21 December 2014

Musik & Orang Hebat Dalam Hidupku

Kecintaanku akan band Deep Purple saat masih di SMP (tahun 1984) merupakan titik awal belajar mempelajari arti musik dan menambah wawasan musik. Kegagalan mempertahankan keutuhan band amatirku bertitelkan Mitzidupree (diambil dari judul lagu Deep Purple dalam album The House of Blue Light) tidak menyurutkan hatiku untuk bertemu dengan orang-orang hebat di dalam bisnis ini. Nama besar Chris Diaz (Musica) dan Tom Slepe (Recording) pernah singgah dalam membantuku untuk menggapai impian tersebut, walau akhirnya belum dapat terwujud.


Umur band yang hanya bertahan 1 tahun dengan sendirinya bubar karena aku mencoba menjadi nara sumber band kecintaanku, Deep Purple. Perkenalanku dengan Maestro pengamat musik dengan bejibun koleksi piringan hitam dan CD-nya, Bang Ilham Affan di radio Pas FM (tahun 1995) memiliki sesi sendiri dalam bagian hidupku di bisnis musik. Banyak pengalaman berharga dalam menambah wawasan musik maupun falsafah hidup yang aku peroleh dari Beliau.

Menjadi nara sumber di beberapa radio (Pas FM dan M97 FM) dan penyiar radio di Bisnis FM merupakan buah tangan kesabaran Beliau dalam membimbingku hingga akhirnya mimpiku dapat terwujud ketika Deep Purple manggung di Indonesia pada tahun 2002 dan 2004. M97 FM merupakan satu2nya radio pada saat itu merealisasikannya dengan mengundang dan memberikan aku porsi lebih dalam siaran mengenai bio dan discography Deep Purple sebelum manggung di Jakarta Convention Center (tahun 2002) dan di Istora Senayan (tahun 2004). Nama besar seperti Febrira Galib, Andy Yulias, Iwoch Imansyah dan Hamdan (Danny Sakrie) merupakan orang yang sangat berjasa menghantarkan mimpiku tersebut.

20 tahun telah berlalu...

Kerinduanku akan orang-orang hebat tersebut khususnya Mentorku, Bang Ilham Affan, seakan memberikan semangat baru untuk kembali "menghidupkan" acara yang menjadi pioneerku hidupku di bisnis musik. Nama acara Rock Legend di Pas FM seakan sangat melekat di hatiku dan saat ini aku berusaha untuk menghidupkannya kembali dengan format yang berbeda. On air di radio di tahun 1995 akan aku usung berupa live di atas panggung, sehingga audience, nara sumber dan materi lagu yang dibawa oleh (Cover) Band dapat berinteraksi langsung.

Sebagian besar orang-orang hebat tersebut telah dihubungi untuk mewujudkan mimpiku dan aku berusaha memberikan mereka "kado terima kasih" atas semua kepercayaan dan ilmu mereka kepadaku. Beberapa venue telah aku survey dan insya Allah minggu depan Allah SWT dapat mengizinkan aku dan dapat mewujudkannya di awal tahun 2015...
Beberapa nama hebat yang juga memberikan motivasi (musik) :
  1. Taufik dan Istri (Pico Gonzalez dan Andromeda : Bahana FM)
  2. Denny MR  (majalah HAI),
  3. Purwanto Setiadi  (majalah Tempo),
  4. Sahabatku semasa di Bahana Rock Request di tahun 1987,
  5. dll yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT dapat memberikan kemudahan padaku untuk berterima kasih kepada mereka semua yang merupakan bagian (musik) dalam hidupku.

Love U All !

06 November 2014

Double “4” : 27 Okt 1970 – 27 Okt 2014

Bertambahnya usia sering dijadikan ajang kegembiraan. Berbagai skenario pun dilakukan untuk memperingati ‘tanggal bersejarah’ tersebut. Ada yang bernuansa duniawi dan banyak juga dilakukan secara Islami. Hal tersebut sah2 saja dilakukan oleh di pemilik ‘tanggal bersejarah’ tersebut maupun dilakukan oleh teman, instansi/perusahaan maupun keluarga... dengan kata lain : “tergantung niatnya”, bukankah begitu ?

Memiliki keluarga dan teman tercinta merupakan suatu anugrah nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita dan sebagai manusia kita wajib mensyukuri karunia tersebut. Perhatian dan kasih sayang yang (akan) diberikan menjadikan kesan tersendiri dalam hidup kita.

Namun entah mengapa... moment kebahagian (duniawi) tersebut hanya berlangsung s/d 2 tahun yang lalu (tepatnya tanggal 27 Oktober 2012). Setelah memasuki usia ‘Double 4’ bathin, perasaan dan jiwa seakan kompak memberitahukan kejenuhan terhadap dunia yang seakan berjalan monoton dengan sebagian manusia yang hanya mengejar materi, kedudukan dan kekayaan.

Allah SWT berfirman :

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Padahal Allah SWT telah memberikan kenikmatan tiada tara dalam hidupku, sedangkan terkadang aku masih sangat jauh dari rasa syukur dan terlalu cengeng ‘meratapi’ ujian hidup yang tidak seberapa dibandingkan para syuhada maupun Nabi. Sudah selayaknya aku sebagai hamba-Nya bersyukur, bersabar dan Istighfar. 

1.      Bersyukur
Aku telah memperoleh curahan kenikmatan yang tak terhingga dari Allah SWT dan harus sering bersyukur bahwa Allah SWT telah memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.

Istri dan Anakku adalah contoh kecil kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT dalam hidupku... Allah SWT telah memberikan ‘kado terindah’ yang menghiasi hidupku. Terkadang tanpa disadari genangan air telah menghiasi mataku, betapa masih kurang bersyukurnya diriku terhadap kehendak-Nya. Dalam tidur lelap mereka, aku cium dan belai wajah mereka dengan penuh kasih sayang... betapa aku sangat mencintai kenikmatan yang telah Allah SWT berikan.

Allah SWT berfirman :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.   [Qs. Ali-Imran : 14]

Sebagai seorang Imam dalam keluarga, masih banyak kekurangan dan ketidak-mampuanku dalam mendirikan dan menjaga tiang di dalam rumah tangga yang telah Allah SWT berikan kepadaku.

Allah SWT berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Laki-laki itu adalah pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infaqkan dari harta-harta mereka. Maka wanita-wanita yang shalihah adalah  yang qanitah (ahli ibadah), yang menjaga (kehormatannya) taatkala suami tidak ada dengan sebab Allah telah menjaganya. Adapun wanita-wanita yang kalian khawatirkan akan ketidaktaatannya maka nasihatilah mereka dan tinggalkanlah di tempat-tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Akan tetapi jika mereka sudah mentaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka, sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi Maha Besar”.   [Qs. an-Nisa’ : 34]

Belum mampunya diriku sebagai seorang Imam dalam keluarga :

  • Kurang mengajarkan agama dan hukum syariat Islam
  • Diriku sangat kurang dalam  memberikan nafkah kepada Istri, padahal Istri telah mengasuh  dan mendidik anakku.

Rasulullah SAW bersabda : “Jika seorang Muslim mengeluarkan nafkah untuk keluarganya sedangkan dia mengharapkan pahalanya, maka nafkah itu adalah sedekah baginya”.   [Muttafaq ‘alaih]

  • Terkadang bersikap keras, kasar dan tidak lembut terhadap isteriku

Rasulullah SAW bersabda : “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik–baik kalian adalah yang paling baik tehadap isteri-isterinya”.  [HR. at-Tirmidzi]

  • Tidak membantu pekerjaan Istriku di rumah

Sedangkan Rasulullah SAW tidak segan untuk membantu pekerjaan isterinya. Ketika Aisyah ra ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya, Beliau menjawab : “Beliau membantu pekerjaan isterinya dan jika datang waktu sholat, maka Beliau pun keluar untuk sholat”.   [HR. Bukhari]
  • Masih kurang mengajarkan kepada anakku dalam mencintai Nabi dan keluarganya.
  • Seharusnya aku sering memperhatikan pengajaran al-Qur’an kepada anakku, karena para pengusung al-Qur’an berada di bawah naungan arsy Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya.

  • Memberi nafkah yang masih bercampur dengan Riba
Rasulullah SAW bersabda : “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia kerjakan dengannnya, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya untuk apa ia pergunakan”.   [HR. Turmudzi]
 
2.      Bersabar

Aku masih belum memiliki kesabaran, ketika Allah mengujiku dengan berbagai ujian. Sudah selayaknya kewajibanku untuk senantiasa bersabar untuk :

  • Menahan hati dari perasaan gelisah, marah dan kesal terhadap ketentuan Allah SWT.
  • Tidak berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah SWT kepada diriku dan yakin bahwa Allah SWT sedang menguji keimananku.

3.      Istighfar

Sebagaimana manusia terkadang aku sering berbuat dosa di hadapan Allah SWT.

Disamping itu sebagai seorang Abang pengganti sosok alm. Papa, aku juga masih sangat jauh dari harapan dan keinginan dari Adek2ku. Dalam kesulitan dan kegelisahan mereka, aku masih belum sanggup mengaplikasikan figur alm. Papa yang sangat luar biasa dalam mengatasi segala permasalahan Adek2ku.

Sebagai seorang Sahabat dan Teman, aku juga sering mengecewakan dan kurang amanah dalam segala hal, hal tersebut juga berlaku dalam bersosialisasi dalam masyarakat.

Begitu banyak kekurangan dalam hidupku selama ini yang akhirnya menimbulkan kegalauan yang teramat sangat. Kegalauan hati dan perasaanku tersebut akhirnya ‘memaksaku’ untuk segera melakukan muhasabah dan entah mengapa ide yang terlintas adalah dengan berjalan kaki dari rumah dan rencananya menuju ke Masjid at-Tiin.

Salah satu hadits yang insya Allah aku terapkan dalam hidup ini... Rasulullah SAW bersabda : “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara :
-        tentang umurnya : untuk apa dihabiskan ?
-        tentang masa mudanya : dipergunakan untuk apa ?
-        tentang hartanya :  dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan ? dan
-       tentang ilmunya : apa yang dilakukan dengan ilmunya itu ? [HR. Tirmidzi]

Dan menjelang akhir wafatnya, Abu Bakar memanggil putrinya Aisyah ra. Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya semenjak kita menangani urusan kaum Muslimin, tidak pernah makan (dari dinar dan dirham mereka). Yang kita makan adalah makanan yang keras dan sudah rusak”.   [HR. Ahmad]

Abu Bakar menghisab dirinya sendiri dan tidak memperkenankan Aisyah mengambil apa yang dimiliki Abu Bakar. Semuanya diminta untuk diserahkan kepada Umar bin Khaththab. Tentu, langkah Abu Bakar ini sagat berat, tetapi ketika muhasabah telah menjadi gaya hidup maka tidak ada yang lebih penting selain menyucikan diri demi ridha Ilahi.

Kembali dalam perjalanan kaki... aku terus melakukan muhasabah dengan intropeksi diri dengan bertanya kepada diriku sendiri tentang perbuatan yang pernah aku lakukan apakah sesuai dengan perintah-perintah Allah SWT ? Seharusnya aku harus lebih banyak meluangkan waktu dalam melakukan muhasabah.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami”.   [Qs. al-Anbiya : 90]

Begitu besar karunia dan nikmat-nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan kepada diriku dan sungguh aku sering merasa kurang bersyukur atas segala karunia Allah SWT. Tanpa terasa adzan Maghrib telah berkumandang dan perjalananku akhirnya aku hentikan di Masjid al-Fajar, Munjul, Jakarta Timur. 

Seusai memberikan ceramah setelah Sholat Maghrib, salah satu Ustadz menghampiriku dan berbagi pengalaman hidupnya. Para jemaah Masjid tersebut lalu mengelilingiku dan membentuk lingkaran untuk memberikan sharing kehidupan mereka masing2.

Aku bertekad untuk beritikaf di Masjid ini untuk melakukan muhasabah hingga besok siang. Begitu nikmat dan indahnya persaudaraan Muslim Jemaah Tabligh di Masjid tersebut. Belajar ilmu al-Qur’an dan Hadits  hingga makan bersama dalam hamparan kain panjang yang telah mereka sediakan. Banyak ilmu yang aku peroleh dari mereka, namun aku masih belum mampu mengikuti perjalanan mereka hingga 40 hari untuk meninggalkan anak-istri.

Begitu indah ‘perjalananku di Double 4’ ini... keesokan siang harinya, tgl. 28 Oktober 2014, aku dijemput oleh istri tercinta untuk berkumpul bersama anak kami tersayang dalam kesejukan rumah idaman kami.

Alhamdulillah... sungguh besar nikmat yang Engkau telah berikan dalam musahabahku ini, Yaa Allah... terima kasih Istri dan Anak tercinta yang sungguh mencintai diriku ini dan maafkan segala kesalahanku kepada kalian atas segala kekhilafan yang pernah aku lakukan... terima kasih Adek2ku dan Ipar2ku tersayang atas segala perhatian kalian selama ini... terima kasih Sahabat2 dan Teman2 semua yang mau menerima diriku yang penuh dengan kekurangan diriku.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kenikmatan beribadah dalam Iman, Islam dan Afiat... amiin ALLAHumma Amiin.

Love U All !

06 July 2014

Debat Capres/Cawapres, Bermanfaatkah ?


Komisi Pemilihan Umum (KPU) sesuai Undang-Undang 42 Tahun 2008 (UU Pilpres) melakukan kegiatan debat atas calon Presiden dan calon Wakil Presiden di tahun 2014 untuk menunjukkan kepada rakyat mengenai kualitas Capres/Cawapres, sehingga rakyat Indonesia yakin dengan pilihannya. Dalam rangka penyebarluasan informasi dan KPU pun telah menentukan 11 stasiun televisi untuk menayangkan debat tersebut, yaitu : TVRI, TVOne, SCTV, RCTI, Indosiar, MetroTV, Berita Satu, ANTV, MNCTV, Kompas TV dan Global TV.  

Tidak seperti pemilihan Capres/Cawapres periode sebelum-sebelumnya, mungkin dikarenakan hanya terdiri dari 2 Capres/Cawapres, demokrasi di tahun 2014 ini dapat dikatakan penuh dengan bermacam fitnah, gibah, cacian, cercaan hingga keangkuhan yang tiada mendasar. Berbagai tulisan, komentar dan tontonan seakan memanjakan kita dalam menikmatinya, hingga para pengguna sosial media pun ikut meramaikan dengan status2 mereka.  

Sangat terlihat begitu rapuhnya kita, yang seakan ‘rela’ memperjuangkan sesosok manusia yang dianggap terbaik, sedangkan sesosok ‘pujaan’ tersebut tidak diketahui persis jati dirinya dan hanya berdasarkan dari ulasan media massa maupun mendengar dari orang lain. Entah apa yang ada di benak mereka, kukuh memperjuangkan sebuah sikap dan pernyataan yang hanya berupa ilusi yang semu.  

Islam melarang debat, kecuali perbedatannya memenuhi syarat-syarat berikut ini :
  1. Ikhlas semata-mata dalam membela dan meninggikan kalimat Allah, bukan dengan niat untuk menjadi populer, riya', atau ingin dipandang jago debat, hebat, cerdas dan alim (berwawasan luas).
  2. Orang yang berdebat harus mapan keilmuannya dalam masalah yang menjadi topik debat. Jika dia orang yang jahil, maka diharamkan atasnya.
  3. Bertujuan menemukan kebenaran dengan argumentasi yang berdasarkan nash al-Quran dan Hadits, bukan untuk menghinakan atau merendahkan.
  4. Tidak boleh berdebat dengan orang yang tidak "open mind" (pikirannya terbuka) dan tidak takabur (menentang kebenaran).
Nabi Sulaiman as. pernah mengingatkan anaknya bahwa debat dapat menimbulkan permusuhan : “Tinggalkanlah mira’ (jidal, berdebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara”. [HR. Ad-Darimi dan al-Baihaqi].  

Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian Beliau membaca (ayat, yang artinya) : ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’” [dari Abu Umamah ra, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah] 

Rasulullah SAW juga bersabda : "Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya”. [HR. Abu Daud]. 

Mungkin sarana berupa debat dapat dipergunakan dalam menilai kualitas Capres/Cawapres, namun sangat sedikit manfaat yang dapat diperoleh, sedangkan mudharatnya sangat besar sekali.  Masing2 Capres memaparkan visi dan misinya jika terpilih, berdasarkan dari (prestasi) kerja yang mereka emban saat ini dan belum terpilih menjadi orang no. 1... Sungguh sangat berbeda tugas dan tanggungjawabnya jika terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.  

Sedangkan salah satu sifat tercela yang banyak menjangkiti para pemimpin adalah perasaan takjub atau bangga diri terhadap kekuatan dan kebesaran namanya. Bangga diri merupakan salah satu tipu daya setan. Mari kita lihat kisah berikut dan seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita :  

Rasulullah SAW mengisahkan bahwa ada Nabi Allah yang diberi nikmat berupa pengikut yang banyak. Karena melihat seolah-olah kekuatan mereka tidak terkalahkan oleh musuh, timbullah rasa bangga dalam hatinya. Ia menyangka bahwa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan kekuatannya. Namun, tidaklah demikian seharusnya sikap seorang nabi. Sang Nabi di hukum akibat berbuat kesalahannya. Allah Azza wa Jalla menawarkan kepadanya untuk memilih salah satu dari tiga pilihan terkait dengan kaumnya yaitu :
  • memilih bahwa akan ada suatu kaum lain yang bisa mengalahkan mereka, atau 
  • mereka akan ditimpa paceklik panjang, atau
  • memilih ditimpakan kematian atas kaumnya.
Para Nabi dan Rasul adalah orang yang diberi petunjuk dan berkata benar. Nabi tersebut memilih untuk mereka sebuah pilihan yang paling tepat dan terbaik karena ia memilih pilihan ketiga yaitu ditimpakan kematian atas kaumnya. Ia tidak memilih untuk ditimpakan atas mereka kelaparan atau dikalahkan oleh musuh. Alasannya, kalaupun tidak mati hari ini mereka pun pasti akan mati pada hari-hari yang lain karena kematian adalah sebuah kepastian yang siapapun tidak akan bias mengelak dimana pun dia berada dan kapan pun juga. Orang-orang yang lebih dahulu diwafatkan akan berarap bahwa segala amal perbuatan mereka dapat diterima di sisi-Nya sedang orang-orang yang masih tinggal setelahnya akan menjadikannya sebagai sebuah nasihat dan peringatan baginya.  

Demikian pula, bisa jadi Allah Azza wa Jalla akan menambah lagi jumlah mereka yang sekarang tinggal sedikit karena segala perkara berada di tangan Allah Azza wa Jalla. Sang Nabi segera sujud kepada Allah Azza wa Jalla, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla untuk dipilihkan pilihan terbaik untuknya.  

Demikianlah kebiasaan para Nabi dan orang-orang yang shalih. Tatkala ditimpa kegundahan mereka bersegera menegakkan sholat. Sang Nabi sholat dengan bentuk sholat yang Allah kehendaki. Maka Allah memilihkan baginya pilihan yang paling ringan.  

Dia berkata kepada Rabbnya : “Wahai Rabbku, janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh kami atas kami, jangan pula Engkau timpakan kelaparan (atas kaumku), tetapi berilah kami kematian”.  

Maka tibalah saatnya musibah kematian datang kepada mereka sehingga meninggallah dari kaumnya tersebut dalam sehari sebanyak 70.000 orang. Sungguh akibat buruk dari perasaan bangga Sang Nabi sungguh menakutkan. Rasulullah SAW pun sangat khawatir akan terjadi pada kaumnya semisal apa yang telah terjadi pada kaum Nabi tersebut.  

Sesungguhnya bangga terhadap diri sendiri, harta dan anak keturunan adalah penyakit yang sangat jelek. Allah Azza wa Jalla berfirman : “… Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. [QS. at-Taubah : 25]  

Allah SWT berfirman : “Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri”. [Qs. al- Isra : 7]  

Ada ungkapan bijak yang mengatakan : ”Orang yang baik adalah bukan mengatakan dirinya baik, akan tetapi orang yang baik, adalah orang yang berusaha memperbaiki kekurangannya, sehingga menjadi baik”.  

Semoga kita semua terhindar dari hal-hal yang tidak baik tersebut diatas. Ingatlah menjadi orang terhebat itu biasa, karena hasilnya hanya dinikmati oleh diri sendiri. Tetapi menjadi orang yang bermanfaat itu baru luar biasa, karena hasilnya dapat dinikmati oleh banyak orang.

