06 November 2014

Double “4” : 27 Okt 1970 – 27 Okt 2014

Bertambahnya usia sering dijadikan ajang kegembiraan. Berbagai skenario pun dilakukan untuk memperingati ‘tanggal bersejarah’ tersebut. Ada yang bernuansa duniawi dan banyak juga dilakukan secara Islami. Hal tersebut sah2 saja dilakukan oleh di pemilik ‘tanggal bersejarah’ tersebut maupun dilakukan oleh teman, instansi/perusahaan maupun keluarga... dengan kata lain : “tergantung niatnya”, bukankah begitu ?

Memiliki keluarga dan teman tercinta merupakan suatu anugrah nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita dan sebagai manusia kita wajib mensyukuri karunia tersebut. Perhatian dan kasih sayang yang (akan) diberikan menjadikan kesan tersendiri dalam hidup kita.

Namun entah mengapa... moment kebahagian (duniawi) tersebut hanya berlangsung s/d 2 tahun yang lalu (tepatnya tanggal 27 Oktober 2012). Setelah memasuki usia ‘Double 4’ bathin, perasaan dan jiwa seakan kompak memberitahukan kejenuhan terhadap dunia yang seakan berjalan monoton dengan sebagian manusia yang hanya mengejar materi, kedudukan dan kekayaan.

Allah SWT berfirman :

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Padahal Allah SWT telah memberikan kenikmatan tiada tara dalam hidupku, sedangkan terkadang aku masih sangat jauh dari rasa syukur dan terlalu cengeng ‘meratapi’ ujian hidup yang tidak seberapa dibandingkan para syuhada maupun Nabi. Sudah selayaknya aku sebagai hamba-Nya bersyukur, bersabar dan Istighfar. 

1.      Bersyukur
Aku telah memperoleh curahan kenikmatan yang tak terhingga dari Allah SWT dan harus sering bersyukur bahwa Allah SWT telah memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.

Istri dan Anakku adalah contoh kecil kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT dalam hidupku... Allah SWT telah memberikan ‘kado terindah’ yang menghiasi hidupku. Terkadang tanpa disadari genangan air telah menghiasi mataku, betapa masih kurang bersyukurnya diriku terhadap kehendak-Nya. Dalam tidur lelap mereka, aku cium dan belai wajah mereka dengan penuh kasih sayang... betapa aku sangat mencintai kenikmatan yang telah Allah SWT berikan.

Allah SWT berfirman :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.   [Qs. Ali-Imran : 14]

Sebagai seorang Imam dalam keluarga, masih banyak kekurangan dan ketidak-mampuanku dalam mendirikan dan menjaga tiang di dalam rumah tangga yang telah Allah SWT berikan kepadaku.

Allah SWT berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Laki-laki itu adalah pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infaqkan dari harta-harta mereka. Maka wanita-wanita yang shalihah adalah  yang qanitah (ahli ibadah), yang menjaga (kehormatannya) taatkala suami tidak ada dengan sebab Allah telah menjaganya. Adapun wanita-wanita yang kalian khawatirkan akan ketidaktaatannya maka nasihatilah mereka dan tinggalkanlah di tempat-tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Akan tetapi jika mereka sudah mentaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka, sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi Maha Besar”.   [Qs. an-Nisa’ : 34]

Belum mampunya diriku sebagai seorang Imam dalam keluarga :

  • Kurang mengajarkan agama dan hukum syariat Islam
  • Diriku sangat kurang dalam  memberikan nafkah kepada Istri, padahal Istri telah mengasuh  dan mendidik anakku.

Rasulullah SAW bersabda : “Jika seorang Muslim mengeluarkan nafkah untuk keluarganya sedangkan dia mengharapkan pahalanya, maka nafkah itu adalah sedekah baginya”.   [Muttafaq ‘alaih]

  • Terkadang bersikap keras, kasar dan tidak lembut terhadap isteriku

Rasulullah SAW bersabda : “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik–baik kalian adalah yang paling baik tehadap isteri-isterinya”.  [HR. at-Tirmidzi]

  • Tidak membantu pekerjaan Istriku di rumah

Sedangkan Rasulullah SAW tidak segan untuk membantu pekerjaan isterinya. Ketika Aisyah ra ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya, Beliau menjawab : “Beliau membantu pekerjaan isterinya dan jika datang waktu sholat, maka Beliau pun keluar untuk sholat”.   [HR. Bukhari]
  • Masih kurang mengajarkan kepada anakku dalam mencintai Nabi dan keluarganya.
  • Seharusnya aku sering memperhatikan pengajaran al-Qur’an kepada anakku, karena para pengusung al-Qur’an berada di bawah naungan arsy Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya.

