02 October 2016

Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam untuk berpuasa.

”Sewaktu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam berpuasa pada hari Asyura' lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam memerintahkan (para Shahabat) untuk berpuasa”. Para Shahabat bertanya : ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam menjawab : ”Untuk tahun depan, insya Allah kita berpuasa (juga) pada hari kesembilan”. Ibnu Abbas berkata : ”Ternyata tahun depan tidaklah menemuinya hingga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam wafat”. [dari Ibnu Abbas ra, diriwayatkan oleh Muslim]

Hari Asyura’ adalah hari kesepuluh di bulan Muharram yang memiliki keutamaan yang besar, diantaranya :
  1. Pada hari Asyura’ Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil serta menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya. “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam tiba di kota Madinah dan Beliau menjumpai orang Yahudi dalam keadaan berpuasa pada hari Asyura’. Maka Beliau bertanya kepada mereka : “Hari apa ini yang kalian berpuasa di dalamnya ?” Mereka menjawab : ”Ini merupakan hari yang agung dimana Allah Ta’ala menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya, sehingga Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur, sehingga kami pun berpuasa sebagaimana Beliau”. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda : ”Kami lebih berhak terhadap Musa dari kalian”. Beliau pun berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkannya”. [dari Ibnu Abas ra, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]
  2. Puasa di hari Asyura’ dapat menghapus dosa setahun. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda mengenai puasa di hari Asyura’ : “Aku berharap bisa menghapus dosa setahun sebelumnya”. [HR. Muslim]
  3. Puasa di hari Asyura’ merupakan puasa yang sangat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam inginkan keutamaannya dibandingkan hari lain. Ketika Ibnu Abas ra ditanya tentang puasa di hari Asyura’, maka beliau menjawab : “Tidaklah aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada satu hari yang sangat Beliau inginkan mendapat keutamaannya dibandingkan hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari Asyura’ dan bulan Ramadhan”. [dari Ibnu ‘Abbas ra, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]
Disunnahkan untuk berpuasa di tanggal sembilan Muharram beserta tanggal sepuluhnya, karena hal ini merupakan keadaan akhir yang dilakukan Nabi ketika melakukan puasa Asyura’. 
 
Mengenai berpuasa pada tanggal 1 Muharram, tidak terdapat dalil khusus yang menyebutkan bahwa berpuasa pada hari pertama (tanggal 1) dari bulan Muharram adalah sunnah, akan tetapi yang disebutkan dan disunnahkan adalah memperbanyak berpuasa di bulan Muharram. Jika seseorang melakukan puasa pada tanggal 1 Muharram karena anjuran memperbanyak puasa di bulan ini (dan bukan karena kekhususan tanggal 1 Muharram), maka ia telah melakukan sunnah berdasarkan hadits dari Abu Hurairah di bawah ini. 
 
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda : "Puasa yang paling afdhol setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah al Muharram dan Shalat yang paling afdhol setelah Shalat fardhu adalah Shalat malam”. [dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Muslim]

Wallahu a'lam.

03 August 2016

Manfaat Positif Media Sosial

Mungkin kita menganggap sepele media sosial maupun masuk dalam group chat. Terkadang pula kita merasa terganggu akibat guyonan basi, pengulangan tulisan atau lainnya. Jika 5 menit saja kita mau merenungkan segi positifnya, mungkin kita bersyukur karena dengan media itu secara tidak langsung kita bisa ikut merasakan 'mereka' (teman atau saudara) tersebut 'hadir' di dekat dengan kita.

Seiring dengan berjalannya waktu... satu persatu mereka pun meninggalkan kita bertemu Sang Pencipta, meninggalkan tulisan yang kita anggap guyonan basi, pengulangan tulisan atau lainnya.

Janganlah pernah 'merasa hebat' akan diri sendiri sehingga terlalu mudah bagi kita menganggap sepele sesuatu yang nantinya akan dapat menjadi kenangan terindah dalam kehidupan kita. Berpikirlah positif dan matang bahwa kita adalah makhluk sosial yang sangat butuh manusia lainnya dalam menjalani kehidupan ini. Buka mata, pikiran, diri dan tangan kita... lakukan yang terbaik untuk sisa hidup ini.

