25 June 2016

Kisah Si Penderita Kusta, Si Botak dan Si Buta

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda : "Ada tiga orang dari Bani Israil : seorang penderita kusta, seorang yang botak karena rontok rambutnya dan seorang buta. Allah ‘Azza wa jalla ingin menguji mereka, maka Allah mengutus kepada mereka seorang Malaikat". 
 
Malaikat tersebut mendatangi si penderita kusta dan bertanya : “Apakah hal yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Warna kulit yang bagus dan kulit yang bagus. Orang-orang telah merasa jijik terhadapku”. Malaikat itu lalu mengusap orang tersebut sehingga sembuhlah penyakitnya, warna kulitnya menjadi bagus dan kulitnya menjadi bagus. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Unta”. Lalu dia diberikan seekor unta betina yang tengah hamil. Malaikat berkata : “Semoga engkau mendapatkan berkah pada unta tersebut”. 
 
Kemudian Malaikat pergi mendatangi orang yang botak dan bertanya : “Apakah hal yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Rambut yang bagus dan hilangnya kebotakan ini. Orang-orang telah merasa jijik terhadapku”. Malaikat itu lalu mengusap orang tersebut sehingga sembuhlah penyakitnya dan diberikan rambut yang bagus. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Sapi”. Lalu Malaikat itu memberikan seekor sapi betina yang tengah hamil kepadanya. Malaikat berkata : “Semoga engkau mendapatkan berkah pada sapi tersebut”. 
 
Kemudian Malaikat pergi mendatangi orang yang buta dan bertanya : “Apakah hal yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Allah mengembalikan kepadaku penglihatanku sehingga aku bisa melihat Manusia”. Malaikat itu lalu mengusap orang tersebut dan Allah mengembalikan kepadanya penglihatannya. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang paling engkau sukai ?” Orang itu menjawab : “Kambing”. Lalu Malaikat itu memberikan seekor kambing betina yang tengah hamil kepadanya. 
 
Setelah itu, beranaklah unta, sapi dan kambing tersebut sehingga si penderita kusta memiliki unta yang sangat banyak, si kepala botak memiliki sapi yang sangat banyak dan si buta memiliki kambing yang sangat banyak pula. 
 
Beberapa waktu kemudian, datanglah Malaikat itu kembali kepada si penderita kusta (yang telah sembuh) dalam wujud dan penampilan yang sama seperti dahulu. Dia berkata : “Aku ini adalah orang miskin dan perbekalanku telah habis dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat membantuku untuk melanjutkan perjalananku pada hari ini kecuali dengan pertolongan Allah setelah itu dengan pertolongan anda. Aku meminta kepadamu demi yang telah memberikan kepadamu warna kulit yang bagus, kulit yang bagus dan harta seekor unta agar aku dapat melanjutkan kembali perjalananku”. 
 
Si penderita kusta itu menjawab : “Sesungguhnya orang yang menjadi tanggunganku banyak”. Malaikat itu berkata : “Sepertinya aku mengenalmu. Bukankah engkau dahulu menderita penyakit kusta sehingga orang-orang menjauhimu dan engkau dahulu miskin, lalu Allah memberikan kesembuhan dan harta kepadamu ?” Orang itu menjawab : “Harta ini semuanya aku warisi dari orang tuaku dari kakekku”. Malaikat berkata : “Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu yang dahulu”. 
 
Kemudian Malaikat itu mendatangi si botak (yang telah sembuh) dalam wujud dan penampilan yang sama seperti dahulu. Dia berkata kepadanya seperti apa yang dia katakan kepada si penderita kusta dan si botak menolak dengan perkataan yang sama seperti apa yang dikatakan oleh si penderita kusta. Malaikat berkata : “Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu yang dahulu”. 
 
Setelah itu, Malaikat itu mendatangi si buta (yang telah sembuh) dalam wujud dan penampilan yang sama seperti dahulu. Dia berkata : “Aku ini adalah orang miskin dan perbekalanku telah habis dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat membantuku untuk melanjutkan perjalananku pada hari ini kecuali dengan pertolongan Allah setelah itu dengan pertolongan anda. Aku meminta kepadamu demi yang telah mengembalikan kepadamu penglihatanmu, seekor kambing agar aku dapat melanjutkan kembali perjalananku”. 
 
