25 October 2010

Usia 40 : Sebuah Permulaan Dalam Menemukan Cinta Allah SWT ?

Kebanyakan dari kita dalam memperingati hari kelahiran dilakukan dengan membuat suatu acara yang bersifat perayaan (Celebration). Sebuah kue tart yang dihias dengan berbagai macam dekorasi dan tak ketinggalan beberapa batang lilin sejumlah usia, atau lebih praktis lagi pakai lilin dengan bentuk angka. Biasanya acara tersebut akan dimeriahkan bersama keluarga, teman, sahabat dan undangan lainnya.

Ada juga yang merayakan ulang tahun dengan berbagi kebahagiaan bersama orang-orang yang dianggap kurang beruntung, misal dari panti asuhan. Tetapi bagi saya yang paling penting, adalah melakukan evaluasi akan manfaat usia yang telah dicapai. Sebuah evaluasi diri dilakukan untuk membaca apa yang telah dilakukan, dimana posisi sekarang dan apa yang akan dicapai kedepan. Demikian juga dengan kehidupan ini, perlu secara terus menerus melakukan introspeksi untuk memastikan arah dan tujuan yang benar.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadikan standard bagi ummatnya. Sehingga dapat dijadikan refleksi seberapa tepatkan perkembangan diri kita baik secara psikologi maupun spiritual. Ingat bahwa seseorang dikatakan dewasa bukan hanya dari pencapaian usianya, tetapi juga dari prilaku dan kematangan jiwanya. Berdasarkan buku “Sejarah Hidup Muhammad” yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal dapat dipetakan sebagai berikut :

·         0 tahun              :  Lahir bulan Agustus 570 M.
·         3 tahun              :  Peristiwa pembedahan ‘dada’ oleh Malaikat.
·         12 tahun            :  Berdagang ikut pamannya Abu Thalib (masa remaja juga mengembala kambing)
·         15-20 tahun        :  Ikut dalam perang suku/kabilah (Al-Fijr).
·         25 tahun            :  Menikahi Siti Khadijah.
·         35 tahun            :  Menjadi Problem Solver (peletakan hajar aswad di Ka’bah) dan bergelar Al-Amin
·         35-40 tahun        :  Menjauhi keramaian / menyendiri untuk Tahannuf.
·         40 tahun           :  Turunnya wahyu pertama tanda kenabian (610 M).
·         51 tahun            :  Puncak pencapaian spiritual tertinggi peristiwa Isra’-Mi’raj (621 M).
·         52 tahun            :  Hijrah ke Yastrib / Madinah (622 M).
·         60 tahun            :  Penaklukan kota Mekah (630 M).
·         62 tahun            :  Wafat pada 13 Rabiulawal 11 H atau 8 Juni 632 M

Di antara banyak angka, ada dua angka yang menarik yaitu 4 dan 0. Mengapa ? Angka 4 jika dicantum 0 menjadi ‘40’. Selalunya angka 40 ini disinonimkan pula dengan sesuatu, yaitu ‘kehidupan baru bermula ketika usia kita 40.’ Istilah ini ditranlatasikan dari bahasa Inggris yaitu ‘life is begin at 40.’ Biasanya, daripada aspek harta pun manusia sudah mula stabil pada usia ini, seiring dengan kematangan usia kita sendiri.

Rasulullah SAW bersabda : “Dua nikmat yang manusia sering lalai, yaitu kesehatan dan waktu (atau usia) yang Allah berikan”.  [HR. Bukhari dan Muslim]

Hadits tersebut memang benar…  sebelum usia 40 manusia masih merasa begitu kuat dan hebat. Merangkak usia ke-40 segala macam penyakit pun datang menerpa. Oleh karena itu usia 40 merupakan titik tolak perenungan akan usia kehidupan yang dijalani. Seorang Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah pada usia 40 tahun…., sedangkan saya ? Menghapal isi Al-Qur’an saja saya belum mampu, berdakwa masih tahap belajar… sungguh sangat malu dan sangat jauh lebih kerdil diri ini…

Imam Al Ghazali yang diklaim sebagai hadits dalam kitabnya Ayyuhal Walad (hal. 22) : "Tanda seorang hamba itu berpaling dari Allah ialah ia menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak berguna. Dan sesungguhnya seseorang itu apabila hilang waktu sesaat dari umurnya bukan untuk sesuatu yang ia diciptakan untuknya (yakni ibadah), maka patutlah dia menjalani penyesalan yang berkepanjangan. Dan barangsiapa yang telah melampaui usia 40 tahun sedangkan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejahatannya, maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka."

