21 December 2017

Ketika Keikhlasan Disambut Pemerintah

Sahabatku, Marthinus Papilaya, adalah orang yang sangat berjasa mengajakku pertama kali untuk melakukan donor darah ke Palang Merah Indonesia (PMI) di Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat. Yang terlintas dalam benakku adalah memberikan yang terbaik untuk kehidupan orang lain yang membutuhkan darah.

Pada saat itu aku sama sekali tidak tahu bahwa dalam setiap delapan detik di Indonesia ada satu orang yang memerlukan transfusi darah. Hal tersebut baru aku ketahui pada tahun berikutnya ketika aku membaca tulisan di sebuah surat kabar.

Darah merupakan pemberian Allah Ta'ala yang dapat dengan mudah aku donasikan karena tubuh akan terus mengisi ulang untuk menggantikan jumlah darah yang hilang. Rata-rata orang dewasa memiliki 5 liter darah yang terus berputar dalam tubuh. Pada umumnya, tiap sel darah akan dipecah untuk kemudian diganti dengan sel darah baru setiap 120 hari. Sebaliknya, darah hasil donor ini hanya bisa bertahan hingga 42 hari. Usia yang pendek ini berarti donor darah selalu dibutuhkan dan perlu di donasikan secara teratur.

Sebelum dilakukan donor, petugas PMI memeriksa suhu tubuh, denyut nadi, tekanan darah dan kadar haemoglobinku. Pada awalnya aku sedikit takut, karena memang aku pernah memiliki trauma dengan jarum suntik yang semasa kecilku pernah 'nyangkut' saat di suntik di belakang tubuhku. Namun sejak melakukan donor darah, perlahan keberanianku memupus ketakutanku pada jarum suntik yang selama ini bersarang dalam pikiranku.

Keesokan harinya aku mengalami demam tinggi, padahal saat itu agenda orang tuaku adalah liburan ke daerah Lampung dan menginap di Hotel Marcopolo, Tanjungkarang. Itulah liburan yang sama sekali tidak 'greget' dalam hidupku karena harus mendekam di kamar hotel selama 2 hari hingga kembali pulang ke Jakarta.

Semasa bekerja di BRI Jakarta Otista, aku dan Marthinus rutin melakukan donor darah setiap 3 bulan sekali di PMI dan mulai secara individu ketika aku di mutasikan kerja ke Kantor Cabang Segitiga Senen dan Kantor Cabang Kebayoran Baru di bulan Agustus 1998.

Rutinitas kegiatan donor tersebut, mengharuskan aku untuk menjaga makanan dan minuman, demi untuk memberikan yang terbaik bagi penerima donor darahku. Sejak saat itu aku mulai 'cinta' dengan susu dan sayur2an, beserta makanan favoritku, ikan. Memperbanyak minum air putih dan tidur minimal 6 jam telah aku terapkan.

Waktu berlalu, hingga penghargaan atas donor lebih dari 50x telah diterima dan memang sangat terlihat dan 'berasa' dalam hidupku yang alhamdulillah jarang menderita sakit sejak rutin melakukan donor darah.

Bulan November 2009, kondisi kesehatan Papa mulai menurun dan trombositnya semakin menurun pada bulan Maret 2012 (baca : I Do Love U, Papa), sehingga Papa lebih memerlukan pendonor trombosit untuk lebih cepat mendongkrak naik trombosit, namun saat itu pendonor trombosit / apheresis masih sangat langka. Sejak saat itulah aku mulai beralih ke menjadi pendonor apheresis agar dapat bisa di transfusikan kepada Papa dan alhamdulillah donor apheresisku dapat menaikkan tinggi trombosit Papa. 

Namun antara jadwal mendonor dan kebutuhan trombosit pada yang semakin hari semakin cepat, membuatku hanya mampu mendonor sebanyak 4 kali dalam menyelamatkan nyawa Papa 😢😢😢. Keterbatasan pendonor apheresis membuat PMI rutin menelepon aku untuk sukarela melakukan donor dan alhamdulillah berlangsung hingga saat ini.

Bulan Maret 2017, Bapak Jumhadi (administrasi PMI Pusat) menelepon aku sehubungan dengan donor yang telah aku lakukan (donor darah merah dan apheresis) yang telah lewat 100x untuk di daftarkan sebagai penerima Satya Lencana oleh Presiden RI. Aku memohon kepada Allah Ta'ala agar acara tersebut dapat terwujud di Istana Bogor yang merupakan impianku sejak lama untuk dapat melihat dan menikmati keindahannya secara langsung (padahal saat itu Bp. Joko Widodo masih berkantor di Istana Negara Jakarta).

