15 March 2009

Masih Adakah Disiplin di Indonesia ?

Semua manusia di seluruh dunia sepakat ingin memperoleh kesuksesan dalam kehidupannya. Bagaimana caranya ?

Salah satu cara dalam meraih kesuksesan adalah dengan membangun sebuah kebiasaan yaitu disiplin. Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan.

Kedisiplinan dapat dimulai dari diri sendiri dan kita bisa memulai menerapkannya minimal dalam waktu 7 hari, setelah itu secara bertahap ditingkatkan menjadi 1 bulan hingga seterusnya sehingga kita bisa benar-benar merasakan manfaatnya.

Dalam Al-Qur'an maupun Hadits mengajarkan disiplin seperti :
  • Sholat 5 waktu
  • Melangkahkan kaki dengan kaki kanan terlebih dahulu (kecuali ke kamar kecil),
  • Mengerjakan hal-hal baik dengan tangan kanan,
  • Masuk/keluar rumah dengan berpamitan dan mengucap salam, dll.
John Maxwell dalam bukunya Developing The Leader Within You menulis empat hal yang harus diperhatikan untuk melakukan pengembangan diri secara disiplin :
  1. Start With Yourself (memulai dari diri sendiri)
  2. Start Early (segera mungkin)
  3. Start Small (bertahap)
  4. Start Now (lakukan sekarang)
Saya telah menerapkan kedisiplinan tersebut mulai tahun 2005 yang pada awal menjalankannya sangatlah sulit. Hal pertama yang saya lakukan adalah merubah kebiasaan menaruh barang di sembarang tempat dan merapihkan barang di sekitar meja kerja saya, kemudian meningkat sedikit demi sedikit dan alhamdulillah saat ini saya sangat menikmati hasilnya.

Sekarang tergantung pada diri kita sendiri, apakah kita akan berubah atau masih mengikuti pola kebiasaan yang ada. Jangan menuntut atau memulainya dari orang lain bahkan harus dilakukan secara kekerasan, tetapi mulailah dari diri sendiri sehingga hasil yang didapat dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari2 maupun bernegara.

Pelanggaran lalu lintas, merokok di tempat umum, korupsi, dll. tidak akan terjadi apabila kedisiplinan ini betul2 diterapkan dalam negara kita. Penerapan peraturan serta sanksi hukum terhadap pelanggaran tersebut harus konkret dan tidak pandang bulu. Majunya suatu negara salah satunya adalah berhasil dalam penerapan disiplin di negara tersebut.

02 March 2009

Kampanye Silaturahim

Pemilu yang akan dilakukan (insya Allah) pada tgl. 9 April 2009 hanya tinggal menunggu waktu saja dan saya (kembali) melakukan kampanye yang bertitelkan : Kampanye Silaturahim di daerah pemilihan Jawa Barat V.

Kampanye yang saya lakukan (mungkin) berbeda dengan kampanye yang diusung para Caleg lainnya dengan memasang Baliho, Poster, dll. Kampanye Silaturahim saya hanya berupa kunjungan ke rumah² warga maupun tempat² berkumpulnya warga yang mayoritas berpenghasilan menengah kebawah. Interaksi langsung dengan warga tersebut dirasakan sekali begitu bermanfaat sehingga dapat terjalin hubungan yang sangat dekat dan mereka juga dapat mengeluarkan unek² secara gamblang tanpa basa-basi.

Banyak dari mereka yang buta aksara maupun belum mengenyam pendidikan dasar disamping kehidupan mereka yang sangat pas² an yang membuat hati ini tersayat melihat kehidupan mereka yang sangat memprihatinkan.

Pemerintahan SBY-JK memang telah membuat perencanaan program penanggulangan kemiskinan melalui PNPM Mandiri dengan memusatkan perhatian pada beberapa bidang prioritas membantu 34,96 juta penduduknya lepas dari jerat kemiskinan dan juga mencegah sejumlah besar penduduk Indonesia yang saat ini tidak miskin terjerembab ke dalam kemiskinan (sumber : http://www.p2kp.org/web/wartaarsipdetil.asp?mid=2337&catid=2&).

Namun keprihatinan Presiden SBY pada tgl. 5 Maret 2008 di Kota Bogor tersebut s/d saat ini belum menunjukkan angka yang signifikan. Hal ini kemungkinan disebabkan terbatasnya periode pemerintahan beliau saat ini sehingga PNPM tersebut belum sepenuhnya dapat terwujud.