Mari memperbanyak silaturrahim... dengan terus mencari teman, saudara, guru, tetangga dan orang2 yang pernah dekat dengan bahkan pernah menolong kita, rangkul mereka semua dengan senyum dan bantu dengan semaksimal kemampuan tenaga dan hati kita.

Semoga kita semua menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan bijaksana dalam kebijakan yang ada dalam diri kita.
 

10 July 2016

Ketentraman Hati dan Keikhlasan (Bagian : 1)


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Al-Qur’an surah Al-Baqarah : 155-157]    

Hidup ibarat mendaki dan menuruni sebuah gunung, kadangkala kita merasa bahagia, kadangkala kita mendapat musibah. Di kala kita berada di puncak gunung (kesuksesan), kita merasa mudah dan bahagia dalam menjalankannya. Diri kita disanjung-sanjung oleh banyak orang yang ingin mendekat dengan kita. Segala kebutuhan dan keinginan kita terasa sangat mudah terpenuhi.  

Di tengah perjalanan dalam mendaki atau menuruni gunung tersebut kita tergelincir (mendapatkan ujian), berupa : musibah, penyakit hingga kekurangan harta ? Tidak akan kita menemukan sanjungan dari orang-orang yang dahulu pernah mendekati kita dan kini satu persatu mereka semakin menjauh. Kekayaan yang sebelumnya sangat mudah didapat, kini sangatlah sulit. Kemewahan berganti kesengsaraan dan kelaparan. Dalam posisi ini, sebagian besar dari kita akan mengeluh dan memaki keadaan. Padahal disaat itulah sesungguhnya iman kita tengah diuji.  

Hal tersebut pernah dan mungkin hingga saat ini masih aku rasakan. Semenjak memutuskan berhenti dari Perbankan pada tahun 2008, satu persatu teman maupun Saudara mulai menjaga jarak dan semakin menjauh, karena (mungkin) mereka menganggap tidak ada kepentingan lagi kepadaku. Tapi entah mengapa, aku sama sekali tidak menghiraukan hal tersebut karena hatiku sangat begitu plong dan bahagia setelah mengambil keputusan tersebut, karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Harta, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah, anak dan keluarga, semuanya merupakan ujian dari Allah dan Allah menitipkannya kepada kita.

Memang aku akui, dari segi materi (dunia), bekerja di Perbankan lebih menjanjikan dan disegani oleh banyak orang, karena begitu banyak keterkaitan kepentingan didalamnya baik dalam operasional usaha hingga menjadi partner berbisnis. Kini dalam berwiraswasta (berdagang) walau masih belum atau belum mampu menjangkau “kejayaan” semasa bekerja dulu, namun ada satu kenikmatan yang dahulu tidak pernah aku dapatkan dan rasakan, yaitu ketentraman hati dan keikhlasan.  

Ketentraman hati (ketenangan jiwa) menjadi semakin indah karena memiliki lebih banyak waktu dalam beribadah, berdzikir kepada kepada Allah Ta’ala, membaca al-Qur’an, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang Maha Indah dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.  

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. [Al-Qur’an surah Ar-Ra’du : 28]   

Apalagi pada saat itu aku sedang membaca tulisan dari salah seorang ulama Salaf yang isinya : “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”. Maka ada yang bertanya : “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini ?” Ulama ini menjawab : “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”. [Imam Ibnul Qayyim dalam kitab : Igaatsatul lahfaan]  

Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun mencuci bersih semua harta yang pernah aku peroleh semasa bekerja di Perbankan (saat itu usiaku akan memasuki 40 tahun). Bermacam-macam peristiwa pun aku lalui, Listrik yang diputus oleh PLN, mendapatkan surat peringatan dari sekolah anakku karena belum membayar SPP, menahan kelaparan dan lain sebagaimana. Hampir setiap hari, tetesan air mata ini mengalir menahan kegetiran hidup, apalagi tak kuasa melihat dan mendengar tangisan pilu dan kelaparan dari istri dan anakku.  

Imanku tetap yakin dan percaya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedang membersihkan keburukan akhlakku, kotoran jiwaku dan perbuatan jahiliyyahku dan ingin mengeluarkanku dari kegelapan untuk menuju cahaya-Nya (hidayah Allah), karena pada saat itu aku membaca tafsir Al-Qur’an, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. [Al-Qur’an surah Yuunus : 57].  

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa perumpaan petunjuk dari Allah Ta’ala yang Beliau bawa seperti laksana air hujan yang Allah Ta’ala turunkan dari langit. Hujan yang turun akan menghidupkan dan menyegarkan tanah yang kering, sebagaimana petunjuk Allah Ta’ala akan menghidupkan dan menentramkan hati manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…“ [HR. Bukhari dan Muslim]  

Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan pemilik yang sebenar-benarnya atas segala sesuatu apapun yang ada di dunia ini dan semuanya merupakan titipan-Nya kepadaku. Dan yang namanya titipan, pada suatu saat nanti pasti akan kembali pada pemilik-Nya, kapan pun pemilik-Nya menghendaki atau mau mengambil dariku, maka aku harus dengan ikhlas memberikannya.   

Menjalani kesusahan hidup sebagai pengalaman pertama dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan untukku, pasti akan ada hikmah dengan pahala yang menyertainya.  

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya”. [HR. Tirmidzi] 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda : “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang Muslim, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa”. [HR. Tirmidzi]  

 
Bersambung...

02 July 2016

Ya Allah... Ampunilah Aku


Tahun 2016 ini mungkin merupakan yang terberat dalam hidupku. Begitu banyak kesedihan silih berganti mampir menghiasi kehidupanku. Bukan materi atau hal apapun yang berhubungan dengan dunia, namun entah mengapa begitu kuat desakan air tanpa izin sering mengalir dari mata, seperti ada sesuatu yang hilang dalam diriku.  

Bulan Ramadhan adalah merupakan puncak kesedihanku. Lembaran demi lembaran masa lalu mampir tak di undang, seakan menunjukkan begitu bodohnya diriku yang terlalu tenggelam dengan nikmatnya dunia yang semu. Ditambah lagi kejadian peristiwa demi peristiwa : meninggalnya orang yang aku sayangi, perginya orang yang aku sayangi, dipertemukan kepada orang yang aku sayangi sedang mengalami sakit kronis namun tidak mau tuntas dalam pengobatannya dan sebagainya dan sebagaimana dalam lingkaran mereka-mereka yang sangat begitu dekat di kehidupanku.  

Bagaimana dengan ibadahku ? Apakah ini petunjuk bagiku untuk semakin menambah keimananku untuk lebih mengevaluasi diri ? Aku teringat akan sebuah riwayat :
 
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا
 
Umar bin Khatab ra berkata : “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia”.

Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Qur’an surah Al-Hasyr : 18]  

Selama ini aku terlalu bangga dengan pencapaianku dan terkadang menyelisihi kebenaran serta bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu banyak kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang aku perturutkan.  

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pernah bersabda : “Suatu ketika seorang Raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri.  

Kemudian, Raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, Raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang Raja pun berkata kepadanya : “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama”. [dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Ahmad].  

Inti dari hadits tersebut adalah melapangkan hati terhadap kebaikan dengan mengutamakan akhirat daripada dunia. Aku merupakan makhluk yang lemah, sering mempertahankan ego dan terkadang memiliki sikap yang berubah-ubah. Syukur alhamdulillah, aku masih diberikan waktu untuk mengevaluasi diri untuk berbuat dan melakukan sesuatu yang diridhai Allah karena aku tidak tahu berapa lama lagi sisa umurku.  

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia Telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.  [Al-Qur’an surah Ali Imran : 185]

25 June 2016

Kisah Si Penderita Kusta, Si Botak dan Si Buta

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda : "Ada tiga orang dari Bani Israil : seorang penderita kusta, seorang yang botak karena rontok rambutnya dan seorang buta. Allah ‘Azza wa jalla ingin menguji mereka, maka Allah mengutus kepada mereka seorang Malaikat". 
 
Malaikat tersebut mendatangi si penderita kusta dan bertanya : “Apakah hal yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Warna kulit yang bagus dan kulit yang bagus. Orang-orang telah merasa jijik terhadapku”. Malaikat itu lalu mengusap orang tersebut sehingga sembuhlah penyakitnya, warna kulitnya menjadi bagus dan kulitnya menjadi bagus. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Unta”. Lalu dia diberikan seekor unta betina yang tengah hamil. Malaikat berkata : “Semoga engkau mendapatkan berkah pada unta tersebut”. 
 
