23 March 2011

Sedekah Membuat Hidup Menakjubkan

Berita singkat (sms) 3 minggu lalu mampir di HP saya : “Don… ada uang Rp. 2 Juta aku pinjam untuk biaya Rumah Sakit Bapakku saat ini sedang sekarat ?” Saya pun membuka isi dompet yang hanya berisi uang sebesar Rp.15.000,-… dengan berat hati saya nelp. teman tersebut dan hanya bisa berkata : “maaf... uang saat ini tidak ada dan insya Allah… saya berusaha mencoba membantu kesulitanmu”. Setiap selepas sholat hingga ‘Isya saya berdo’a kepada Allah untuk dapat membantu kesulitan yang saat ini melanda teman saya.   

Waktu pun telah menunjukkan jam 22.15 (sehabis pengajian mingguan di Pondok Indah), saya pun bersiap pulang… secara tiba-tiba saya disampiri seseorang dan menyerahkan sebuah amplop… Subhanallah… (dalam benak saya) saya memanjatkan do’a syukur kepada Allah dan alhamdulillah akhirnya saya dapat membantu kesulitan teman saya.

Keesokan harinya (Kamis pagi) saya menelp. teman saya untuk memberitakan kabar gembira (setelah dialokasikan untuk kebutuhan keluarga serta uang sekolah anak) bahwa saya ingin membantu kesulitannya… namun awalnya uang tersebut ditolak olehnya dikarenakan telah memperoleh pinjaman dari orang lain dan khawatir uang saya tersebut tidak dapat dikembalikan olehnya.

http://moslembeliefs.info/category/about-charity/
Saya sampaikan bahwa uang ini kemungkinan merupakan do’a kepada Allah melalui tangan saya untuk membantu kesulitan dirinya dan saya sangat ikhlas apabila uang tersebut tidak bisa dikembalikan… akhirnya uang tersebut diterima olehnya dan selepas mengucapkan terima kasih ia pun pamit pulang. Dini hari (Jum’at jam : 01.00) saya memperoleh sms darinya yang mengabarkan bahwa Bapaknya  wafat… inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…

Seminggu kemudian… sewaktu saya menuju kendaraan, Adek Ipar menghampiri saya dan memberikan sebuah amplop yang sangat tebal dari “Hamba Allah” yang tidak mau disebutkan namanya… Subhanallah… begitu besar rahmat-Mu kepada hambamu ini ya Allah… dan minggu berikutnya saya diterima bekerja di salah satu Perusahaan di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta Barat…

Peristiwa menakjubkan sering terjadi dalam kehidupan ini dan pertama kali saya alami di tahun 2008… 1 bulan setelah saya mengajukan permohonan pensiun dini dari Bank Rakyat Indonesia......

Dengan sisa uang sebesar Rp. 100.000,- kami berniat untuk menghadiri sholat Tarawih di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dikarenakan Maghrib akan menjelang kami pun terpaksa mempergunakan Taxi dari daerah Kp. Rambutan, Jakarta Timur. Dalam perjalanan ke Pondok Indah, sang Supir menceritakan kejadian pilu bahwa dirinya telah ditipu oleh penumpang Taxi sebelum kami sebesar Rp. 300.000,- dengan modus mengantar penumpang tersebut ke temannya dan Taxi menunggu sebentar.

Kami pun sampai di Pondok Indah dan argo pun tertera sebesar Rp. 49.000,- dan sisa uang yang kami miliki hanya sebesar + Rp. 50.000,-. Melihat kesedihan yang dialami oleh Supir Taxi tersebut kami pun ikhlas merelakan uang semata wayang tersebut sebagai sedikit bantuan. Istri pun mengingatkan saya, bagaimana cara kami pulang, sedangkan uang sudah tidak ada lagi… ? Dengan penuh keyakinan akan hadirnya Allah, spontan saya sampaikan ke istri bahwa kita akan diberikan kendaraan yang “lebih nikmat” dari Allah SWT. Allah berfirman : “Dan hendaklah orang yang disempitkan rezekinya bersedekah”. [Qs. Ath-Thalaq : 5].
                          
Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa : ”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa : ”Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”

Sungguh saya sangat yakin bahwa Allah akan mengganti dengan berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya ?

Selesai sholat tarawih saya menyendiri dan berdo’a kepada Allah, untuk diberikan rahmat untuk dimudahkan perjalanan menuju (kembali) ke rumah. Saya pandangi wajah anak dan istri dengan terus berdzikir kepada Allah SWT.

Subhanallah... 10 menit kemudian datanglah pemilik rumah dengan wajah senyumnya memberikan sebuah amplop tebal untuk diterima oleh saya… semoga Allah SWT memberikan kemuliaan kepada Beliau dan keluarga… amin.

Dalam kamar mandi saya mulai membuka isi amplop tersebut untuk mengambil uang untuk ongkos Taxi menuju ke rumah… Allahu Akbar… uang sebesar Rp. 5 juta ??! Subhanallah…   

Sejak peristiwa itu saya semakin ikhlas dalam memaknai hidup dan semakin meningkatkan ibadah, sedekah serta ketaqwaan kepada Allah SWT… dan memang begitu banyak “peristiwa menakjubkan” datang pada diri saya…

Harta kekayaan manusia hanya berarti ketika ia masih hidup. Ia dapat menggunakan sesuka hatinya. Adanya perintah bersedekah hanya untuk mengingatkan manusia, bahwa apa yang ia miliki pada hakikatnya adalah milik Allah. Manusia terlahir ke dunia tanpa membawa dan memiliki harta. Dengan kemurahan dan kasih sayang Allah, manusia dapat memiliki apa yang di inginkannya.

Perintah untuk bersedekah juga merupakan ujian terhadap keimanan seseorang. Manusia yang dikuasai harta kekayaannya tentu akan berat mengeluarkan sebagian hartanya. Dan sebaliknya bagi orang yang yakin, maka dengan ikhlas menyerahkan hartanya di jalan Allah. Orang beriman yakin bahwa dengan bersedekah, maka harta justru akan bertambah dan berkah.

Jika mati seorang anak Adam maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang mendoakannya“. (HR Muslim)

Banyak hikmah yang bisa dipetik tentang bekal untuk mati dan agar pahala kita terus mengalir meskipun telah wafat. Satu di antaranya adalah sedekah atau amal jariyah dalam arti luas.

Rasulullah SAW bersabda,Sesungguhnya pahala orang Mukmin yang menyusul amalnya setelah dia meninggal dunia adalah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak-anak saleh yang dia tinggalkan, atau mushaf (Al-Quran) yang dia wariskan, atau masjid yang dia bangun, atau rumah yang dia bangun untuk para ibnu sabil, atau selokan yang dia alirkan untuk kepentingan umum, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya pada waktu sehat dalam hidupnya, akan menyusul amalnya sesudah matinya“. [HR. Ibnu Majah]