Walau ternyata dalam kitab Hadits-Hadits Dhaif dan Maudhu' karya ustad Abdul Hakim, perkataan diatas masuk dalam kategori La asla lahu alias TIDAK ADA ASAL USULNYA  dan walaupun imam Al Ghazali menisbatkannya sebagai hadits dari Rasulullah SAW seperti pernyataan sebelumnya... sudah seharusnya saya untuk selalu memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan perbuatan yang telah saya lakukan selama hidup di dunia ini dan selalu tetap yakin dan optimis dalam menyambut ampunan dan rahmat-Nya dengan sisa usia yang dikaruniakan kepada saya. Kepada orang tua saya yang selama hidup saya selalu diberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus sehingga saya dapat mencapai seluruh yang saya cita-citakan.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan sorga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa". [QS. Ali-Imran : 133]

Papa (Drs. H. Darli Harahap, MA) sebagai panutan dan mentor bagi saya dan (alm.) Mama (Hj. Yulinar Sari Madonny Nasution) sebagai syurga kasih sayang dalam kehangat dekapan dan curahan hati yang selalu hadir hingga hayat saya... terima kasih Papa dan Mama tercinta... cinta dan sayang untukmu dari anakmu.    

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [QS. Al-Ahkaf : 15]

Vinita Anggia Masri, Amd TRU, istri yang selalu setia menemani dalam mengarungi kerasnya ombak dan topan kehidupan bersama buah hati tercinta, 'Aisyah Donita Minha Harahap yang selalu memberikan kesejukan dan keceriaan, membuat semua rintangan yang menghalangi dapat ditembus dengan mulus... terima kasih "my Lovely Loves".

Satu ayat yang sangat baik dengan mengandung doa tanda kesyukuran. Allah menyebut pada umur 40 tahun, mengapa Allah memilih umur 40 tahun ?

Awal puncak kematangan spiritual Nabi Muhammad pada usia 40 tahun ketika pertama kali menerima wahyu dari Allah melalui perantara Malaikat Jibril. Melalui perenungan dan pembersihan diri dengan menyepi, maka gelombang resonansi Nabi Muhammad dapat berkomunikasi dengan Malaikat Jibril. Jadi seharusnya saya sudah mencapai pemahaman yang tinggi akan hakikat kehidupan spiritual. Pada usia ini tidak ada lagi jiwa-jiwa hampa yang mengisi badan, karena pemahaman hakikat kehidupan sudah dicapai. Saya belum mencapai tahapan ini dan insyallah jika diberi cukup umur dan hidayah dari Allah dalam mencapainya. Jadi ada benarnya jika sebuah pepatah bilang “Life Begins at Forty”… sebuah permulaan untuk menemukan cinta Allah SWT.

Rasulullah SAW mencapai puncak tertinggi dalam pemaknaan hidup pada usia 52 tahun ketika dengan ijin Allah, mengadakan perjalan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha menghadap langsung Allah dalam peristiwa Isra’ Miraj.

Peristiwa tersebut merupakan pencapaian spiritual yang tertinggi yang pernah dicapai oleh seorang manusia di alam semesta ini, melebihi malaikat sekalipun. Pada tahap ini seharusnya dunia dan segala isinya tidak lagi menjadi tujuan dan daya tarik. Tahapan ini juga belum dapat saya lalui dan Insyallah jika dianugerahi umur yang panjang akan mencapai nikmatnya iman dan terselimuti oleh mahabbah pada Allah.

Puncak perjuangan Rasulullah SAW dicapai pada usia 60 tahun yang berarti dalam waktu 20 tahun, Rasulullah sudah pencapaian sukses. Rasulullah wafat dalam usia 62 tahun.

Sekarang saya harus lebih memperbaiki diri dan terus melakukan evaluasi diri dan mulai melakukan :

1.  Muhasabah (perhitungan).
Melakukan koreksi diri dan bertanya dalam hati : apakah umur, harta, kesempatan dan waktu yang terpakai sudah maksimal digunakan untuk mengabdi kepada Allah ? Ini sangat penting karena kesempatan hidup ini semakin terbatas dan setiap orang semakin dekat dengan kematian.

2.  Muraqabah (pengawasan) terhadap sisi lahiriyah dan batiniyah.
Sisi lahiriyah : apakah amal dan ibadah tersebut telah sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits ?
Sisi batiniyah : apakah diri ini ikhlas untuk melaksanakan berbagai ibadah dan kebaikan karena menjalan perintah dan mengharapkan keridhaan Allah atau masih bercampur dengan riya’ ? Keikhlasan menentukan nilai ibadah disisi Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung kepada niat dan setiap orang dibalas sesuai dengan niatnya“. [HR. Bukhari]

3.  Mu’aqabah (sanksi) terhadap diri ketika melakukan pelanggaran dan dosa.
Melakukan evaluasi untuk mengingat azab Allah yang dahsyat dan sebagai peringatan agar tidak mengulangi dosa itu. Adapun sanksi yang bermanfaat dan menjadi tradisi sahabat-sahabat Rasulullah SAW dan orang-orang saleh sesudah mereka ketika mereka berbuat dosa dengan segera bertaubat dan memberi sanksi terhadap diri mereka dengan memperbanyak beribadah dan berbuat baik kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda, “Iringi dosa yang kamu lakukan dengan perbuatan baik, karena perbuatan baik dapat menghapus dosa“. [HR. Tirmidzi]

4.  Mujahadah (berjuang dan berusaha) keras melakukan perubahan dan meningkatkan kualitas diri dengan membuat program yang rapih.
Allah tidak hanya menilai hasil akhir dari amal yang dilakukan seseorang. tetapi sejak proses awal upaya itu telah dinilai dan dihargai-Nya. Orang-orang bersungguh-sungguh pada jalan Allah, termasuk untuk meningkatkan kualitas diri akan ditunjukkan Allah jalan untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik“. [QS.Al-Ankabut : 69).

5.  Muatabah ‘alannafsi (mengkritik diri) untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan kita dalam menjalankan Islam. Kritikan ini berpedoman pada Al-Quran dan Hadits. Misalnya, kenapa diri tidak mampu bersikap amanah, jujur, disiplin, mau bersedekah, membiasakan membaca Al-Quran, sementara orang lain mampu melakukannya. Padahal Allah memberikan potensi dan peluang yang sama kepada setiap orang. Kritikan ini menyadarkan kita untuk segera memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri dimasa depan, sekaligus mendorongdiri meneladani orang yang lebih baik dan taat dari kita.

Semoga Allah memberikan kita umur yang bermanfaat dan semakin meningkatkan ibadah dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT…… amin.
Mereka yang sangat berjasa dalam kehidupan saya dan hanya Allah SWT yang dapat membalas semua kebaikan kalian semua…… terima kasih :


1.    Adik tercinta :
           ·         Hj. Lioni Novita Harahap, SKom
           ·         Yumelia Arlini Harahap, SE
           ·         Muhammad Irfan Harahap, MM
2.    Mertua : H. Ir. Masri dan Hj. Syarmayati
3.    Ipar :
           ·         H. John Erwin Siregar, MBA
           ·         Rudy Jayanegara, SE
           ·         Rika Muristina
           ·         Medi Masri, SSos
           ·         Defriko Masri, SKOM
           ·         Visi Trismarini, SSos
           ·         Dade Zainal
4.    Sahabat :
           ·         H. Tri Ichsan Nur, SE
           ·         Eko Budi Mahasetyawan, ST
           ·         Adeka Valda, SE
5.    Keluarga Besar H. Badjora Harahap dan Hj. Sofiah Djariah Pulungan
6.    Keluarga Besar H. Abdul Malik Karim Nasution dan Hj. Siti Hasanah
7.    Seluruh Dosen, Guru dan Teman di :
           ·         Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana
           ·         SMAN 4 Jakarta
           ·         SMPN 1 Jakarta
           ·         SMPN 2 Tanjungkarang
           ·         SDN Teladan Tanjungkarang
           ·         SDN 100 Palembang
           ·         SD Teladan Tanjungkarang

Terima juga saya sampaikan atas do'a dan atensinya yang tiada terhingga kepada saya, kepada :
  1. Habib Husin Mulachela
  2. Keluarga Amangboru Pintor Siregar
  3. Bapak Ismet Arifin Hidayat
  4. Tulang Amroe Hasibuan
  5. Jaja Miharja
  6. Eko Budi Mahasetyawan
  7. Tri Ichsan Nur
  8. Muhammad Guntur Kasla 
  9. Novianti Bagijo
  10. Rizki Wardhana
  11. Putri Raihan
  12. Jhon Syalfiandy
  13. Evi 'Amri' Harahap
  14. Dedy Iskandar Nasution
  15. Agus Sutikno
  16. Ardiana Purwanti
  17. Gina Tri A
  18. Wahyudi Kartodarmodjo
  19. Charles Gultom
  20. Ade Riza Fadillah Sugarba
  21. Iwan Harahap
  22. Dewi "Iwed" Purnamasari
  23. Ariyanti Suyitno - Melik
  24. Ahmad Dimyati
  25. Lili Dwirastyanti
  26. Syelly Djuardianty
  27. Arlinda Achyaruddin
  28. Shinta Irvan
  29. Rina Helianti
  30. Sri Wahyuni
  31. Upik Holita
  32. Bunda Letty
  33. Dewi Kurata
  34. Palupi Djarworini
  35. Fira Fitia
  36. Lis Damayanti
  37. Putri Yulina
  38. Putri Namora Siregar
  39. Srie Apriwani Harahap
  40. Raymond Boyoh
  41. Chairiel Amrie
  42. Totok Shakti
  43. Foeza Hutabarat
  44. Afnita Arek
  45. Riki Rachman Kusumakardani
  46. Ade Reza
  47. Iin Indriaty Suryadarma
  48. Evie Amelia Harahap
  49. Ichwan Lubis
  50. Budi Aulian
  51. Ruslan Wantogia Pommy
  52. Novi Herlitawati
  53. Felix M. Hari Purnomo
  54. Yenty Sukardi
  55. Nuswardana Denny Sarodja
  56. Ade Jahja
  57. Arma Gayariana
  58. Nova Rosman
  59. Eko Sumarsono
  60. Feni Yunianti
  61. Rachma Wati
  62. Visi Trismarini Masri
  63. Indah Fajarwati
  64. Mhd Rosid Harahap
  65. Rahmi Chaidir
  66. Danny Riyanto
  67. Fauzi Tanpa Bowo
  68. Eko Subhan
  69. Heni Sunaryati Amrie
  70. Diah Oetari Soewarno
  71. Mohamad Thamrin
  72. Defriko Masri
  73. Dinda Syariyuniska
  74. Dodi Reza
  75. Gusti Adinda
  76. Tri Supriati
  77. Inez Veronica 
  78. Enhar Busrory
  79. Muhammad Sholeh Amin
  80. Rommy Bram Octavianto
  81. Syamsuddin Slamet
  82. Afnan Suhalya
  83. Medi Masri
  84. Rendy Ncang
  85. Malayus Merry
  86. Frida Ramadhini Harahap
  87. Affandi Haris
  88. Widyawati Arnanto
  89. Herly Elvitha
  90. Marudin
  91. Susan Rosa Malay
  92. Linda Siregar
  93. Adeline Devita
  94. Vinny Artee
  95. Winda Harahap
  96. Hamdani
  97. Indra "Iwang Modulus" Wahyudi 
  98. Prima Krismansyah
  99. Dadit Raditya
  100. Makmur Harahap
  101. Masagus Denny 'Bagong' Adian
  102. Andriano Jun
  103. Beby Selvia 
  104. Beby Anes 
  105. Bagus Mulyadi
  106. Yayu Achyar Budiman
  107. Rotua Anastasia Sinaga
  108. Fian Hadi Sudharmika
  109. Ahmad Riyadi
  110. Silvia Mardia
  111. Farah Delasari Siregar
  112. Kawula Patpanbilan'ers
  113. Dorentine Kuqi
  114. Sheila Rahayu
  115. Erlan Surya Maulana
  116. Andreza Fahrul Idayah
  117. Dede Afriani
  118. Danang Setiawan
  119. Adriano On Board
  120. Elizabeth Sri Lestari
  121. Joelly Prasetyo
  122. Zul Azwan
  123. Zainul Hakim
  124. Medyarini Desindra
  125. Maulana Hasanudin
  126. Dany Daulay
  127. Muchaiyar Petir
  128. Indahasti Malelo
  129. Priskila Pingkan Purwandari
  130. Ponco Wardono
  131. Haryono Kristian
  132. Diey-Chan
  133. Poerwidhi
  134. Marthinus Papilaya
  135. Purwanto Setiadi
  136. Santy Chaidir
  137. Erwin Van Damme
  138. Tiwuk Handayani
  139. July Olivia
  140. Falih Anwar Siregar
  141. Nadhifah Tasya Calista
  142. Muhammad Rasyad Harahap
  143. Fadhlan Siregar
  144. Rika Rizana
  145. David Siregar
  146. Dyah Mawarni
  147. Gustaf Gautama
  148. Diana Wulandari
  149. Rimayanti Syarief
  150. Rinda Dicky
  151. Windawati Pinem
  152. Destya Ramia Abriyani
  153. Siti Sarah
  154. Reza Pradana
  155. Jainul A. Dalimunthe
  156. Ali Affandi Nasution
  157. Sharda Abrianti
  158. Linda Mappa
  159. Retno Indarti
  160. Dhiendra Zahra Al-Bidam
  161. Achyar Budiman
  162. Khumairah 'Bea'
Semua pihak yang telah memberikan perhatian, ilmu, nasehat dan bantuannya kepada saya yang tidak dapat diuraikan satu persatu….



Alangkah bahagianya aku hidup di dunia ini... Alhamdulillah... begitu besar rahmat dan karunia dari Allah SWT... begitu indah dan mulia pribadi Rasulullah SAW dalam kehidupanku... begitu besar kasih sayang yang aku terima dari Orang Tua, Istri dan Anakku dan Adek² ku tercinta... ditambah lagi begitu besar ucapan, do'a dan perhatian dari Mertua, Ipar, Saudara dan Seluruh Teman² ku di dunia ini..... Subhanallah... jazakALLAH khair...





    12 October 2010

    Kekayaan Dunia & Orang Tua


    Sebuah cerita yang saya angkat dari realita kehidupan kita saat ini, dimana dengan bergelimang kesuksesan dan uang kita sering mengabaikan perhatian dan kasih sayang kita kepada orang tua... 

    Kisah berawal dari daerah Medan... kita sebut saja dengan namanya, Ucok. Keseharian Ucok bersama Ibunya adalah menjual sembako dalam toko yang berluaskan 1 x 1.5 m2. Bapak si Ucok telah lama berpulang ke Rahmatullah semenjak Ucok berusia 3 tahun.

    Dalam kesehariannya Ucok merupakan anak yang sangat patuh kepada Ibunya, rajin dalam beribadah dan selalu aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh Kelurahan. Masyarakat disana sangat senang dengan perilaku si Ucok.

    Ucok memperoleh bea siswa dan dapat menyelesaikan studi S1 Ekonomi Manajemen di Universitas yang  terkenal dengan hasil yang memuaskan. Air mata telah membasahi pipi si Ibu dengan memanjat rasa syukur kepada Allah. Ibu selalu berdo’a kepada Allah agar Ucok dalam meraih impiannya.

    Dengan modal semangat dan tekad dalam memperbaiki kehidupan, Ucok ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam mewujudkan cita-citanya. Demi meraih kesuksesan anaknya, Ibunya pun mengikhlaskan kepergian Ucok dengan perasaan haru dan bangga untuk melepas kepergian Ucok meraih impiannya.

    Setiap hari Ibu selalu mengingat Ucok dan berdo'a kepada Allah SWT agar dimudahkan jalan bagi Ucok dalam mewujudkan impiannya. Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : "ada tiga do’a yang langsung diterima oleh Allah secara langsung yaitu do’a orang yang dianiyaya, do’a seorang musafir dan do’a orang tua terhadap anaknya". [HR. Imam Turmudzi, Ahmad dan Abu Dawud]

    Bulan demi bulan hingga menginjak ke tahun ke-3 akhirnya si Ucok telah dapat mewujudkan impiannya menjadi Manager di salah satu Perusahaan terkemuka di Jakarta. Rasa gembiranya ini diwujudkan dengan membawa Ibunya ke Jakarta dalam merasakan kegembiraan atas kesuksesan yang telah diraih si Ucok.

