21 November 2015

Tulisan Singkat Pendampingmu



Setelah 2 hari berselang, seluruh mata dunia masih terpaku akan berita yang disiarkan oleh berbagai Televisi. Pada saat itu kami (Papa & Mama) berada di dalam kamar menyaksikan peristiwa tersebut (WTC : 11 September 2001), namun Papa merasakan ada sesuatu yang tidak biasanya dari Mama yang sering keluar-masuk kamar mandi. Papa pun meminta Mama (mohon maaf) untuk membuka celana dalamnya yang basah dan memeriksanya. Papa merasa inilah saatnya kami harus segera ke Rumah Sakit Asih, Jakarta Selatan. Koper berisi perlengkapanmu dan Mama telah Papa persiapan 3 bulan sebelumnya.

Kamis, tgl. 13 September 2001 jam 22.00, kami telah tiba di Rumah Sakit Asih. Selang 1 jam kemudian Ompung Papa, Bou Vita dan Amangboru John telah hadir untuk memberikan semangat dan menantikan kehadiranmu. Mama sama sekali tidak merasakan adanya kontraksi pada saat itu, namun Papa lebih nyaman jika Mama telah berada di Rumah Sakit.

Hari Jum’at, tgl. 14 September 2001 jam 05.00, Mama mulai merasakan mules pada perutnya dan 1 jam kemudian Mama dibawa ke kamar operasi dengan Papa disampingnya dan ditangani oleh Dokter Kandungan, Arie Doodoh. Papa terus memberikan Mama semangat dan alhamdulillah Mama sangat tenang dan tidak merintih-rintih selayaknya orang lain yang ingin melahirkan. Sambil bersenandung, Dokter Arie Doodoh juga dengan tenangnya membantu mengeluarkan dirimu keluar dari rahim Mama. Tepat jam : 07.48 dirimu lahir di dunia ini sayangku.

Kupeluk dirimu dan kusampaikan ayat-ayat al-Qur’an dengan adzan di telingamu sambil berdo’a semoga dirimu menjadi anak yang soleha, berilmu dan menjadi kebanggaan keluarga maupun semua orang. Diluar sana telah bertambah yang datang : Gaek, Andung, Bou Melly dan Uda Irfan. Dan terus berdatangan semua Teman-teman Papa/Mama dan Saudara lainnya.

Namamu telah Papa persiapkan sejak dalam kandungan Mama : ‘Aisyah Donita Minallah Harahap (‘Aisyah : istri Rasulullah SAW yang cantik dan pewaris hadits; Donita : penggabungan nama Papa dan Mama, irDON dan vinITA; Minallah  : kembali kepada Allah dan Harahap : merupakan garis Marga keturunanmu). Namun dikarenakan namamu terlalu panjang untuk diisi dalam Akte Kelahiran, maka menjadi ‘Aisyah Donita Minha Harahap (Minha = Minallah) dan nama panggilanmu adalah ONNY (nama panggilan kesayangan Ompung Mama), semoga dirimu banyak mencontoh kebaikan yang ada dalam diri Ompung Mama… insya Allah amiin.

Setiap malam Papa gendong dan Papa baringkan dirimu di atas dada Papa agar dapat nyaman dalam tidur nyenyakmu. Terkadang di kantor, Papa merasakan ngantuk yang teramat sangat, namun Papa menikmatinya, karena begitu bangganya Papa akan kehadiran dirimu. Hingga saat ini pun dirimu merasa nyaman dan tertidur pulas jika Papa mengusap kepala dan punggungmu.
 
Kini dirimu telah beranjak dewasa, namun tidak akan pernah lekang kasih sayang Papa kepadamu. Walau syurga tidak berada dibawah telapak kaki Papa, namun selalu do’a yang paling terbaik dari yang terbaik untuk hidupmu selalu Papa panjatkan kepada Allah SWT.

Jangan pernah dirimu melawan dan membantah Mama, karena tidak akan pernah sanggup dirimu dapat menggantikan (betapa besar) perjuangan Mama dalam melahirkan dirimu ke dunia ini. Sayangi, cintai dan peluklah Mama selalu dengan segala ketulusan hatimu, sayangku.

Jika suatu saat nanti Papa tidak dapat menemanimu lagi, bacalah tulisan ini sebagai pendamping hidupmu bahwa Papa senantiasa hadir disampingmu, menemanimu dan senantiasa mendo’akan yang terbaik untukmu : anakku, cintaku, sayangku dan pelita hatiku. 

Silaturrahim yang telah Papa rajut dengan semua Saudara, Sahabat, Teman dan lainnya (telah diabadikan dalam Facebook Papa) akan memudahkan dirimu untuk melanjutkannya. Bersyukur selalu kepada Allah SWT dan tetaplah tawadhu' sayangku.


 
- Papa -

08 November 2015

Menjadi Karyawan Ataukah Berdagang ?