Namun yang membuat miris hati ini adalah kurang seriusnya 'wakil kita' dalam menanggulangi permasalahan demi permasalah yang terjadi di Indonesia. Dalam http://forum-politisi.org/berita/article.php?id=608 disebutkan bahwa 836 responden yang terjaring dalam jajak pendapat, sebanyak 68,5 persen menyatakan kinerja DPR buruk. Di tengah realitas saat ini, DPR seolah lebih larut dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilu. Mereka dianggap meminggirkan apa yang lebih dibutuhkan rakyat. DPR dinilai lebih berpihak pada kepentingan kelompok atau partai.

Saya sendiri sangat mendukung sepenuhnya perumusan parameter jelas Kinerja DPR sehingga sebagai institusi maupun perorangan dapat diukur. Parameter yang jelas bisa memberikan semangat kepada anggota legislatif yang bersungguh-sungguh menjalankan fungsinya, baik di bidang legislasi, pengawasan, maupun anggaran. Parameter ini juga bisa dijadikan dasar oleh fraksi atau partai politik untuk menilai anggotanya. Anggota yang baik harus dicalonkan kembali dalam pemilu berikutnya, yang buruk dapat diganti di tengah periode.

Kalau-lah 'flash back' pada saat mereka mencoba meraih hati rakyat dengan pendekatan maupun janji² yang belum terealisasi s/d saat ini akankah 'wakil kita' yang terhormat merasa tersayat hatinya ??

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, menceritakan pada suatu hari ada seorang telah datang berjumpa dengan Rasulullah SAW karena hendak memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu berkata : "Ya Rasulullah. Sebenarnya hamba ini selalu saja berbuat dosa dan sulit meninggalkannya." Maka Rasulullah menjawab : "Mahukah engkau berjanji bahwa engkau sanggup meninggalkan berkata bohong?" "Ya, saya berjanji" jawab lelaki itu singkat. Selepas itu, dia pun pulanglah ke rumahnya sambil berkata di dalam hatinya : "Berat juga aku hendak meninggalkan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah ."

Maka setiap kali hatinya terdorong untuk berbuat jahat, hati kecilnya terus mengejek dan teringat semua pesan Rasulullah SAW dan disaat tersebut hatinya berkata : "Kalau aku berbohong kepada Rasulullah berarti aku telah mengkhianati janjiku padanya... sesungguhnya di dalam pesanan Rasulullah itu tersebut terkandung sebuah hikmah yang sangat berharga."

Melihat begitu beratnya janji dan mubazirnya uang untuk menarik simpati masyarakat tersebut, maka saya mencoba (walau pada awalnya dirasakan sangat berat) untuk melakukan interaksi langsung ke masyarakat melakukan Kampanye Silaturahim dengan dibantu oleh teman² seperjuangan di masing² daerah tersebut. Ternyata cara ini sangat menyentuh hati saya maupun teman² sehingga kami pun bertekad (insya Allah) akan berupaya membantu mereka sesuai dengan kapasitas kami masing² dan berusaha tetap menjalin silaturahim dengan mereka. Berinteraksi dengan mereka adalah hal yang paling utama dibandingkan dengan 'nafsu' menjadi anggota Parlemen.... kita serahkan semua yang terbaik kepada Allah SWT.... amin.

Anas r.a berkata bahwa Rasullah saw bersabda, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.
Al-Qurthubi mengatakan, “Seluruh agama sepakat bahwa menyambung silaturahmi wajib dan memutuskannya diharamkan“.
Ibnu Abidin al-Hanafi mengatakan, ”Menyambung silaturahmi wajib meskipun hanya dengan mengucapkan salam, memberi hadiah, memberi pertolongan, duduk bareng, ngobrol, bersikap ramah dan berbuat baik. Kalau seseorang yang hendak disilaturahmi berada di lain tempat cukup dengan berkirim surat, namun lebih afdol kalau ia bisa berkunjung ke tempat tinggalnya”.

Terima kasih yang tiada terhingga atas terwujudnya Kampanye Silaturrahim kepada :
  • Papa
  • Istri & Anak
  • Mertua
  • Seluruh adik : Vita, Melly & Irfan
  • Ipar : John & Riko
  • Teman : Ichsan, Monang, Wiji, Yudhi, Wingky, Doni, Jamal, Iim Ibrahim, Cucun, Roni, Ahmad, Mawardi, Yayan, dll.
  • Warga Taman Kenari Nusantara inc. Satpam, Warga Citra Indah inc. Satpam, masyarakat : Jonggol, Gunung Putri, Cikeas, Cileungsi, Citeureup dan Cibinong.