawabkan semua yang telah kuperbuat di dunia ini.

Ajalku yang semakin dekat, namun bagaimanakah dengan amalku selama hidup ini ?

“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii”

(Yaa Allah.. ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Yaa Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan).