22 February 2016

Ritchie Blackmore, Deep Purple dan Rock 'n Roll of Fame 2016

Formasi II Deep Purple
Sejujurnya... sangat disayangkan apabila Ritchie Blackmore tidak hadir dalam penghargaan Rock’n Roll of Fame, karena begitu besar andil Blackmore (khususnya di tahun 1970 an) dalam membesarkan nama Deep Purple.     

Dominanisasi pengaruh permainan Blackmore sangat kental di album Deep Purple (Blackmore keluar kedua kalinya dari Deep Purple pada tahun 1994). Lihatlah betapa megahnya trilogy album : In Rock (1970), Fireball (1971), Machine Head (1972) bahkan album Who Do We Think We Are (1973). Tidak dapat dipungkiri bahwa formasi ke-2 (Ritchie Blackmore, Jon Lord, Ian Gillan, Roger Glover, Ian Paice) pernah menobatkan nama Deep Purple sebagai Best Selling Artist di Amerika pada tahun 1973.    

Ritchie Blackmore
Bahkan dengan keluarnya Ian Gillan di tahun 1973, (walau harus menggunakan 2 vokalis) kemegahan album Burn (1974) membuktikan pengaruh dominan Blackmore di dalam tubuh Deep Purple tanpa mengenyampingkan peranan personil lainnya. 

Menurut saya... inti permasalahan ini adalah di tahun 1993. Saat itu Deep Purple sedang menyelesaikan tur Eropa pada bulan November 1993 di Birmingham, Blackmore menimbulkan kontroversi dengan menyerang kru kamera di atas panggung dan meninggalkan band pada saat puncak pertunjukan konser. Hal ini membuat berang semua personil akibat perilaku Blackmore tersebut. Ian Gillan berperan besar pada saat itu untuk tetap mengibarkan nama Deep Purple dengan bantuan Joe Satriani menggantikan Blackmore.   


Karena masih terikat kontrak pada perusahaan rekaman, posisi Satriani digantikan oleh Steve Morse pada bulan November 1994. Suatu masa yang sangat berat bagi Deep Purple selepas kepergian Blackmore. 

Deep Purple Formasi II (1993)
Seiring dengan waktu, para personil Deep Purple terus berjuang dalam mendongkrak nama besarnya dengan tetap merilis album dan intensitas melakukan konser marathon ke seluruh dunia. Di tahun 2002 Jon Lord pensiun dari Deep Purple dan posisinya digantikan oleh Don Airey.   

Masuknya Don Airey tidak merubah format musik Deep Purple karena Airey sering membantu pembuatan album dan tampil dengan personil Deep Purple. Kurang berhasilnya penjualan album Bananas (2003), membuat EMI pun memutuskan kontrak rekaman dengan Deep Purple. Hal tersebut justru menjadi semangat para personil dalam menghasilkan album terbaiknya. Kekompakan para personil sangat terlihat lebih kental dibandingkan formasi-formasi Deep Purple sebelumnya.   

Deep Purple Formasi VIII (2012 - saat ini)

Album Rapture Of The Deep (2005) merupakan tonggak awal kebangkitan Deep Purple dengan penjualan 1 juta copy di seluruh dunia dan tur album tersebut bertengger di peringkat ke-6 Concert Tour of The Year dari Planet Rock. Dan prestasi formasi ini semakin bersinar dengan dirilisnya album Now What?! (2013) yang bertengger terhormat di banyak negara dan berkat album ini Deep Purple kembali dapat menembus Amerika (terakhir album The Battle Rages On.. di tahun 1992).   

Jadi wajar jika pernyataan Ian Gillan bahwa Deep Purple akan tampil dengan formasi terakhir tanpa kehadiran Blackmore. Namun seharusnya manajemen maupun para personil mulai membuka diri dengan menerima kehadiran Ritchie Blackmore yang juga pernah “membesarkan” nama Deep Purple. Jangan dilupakan bahwa riff lagu Smoke On The Water hingga penamaan band Deep Purple merupakan jasa besar dari Blackmore.

Bukankah Jon Lord pernah tampil bareng dengan personil terakhir Deep Purple ? Mengapa Ritchie Blackmore tidak diperbolehkan tampil sebagai bintang tamu selayaknya Jon Lord ? Blackmore memang arogan, tapi lihatlah bagaimana Blackmore pernah membuat Deep Purple menjadi band terbaik dunia.  

Sangat kurang bergaung penganugerahan Deep Purple dalam Rock’n Roll of Fame tanpa kehadiran Ritchie Blackmore.