    Namun kegembiraan itu hanya bertahan dalam hitungan minggu… dan selanjutnya Ucok dihadapkan dengan rutinitas pekerjaan yang banyak menyita waktu dan perhatian kepada Ibunya. Berangkat Subuh dan kembali pulang tengah malam, merupakan aktivitas keseharian Ucok dengan impiannya. Kadang hari libur pun banyak tersita untuk pekerjaannya.

    Ucok yang terkenal dengan rajin beribadah dan santun kepada orang tua mulai bergeser perilakunya akibat tekanan pekerjaan. Dengan fasilitas yang tersedia ditambah lagi dengan karir yang semakin menjulang, membuat dirinya bertambah angkuh dan sombong. Kehadiran Ibunya sudah tidak dianggap lagi oleh Ucok dan sering memperlakukan Ibunya seakan “asisten pribadi” yang menuruti segala keinginannya.

    Coba kita simak hadits berikut ini :

    Allah memerintahkan seorang anak untuk menaati orangtuanya dan mensyukurinya. Ketaatan dan syukur kepada mereka digandengkan dengan ketaatan dan syukur kepada Allah.
    Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, diperoleh bahwa ketaatan kepada Allah saja tanpa taat kepada kedua orangtua belum cukup untuk meraih keridhaan Allah. Karena itu, dengan tegas Allah menyebut kewajiban taat dan syukur kepada orangtua bergandengan dengan kewajiban taat dan syukur kepada-Nya. Rasulullah SAW bersabda : “Ridha Allah diperoleh melalui ridha orangtua, dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan orangtua” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidz├« dari sahabat Nabi, Ibnu ‘Amr bin al-‘Ash.

    Kadang si Ibu terbayang akan kebersamaan mereka semasa di Medan, bercanda dan saling mengasihi walau dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Perasaan rindu akan anaknya membuat si Ibu berusaha untuk menghubungi si Ucok di kantornya.

    Sekretaris di kantor Ucok menerima telepon tersebut dan menyampaikan bahwa Pimpinannya (Ucok) sedang meeting dari pagi. Kebetulan kata miting (=meeting) memiliki arti (mohon maaf) Buang Air Besar (BAB) dalam bahasa asal daerah Ucok dan Ibunya. Mendengar anak yang menderita “sakit BAB” tersebut membuat perasaan Ibu gundah gulana dan berusaha menghubungi 2 jam berikutnya… kata ‘miting’ masih disampaikan oleh Sekretaris tersebut.

    Perasaan cemas tidak menentu serta menyalahkan dirinya sendiri, membuat si Ibu terus menangis dan memohon kepada Allah agar anaknya dapat disembuhkan penyakitnya.

    Hari telah malam dan jam telah menunjukkan jam 19.00 namun Ucok belum memberikan kabar kepada Ibunya mengenai keadaannya, membuat hati si Ibu terus diliputi kegelisahan. Dengan tangan gemetar Ibunya kembali menelepon Ucok ke kantor untuk menanyakan keadaan dirinya… dan kembali sang Sekretaris menyampaikan hal yang sama : “dari tadi pagi hingga saat ini Bapak masih meeting dan sangat serius Bu…”

    Dengan usia yang sangat senja si Ibu memberanikan dirinya untuk pergi bersama “asisten rumah” menuju ke kantor Ucok dengan menggunakan transportasi umum. Sepanjang jalan si Ibu terus meneteskan air matanya dan membayangkan sakit si Ucok.

    Sesampai di kantor Ucok dengan perasaan yang tidak menentu untuk bertemu dengan anaknya, si Ibu akhirnya tiba dan telah berada dalam ruangan kerja Ucok yang kosong… dan diatas meja Ucok maupun Sekretarisnya masih terdapat kertas-kertas yang berantakan, menandakan bahwa mereka masih berada di kantor.