Lelaki itu menjawab : "Dahulu aku adalah seorang yang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku kepadaku. Dahulu aku adalah seorang yang miskin, lalu Allah memberikan kekayaan kepadaku. Maka silakan ambil apa yang engkau inginkan. Demi Allah, hari ini aku tidak akan membebani dirimu dengan apapun yang engkau ambil karena Allah". 
 
Malaikat tadi menjawab : “Simpanlah hartamu ini. Sebenarnya kalian itu sedang diuji oleh Allah. Allah telah ridha terhadapmu dan marah terhadap dua temanmu yang lain”.
[dari Ishaq bin Abdillah, dari Abdurrahman bin Abi ‘Amrah, dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim] 
 
Inti yang terkandung dari kisah ini adalah kita wajib mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
 
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar kepada-Nya kalian menyembah”. [Al-Qur'an surah Al-Baqarah : 172] 
 
Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
 
إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
 
“Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian. Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan”. [Al-Qur'an surah Al ‘Ankabut : 17] 
 
Bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan taat menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Perwujudan syukur itu dapat dilakukan dengan cara : 
  •  Meyakini dengan sepenuh hati bahwa nikmat itu berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. 
  • Dengan lisan kita memuji Allah atas segala nikmat yang telah Dia diberikan kepada kita.  
  • Menggunakan kenikmatan tersebut untuk ketaatan dan membuat kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • Membagikan sebagian kenikmatan itu kepada orang-orang selain kita dengan menyalurkannya berupa : zakat, infak dan sedekah.
Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang mengingat nikmat Allah Ta’ala dengan bersyukur.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ .
 
“Ya Allah ! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, syukur kepada-Mu dan ibadah yang baik untuk-Mu.”
 
 
 
disadur dari Al-Qur'an, Hadits dan berbagai sumber.

11 June 2016

Keterikatan, Sayang dan Takdir Allah


Nodi sangat menyukai Anty pada saat mereka pertama kali bertemu. Entah getaran apa yang membawa hati Nodi untuk mengenal lebih dalam diri Anty. Apabila mereka berpapasan tak kurang senyum terpancar dalam wajah mereka. Kelas mereka saling berseberangan dan sesekali keduanya sering melirik sekedar ingin mengetahui apa yang dikerjakan oleh mereka masing-masing pada saat itu.  

Pada saat yang bersamaan Ditta (adik kelas) sangat menyukai Nodi dan keduanya merupakan anggota salah satu di kegiatan sekolahnya dan hampir setiap hari Ditta memberikan perhatian penuh kepada Nodi, namun hati Nodi memang sudah melekat kepada Anty.  

Suatu hari Anty ingin menemui temannya yang kebetulan sekelas dengan Nodi. Dengan mencoba bercanda Nodi berusaha menutup jalan Anty dengan meja yang membuat kemurkaan Anty yang teramat sangat. Nodi pun tersentak dengan segala kalimat pedas yang keluar dari mulut Anty. Beberapa teman di kelas pun langsung tertuju matanya melihat kejadian tersebut yang membuat perasaan sedih Nodi dan malu yang teramat sangat.  

Ditta yang hampir setiap hari memberikan perhatian penuh kepada Nodi terus berusaha dengan kemanjaannya untuk selalu dekat dengan Nodi. Sering Anty melihat kejadian tersebut sehingga membuat jarak mereka pun semakin renggang. Terlihat sekali wajah tidak senang Anty kepada Nodi. Namun Nodi berusaha untuk mencari jalan untuk berusaha terakhir kalinya untuk menyatakan perasaannya kepada Anty walau dengan konsekwensi apapun yang terjadi.  

Beberapa dari adik kelas Nodi berusaha mencari perhatian kepada Nodi dan satu diantaranya malah terang-terang sering menelepon Nodi. Ibarat minum obat, setiap harinya Nodi di telepon oleh adik kelasnya (yang hingga kini tidak diketahui namanya) yang akhirnya membuat kesal Mama Nodi. Sedangkan menurut Nodi adalah wajar karena adik kelasnya ingin mengambil hatinya. Nodi sendiri hanya menganggap mereka sebagai adik sendiri, hatinya sudah kadung menyukai Anty dengan segala karakter uniknya.  

Selang beberapa waktu, Anty menelepon Nodi untuk menanyakan kepastian pertemuan mereka. Mungkin karena terlalu kesal dengan telepon terus menerus dari adik kelasnya Nodi, Anty yang tidak tahu sama sekali langsung dimarahin oleh Mama Nodi.  