14 June 2014

Bekerja Mencari Nafkah

Bekerja merupakan perintah Allah SAW dan menjadi kewajiban setiap manusia, semenjak masa Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad SAW. Nabi Daud as tidak makan melainkan dari hasil jerih payah kerja tangan beliau sendiri, Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu, Rasulullah SAW adalah seorang pedagang. Beliau bersabda : “Tidak seorang Rasul pun diutus Allah kecuali ia bekerja sebagai penggembala domba. Para sahabat bertanya : “Bagaimana dengan dirimu, wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : “Ya, saya dulu mengembala domba untuk penduduk Makkah”. [HR. Bukhari]

Keutamaan bekerja mencari nafkah yang halal dan berusaha memenuhi kebutuhan diri dan keluarga dengan usaha sendiri merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh para Nabi dan orang-orang yang shaleh. Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud as makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)”. [dari al-Miqdam ra, diriwayatkan oleh Bukhari]. 


Memberi nafkah ini telah diwajibkan ketika sang suami akan melaksanakan ‘aqad nikah, yaitu dalam bentuk mahar, seperti yang tersurat dalam al-Qur’an, Allah berfirman : “Dan kewajiban ayah menanggung nafkah & pakaian mereka dgn cara yg patut. Seseorang tdk dibebani lbh dari kesanggupannya.” [Qs. al-Baqarah : 233]

Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah kepada isterinya selama masih dalam masa ‘iddahnya dan nafkah untuk mengurus anak-anaknya. Barangsiapa yang hidupnya pas-pasan atau dalam keadaan serba kekurangan, dia wajib memberikan nafkah menurut kemampuannya (disesuaikan dengan kadar rezeki yang telah Allah berikan kepada dirinya). 


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Dan orang yg terbatas rizkinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yg diberikan Allah kepadanya. Allah tdk membebani seseorang melainkan (sesuai) dgn apa yg diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan”. [Qs. ath-Thalaq : 7] 

Photo : Amadeus Budiharsono


Dalam salah satu riwayat shahih, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya apabila seseorang di antara kalian mengambil tambang kemudian mencari kayu bakar dan diletakkan diatas punggungnya, hal itu adalah lebih baik baginya daripada ia mendatangi seseorang yang telah dikarunai keutamaan oleh Allah SWT, kemudian meminta-minta padanya, adakalanya diberi dan ada kalanya ditolak”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Hadits ini menjelaskan tentang betapa pentingnya “bekerja” bagi seorang Muslim, walau hanya dengan mencari kayu bakar.

Mari kita lihat sebuah kisah pada zaman Rasulullah SAW... Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari perang Tabuk, banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah SAW berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah SAW melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. Rasulullah SAW bertanya : “Kenapa tanganmu kasar sekali ?”

Si tukang batu menjawab : “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar”.

Rasulullah SAW menggenggam tangan itu dan menciumnya seraya bersabda : “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya‘.

Berdasarkan ayat ini pula, memberikan nafkah kepada isteri hukumnya adalah wajib. Sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan dan tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain serta tidak boleh minta-minta kepada orang lain untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anaknya. Sebagai Kepala rumah tangga, seorang suami harus memiliki usaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuannya. Beberapa firman Allah SWT dalam memotivasi manusia agar senantiasa bekerja dalam kehidupannya :
  • “Kami telah membuat waktu siang untuk mengusahakan kehidupan (bekerja)”. [Qs. Naba’ : 11] 
  • “Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan (bekerja). Tetapi sedikit sekali di antaramu yang bersyukur”. [Qs. A’raf : 10] 
  • “Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”. [Qs. al-Jum’at : 10] 
  • “Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. [Qs. al-Mulk : 15]
Kenapa kita harus bekerja ?
  1. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi dengan harta yang halal, mencegahnya dari kehinaan meminta-minta dan menjaga tangannya agar tetap berada di atas. 
  2. Bekerja diwajibkan demi terwujudnya keluarga yang sejahtera. 
  3. Tanggung jawab seorang suami sebagai kepala keluarga adalah memberikan nafkah yang halal dan thayib bagi istri serta anak-anaknya. Seorang yang mencari nafkah untuk anaknya yang kecil itu sama dengan fisabilillah. 
  4. Walaupun seseorang tidak membutuhkan pekerjaan, karena kebutuhan diri dan keluargannya telah terpenuhui, ia tetap wajib bekerja untuk masyarakat sekitarnya.   
  5. Merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila hari kiamat telah datang dan pada tangan seseorang di antara kamu ada biji untuk ditanam, maka jika ia bisa menanam, tanamlah sebelum datang hari kiamat”. [dari Anas ra, diriwayatkan oleh Bukhari]
Dalam Islam bekerja diharapkan dapat memakmurkan bumi. Sedangkan memakmurkan bumi adalah bagian dari maqasidus syari’ah ajaran islam dan bermanfaat untuk seluruh makhluk hidup, termasuk hewan. Rasullah SAW bersabda : “Siapakah dari kaum Muslimin yang menanam tananam atau tumbuhan lalu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, kecuali baginya sedekah”. [Muttaffaqqun ‘alaih / HR. Bukhari dan Muslim]
 