Kemudian Malaikat pergi mendatangi orang yang botak dan bertanya : “Apakah hal yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Rambut yang bagus dan hilangnya kebotakan ini. Orang-orang telah merasa jijik terhadapku”. Malaikat itu lalu mengusap orang tersebut sehingga sembuhlah penyakitnya dan diberikan rambut yang bagus. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Sapi”. Lalu Malaikat itu memberikan seekor sapi betina yang tengah hamil kepadanya. Malaikat berkata : “Semoga engkau mendapatkan berkah pada sapi tersebut”. 
 
Kemudian Malaikat pergi mendatangi orang yang buta dan bertanya : “Apakah hal yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Allah mengembalikan kepadaku penglihatanku sehingga aku bisa melihat Manusia”. Malaikat itu lalu mengusap orang tersebut dan Allah mengembalikan kepadanya penglihatannya. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Kambing”. Lalu Malaikat itu memberikan seekor kambing betina yang tengah hamil kepadanya. 
 
Setelah itu, beranaklah unta, sapi dan kambing tersebut sehingga si penderita kusta memiliki unta yang sangat banyak, si kepala botak memiliki sapi yang sangat banyak dan si buta memiliki kambing yang sangat banyak pula. 
 
Beberapa waktu kemudian, datanglah Malaikat itu kembali kepada si penderita kusta (yang telah sembuh) dalam wujud dan penampilan yang sama seperti dahulu. Dia berkata : “Aku ini adalah orang miskin dan perbekalanku telah habis dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat membantuku untuk melanjutkan perjalananku pada hari ini kecuali dengan pertolongan Allah setelah itu dengan pertolongan anda. Aku meminta kepadamu demi yang telah memberikan kepadamu warna kulit yang bagus, kulit yang bagus dan harta seekor unta agar aku dapat melanjutkan kembali perjalananku”. 
 
Si penderita kusta itu menjawab : “Sesungguhnya orang yang menjadi tanggunganku banyak”. Malaikat itu berkata : “Sepertinya aku mengenalmu. Bukankah engkau dahulu menderita penyakit kusta sehingga orang-orang menjauhimu dan engkau dahulu miskin, lalu Allah memberikan kesembuhan dan harta kepadamu ?” Orang itu menjawab : “Harta ini semuanya aku warisi dari orang tuaku dari kakekku”. Malaikat berkata : “Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu yang dahulu”. 
 
Kemudian Malaikat itu mendatangi si botak (yang telah sembuh) dalam wujud dan penampilan yang sama seperti dahulu. Dia berkata kepadanya seperti apa yang dia katakan kepada si penderita kusta dan si botak menolak dengan perkataan yang sama seperti apa yang dikatakan oleh si penderita kusta. Malaikat berkata : “Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu yang dahulu”. 
 
Setelah itu, Malaikat itu mendatangi si buta (yang telah sembuh) dalam wujud dan penampilan yang sama seperti dahulu. Dia berkata : “Aku ini adalah orang miskin dan perbekalanku telah habis dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat membantuku untuk melanjutkan perjalananku pada hari ini kecuali dengan pertolongan Allah setelah itu dengan pertolongan anda. Aku meminta kepadamu demi yang telah mengembalikan kepadamu penglihatanmu, seekor kambing agar aku dapat melanjutkan kembali perjalananku”. 
 
Lelaki itu menjawab : "Dahulu aku adalah seorang yang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku kepadaku. Dahulu aku adalah seorang yang miskin, lalu Allah memberikan kekayaan kepadaku. Maka silakan ambil apa yang engkau inginkan. Demi Allah, hari ini aku tidak akan membebani dirimu dengan apapun yang engkau ambil karena Allah". 
 