Sesampainya di rumah, Mama Nodi langsung menyampaikan bahwa Mama Nodi telah memarahi adik kelasnya yang sering mengganggu Nodi. Perasaan Nodi terasa tidak enak mendengar berita tersebut, karena pada saat itu dia sedang berjanji dengan Anty untuk bertemu. Dan apa yang di khawatirkan Nodi pun ternyata nyata, Anty kembali marah kepada Nodi karena Mama Nodi memarahinya. Pembicaraan pun terus melebar.. Anty bertanya siapa nama adik kelas yang terus mengganggu Nodi... Nodi yang sok keren... bla bla bla... ininya rencana “ngedate” itupun batal dengan sukses. Hiks. 

Mereka pun dipisahkan sementara oleh waktu karena masing-masing memilih kuliah sesuai dengan impiannya. 4 tahun kemudian, Anty didatangi oleh Sanny (salah satu Sahabat Nodi) di rumahnya dan menyampaikan bahwa Nodi sedang diopname dengan keadaan cukup mengkhawatirkan.    

Nodi terkesima dengan kehadiran Anty dan sama sekali tidak menyangka bahwa Sanny memberikan kejutan yang luar biasa. Ternyata Sanny mengatakan ke Anty bahwa Nodi menyukai Anty sangat dalam, namun sayang saat itu Nodi telah memiliki kekasih. Kunjungan Anty membuat semangat Nodi untuk berusaha sembuh dari penyakitnya. Dengan membawa infus, Nodi pun mengantarkan Anty ke depan pintu Rumah Sakit pulang bersama Sanny.  

Entah mengapa setiap ada peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Nodi, Anty selalu saja hadir pada saat yang tepat dan semuanya sepertinya sudah diatur Allah untuk kehidupan Nodi. Seperti saat Mama tercinta wafat, disaat itu Anty menelepon hanya sekedar menanyakan kabar Nodi dan tidak menyangka pada waktu Nodi sangat sedih dan terhibur dengan menerima telepon dari Anty dan lain-lain.  

Hubungan mereka diibaratkan seperti keadaan air laut yang sering pasang-surut... pertengkaran-pertengkaran kecil yang sering tidak jelas, dapat mengakibatkan hubungan mereka renggang. Hingga pada suatu saat Anty kembali menelepon Nodi. Entah mengapa Nodi selalu menurut setiap Anty menulis sms atau telepon. Jika Nodi tidak merespon segera, maka Anty pun kembali ngambek yang tidak jelas... itulah uniknya kisah mereka berdua walaupun masing-masing dari mereka kini telah berumah-tangga, tapi seakan saling terikat satu sama lainnya. 

Selang beberapa hari... Nodi mengabarkan bahwa dirinya diundang untuk menghadiri acara dan menanyakan Anty apakah dirinya juga berminat untuk hadir dalam acara tersebut. Ternyata pada hari itulah menjadi moment bersejarah dalam kehidupan mereka, (setelah hampir 30 tahun) dapat berjalan berdua.  

Dalam situasi yang lowong, Nodi memberanikan diri menanyakan kepada Anty, mengapa sejak peristiwa Nodi menghalangi jalannya pada semasa sekolah, seakan tiada maaf untuk Nodi dan Anty terlihat sangat kesal kepada Nodi.  

Anty menceritakan bahwa dirinya tidak menyukai Nodi karena selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan maupun orang-orang seolah dirinya Bossy. Padahal Nodi sama sekali tidak menyetel atau menginginkan keadaan seperti itu. Nodi pun menyampaikan bahwa dirinya sangat menyukai Anty sejak pertama kali bertemu, namun sejak peristiwa itu Nodi menjadi bingung harus mulai darimana untuk menyampaikannya kepada Anty. Seakan tidak memiliki moment yang tepat dan Anty tidak pernah terlihat sendiri. Nodi telah berusaha maksimal hingga meluangkan nongkrong di depan pagar rumah Anty dan berharap agar Anty akan keluar dan Nodi dapat menyatakan isi hatinya, namun harapan itu sirna karena Anty tidak pernah keluar rumah dan tidak tahu bahwa Nodi menunggu dirinya di depan pagar.  

Akhirnya Nodi dan Anty pun merasa lega karena telah menyampaikan perasaan mereka yang terpendam selama ini walau setelah sekian puluh tahun Allah baru memberikan kemudahan ini. Inilah yang namanya takdir. Sebagaimana Rasulullah Shalallhu ‘Alaihi Wa salam pernah bersabda :

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”. [HR. Muslim] 

Kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya. 