    Setelah mencari-cari seluruh ruangan, akhirnya terdapat sebuah ruangan tertutup dengan gema suara yang berasal dari dalamnya. Si Ibu yang kebingunan dan penasaran akhirnya membuka ruangan tersebut dan akhirnya melihat si Ucok sedang melakukan presentasi dengan para Investor dengan dibantu Sekretarisnya…. ??!!

    Semua mata dalam ruangan meeting tersebut tertuju kepada “sesosok tua renta” yang menangis berteriak memanggil nama Ucok. Para Investor kebingungan melihat kejadian yang ada dengan keheranan, membuat hati dan perasaan Ucok terasa terhina….. dengan membentak serta menyeret Ibunya dengan bantuan Security agar segera meninggalkan ruangan tersebut sambil menyuruh Security tersebut agar selepas meeting menemui Ucok di ruangannya.

    Ibu yang sangat sedih dan bingung dengan perlakuan Ucok ini menanyakan kepada Security, mengapa anaknya sudah sehat sedangkan dari pagi tadi hingga sebelum kedatangannya diperoleh kabar bahwa anaknya ‘miting’….. Security menjelaskan arti dari kalimat tersebut yang ternyata sangat jauh berbeda dengan pemahaman si Ibu. Merasakan dirinya sangat bodoh dan membuat malu anaknya, akhirnya dengan perasaan sedih si Ibu meninggalkan kantor yang megah tersebut.

    Tentu kita masih ingat dengan sebuah ungkapan dibawah ini :

    ·         Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu. 
    Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam. 
    ·         Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan. 
    Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
    ·         Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang. 
    Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
    ·         Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna. 
    Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.
    ·         Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah. 
    Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah. 
    ·         Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. 
    Sebagai balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"
    ·         Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. 
    Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
    ·         Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim. 
    Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
    ·         Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu. 
    Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih. 
    ·         Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun. 
    Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam. 
    ·         Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop. 
    Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain. 
    ·         Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa. 
    Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah. 
    ·         Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya. 
    Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode. 
    ·         Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan. 
    Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya. 
    ·         Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu. 
    Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu. 
    ·         Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya. 
    Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya. 
    ·         Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting. 
    Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman. 
    ·         Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA. 
    Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi. 
    ·         Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama. 
    Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu. 
    ·         Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?" 
    Sebagai balasannya, kau jawab, "Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!" 
    ·         Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. 
    Sebagai balasannya, kau katakan, "Aku tidak ingin seperti Ibu." 
    ·         Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi. 
    Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali. 
    ·         Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu. 
    Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu. 
    ·         Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan. 
    Sebagai balasannya, kau mengeluh, "Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu ?"
    ·         Saat kau berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai penikahanmu. 
    Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km. 
    ·         Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu.
    Sebagai balasannya, kau katakan  padanya, "Bu, sekarang jamannya sudah berbeda !" 
    ·         Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. 
    Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu." 
    ·         Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. 
    Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya. 
    ·         Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

    Itulah hati seorang Ibu yang tetap menerima dengan ikhlas perbuatan maupun perkataan anak kepada dirinya… dan hal inilah yang juga dirasakan oleh Ibu si Ucok…. betapa mulia hati seorang Ibu…

    Diantara bentuk durhaka (uquq) yang dilakukan oleh Ucok :
    1.    Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun peruntukan yg memuntuk orang tua sedih dan sakit hati.
    2.    Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
    3.    Membentak atau menghardik orang tua.
    4.    Bakhil, tidak mengurusi orang tua bahkan lebih mementingkan yg lain dari pada mengurusi orang tua padahal orang tua sangat membutuhkan. Seandai memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
    5.    Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ‘kolot’ dan lain-lain.
    6.    Menyuruh orang tua, misal menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah.
    7.    Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
    8.    Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dgn keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosial meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini ialah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

     “Dua peruntukan dosa yg Allah cepatkan adzab (siksanya) di dunia yaitu beruntuk zhalim dan al’uquq (durhaka kepada orang tua)” [HR. Hakim 4/177 dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu]

     “Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Telah berkata Rasulullah SAW, ‘Ada tiga golongan yg tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yg membiarkan ada kejelekan (zina) dalam rumah tangganya” [HR.  Hakim, Baihaqi, Ahmad 2/134]

    Durhaka kepada orang tua yang masih hidup tidak akan berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaan tidak akan menjadikannya bahagia.

    Semoga bermanfaat dan semakin menambah kecintaan kita kepada orang tua kita.