Malaikat tadi menjawab : “Simpanlah hartamu ini. Sebenarnya kalian itu sedang diuji oleh Allah. Allah telah ridha terhadapmu dan marah terhadap dua temanmu yang lain”.
[dari Ishaq bin Abdillah, dari Abdurrahman bin Abi ‘Amrah, dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim] 
 
Inti yang terkandung dari kisah ini adalah kita wajib mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
 
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar kepada-Nya kalian menyembah”. [Al-Qur'an surah Al-Baqarah : 172] 
 
Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
 
إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
 
“Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian. Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan”. [Al-Qur'an surah Al ‘Ankabut : 17] 
 
Bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan taat menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Perwujudan syukur itu dapat dilakukan dengan cara : 
  •  Meyakini dengan sepenuh hati bahwa nikmat itu berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. 
  • Dengan lisan kita memuji Allah atas segala nikmat yang telah Dia diberikan kepada kita.  
  • Menggunakan kenikmatan tersebut untuk ketaatan dan membuat kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • Membagikan sebagian kenikmatan itu kepada orang-orang selain kita dengan menyalurkannya berupa : zakat, infak dan sedekah.
Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang mengingat nikmat Allah Ta’ala dengan bersyukur.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ .
 
“Ya Allah ! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, syukur kepada-Mu dan ibadah yang baik untuk-Mu.”
 
 
 
disadur dari Al-Qur'an, Hadits dan berbagai sumber.

11 June 2016

Keterikatan, Sayang dan Takdir Allah


Nodi sangat menyukai Anty pada saat mereka pertama kali bertemu. Entah getaran apa yang membawa hati Nodi untuk mengenal lebih dalam diri Anty. Apabila mereka berpapasan tak kurang senyum terpancar dalam wajah mereka. Kelas mereka saling berseberangan dan sesekali keduanya sering melirik sekedar ingin mengetahui apa yang dikerjakan oleh mereka masing-masing pada saat itu.  

Pada saat yang bersamaan Ditta (adik kelas) sangat menyukai Nodi dan keduanya merupakan anggota salah satu di kegiatan sekolahnya dan hampir setiap hari Ditta memberikan perhatian penuh kepada Nodi, namun hati Nodi memang sudah melekat kepada Anty.  

Suatu hari Anty ingin menemui temannya yang kebetulan sekelas dengan Nodi. Dengan mencoba bercanda Nodi berusaha menutup jalan Anty dengan meja yang membuat kemurkaan Anty yang teramat sangat. Nodi pun tersentak dengan segala kalimat pedas yang keluar dari mulut Anty. Beberapa teman di kelas pun langsung tertuju matanya melihat kejadian tersebut yang membuat perasaan sedih Nodi dan malu yang teramat sangat.  

Ditta yang hampir setiap hari memberikan perhatian penuh kepada Nodi terus berusaha dengan kemanjaannya untuk selalu dekat dengan Nodi. Sering Anty melihat kejadian tersebut sehingga membuat jarak mereka pun semakin renggang. Terlihat sekali wajah tidak senang Anty kepada Nodi. Namun Nodi berusaha untuk mencari jalan untuk berusaha terakhir kalinya untuk menyatakan perasaannya kepada Anty walau dengan konsekwensi apapun yang terjadi.  

Beberapa dari adik kelas Nodi berusaha mencari perhatian kepada Nodi dan satu diantaranya malah terang-terang sering menelepon Nodi. Ibarat minum obat, setiap harinya Nodi di telepon oleh adik kelasnya (yang hingga kini tidak diketahui namanya) yang akhirnya membuat kesal Mama Nodi. Sedangkan menurut Nodi adalah wajar karena adik kelasnya ingin mengambil hatinya. Nodi sendiri hanya menganggap mereka sebagai adik sendiri, hatinya sudah kadung menyukai Anty dengan segala karakter uniknya.  

Selang beberapa waktu, Anty menelepon Nodi untuk menanyakan kepastian pertemuan mereka. Mungkin karena terlalu kesal dengan telepon terus menerus dari adik kelasnya Nodi, Anty yang tidak tahu sama sekali langsung dimarahin oleh Mama Nodi.  

Sesampainya di rumah, Mama Nodi langsung menyampaikan bahwa Mama Nodi telah memarahi adik kelasnya yang sering mengganggu Nodi. Perasaan Nodi terasa tidak enak mendengar berita tersebut, karena pada saat itu dia sedang berjanji dengan Anty untuk bertemu. Dan apa yang di khawatirkan Nodi pun ternyata nyata, Anty kembali marah kepada Nodi karena Mama Nodi memarahinya. Pembicaraan pun terus melebar.. Anty bertanya siapa nama adik kelas yang terus mengganggu Nodi... Nodi yang sok keren... bla bla bla... ininya rencana “ngedate” itupun batal dengan sukses. Hiks. 