Suatu ketika ada seorang tua renta bernama Abu Darda sedang menanam pohon kenari. Saat itulah lewat seseorang dan bertanya kepadanya : “Untuk apa kamu menananm pohon itu ? Kamu sudah tua, sedangkan pohon itu tidak akan berbuah kecuali sesudah sekian tahun”. Abu Darda menjawab : ”Alangkah senangnya hatiku bila mendapatkan pahala darinya, karena orang lain yang akan makan hasilnya”.  
Nafkah yang diberikan sang suami kepada isterinya, lebih besar nilainya di sisi Allah SWT dibandingkan dengan harta yang (walau) diinfaqkan di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : “Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau infaqkan untuk orang miskin dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada keluargamu”. 


Setiap yang dinafkahkan oleh seorang suami kepada isterinya akan diberikan ganjaran oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu”.  [HR. Bukhari]

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin ra menjelaskan : “Sebagian orang tatkala bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya maka mereka merasa bahwa mereka telah mengamalkan amalan yang mulia dan menganggap sedekah yang mereka keluarkan itu sangat berarti. Adapun tatkala mengeluarkan harta mereka untuk memberi nafkah kepada keluarganya maka seakan-akan perbuatan mereka itu kurang berarti, padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah”. [Riyadhus Shalihiin]

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa mesti ada prioritas dalam penyaluran harta. Yang utama sekali adalah kepada istri dan anak. Setelah kewajiban pada keluarga, barulah harta tersebut disalurkan pada zakat dan sedekah sunnah.

Kewajiban suami dalam mencari nafkah adalah :
  1. Nafkah kepada keluarga lebih afdhol dari sedekah tathawwu’ (sunnah). Rasulullah SAW bersabda : “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)”. [dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Muslim]. Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini : “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim [7 : 82], Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih afdhol dari sedekah yang hukumnya sunnah”. 
  2. Jika mencari nafkah dengan ikhlas, akan menuai pahala besar. Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu”. [dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, diriwayatkan oleh Bukhari].  
  3. Memberi nafkah termasuk sedekah. Rasulullah SAW bersabda : “Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah”. [dari al Miqdam bin Ma’dikarib, diriwayatkan oleh Ahmad]  
  4. Harta yang dinafkahi semakin berkah dan akan diberi ganti. Rasulullah SAW  bersabda : “Tidaklah para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata : “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak”. Yang lain mengatakan : “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit”. [dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]. Seseorang yang memberi nafkah untuk keluarganya termasuk berinfak sehingga termasuk dalam keutamaan hadits ini.  
  5. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban apakah ia benar memperhatikan nafkah untuk keluarganya. Rasulullah SAW bersabda : “Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin”. [dari Anas bin Malik, diriwayatkan oleh Tirmidzi]. Dalam riwayat lain disebutkan : “Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya”. [HR. Ibnu Hibban] 
  6. Memperhatikan nafkah keluarga akan mendapat penghalang dari siksa neraka. Rasulullah SAW bersabda : “Selamatkanlah diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma”. [HR. Bukhari].
Bakhil dan kikir adalah sifat tercela. Allah SWT telah memberikan ancaman berupa kebinasaan dan dosa bagi suami yang tidak mau memenuhi nafkah keluarganya, padahal ia mampu untuk memberinya. Apabila seorang suami bakhil dan tidak mau memenuhi nafkah anak dab isterinya, berarti ia telah bermaksiat kepada Allah SWT dengan meninggalkan kewajiban yang dibebankan kepadanya, sehingga ia berhak mendapat ancaman siksa dari Allah. 
Ya Allah.. berikanlah kami taufik untuk mencari nafkah dengan ikhlas dengan cara yang halal dan mampu menjalankan setiap kewajiban sesuai tuntunan syari’at, sehingga kami pun terbebas dari siksa neraka dan dimasukkan dalam surga... amiin.


-----
al-Qur'an & Hadits dan berbagai sumber