Bukankah sayang tidak harus memiliki ? Keterikatan dan sayang sudah lama telah menetap dalam diri mereka dan semuanya sudah merupakan ketentuan Allah untuk kehidupan terbaik bagi mereka.

05 June 2016

Tradisi Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan

Dalam menyambut Ramadhan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda :

« أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ». رواه النسائي

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya, dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka jahim serta dibelenggu pemimpin-pemimpin syaithan, di dalamnya Allah mempunyai satu malam yang lebih baik dari seribu bulan siapa yang dihalangi untuk mendapatkan kebaikannya maka ia telah benar-benar dihalangi dari kebaikan". [dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan An-Nasa'i]

Saat ini kita sering membaca atau melihat tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan, padahal tidak ada dalil atau hadits shahih yang mewajibkan hal ini. Mari kita lihat darimana tradisi bermaaf-maafan sebelum bulan Ramadhan :

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), Beliau mengatakan Amin sampai tiga kali dan para Shahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para Shahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. 

Ketika selesai Shalat Jum’at, para Shahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian Beliau bersabda : “Ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini”. Do’a Malaikat Jibril itu adalah : “Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut :

1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada),
2. Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri,
3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Namun hadits ini tidak pernah menyebutkan periwayat hadits dan tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits. Sedangkan orang yang menuliskan hadits ini kemudian menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ahmad. 

Sedangkan dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah dan juga pada kitab Musnad Imam Ahmad berisikan hadits sebagai berikut :

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين قال الأعظمي : إسناده جيد
 
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam naik mimbar lalu bersabda : "Amin, Amin, Amin". Para Shahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah ?”

Kemudian Beliau bersabda : "Baru saja Jibril berkata kepadaku : ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan : ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka aku katakan : ‘Amin”.  [dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ahmad] 

Disini sangat terlihat jelas bahwa kedua hadits tersebut di atas adalah dua hadits yang berbeda. Entah siapa yang memulai membuat hadits pertama atau mungkin bisa jadi orang tersebut mendengar hadits kedua, lalu menyebarkannya kepada orang banyak dengan ingatannya yang rusak, sehingga berubahlah makna hadits. Atau bisa jadi juga, pembuat hadits ini berinovasi membuat tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan, lalu sengaja menyelewengkan hadits kedua ini untuk mengesahkan tradisi tersebut. Yang paling penting adalah hadits yang tidak memiliki asal-usulnya tersebut dan sebenarnya bukanlah hadits, tidak perlu kita amalkan karena
perbuatan meminta maaf kepada semua orang tanpa sebab bisa terjerumus pada ghuluw (berlebihan) dalam beragama. 
Namun Islam mengajarkan bahwa siapapun yang mempunyai kesalahan terhadap orang lain, pernah menyakiti atau mendzhalimi orang lain, maka bersegeralah meminta halal dan maaf karena dapat dilakukan kapan saja dan jangan menunggu hingga penyelesaiannya di hadapan Allah Ta’ala. 

Dan bagi seseorang yang memang memiliki kesalahan kepada Saudaranya dan belum menemukan moment yang tepat untuk meminta maaf dan menganggap moment menyambut Ramadhan adalah moment yang tepat, tidak ada larangan memanfaatkan moment ini untuk meminta maaf kepada orang yang pernah didzhalimi olehnya. Asalkan tidak dijadikan kebiasaan sehingga menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda :

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ»

“Siapa yang pernah mempunyai kedzhaliman terhadap seseorang, baik terhadap kehormatannya atau apapun, maka minta halallah darinya hari ini !, sebelum tidak ada emas dan perak, (yang ada adalah) jika dia mempunyai amal shalih, maka akan diambil darinya sesuai dengan kedzhalimannya, jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka akan diambilkan dosa lawannya dan ditanggungkan kepadanya”. [dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Bukhari]

Dari hadits ini jelas bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf jika pernah melakukan kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui, tidak pernah diajarkan oleh Islam. Jika ada yang berkata: “Manusia khan tempat salah dan dosa, mungkin saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari”. Yang dikatakan itu memang benar, namun apakah serta merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui ? Mengapa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian ? Padahal mereka orang-orang yang paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak sengaja atau tidak disadari tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah Ta’ala. 

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa”. [HR. Ibnu Majah dan Baihaqi] 


Wallahu’alam.
(disadur dari berbagai sumber)