Saat menikmati mie ayam di daerah Cijantung, 2 Driver dari aplikasi online menelepon dan menghampiriku untuk mengambil paket yang hendak aku kirimkan kepada konsumen, yang sebelumnya telah dipesan via HP Androidku.

Seorang yang mengaku karyawan Bank bernama Fredy (nama samaran) melihat hal tersebut dan menanyakan kepadaku kenapa tidak menggunakan salah produk jasa pengiriman yang sudah malang melintang di Indonesia.

Aku pun mengutarakan secara berurutan mengapa memilih pengiriman dengan aplikasi online. Banyak nilai positif sehingga aku lebih memilih hal tersebut, yang salah satunya adalah biaya yang lebih murah (promo) dan juga efisiensi waktu, karena barang lebih cepat tiba di tujuan tanpa menunggu hari berikutnya.

Merasa tertarik, Fredy pun ingin menggali informasi mengenai berwiraswasta khususnya dalam hal berdagang. Berdagang adalah profesi yang mulia dalam Islam. Buktinya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam sendiri adalah pedagang dan juga banyak para Shahabat yang merupakan pedagang. Abu Bakar radhiallahu’anhu adalah pedagang pakaian. Umar radhiallahu’anhu pernah berdagang gandum dan bahan makanan pokok. ‘Abbas bin Abdil Muthallib radhiallahu’anhu adalah pedagang. Abu Sufyan radhiallahu’anhu berjualan udm (camilan yang dimakan bersama roti).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri”. [dari Al-Miqdam ra, diriwayatkan oleh Bukhari]

Aku pun memberikan contoh yang sangat sederhana dalam perbandingan perhitungan waktu serta penghasilan antara bekerja (menjadi karyawan) dan berdagang.

Bekerja (menjadi karyawan)

Waktu yang dipergunakan setiap hari :

- Bekerja jam 08.00 s/d jam 16.00   = 8 jam
- Durasi rumah ke kantor                  = 2 jam
- Durasi kantor ke rumah                  = 2 jam
                              Total                  = 12 jam

Estimasi Gaji = Rp. 15.000.000,- /bulan

Biaya transportasi (Bus/Angkot/Ojek)
= Rp. 20.000,- x 20 hari = Rp. 400.000,-

Pencapaian gaji per-hari setelah dikurangi biaya transportasi =
(Rp. 15.000.000,- - Rp. 400.000,-) / 20 hari = Rp. 730.000,- /hari

Sehingga untuk per-jamnya sebesar Rp. 60.833,-

Karena saat itu aku sedang menikmati mie ayam, maka digunakan sebagai pembanding.

1 mangkok mie ayam = Rp. 11.000,-
Minuman                   = Rp.   4.000,-
                     Total            = Rp. 15.000,-

Keuntungan 50% = Rp. 7.500,- /sajian (mie ayam + minuman)

Perbandingan menjadi karyawan dengan berdagang mie ayam, adalah sebagai berikut :

Upah yang diterima seorang karyawan dengan gaji Rp. 15.000.000,- = Rp. 60.833,- /jam ekuivalen dengan berdagang hanya dengan 8 mangkok (mie ayam + minuman) /jam. Sedangkan rata-rata pembeli yang datang sekitar 12 – 14 orang setiap jamnya atau setiap 5 menit ada yang membeli 1 mangkok mie ayam.

Berdagang mie ayam dalam mencapai minimal penjualan bersih sebesar Rp. 15.000.000,- /bulan dengan jam operasional selama 8 jam/hari, adalah sebagai berikut :

13 mangkok x Rp. 7.500,- x 8 jam = Rp. 780.000,- /hari atau Rp. 15.600.000,- /bulan.

Selama ini Fredy sering meremehkan seorang penjual mie ayam karena terlihat kurang intelek dan lusuh. Ternyata penghasilan yang diterima justru lebih baik dari pendapatannya setiap bulan yang bekerja di sebuah kantor yang nyaman.

Allah Ta’ala berfirman dan memberikan kita petunjuk dalam berakhlak baik :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik”.  [Al-Qur;an surah Al-Hujurat : 11]

Memang ada plus minusnya untuk masing-masing profesi tersebut dan tinggal bagaimana masing-masing individu nyaman memilih untuk kehidupannya karena keduanya sama-sama baik, jika dijalani secara amanah dan mengikuti aturan agama.

Namun mencari rezeki dalam berdagang oleh sebagian Ulama dikatakan sebagai mata pencari yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda :

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ « عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ »
“Ada yang bertanya pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam : “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik ?” Beliau bersabda : “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi)”. [dari Rafi’ bin Khadij, diriwayatkan oleh Ahmad, Ath Thabrani dan Al Hakim]

Semoga Allah selalu mendatangkan keberkahan dalam setiap langkah kita dalam menggapai ridha-Nya... amiin.