Mereka pun dipisahkan sementara oleh waktu karena masing-masing memilih kuliah sesuai dengan impiannya. 4 tahun kemudian, Anty didatangi oleh Sanny (salah satu Sahabat Nodi) di rumahnya dan menyampaikan bahwa Nodi sedang diopname dengan keadaan cukup mengkhawatirkan.    

Nodi terkesima dengan kehadiran Anty dan sama sekali tidak menyangka bahwa Sanny memberikan kejutan yang luar biasa. Ternyata Sanny mengatakan ke Anty bahwa Nodi menyukai Anty sangat dalam, namun sayang saat itu Nodi telah memiliki kekasih. Kunjungan Anty membuat semangat Nodi untuk berusaha sembuh dari penyakitnya. Dengan membawa infus, Nodi pun mengantarkan Anty ke depan pintu Rumah Sakit pulang bersama Sanny.  

Entah mengapa setiap ada peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Nodi, Anty selalu saja hadir pada saat yang tepat dan semuanya sepertinya sudah diatur Allah untuk kehidupan Nodi. Seperti saat Mama tercinta wafat, disaat itu Anty menelepon hanya sekedar menanyakan kabar Nodi dan tidak menyangka pada waktu Nodi sangat sedih dan terhibur dengan menerima telepon dari Anty dan lain-lain.  

Hubungan mereka diibaratkan seperti keadaan air laut yang sering pasang-surut... pertengkaran-pertengkaran kecil yang sering tidak jelas, dapat mengakibatkan hubungan mereka renggang. Hingga pada suatu saat Anty kembali menelepon Nodi. Entah mengapa Nodi selalu menurut setiap Anty menulis sms atau telepon. Jika Nodi tidak merespon segera, maka Anty pun kembali ngambek yang tidak jelas... itulah uniknya kisah mereka berdua walaupun masing-masing dari mereka kini telah berumah-tangga, tapi seakan saling terikat satu sama lainnya. 

Selang beberapa hari... Nodi mengabarkan bahwa dirinya diundang untuk menghadiri acara dan menanyakan Anty apakah dirinya juga berminat untuk hadir dalam acara tersebut. Ternyata pada hari itulah menjadi moment bersejarah dalam kehidupan mereka, (setelah hampir 30 tahun) dapat berjalan berdua.  

Dalam situasi yang lowong, Nodi memberanikan diri menanyakan kepada Anty, mengapa sejak peristiwa Nodi menghalangi jalannya pada semasa sekolah, seakan tiada maaf untuk Nodi dan Anty terlihat sangat kesal kepada Nodi.  

Anty menceritakan bahwa dirinya tidak menyukai Nodi karena selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan maupun orang-orang seolah dirinya Bossy. Padahal Nodi sama sekali tidak menyetel atau menginginkan keadaan seperti itu. Nodi pun menyampaikan bahwa dirinya sangat menyukai Anty sejak pertama kali bertemu, namun sejak peristiwa itu Nodi menjadi bingung harus mulai darimana untuk menyampaikannya kepada Anty. Seakan tidak memiliki moment yang tepat dan Anty tidak pernah terlihat sendiri. Nodi telah berusaha maksimal hingga meluangkan nongkrong di depan pagar rumah Anty dan berharap agar Anty akan keluar dan Nodi dapat menyatakan isi hatinya, namun harapan itu sirna karena Anty tidak pernah keluar rumah dan tidak tahu bahwa Nodi menunggu dirinya di depan pagar.  

Akhirnya Nodi dan Anty pun merasa lega karena telah menyampaikan perasaan mereka yang terpendam selama ini walau setelah sekian puluh tahun Allah baru memberikan kemudahan ini. Inilah yang namanya takdir. Sebagaimana Rasulullah Shalallhu ‘Alaihi Wa salam pernah bersabda :

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”. [HR. Muslim] 

Kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya. 

Bukankah sayang tidak harus memiliki ? Keterikatan dan sayang sudah lama telah menetap dalam diri mereka dan semuanya sudah merupakan ketentuan Allah untuk kehidupan terbaik bagi mereka.