02 July 2016

Ya Allah... Ampunilah Aku


Tahun 2016 ini mungkin merupakan yang terberat dalam hidupku. Begitu banyak kesedihan silih berganti mampir menghiasi kehidupanku. Bukan materi atau hal apapun yang berhubungan dengan dunia, namun entah mengapa begitu kuat desakan air tanpa izin sering mengalir dari mata, seperti ada sesuatu yang hilang dalam diriku.  

Bulan Ramadhan adalah merupakan puncak kesedihanku. Lembaran demi lembaran masa lalu mampir tak di undang, seakan menunjukkan begitu bodohnya diriku yang terlalu tenggelam dengan nikmatnya dunia yang semu. Ditambah lagi kejadian peristiwa demi peristiwa : meninggalnya orang yang aku sayangi, perginya orang yang aku sayangi, dipertemukan kepada orang yang aku sayangi sedang mengalami sakit kronis namun tidak mau tuntas dalam pengobatannya dan sebagainya dan sebagaimana dalam lingkaran mereka-mereka yang sangat begitu dekat di kehidupanku.  

Bagaimana dengan ibadahku ? Apakah ini petunjuk bagiku untuk semakin menambah keimananku untuk lebih mengevaluasi diri ? Aku teringat akan sebuah riwayat :
 
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا
 
Umar bin Khatab ra berkata : “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia”.

Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Qur’an surah Al-Hasyr : 18]  

Selama ini aku terlalu bangga dengan pencapaianku dan terkadang menyelisihi kebenaran serta bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu banyak kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang aku perturutkan.  

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pernah bersabda : “Suatu ketika seorang Raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri.  

Kemudian, Raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, Raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang Raja pun berkata kepadanya : “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama”. [dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Ahmad].  

Inti dari hadits tersebut adalah melapangkan hati terhadap kebaikan dengan mengutamakan akhirat daripada dunia. Aku merupakan makhluk yang lemah, sering mempertahankan ego dan terkadang memiliki sikap yang berubah-ubah. Syukur alhamdulillah, aku masih diberikan waktu untuk mengevaluasi diri untuk berbuat dan melakukan sesuatu yang diridhai Allah karena aku tidak tahu berapa lama lagi sisa umurku.  

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia Telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.  [Al-Qur’an surah Ali Imran : 185]
Post a Comment