Aku sangat mengagumi Istana Bogor melebihi Istana Kepresiden manapun di Indonesia. Selain karena keasrian yang dimiliki Istana Bogor, Presiden Soekarno pernah tinggal di tempat itu. Terus terang aku merupakan pengagum dari Presiden Soekarno dan segala sesuatu tentang Beliau ingin aku telusuri.

Setelah berulangkali acara penyerahan Satya Lencana berpindah tempat : Istana Bogor - Hotel Millenium, akhirnya H-2 diterima info kalau tentative acara tersebut dilakukan di Istana Bogor pada hari Minggu, tgl. 17 Desember 2017. "Impianku menjadi kenyataan !" 😊😊😊

Dan yang lebih melengkapi kebahagiaanku adalah aku ditunjuk bersama Ibu Endang Syarwan Hamid (ex anggota DPR RI / mantan istri Menteri Dalam Negeri) sebagai penerima simbolis mewakili 184 teman2 di seluruh Jabodetabek, menerima Satya Lencana dan Cincin Emas dari Presiden / Wakil Presiden RI. Subhanallah !

Sebanyak 182 peserta dari Jabodetabek menginap di Hotel Aryaduta, Jakarta. Sedangkan peserta simbolis dan peserta lainnya dari seluruh Indonesia menginap di Hotel Sahid, Jakarta. Untuk tahun 2017 ini PMI mengundang sebanyak 897 orang penerima Satya Lencana dan Cincin Emas dari seluruh Indonesia.

Gladi resik pun dilakukan pada H-1 (yang seharusnya dilakukan di atas panggung besar halaman Istana Bogor), namun dengan kondisi hujan, dipindahkan kedalam ruang Garuda Istana Bogor. Pemeriksaan yang ketat pun dilakukan dan semua HP dan peralatan elektronik harus dititipkan kepada petugas Paspampres.

Keesokan harinya kami semua harus sudah stand by di Bus pada pukul 05.00 untuk dilakukan gladi resik terakhit di atas panggung yang telah berdiri megah. Namun pada saat baru dimulai acara (saat Wakil Presiden / Bapak Jusuf Kalla) hujan langsung mengucur deras, sehingga seluruh peserta berduyun2 meninggalkan tempat tersebut menuju ruang Garuda yang sebelumnya telah kami lakukan gladi resik.

Alhamdulillah.. tepat jam 09.15 acara dimulai dan berjalan sangat lancar dan dalam pidatonya Bapak Joko Widodo memberikan kami gelar sebagai Pahlawan Kemanusiaan atas keikhlasan kami dalam mendonor darah untuk kemanusiaan.

Kebahagiaan yang tiada bisa terucapkan oleh kata2 ketika Allah Ta'ala mewujudkan impianku melalui Palang Merah Indonesia, merealisasikan, menikmati, melihat dengan tatapan langsung keindahan Istana Bogor dan bertemu langsung dengan orang no. 1 dan no. 2 di Negara Republik Indonesia tercinta ini.. alhamdulillah !

Rasa haru membaluti kebanggaan atas perhatian Pemerintah melihat keikhlasan kami dalam membantu sesama yang membutuhkan darah kami.

Jazakumullah khairan katsiran kepada : 
  1. Presiden Republik Indonesia : Bapak Joko Widodo dan Ibu Iriana,
  2. Wakil Presiden Republik Indonesia / Ketua Umum PMI : Bapak Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah,
  3. Wakil Ketua Umum PMI : Bapak Ginanjar Kartasasmita, 
  4. Sekretaris Jendral PMI Pusat : dr. Ritola Tasmaya,
  5. Wakil Sekretaris Jendral PMI Pusat : dr. Diah Latief,
  6. Para Pengurus PMI Jakarta : dr. Endang, Bp. Jumhadi, dll.
  7. Sahabatku, Marthinus Papilaya,
  8. Orang Tuaku tercinta,
  9. Anakku tersayang, 'Aisyah Donita Minha Harahap
  10. Adek2 dan Ipar2ku tercinta,
  11. Vinita Anggia,
  12. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Penghargaan bukan membuat kami berbangga diri, tetapi memotivasi kami dalam membantu dalam kemanusiaan dengan keikhlasan hingga akhir hayat kami. Insya Allah.. aamiin.