  • Memberi nafkah yang masih bercampur dengan Riba
Rasulullah SAW bersabda : “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia kerjakan dengannnya, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya untuk apa ia pergunakan”.   [HR. Turmudzi]
 
2.      Bersabar

Aku masih belum memiliki kesabaran, ketika Allah mengujiku dengan berbagai ujian. Sudah selayaknya kewajibanku untuk senantiasa bersabar untuk :

  • Menahan hati dari perasaan gelisah, marah dan kesal terhadap ketentuan Allah SWT.
  • Tidak berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah SWT kepada diriku dan yakin bahwa Allah SWT sedang menguji keimananku.

3.      Istighfar

Sebagaimana manusia terkadang aku sering berbuat dosa di hadapan Allah SWT.

Disamping itu sebagai seorang Abang pengganti sosok alm. Papa, aku juga masih sangat jauh dari harapan dan keinginan dari Adek2ku. Dalam kesulitan dan kegelisahan mereka, aku masih belum sanggup mengaplikasikan figur alm. Papa yang sangat luar biasa dalam mengatasi segala permasalahan Adek2ku.

Sebagai seorang Sahabat dan Teman, aku juga sering mengecewakan dan kurang amanah dalam segala hal, hal tersebut juga berlaku dalam bersosialisasi dalam masyarakat.

Begitu banyak kekurangan dalam hidupku selama ini yang akhirnya menimbulkan kegalauan yang teramat sangat. Kegalauan hati dan perasaanku tersebut akhirnya ‘memaksaku’ untuk segera melakukan muhasabah dan entah mengapa ide yang terlintas adalah dengan berjalan kaki dari rumah dan rencananya menuju ke Masjid at-Tiin.

Salah satu hadits yang insya Allah aku terapkan dalam hidup ini... Rasulullah SAW bersabda : “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara :
-        tentang umurnya : untuk apa dihabiskan ?
-        tentang masa mudanya : dipergunakan untuk apa ?
-        tentang hartanya :  dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan ? dan
-       tentang ilmunya : apa yang dilakukan dengan ilmunya itu ? [HR. Tirmidzi]

Dan menjelang akhir wafatnya, Abu Bakar memanggil putrinya Aisyah ra. Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya semenjak kita menangani urusan kaum Muslimin, tidak pernah makan (dari dinar dan dirham mereka). Yang kita makan adalah makanan yang keras dan sudah rusak”.   [HR. Ahmad]

Abu Bakar menghisab dirinya sendiri dan tidak memperkenankan Aisyah mengambil apa yang dimiliki Abu Bakar. Semuanya diminta untuk diserahkan kepada Umar bin Khaththab. Tentu, langkah Abu Bakar ini sagat berat, tetapi ketika muhasabah telah menjadi gaya hidup maka tidak ada yang lebih penting selain menyucikan diri demi ridha Ilahi.

Kembali dalam perjalanan kaki... aku terus melakukan muhasabah dengan intropeksi diri dengan bertanya kepada diriku sendiri tentang perbuatan yang pernah aku lakukan apakah sesuai dengan perintah-perintah Allah SWT ? Seharusnya aku harus lebih banyak meluangkan waktu dalam melakukan muhasabah.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami”.   [Qs. al-Anbiya : 90]

Begitu besar karunia dan nikmat-nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan kepada diriku dan sungguh aku sering merasa kurang bersyukur atas segala karunia Allah SWT. Tanpa terasa adzan Maghrib telah berkumandang dan perjalananku akhirnya aku hentikan di Masjid al-Fajar, Munjul, Jakarta Timur. 

Seusai memberikan ceramah setelah Sholat Maghrib, salah satu Ustadz menghampiriku dan berbagi pengalaman hidupnya. Para jemaah Masjid tersebut lalu mengelilingiku dan membentuk lingkaran untuk memberikan sharing kehidupan mereka masing2.

Aku bertekad untuk beritikaf di Masjid ini untuk melakukan muhasabah hingga besok siang. Begitu nikmat dan indahnya persaudaraan Muslim Jemaah Tabligh di Masjid tersebut. Belajar ilmu al-Qur’an dan Hadits  hingga makan bersama dalam hamparan kain panjang yang telah mereka sediakan. Banyak ilmu yang aku peroleh dari mereka, namun aku masih belum mampu mengikuti perjalanan mereka hingga 40 hari untuk meninggalkan anak-istri.

Begitu indah ‘perjalananku di Double 4’ ini... keesokan siang harinya, tgl. 28 Oktober 2014, aku dijemput oleh istri tercinta untuk berkumpul bersama anak kami tersayang dalam kesejukan rumah idaman kami.

Alhamdulillah... sungguh besar nikmat yang Engkau telah berikan dalam musahabahku ini, Yaa Allah... terima kasih Istri dan Anak tercinta yang sungguh mencintai diriku ini dan maafkan segala kesalahanku kepada kalian atas segala kekhilafan yang pernah aku lakukan... terima kasih Adek2ku dan Ipar2ku tersayang atas segala perhatian kalian selama ini... terima kasih Sahabat2 dan Teman2 semua yang mau menerima diriku yang penuh dengan kekurangan diriku.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kenikmatan beribadah dalam Iman, Islam dan Afiat... amiin ALLAHumma Amiin.

Love U All !