28 May 2017

Kembali ke Jalan-Nya


Setelah sekian lama akhirnya aku bisa nge-gym di salah satu tempat favoritku di daerah Jakarta Selatan. Dengan peralatan yang boleh dikatakan tidak berubah aku tetap ‘remain’ semasa kuliah nge-gym di tempat ini yang kala itu diasuh oleh salah satu atlit PON.. bagaimana kabar Beliau sekarang ya... ?  

2 jam terlewati untuk kebugaran tubuh, aku pun bersiap untuk mandi dan lumayan antri selama 20 menit sambil membasuh keringat yang masih deras mengucur dari tubuhku. Tiba waktunya aku mandi untuk menambah kesegaran sehabis olah raga.  

Setelah mandi aku langsung menuju locker untuk berpakaian dan aku lihat seorang lelaki berbadan atletis (dari sebelum aku mandi) menghampiriku (sebut saja namanya Ican) dan menyapa : “Sudah selesai mandinya ya Mas ?” Aku pun menjawab : “Alhamdulillah sudah Mas”. Ican pun secara tiba-tiba mengusap punggungku dan berkata : “Pasti capek ya Mas dari tadi saya lihat Masnya serius banget nge-gymnya”. Perasaanku sudah mulai tidak enak melihat tingkah lakunya secara terang-terangan seperti meminta perhatian dariku.  

Dengan berusaha tenang aku mencoba meminta waktunya untuk berbicara di sebuah meja yang tersedia di tempat itu. Aku berusaha memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dan bertanya mengapa Ican terus-menerus memperhatikan setiap gerak-gerikku saat nge-gym hingga selesai mandi.

Setelah panjang lebar kami berbicara, akhirnya aku peroleh kesimpulan bahwa Ican adalah seorang gay yang memiliki latar belakang yang kurang baik semasa kecilnya. Dia merupakan anak bungsu laki-laki satu2nya dari 3 Saudara. KDRT sering melanda dalam keluarganya dan Ican sering dilecehkan sebagai seorang anak yang kemayu seperti seorang wanita.  

Ican mencoba menutupi kelemahannya tersebut dengan berkonsentrasi membentuk tubuhnya untuk menjadi seorang pria bertubuh atletis. Namun gejolak ‘seperti seorang wanita’ dalam dirinya yang sangat besar tak kuasa dibendungnya jika melihat seorang pria yang terlihat karismatik dan jantan.

Sudah 1 tahun Ican putus dengan ‘pasangannya’ karena pasangannya tersebut telah menikah dengan seorang wanita dan tinggal di Bandung. Dan satu2nya tempat dimana Ican bisa mencari ‘tambatan hatinya’ adalah di tempat gym.

Setelah mendengar kisahnya, aku perlahan mencoba menyampaikan bahwa aku adalah seorang pria normal dan telah memiliki keluarga. Pada saat itu adzan Maghrib telah berkumandang dan alhamdulillah Ican mau aku ajak untuk sholat Maghrib berjamaah di Musholla yang tidak jauh dari lokasi gym tersebut.   

Seusai sholat Maghrib aku lihat Ican belum beranjak dan aku lihat air matanya berlinang membasahi pipinya dengan isakan tangis yang terputus-putus. Ican langsung memelukku dan mengatakan penyesalan bahwa selama ini dirinya telah ‘berjalan di tempat yang salah’. Alhamdulillah Allah Ta’ala telah memberikan Ican hidayah dan Ican berjanji untuk berusaha memperbaiki segala kesalahannya dan ‘kembali’ untuk menjadi pria normal sebagaimana Allah Ta’ala telah memberikan kodrat kepada dirinya. Kami pun berpisah karena aku harus menjemput anakku di rumah temannya. Semoga Ican tetap teguh dalam pendiriannya untuk berjalan sesuai kodratnya.  

Allah Maha penyayang dan Maha mencintai. Allah selalu mengajak kita kepada taubat, walau sangat banyak dosa yang telah kita lakukan, walau sangat besar kesalahan yang telah kita perbuat, walau sangat sering keburukan yang telah kita jalankan, walau telah sangat lama kemaksiatan menjadi kebiasaan kita. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah : “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [al-Qur’an surah az-Zumar : 52]  

Memang tidak gampang bagi Ican untuk melakukannya, tapi aku yakin jika Ican terus berusaha, insya Allah pasti akan terbentang jalan kemudahan untuk dirinya.. aamiin.